NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kabar mengenai keikutsertaan Lexa dalam Olimpiade Sains tingkat Kota segera menyebar luas di kalangan tenaga pengajar SMA Nusa Bangsa. Di dalam ruang guru yang riuh oleh tumpukan berkas pelajaran, suasana hangat mendadak berubah menjadi sarat kecemasan. Ibu Heni bersama beberapa guru sains duduk melingkar di meja rapat, menatap lembar pendaftaran siswa dengan raut wajah penuh keraguan.

"Bagaimana bisa Lexa nekat mengajukan diri?" bisik Pak Aris, guru Fisika, seraya mengurut pelipisnya. "Kita semua tahu betul rekam jejak akademisnya. jangankan materi olimpiade yang penuh analisis rumit, ujian harian biasa saja nilainya selalu di batas ambang kelulusan."

Ibu Heni menghela napas panjang, merapikan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Saya sudah mencoba mengingatkannya saat di kelas, Pak. Tapi anak itu sangat keras kepala. Yang saya khawatirkan, kalau nanti di lembar jawaban dia sama sekali tidak bisa menjawab atau nilainya hancur total, nama baik sekolah kita yang menjadi taruhannya di tingkat kota."

"Lalu kenapa tidak dicoret saja namanya dari daftar?" usul seorang guru muda di ujung meja.

Para guru senior seketika saling pandang dengan tatapan serba salah. Ada keheningan canggung yang membeku di udara. Mereka semua tahu pahitnya realita yang melingkupi sekolah tersebut.

"Apa boleh buat," ujar Pak Aris dengan suara pelan dan bernada pasrah. "Ayah Lexa adalah donatur terbesar pembangunan gedung laboratorium baru kita, sekaligus menjadi sponsor utama tunggal untuk gelaran olimpiade minggu depan. Pihak yayasan dan kepala sekolah pasti merasa segan jika kita mencoret nama putrinya begitu saja. Kita berada di posisi yang sangat sulit."

Namun, di tengah keraguan dan rasa cemas akan kehadiran Lexa, pendar harapan para guru tertuju pada satu nama lain. Dari jendela ruang guru yang menghadap ke arah taman, mata Ibu Heni menatap ke arah gedung perpustakaan. Di sana, dari balik kaca transparan, sosok Maya terlihat masih tekun bergelut dengan tumpukan buku tebal tanpa mengenal lelah.

"Untungnya kita masih punya Maya," tutur Ibu Heni dengan senyum bangga yang perlahan terukir di bibirnya. "Anak itu punya ketekunan dan kecerdasan yang luar biasa. Setiap kali saya melewati perpustakaan, dia selalu ada di sana, mengasah kemampuannya. Saya sangat yakin, terlepas dari apa pun yang terjadi pada Lexa nanti, Maya lah yang akan menyelamatkan muka sekolah kita dan membawa pulang piala kemenangan."

Beberapa hari sebelum hari-H perlombaan, pihak sekolah mengadakan kelas bimbingan intensif khusus bagi para peserta perwakilan SMA Nusa Bangsa. Ruang kelas bimbingan yang terletak di lantai dua terasa begitu tenang saat sinar matahari sore menyiram meja-meja kayu.

Ibu Heni berdiri di depan papan tulis, meletakkan dua bundel kertas soal yang cukup tebal di atas meja. Maya duduk di barisan paling depan dengan alat tulis yang sudah tertata rapi, sementara Lexa duduk di barisan belakang dengan posisi bersandar malas pada kursinya.

"Anak-anak, sore ini kita akan mengadakan simulasi ujian", kata Ibu Heni tegas seraya membagikan lembar berkas tersebut. "Ini adalah bundel soal-soal asli Olimpiade Sains tahun lalu. Ibu ingin melihat sejauh mana kesiapan kalian sebelum berlaga minggu depan. Waktu kalian sembilan puluh menit dari sekarang".

Begitu lembar soal diletakkan di atas mejanya, Maya langsung menarik napas dalam-dalam. Ia membaca baris demi baris pertanyaan dengan cermat. Soal-soal mengenai persilangan genetika molekuler, analisis metabolisme sel, hingga struktur anatomi tumbuhan yang rumit terhampar di hadapannya.

Tanpa membuang waktu, jemari Maya yang memegang pulpen langsung bergerak lincah. Hasil dari berjam-jam waktunya yang tercurah di perpustakaan dan malam-malam panjang belajar di bawah remang lampu minyak rumah papannya kini membuahkan hasil manis. Setiap konsep yang diuji terasa begitu familier di dalam kepalanya. Dengan mantap dan penuh percaya diri, Maya mengurai rumus demi rumus, menuliskan penjelasan analisis yang tajam, dan mengisi setiap lembar soal jawaban dengan tepat tanpa ragu.Suara goresan pulpen Maya di atas kertas terdengar begitu konstan dan teratur, mencerminkan pemahaman mendalam yang ia miliki.

Sangat bertolak belakang dengan kondisi di barisan belakang.Lexa menerima lembar soal itu dengan gerakan malas. Ia membolak-balik kertas di tangannya dengan raut wajah bosan dan meremehkan. Ketika matanya menyapu deretan kalimat ilmiah yang panjang dan membingungkan di lembar pertama, Lexa bahkan tidak repot-repot untuk membacanya hingga tuntas.Bagi Lexa, simulasi bimbingan sore ini hanyalah formalitas buang-buang waktu yang sangat membosankan. Di dalam benaknya, ia sudah memegang kartu truf berupa berkas bocoran soal dan kunci jawaban resmi yang berhasil ia curi dari email papanya beberapa hari lalu. Semua pola jawaban abjad sudah tersimpan rapi di dalam ingatan ponselnya.

Sama sekali tidak ada niat dalam diri Lexa untuk mencoba menjawab soal-soal latihan itu dengan otaknya sendiri. Ia meletakkan pulpennya begitu saja di atas meja, lalu bersedekap dada sambil menatap ke luar jendela. Lembar jawabannya dibiarkan tetap bersih dan kosong melompong.

Ibu Heni yang berjalan berkeliling ruangan menyempatkan diri berhenti sejenak di dekat meja Lexa. Beliau menatap lembar jawaban Lexa yang kosong bersih, lalu beralih menatap muridnya itu dengan kening berkerut dalam."Lexa, kenapa soalnya tidak dikerjakan?" tegur Ibu Heni pelan namun sarat akan nada penyesalan. "Waktu berjalan terus. Coba dikerjakan sebisamu untuk latihan."

Lexa hanya melirik gurunya dari sudut mata dengan ulasan senyum tipis yang angkuh. "Saya lagi pusing, Bu. Nanti saja pas hari-H saya kerjakan," jawabnya santai tanpa beban sedikit pun, sama sekali tidak menghargai keberadaan sang guru.

Ibu Heni hanya mampu mengelus dada, menahan rasa kecewa yang mendalam atas sikap tak acuh muridnya itu. Beliau kemudian melangkah kembali ke depan kelas, menatap Maya yang masih terus menulis dengan tekun dan fokus penuh.Di dalam ruangan bimbingan sore itu, garis batas antara kedua siswa tersebut makin terlukis jelas. Di satu sisi, ada Maya yang berjuang dengan kejujuran, keringat, dan kecerdasan murni demi merubah takdir hidupnya. Di sisi lain, ada Lexa yang duduk di atas takhta kepalsuan, mengandalkan kekayaan orang tua dan kecurangan yang siap ia muntahkan pada hari perlombaan nanti.

1
ANGGA
males banget gw sama ceritanya bertele tele banget🤢
ANGGA
bertele tele🗿
ANGGA
/Good/semangat
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!