NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Pembuktian di Pertemuan Ahli Waris

​Suasana kamar utama mendadak terasa sedikit lengang setelah Rian menawarkan ajakan makan siang. Kirana yang tadinya hendak menutup layar laptopnya tiba-tiba mengurungkan niat. Ia menatap punggung Rian yang hendak berbalik melangkah pergi, lalu keraguan di hatinya mendorongnya untuk bersuara.

​"Mas..." panggil Kirana pelan.

​Rian menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap sang istri dengan alis terangkat sebelah. "Ada apa, Kirana? Apa ada yang mengganjal di pikiranmu?"

​Kirana menggigit bibir bawahnya sejenak, merangkai kalimat dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan suaminya. "Aku hanya berpikir... sampai kapan, Mas? Sampai kapan Mas Rian akan terus merahasiakan tentang kelumpuhan palsu ini kepada semua orang?"

​Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Kirana merasa tidak tega melihat pria yang begitu baik dan melindunginya itu harus terus berpura-pura cacat di atas kursi roda setiap kali berhadapan dengan klan keluarga besar Wijaya—terutama di hadapan orang-orang licik seperti Shinta dan Arsyila yang selalu merendahkannya.

​Mendengar pertanyaan itu, Rian sedikit terdiam. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban tegas dan kendali penuh atas segala situasi tersebut tampak termenung. Bahunya yang tegap mengendur sejenak.

​Rian berjalan kembali mendekati meja belajar, lalu menarik sebuah kursi untuk duduk berhadapan langsung dengan Kirana. Sorot matanya menyiratkan kelelahan batin yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

​"Aku juga belum tahu harus diawali dari mana, Kirana," ucap Rian jujur dengan nada suara yang sedikit berat. "Selama bertahun-tahun, berpura-pura lumpuh adalah satu-satunya cara bagiku untuk bertahan hidup di tengah intrik dan perebutan kekuasaan keluarga besar Wijaya. Banyak pasang mata yang ingin menjatuhkanku. Jika mereka tahu aku sudah pulih sepenuhnya sejak lama, bahaya akan mengintai posisiku—bahkan keselamatan kita."

​Kirana menyimak dengan penuh perhatian, hatinya ikut merasakan beban berat yang dipikul suaminya selama ini. Namun, tekad di benak Kirana sudah bulat. Ia tidak ingin Rian terus menerus hidup dalam bayang-bayang kebohongan itu selamanya.

​Mata jernih Kirana berbinar penuh keyakinan. Ia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, lalu menawarkan sebuah ide cemerlang.

​"Bagaimana kalau mulai besok kita membuat rencana perlahan-lahan?" usul Kirana dengan antusias. "Kita bisa mulai menyebar kabar seolah-olah Mas Rian sudah menjalani terapi pengobatan intensif yang berjalan cukup lama... dan perlahan-lahan menunjukkan kemajuan pemulihan kaki Mas Rian di depan keluarga besar."

​Rian menatap Kirana lekat-lekat. Gagasan itu sederhana, namun sangat logis dan terstruktur. Alih-alih langsung berdiri secara tiba-tiba yang justru akan menimbulkan kecurigaan besar, skenario terapi bertahap akan memberikan ruang bagi klan Wijaya untuk menerima kenyataan bahwa sang pewaris utama perlahan-lahan sembuh.

​Sudut bibir Rian perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tulus yang amat memesona. Tangannya terulur untuk menggenggam jemari Kirana di atas meja.

​"Ide yang luar biasa dari istri cerdasku," puji Rian lembut. "Baiklah... kita akan atur strateginya mulai malam ini. Saatnya mereka bersiap menghadapi kejutan besar dari klan Wijaya."

Genggaman tangan Rian pada jemari Kirana terasa semakin erat. Kilatan tekad yang tajam dan penuh wibawa terpancar jelas dari manik mata hitam pria itu, seolah membakar habis keraguan yang sempat tersisa.

​"Minggu depan akan ada pertemuan besar para ahli waris keluarga Wijaya," ucap Rian dengan suara rendah namun penuh penekanan, menguliti setiap rencana busuk yang mungkin sedang disiapkan oleh para paman dan bibinya di luar sana. "Pasti banyak dari mereka yang akan menentangku, terutama dalam hal pengalihan hak pengelolaan properti warisan utama milik Eyang."

​Shinta dan para sepupu rakus itu sudah mengincar aset tersebut sejak lama, menganggap Rian yang terkurung di kursi roda tidak akan mampu mempertahankan posisinya sebagai pewaris sah.

​Rian berdiri dari kursinya, melangkah beberapa langkah dengan tegap di dalam kamar privat mereka, lalu menoleh menatap Kirana dengan senyuman penuh keyakinan.

​"Dan di pertemuan itulah, di hadapan mereka semua..." lanjut Rian, mengepalkan tangan kanannya dengan mantap, "...aku akan berdiri dengan gagah menentang mereka semua, merobohkan topeng kemunafikan mereka, dan mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku!"

​Kirana ikut berdiri, menghampiri suaminya dengan binar mata penuh kekaguman dan dukungan mutlak. Ia tahu betul seberapa besar tekanan yang dipikul Rian selama ini. Jika Rian siap melangkah keluar dari bayang-bayang kelumpuhan palsu itu minggu depan, maka Kirana berjanji akan berdiri tepat di sampingnya sebagai pilar kekuatan yang tak tergoyahkan.

​"Aku akan mendukungmu, Mas," ucap Kirana lembut penuh keyakinan, menyentuh lengan Rian pelan. "Apapun yang terjadi, kita akan hadapi mereka bersama-sama."

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana 😄🙏
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Rian and Kirana
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!