Season kedua ini akan berfokus pada persiapan Yang Zhen dalam menghadapi ancaman invasi skala penuh dari Sekte Pedang Langit ibu kota yang berniat merebut energi Jiwa Iblis Darah Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pemuda itu menarik ekor naga tersebut ke arahnya dengan satu sentakan yang luar biasa kuat.
Bum.
Tubuh naga raksasa seberat ratusan ton itu langsung kehilangan keseimbangan dan terseret maju menyeruduk tanah.
Monster itu meronta dan mencoba menggigit Yang Zhen dengan rahang raksasanya yang terbuka lebar.
Groaar.
Namun Yang Zhen melompat tinggi ke udara, melesat langsung mengarah ke bagian dada kerangka tersebut.
Syuut.
Pemuda itu mendarat di atas susunan tulang rusuk sang naga dan mencengkeram salah satu tulangnya dengan kuat.
"Tulang hanya kuat jika persendiannya utuh," ucap Yang Zhen memusatkan singularitas ruang di telapak tangannya.
Wuuung.
Ruang kosong di persendian tulang rusuk itu dimampatkan hingga merusak struktur perekat sihir hitamnya.
"Jika sendinya kucabut, monster ini hanyalah tumpukan kalsium murahan peninggalan zaman purba," lanjut Yang Zhen dengan kejam.
Cras.
Dengan kekuatan fisik puncak Inti Emas, Yang Zhen mencabut paksa satu tulang rusuk raksasa itu dari tubuh sang naga.
Suara tulang yang patah terdengar sangat nyaring mengalahkan hiruk pikuk rintihan di medan perang.
Krak.
Naga Tulang itu menjerit tertahan, kehilangan satu penyangga utama tubuhnya dan mulai limbung ke samping.
"Mustahil! Dia mencabut tulang naga itu dengan tangan kosong?!" teriak sang Necromancer berjubah hitam dengan panik.
Yang Zhen melompat turun kembali ke tanah sambil memanggul tulang rusuk raksasa yang panjangnya mencapai lima meter tersebut.
Bruk.
Pemuda itu menjadikan tulang naga raksasa itu sebagai tongkat pemukul barunya.
"Wang Hao, Mulan! Habisi sisa prajurit yang masih merangkak di alun-alun!" perintah Yang Zhen mengayunkan tulang itu dengan ringan.
"Siap, Bos! Waktunya berburu!" sahut Wang Hao langsung melesat maju dengan kedua tinju berlapis perunggu.
Mulan ikut melompat maju mengayunkan pedang anginnya, menyayat leher puluhan musuh yang mencoba bangkit dari genangan darah.
Sring sring.
Sementara itu, Yang Zhen berjalan perlahan mendekati naga yang sedang meronta mencoba bangkit di tengah jalan.
Tap tap tap.
"Seekor naga seharusnya melayang di langit, bukan merangkak menyedihkan di jalanan kotaku," ucap Yang Zhen dengan tatapan dingin.
Pemuda itu memutar tubuhnya dan mengayunkan tulang rusuk di tangannya tepat ke arah tengkorak naga tersebut.
Bugh.
Pukulan maut itu menghantam tengkorak sang naga dengan kekuatan yang setara dengan jatuhnya meteor besi.
Krak.
Tengkorak raksasa itu langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu putih yang berhamburan tertiup angin.
Api biru yang menyala di rongga mata monster itu padam seketika tanpa sisa.
Bruk.
Tubuh kerangka raksasa itu ambruk ke tanah tak bernyawa, kembali menjadi tumpukan tulang rongsokan yang tidak berguna.
Keheningan absolut tiba-tiba menyelimuti sisa-sisa pasukan ibu kota yang masih hidup di belakang.
Mereka menatap Yang Zhen layaknya menatap dewa iblis yang baru saja turun dari pintu neraka.
Jian Tian yang duduk di atas kereta perangnya mulai gemetar hebat tanpa bisa dikendalikan oleh akal sehatnya lagi.
"M-mundur! Tarik pasukan kembali ke ibu kota sekarang juga!" perintah Jian Tian dengan suara pecah penuh ketakutan.
Namun, Yang Zhen tidak berniat membiarkan musuh utamanya kabur begitu saja dari halaman rumahnya.
"Kau datang jauh-jauh tanpa membawa hadiah, dan sekarang kau ingin pulang tanpa berpamitan?" sindir Yang Zhen menimbang tulang di tangannya.
Pemuda itu mengangkat tulang rusuk naga tersebut tinggi-tinggi ke belakang bahunya layaknya seorang pelempar tombak profesional.
Syuut.
Energi gravitasi dan aura iblis darah difokuskan sepenuhnya ke ujung senjata dadakan tersebut hingga bersinar mematikan.
"Terimalah hadiah perpisahan dariku, Master Sekte!" teriak Yang Zhen melemparkan tulang itu dengan kekuatan penuh.
Wush.
Tulang raksasa itu melesat menembus udara dengan kecepatan luar biasa, menciptakan ledakan sonik yang memekakkan telinga.
Bum.
Jian Tian hanya bisa membelalakkan matanya melihat proyektil kematian itu datang lurus ke arah dadanya.
"Tidaaaak!" jerit Master Sekte itu mencoba menciptakan perisai energi secara refleks sebagai pertahanan terakhir.
Trang.
Perisai energi Tahap Langit tingkat puncak itu hancur layaknya kaca tipis saat ditabrak oleh tulang berlapis gravitasi tersebut.
Krak.
Tulang raksasa itu menghantam telak kereta perang Jian Tian, menghancurkannya berkeping-keping dalam satu ledakan dahsyat.
Ledakan itu melempar tubuh Jian Tian dan badak-badak iblisnya ke udara bersama puing-puing kayu dan besi yang hancur.
Aaaargh.
Sang Master Sekte jatuh terjerembap ke tanah dengan kondisi tulang punggung dan kaki yang patah sangat parah.
Bruk.
Darah segar membasahi jubah peraknya, mengubahnya menjadi warna merah kotor yang sangat menyedihkan untuk dilihat.
Yang Zhen berjalan perlahan menembus lautan mayat prajurit ibu kota, menghampiri penguasa yang kini tak berdaya tersebut.
Tap tap tap.
Pemuda itu berhenti tepat di depan Jian Tian dan menginjak dada pria itu dengan sepatu botnya.
Bugh.
"Aku sudah bilang, kau hanyalah seekor kucing tua yang kebetulan memiliki tubuh besar," bisik Yang Zhen dengan senyum iblis yang sangat puas.
Invasi besar-besaran dari ibu kota akhirnya benar-benar hancur lebur di bawah kaki satu orang pemuda.
Dominasi mutlak Kota Awan Merah kini telah diakui oleh darah dan nyawa dari Sekte Pedang Langit.
Pertarungan berdarah di senja hari ini resmi menutup musim kedua dengan sebuah kemenangan absolut yang tidak terbantahkan oleh siapa pun.