NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 25

Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga bergema di dalam ruangan VIP klub malam pribadi milik Keluarga Z. Sebuah gelas kristal berisi wiski mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Zico ke dinding marmer.

"Kurang ajar! Bener-bener kurang ajar!" jerit Zico dengan napas memburu, matanya merah padam oleh amarah yang membakar dada.

Tangan kanannya yang masih terbebat perban tebal akibat dipelintir Theodore beberapa hari lalu berdenyut nyeri. Namun, rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa malu dan kehancuran yang menimpa keluarganya. Pabrik perakitan utama mereka baru saja hangus terbakar, rekening bisnis dibekukan bank, dan di pesta ulang tahun Kakek Surya tadi malam, keluarganya malah dijadikan bahan lelucon gara-gara drama obat herbal ratusan miliar itu.

Meskipun keluarga Mahendra percaya bahwa Yevone yang membeli obat ajaib itu, Zico tahu betul ada yang tidak beres. Setiap kali ia berusaha mendekati Yevone, si gembel Theodore selalu berada di sana, menatapnya dengan pandangan dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Tuan Muda, tolong tenang dulu. Tangan Anda bisa tambah parah kalau emosi begini," bisik Rian, asisten pribadinya, sambil menyodorkan handuk hangat dengan tangan gemetar.

"Tenang kamu bilang?!" Zico membalikkan badan, menatap Rian dengan tatapan membunuh. "Gimana gue bisa tenang kalau si benalu gembel itu masih bebas berkeliaran?! Gue rasa semua kesialan Keluarga Z belakangan ini gara-gara aura pembawa sial dari anjing itu!"

"Tapi Tuan Muda, bukannya Bos Boris sudah mengeluarkan perintah larangan buat nyari gara-gara di jalanan?" Rian mengingatkan takut-takut. "Katanya ada pasukan asing yang lagi patroli di kota kita—"

"Persetan sama Boris!" bentak Zico meludah ke lantai dengan penuh rasa jijik. "Boris itu cuma bos mafia penakut yang makin tua makin penakut! Ini kota milik Keluarga Z, bukan milik Boris! Kalau Boris nggak berani gerak, gue bakal pakai orang gue sendiri!"

Zico melangkah mendekati meja kaca, meraih ponsel pintarnya, lalu mendial sebuah nomor kontak rahasia yang tersimpan di dalam jaringan Dark Web lokal. Nomor itu milik kelompok tentara bayaran independen yang terkenal paling kejam di wilayah pesisir—kelompok "Serigala Hitam". Mereka adalah para mantan narapidana dan pembunuh bayaran yang tidak tunduk pada aturan mafia lokal mana pun selama uangnya cocok.

Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit, pintu ruangan VIP terdorong terbuka.

Seorang pria bertubuh kekar dengan tato kepala serigala mencuat dari leher hingga rahangnya melangkah masuk. Pria itu adalah Marko, pemimpin kelompok Serigala Hitam. Langkah kakinya berat, menyebarkan bau tembakau murah dan aroma darah yang pekat. Dua anak buahnya yang berbadan tinggi besar berjaga tepat di balik pintu.

"Langka banget Tuan Muda Keluarga Z mau ngerendahin diri manggil orang-orang kayak kita," cibir Marko dengan suara parau nan berat, lalu melempar tubuh besarnya ke atas sofa empuk di depan Zico.

"Ada kerjaan kotor apa malam ini?" tanya Marko sambil menyalakan sebatang rokok tanpa minta izin.

Zico tidak membuang waktu. Ia merogoh ke dalam tas kulitnya, lalu melempar sebuah amplop cokelat tebal beserta selembar foto ke atas meja kaca di antara mereka.

"Gue mau lo ngehabisin orang yang ada di foto itu malam ini juga," ucap Zico dengan nada dingin dan penuh dendam.

Marko meraih foto tersebut dengan jari-jarinya yang kasar. Matanya menyipit memperhatikan gambar di tangannya. Di foto itu, terlihat sosok Theodore yang mengenakan kaus polos lusuh sedang berjalan santai menenteng kantong plastik belanjaan di pinggir jalan.

"Hahaha! Lo bercanda, Tuan Muda? Manggil kelompok Serigala Hitam cuma buat ngehabisin gembel kayak gini? Ini sih bukan kerjaan kotor, ini namanya hiburan anak kecil," Marko mendengus geli, lalu tertawa mengejek hingga memperlihatkan giginya yang kuning.

"Jangan remehin dia," potong Zico dengan gigi terketuk rapat. "Dia kelihatannya cuma gembel biasa, tapi dia punya kelakuan yang licik banget. Gue nggak mau dia cuma dipukuli biasa. Gue mau lo jebak dia di tempat sepi, patahkan kedua kaki dan tangannya sampai remuk, terus buang tubuhnya yang hampir mati itu ke jurang luar kota!"

Marko mengangkat sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan kejamnya permintaan pemuda di depannya. Namun, senyum culas segera mengembang di wajah garangnya.

"Berapa harga yang lo berani bayar buat nyawa gembel ini?" tanya Marko sambil menjentikkan abu rokoknya ke lantai marmer.

Zico mengetuk layar ponselnya, mengirimkan sebuah transaksi enkripsi bernilai fantastis. Detik berikutnya, ponsel Marko berdering pelan menayangkan notifikasi masuk.

"Lima ratus juta rupiah tunai," tegas Zico, matanya berkilat buas. "Dua ratus lima puluh juta udah masuk sebagai uang muka. Sisanya bakal cair begitu lo ngirim foto tubuh bangkai si gembel itu ke gue sebelum subuh."

Melihat angka nominal dengan lima nol di belakangnya pada layar ponselnya, mata Marko seketika berbinar penuh keserakahan. Lima ratus juta rupiah hanya untuk melumpuhkan seorang pria lemah tanpa pengawal adalah rezeki nomplok yang luar biasa.

"Deal," Marko mengepalkan tangannya di atas meja, menyeringai pamer gigi. "Malam ini juga, gembel pilihan lo ini bakal tahu gimana rasanya neraka dunia. Mana lokasi terakhir dia sekarang?"

"Anak buah gue udah mantau dari sore," jawab Zico sambil melempar selembar catatan koordinat. "Dia baru aja keluar dari pasar malam dekat perumahan lama, jalan kaki sendirian lewat gang-gang buntu yang sepi."

"Tunggu kabar gembira dari gue dua jam lagi, Tuan Muda," pamit Marko sambil merapikan pisau lipat taktis yang terselip di pinggangnya.

***

Sementara itu, di sudut kota yang berbeda.

Jalanan gang permukiman tua yang menghubungkan pasar malam dengan kompleks perumahan Yevone terasa sangat sunyi. Lampu-lampu jalanan kuno memancarkan cahaya kuning temaram yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang dan bergidik di sepanjang dinding gang yang sempit.

Theodore berjalan santai menembus kegelapan gang itu. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong kertas berisi martabak manis hangat yang baru saja dibelinya untuk Yevone. Langkah kakinya teratur, tanpa ada ketergesaan sedikit pun.

Krik. Krik.

Suara gesekan ujung sepatu bot beradu dengan kerikil tajam terdengar samar dari arah belakang, disusul bisik-bisik langkah kaki yang mengepung dari sudut gang depan dan atap rumah warga.

Theodore menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah gang buntu beratap gelap. Ia tidak menoleh ke belakang, melainkan menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. Bau tembakau murah dan hawa membunuh yang amat pekat seketika menyengat indra penciumannya.

Di balik saku celananya, ponsel pintar khusus milik Theodore bergetar singkat. Sebuah pesan terenkripsi dari Victor masuk.

"[Tuan Besar, ada sepuluh orang penyusup amatir dari kelompok 'Serigala Hitam' sedang mengepung lokasi Anda. Tim pengintai kami di atap siap mengeksekusi mereka dalam tiga detik jika Anda memberi perintah.]"

Theodore merogoh ponselnya, mengetikkan balasan singkat tanpa memalingkan wajahnya dari kegelapan gang di depannya.

"[Jangan ada yang bergerak. Biarkan anak-anak kecil ini bermain-main dulu.]"

Theodore mengantongi kembali ponselnya, lalu mengangkat kantong martabak manis di tangannya agar tidak kotor. Seulas senyum dingin yang mematikan mengembang di bibirnya.

"Zico... kamu benar-benar tidak sabaran," gumam Theodore pelan di dalam hati.

1
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!