'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Aneka Riuh.
...~•Happy Reading•~...
《Sebelumnya di tempat lain.
Alena yang sudah kembali dengan fery bersama ke tiga temannya, hanya duduk diam sambil memikirkan yang baru terjadi. Tidak ada seorang pun berbicara, hanya saling melirik satu dengan yang lain sambil menarik nafas perlahan.
Alena yang sedang emosi ingat kepergian Nelson, jadi tersentak saat melihat jam di tangannya menunjukan waktu sangat terbatas. Jika ada sedikit masalah dengan fery, mereka akan terlambat mengikuti kuliah penting.
"Ini pertama dan terakhir kita lakukan hal konyol seperti ini. Apa yang didapat dari tindakan kita tadi? Cuma ngos-ngosan dan hampir putus nafas." Alena memarahi teman-temannya sebelum fery bersandar di dermaga kampus.
"Sekarang lihat jam." Dia menunjukan jam tangan mahalnya ke satu persatu teman. Tanda prestise dan statusnya sebagai anak orang berpunya. "Kita akan berlari lagi setelah turun dari fery." Ucap Alena lebih lanjut dengan wajah tegang.
Arni jadi melihat jam tangannya yang tidak kalah mahal dari merk yang lain. "Huuuu... Ini gara-gara ide Danna." Arni menggerutu sambil melihat Danna sedang melihat jam tangan dan memegang dadanya yang masih tersengal.
"Kok, aku, sih? Tadi kan, aku cuma usul. Kalau kalian gak setuju, semua ini gak terjadi." Danna kesal.
Danna tidak terima disalahkan dan diprotes. Padahal jantungnya belum berdetak normal setelah hampir jatuh saat beli tiket dan lompat ke dalam fery.
Dia makin emosi, setelah berpikir lagi, karena yang paling berkorban adalah dirinya. Selain harus berlari turun naik fery, dia yang mengeluarkan uang untuk beli tiket fery PP untuk mereka berempat.
Darcy yang hendak menyalahkan Danna, jadi menahan ucapannya saat melihat Danna sedang berusaha mengendalikan rasa marah, hingga wajahnya memerah dan urat halus di pinggir dahinya terlihat.
Dalam hati, dia mengakui yang dikatakan Danna adalah benar. Mereka tidak bisa menyalahkannya, karena mereka bertiga juga ambil andil dalam kejadian konyol yang mereka lakukan.
"Suda, suda, jangan saling menyalahkan." Alena melerai sambil meletakan jari di bibir. Dia tidak mau pertemanan mereka bubar.
"Sekarang fokus untuk bisa tidak terlambat. Aku baru ingat, berikutnya mata kuliah dosen killer." Ucap Alena lagi, saat melihat Arni masih mau membalas protes Danna.
Alena menyadari, telah lakukan kesalahan dengan menyetujui usul Danna. Karena jika dia tidak setuju, mereka tidak akan naik Fery mengikuti Nelson.
Tapi dia tidak mau mengakui di depan teman-temannya. Agar tidak menurunkan level gengsinya sebagai mahasiswa smart dalam menyelesaikan tugas di luar dan dalam kampus. Apa lagi dia adalah bintang yang menjadi pusat yang menyatukan pertemanan mereka.
Dia juga tidak mau siklus pertemanan mereka sebagai orang have yang mengangkat derajatnya di kampus jadi hilang, karena ditinggal ke tiga temannya yang sudah dikenal oleh penghuni kampus dengan status sosial orang tua mereka.
Dia menyesal menyetujui usul Danna setelah melihat sikap Nelson yang tetap tenang dan wanita yang lakukan pendekatan dengan juice naik angkot bersama Nelson.
Namun rasa marah dan sakit hati disimpan sendiri dan tidak dibahas dengan teman-temannya. Agar tidak membuatnya malu dan menurunkan harga dirinya.
'Padahal aku sudah punya rencana sendiri tanpa melibatkan mereka ini, tapi mau saja setuju saran Danna untuk iseng mengikuti Nelson. Jangan sampai isi otakku mulai turun level.' Alena membatin sambil melihat fery yang mulai merapat di dermaga.
"Ayo, siap-siap. Kita akan berlari lagi." Ucap Alena sambil berdiri menuju tangga turun. Dia berharap kejadian yang terjadi di fery tidak diperpanjang, sebab Danna masih diam dan tidak cerah.
Setelah berlari sepanjang jalan menuju kampus, mereka merasa lega tiba tepat waktu dan dosen belum masuk ruang kuliah. "Alena, apa yang terjadi dengan kalian siang ini?" Tanya salah satu teman pria yang melihat mereka masuk ruangan kuliah dengan badan berkeringat, rambut dan outfit hampir basah.
"Kami lunch di kolam renang." Jawab Alena dengan wajah datar, karena dia tahu mahasiswa itu sering cari perhatian dan suka padanya.
"Kolam renang atau dipukul ombak di dermaga?" Hanya dia yang berani meledek, karena selain anak pejabat, juga pintar. Tapi wajahnya standar, berbeda dengan Nelson.
"Suka-suka kami. Gak usah lihat yang lagi basah. Nanti ada yang basah." Balas Alena sambil membuka ransel untuk mengeluarkan catatan. Namun ucapan Alena membuat ruang kuliah geerrr... Lalu tiba-tiba sepi saat Bu Dosen killer masuk ruang kuliah.
~•~
Selesai kuliah, Alena mendekati Danna, Arni dan Darcy yang masih berdiam diri. "Ayo, kita pergi minum sesuatu untuk meluruskan betis yang mulai kaku, sebelum pulang." Alena bersikap santai sambil memanggul ransel di punggung.
"Emang gak ada kuliah lagi?" Tanya Arni.
"Gak ada. Menurut terawanganku, dosen berikut gak masuk." Alena coba bercanda untuk mencairkan suasana pertemanan mereka. Kedua temannya mengangguk riang, lalu berjalan keluar mengikuti Alena. Tetapi Danna keluar dalam diam, tidak bereaksi seperti kedua teman lainnya.
Beberapa waktu kemudian, mereka sudah berada di halaman kampus. "Pada mau duduk santai di caffe yang mana?" Alena bertanya, sambil menunjuk ke arah tepi pantai.
Tidak ada seorang pun yang menjawab, membuat suasana jadi kikuk. "Aku gak bisa ikut. Sopirku sudah jemput. Aku mau tunggu di sini saja." Ucap Danna lurus dan sama kaku dengan dengan sikap ketiga temannya yang terkejut.
"Oh, ok. Kalau begitu, kita bertiga saja." Alena coba menanggapi santai, padahal jantungnya sedang memukul dada mengetahui Danna masih emosi. "See you tomorow." Alena bersikap manis, walau dijawab Danna dengan anggukan.
"Danna, aku boleh ikut pulang denganmu?" Darcy tiba-tiba nyeletuk sebelum melangkah mengikuti Alena.
"Silahkan saja." Danna menjawab sambil mengetik di ponsel.
"Sorry, Alena. Aku ikut Danna, ya. Aku lupa, ada janji mau dinner dengan orang tuaku." Darcy memberikan alasan, karena batal ikut dengan Alena dan Arni.
Alena menatap Arni. "Kau gak ikut pulang dengan mereka juga?" Tanya Alena yang mulai kesal.
"Gak, orang tuaku lagi pergi. Mari kita pergi minum." Arni merasa tidak enak kepada Alena yang sudah kesal dan tidak sabar.
Danna tidak bergeming. Dia tetap berdiri, menunggu dijemput. "Mari kita tunggu di luar." Danna mengajak Darcy keluar ke jalan raya, tanpa melihat ke arah Alena dan Arni.
Danna masih marah, karena Alena tidak mengakui, dialah penyebab mereka naik fery untuk mengejar Nelson.
Setelah duduk di cafe di tepi pantai, Alena melupakan yang dilakukan Danna dan Darcy yang tidak ikut bersama mereka. "Pesan saja yang mau kau makan dan minum." Alena berkata kepada Arni yang duduk di depannya.
"Yang terjadi hari ini biarlah berlalu bersama ini." Alena mengangkat gelas berisi softdrink, untuk merayakan pertemanan mereka seakan Danna dan Darcy ada bersama mereka.
"Iya. Semoga lain kali lebih baik lagi." Arni mengangkat gelas. "Cheers..."
Arni tidak menyadari rasa khawatir Alena atas ketidak hadiran Danna dan Darcy, terutama Danna.
Bayangan suram dan kehilangan satu pegangan mulai mengganggu ketentraman dompet dan hatinya.
...~•••~...
...~•○♡○•~...