Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35: Aku Pasti Bisa
____🌺
"Kenapa?" tanya Rendra.
"Aku sudah dua tahun tidak menangani proyek besar. Aku bahkan belum tahu perkembangan material dan tren desain terbaru. Bagaimana kalau aku justru menghambat pekerjaan timmu?" ungkap Nayara ragu.
Rendra menyandarkan tubuhnya.
"Nayara, aku tidak sedang memintamu langsung menguasai semuanya dalam satu hari."
"Tapi proyek ini bukan proyek kecil," balas Nayara.
"Memang. Karena itu, kamu tidak akan bekerja sendirian," jawab Rendra.
Ia kembali memperlihatkan beberapa gambar di ponselnya.
"Aku sudah melihat portofolio lamamu. Aku tahu bagaimana cara kerjamu. Kamu teliti, punya perhatian besar terhadap detail, dan tidak asal memilih material. Itu alasan aku mengajakmu."
Nayara menunduk.
"Tapi portofolioku sudah lama tidak diperbarui," keluhnya.
"Kalau begitu, kita perbarui."
Rendra tersenyum tipis.
"Kamu bukan kehilangan kemampuan, Nay. Kamu hanya terlalu lama tidak mendapatkan kesempatan untuk menggunakannya."
Nayara terdiam.
Perkataan itu mengingatkannya pada ucapan ibunya, pagi tadi.
"Jangan salah paham," lanjut Rendra. "Aku tetap akan meminta kamu meninjau kembali perkembangan desain interior terbaru sebelum mulai bekerja. Ada beberapa hal teknis yang mungkin perlu kamu pelajari lagi. Tapi itu bisa dilakukan sambil berjalan."
Ia berhenti sejenak.
"Dan satu hal lagi, aku tidak mengajakmu bekerja karena kasihan. Aku membutuhkan orang yang punya kemampuan. Kalau aku tidak percaya pada kemampuanmu, aku tidak akan menawarkan posisi ini."
Nayara mengangkat wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah Adrian, ia merasa ada seseorang yang melihat dirinya bukan sebagai istri seorang pengusaha, melainkan sebagai perempuan yang memiliki kemampuan sendiri.
"Nay," panggil Rendra pelan. "Kamu bilang ingin berdiri sendiri tanpa bergantung pada uang suamimu, bukan?"
Nayara mengangguk.
"Iya."
"Kalau begitu, anggap ini sebagai kesempatan untuk memulai lagi. Kamu tidak harus membuktikan semuanya kepada orang lain. Cukup buktikan kepada dirimu sendiri bahwa kamu masih mampu."
Nayara menarik napas panjang.
"Kalau aku menerima tawaranmu, aku harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau dianggap mendapatkan posisi ini hanya karena kita berteman," tegasnya.
Rendra tertawa kecil.
"Itu justru yang ingin kudengar."
Nayara akhirnya tersenyum. "Baiklah. Aku terima tawaranmu."
"Bagus. Besok pagi datang ke kantor jam sembilan. Kita bahas kontrak kerja, pembagian tugas, dan jadwal proyeknya. Setelah itu, aku akan mengenal kamu, kepada tim," ujar Rendra.
Nayara mengangguk.
"Terima kasih, Ren."
"Jangan berterima kasih dulu. Besok pekerjaanmu sudah menunggu," balas Rendra sambil tersenyum.
____🌺
Keesokan paginya, Nayara berdiri di depan gedung biro desain milik Rendra.
Ia mengenakan celana panjang hitam, blus putih, dan sepatu kerja sederhana. Sebuah tas kerja tergantung di bahunya.
Sebelum masuk, ia sempat memandang pantulan dirinya pada kaca lobi.
Sudah lama sekali ia tidak berpakaian seperti ini untuk pergi bekerja.
Ada rasa gugup, tetapi juga ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bangun pagi bukan untuk menyiapkan sarapan suaminya atau mengurus kebutuhan rumah tangga. Ia bangun karena memiliki tujuan untuk dirinya sendiri.
Nayara menarik napas, kemudian melangkah masuk.
Seorang resepsionis menyambutnya dan mengarahkan perempuan itu ke ruang rapat di lantai dua.
Di sana, Rendra sudah menunggu. Beberapa gulungan gambar kerja dan dokumen tersusun di atas meja oval.
"Pagi, Nay. Tepat waktu," sapa Rendra.
"Pagi, Ren," jawab Nayara sambil menarik kursi.
"Silakan duduk. Sebelum mulai, kita selesaikan dulu urusan kontrak dan pembagian tugas."
Nayara duduk di kursi seberang Rendra, lalu mengeluarkan buku catatan dan pena dari dalam tasnya.
Setelah beberapa saat membahas ketentuan kerja, Rendra menyerahkan satu map berisi dokumen proyek.
"Ini berkas awal dari klien. Di dalamnya ada profil perusahaan, kebutuhan ruang, gambar kondisi bangunan, dan konsep yang mereka inginkan," jelas Rendra.
Nayara menerima map tersebut.
"Target pengerjaannya berapa lama?" tanyanya.
"Dua bulan untuk tahap pengerjaan utama. Tapi hari ini kita perlu memeriksa kondisi lokasi terlebih dahulu. Siang nanti aku akan mengajakmu bertemu perwakilan dari divisi aset mereka," jawab Rendra.
Nayara mengangguk.
"Baik. Aku akan pelajari dulu dokumennya."
Ia membuka halaman pertama.
Awalnya, Nayara membaca isi dokumen itu dengan saksama. Ia memperhatikan keterangan luas bangunan, kebutuhan ruangan, serta beberapa catatan mengenai material yang diinginkan klien.
Namun, ketika matanya sampai pada bagian profil perusahaan, gerakan tangannya mendadak berhenti.
Ada sebuah logo yang terasa sangat familier.
Nayara mengerutkan kening, lalu membaca nama perusahaan yang tercetak tepat di bawahnya.
PT MAHENDRA GROUP — CABANG SELATAN.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Ia membaca nama itu sekali lagi, berharap dirinya salah melihat.
Namun, tulisan tersebut tidak berubah.
Itu adalah salah satu cabang perusahaan keluarga Mahendra. Bahkan, cabang yang dipimpin langsung oleh Adrian.
Jari-jari Nayara mencengkeram tepi map. Tanpa sadar, ia menarik napas lebih dalam.
Rendra yang sedang merapikan gambar kerja akhirnya menyadari perubahan ekspresi perempuan itu.
"Kenapa, Nay? Ada yang kurang jelas?" tanyanya.
Nayara tidak langsung menjawab.
Matanya masih tertuju pada nama perusahaan tersebut.
"Ren ...," panggilnya pelan.
"Ya?" sahut Rendra.
Nayara mengangkat wajah, berusaha mengendalikan ekspresinya.
"Klien proyek ini benar-benar PT Mahendra Group?" tanyanya memastikan.
Rendra mengangguk santai.
"Iya. Kami sudah memenangkan tendernya beberapa minggu lalu. Kenapa? Kamu kenal perusahaan itu?"
Nayara terdiam.
Tentu saja ia mengenalnya.
Perusahaan itu bukan sekadar nama yang pernah ia dengar. Di sanalah Adrian bekerja. Di sanalah keluarganya membangun kekuasaan. Dan di sanalah banyak hal yang selama ini berusaha disembunyikan dari dirinya.
Rendra memperhatikan wajah Nayara yang semakin tegang.
"Nayara?"
Perempuan itu menutup map perlahan.
Untuk sesaat, ia teringat ancaman Adrian di rumah ibunya. Tentang rahasia perusahaan yang tidak boleh dibicarakan. Tentang keluarga Mahendra yang tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Namun, ia tidak ingin kembali menjadi perempuan yang selalu mundur karena ketakutan.
Nayara menatap Rendra.
"Ren, aku baru tahu kalau proyek pertamaku ternyata berhubungan dengan perusahaan keluarga mantan suamiku," ungkapnya.
Rendra terdiam. Ekspresi santainya berubah serius.
"Kamu yakin tidak keberatan menangani proyek ini?" tanyanya hati-hati.
Nayara menatap kembali logo perusahaan di dalam map.
Ia tahu pekerjaan ini mungkin tidak akan mudah. Bisa saja ia harus bertemu Adrian. Bahkan, bukan tidak mungkin pria itu akan berusaha mencampuri pekerjaannya.
Namun, ia juga tahu bahwa jika terus menghindar, ia tidak akan pernah benar-benar bisa membangun hidupnya sendiri.
Nayara menutup map itu sepenuhnya.
"Aku akan tetap mengerjakannya, Ren," jawabnya mantap.
Rendra menatapnya beberapa saat.
"Kamu yakin?"
Nayara mengangguk.
"Aku datang ke sini untuk bekerja. Aku tidak mau membiarkan urusan pribadiku menghancurkan kesempatan yang sudah aku dapatkan."
Ia menarik napas, lalu menambahkan dengan suara lebih mantap.
"Aku akan berdiri sendiri. Dan aku tidak akan mundur hanya karena nama Adrian ada di balik proyek ini."
emang lu doang yang bisa 🤣🤣