NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Suami Tak Berguna / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita

Pagi harinya, Hanis terlebih dahulu turun ke ruang makan. Ia tidak menunggu Sean atau Jinny seperti biasa. Alasannya jelas karena pertengkaran semalam.

Hanis duduk manis di kursi meja makan. Namun tidak langsung menyendok nasi dan lauk. Sembari menunggu, ia menikmati teh hangat yang sudah dibuatkan sang asisten rumah tangga.

Baru setelah teh Hanis hampir habis, Sean terlihat menuruni tangga. Langkahnya lambat dan tak bersemangat. Wajahnya kacau, luka di beberapa bagian.

Jinny menyusul setelah Sean sudah duduk di kursinya dan menuangkan nasi. Ikut duduk di samping sang suami. Namun tidak saling menyendokkan nasi maupun lauk seperti biasa.

Mereka mentega menghabiskan sarapan dalam diam, hanya ada suara denting alat makan. Hingga Jinny menjadi yang pertama meninggalkan ruang makan.

Wanita itu tidak mengucapkan sepatah katapun. Langsung pergi begitu saja. Namun dari yang Hanis tangkap, Jinny hendak pergi berolahraga karena pakaiannya, dan karena ia menenteng sepatu olahraga.

Sean mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan. Terlihat menghela napas panjang beberapa kali. Sepertinya pertengkaran semalam belum juga usai.

“Aku nggak ke kantor, Nis. Mau dirumah aja seharian ini. Kita bisa ngobrol-ngobrol biar semakin kenal,” ujar Sean setelah terdengar suara pintu gerbang yang tertutup otomatis, menandakan Jinny sudah benar-benar pergi.

Hanis hanya bisa mengangguk. “Baik…”

“Nanti malam ada acara gala dinner sih, sama Jinny…”

“Oh begitu…” Sejujurnya, Hanis bingung harus menanggapi bagaimana informasi tersebut.

“At least, sampai sore ini saya free,” lanjut Sean. “Mau ngobrol dimana?”

“Dimana saja boleh,” jawab Hanis yang langsung disesalinya sedetik kemudian. Dimana saja berarti bisa juga di kamar, sementara Hanis tidak menginginkan itu. Masih terlalu canggung untuk berduaan saja di kamar, sekaligus takut memicu kemarahan Jinny kembali.

Beruntung Sean bangkit terlebih dahulu dan pindah ke sofa ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang makan. “Sini aja, Nis. Duduk sini.”

Hanis menurut, berpindah ke sisi kosong di samping Sean yang baru saja ditepuk pria itu beberapa kali.

“Kita perlu ngobrol-ngobrol, biar pas proses besok lebih nyaman,” buka Sean.

“Kita… kita mau ngobrolin apa?”

“Ya apa aja… kamu mau cerita apa? Atau aku duluan?”

“Duluan aja.”

“Hmm… Aku ini anak tunggal. Harapan satu-satunya, makanya aku dituntut buat ngasih keturunan segera,” mulai Sean.

Di sampingnya, Hanis mendengarkan dengan seksama namun tidak banyak merespon.

“Aku sama Jinny dijodohkan… awalnya Jinny nolak karena sudah punya pacar, tapi entah gimana akhirnya dia setuju. Kalau aku dari awal memang pasrah, sudah dikasih tau sejak muda kalau bakal dijodohkan.”

Hanis sedikit kaget mendengarnya. Tak menyangka rumah tangga Sean dan Jinny merupakan hasil perjodohan, melihat bagaimana sayangnya Sean pada Jinny kemarin sebelumnya.

“Kalau kamu sendiri? Gimana?” tagih Sean, menyuruh Hanis ganti bercerita.

“Ehm… aku sama Mas Rino, ya biasa, kenalan, suka, pacaran, nikah.”

Sean menyimak dengan seksama. “Kalian nikah muda ya?”

“Ehm… nggak juga. Menikah umur dua puluh.”

“Itu muda banget!” seru Sean. “Usia dua puluh aku masih sibuk-sibuknya kuliah.”

“Aku nggak kuliah, selesai sekolah kerja di warung ayam geprek,” cerita Hanis. “Mas Rino pekerja di proyek seberang warung, langganan beli makan siang tiap hari, akhirnya kenalan, terus akrab.”

“Wah… kayak di cerita-cerita romansa…”

“Ya begitulah. Tapi ternyata kehidupan setelah nikah juga nggak lebih baik. Cobaannya di ekonomi. Kontrakan nunggak terus, anak-anak susu sering nggak kebeli. Mas Rino kadang dapat kerjaan, kadang nganggur. Aku sudah nggak kerja sejak hamil anak pertama.”

Sean mengangguk paham. “Jadi ini alasanmu…?”

Gantian Hanis yang mengangguk. “Benar. Karena terpaksa… tapi tenang aja, aku akan bekerja sebaik mungkin.”

Dan sepanjang pagi itu hingga sore sebelum Jinny pulang, Sean dan Hanis mengobrol untuk pertama kalinya. Menceritakan latar belakang kehidupan dan harapan serta impian mereka kedepannya.

...****************...

1
falea sezi
sean ini bodoh mau ma jiny bekas gt🤣 mending bantuin haniscerai dr suami nya 🤣 trs elu ama hanis aja
Quoari: Eh nanti gelut dong sama Reno 😭
total 1 replies
falea sezi
egois ini sean🤣 dan lu masih mau ma istri yg bekas di obok2 mantan pcrnya menjijikkan
falea sezi
🤣goblok istri bekas aja mau
Quoari: Terlalu baik sih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!