NovelToon NovelToon
Gadis Dalam Lukisan

Gadis Dalam Lukisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Janda / Romansa
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alethea dan Satoru Kencan

oSatoru menerima pertanyaan para tamu undangan sambil sesekali mencuri pandangan ke arah Alethea yang sedang bersama dengan kedua orang tuanya. Akito Shinoda memang sudah menyelidiki siapa Alethea Ashford dan dia tidak mempermasalahkan jika Satoru serius bersamanya. Selama bukan tunangan atau istri orang, Akito tidak masalah. Apalagi Alethea sudah dua tahun menjanda dan selama itu tidak ada catatan dia berkencan dengan seseorang.

Akito tahu dari Alden bahwa kehidupan Alethea pasca Toshiro meninggal, begitu membosankan. Pagi bekerja, pulang tepat waktu jika tidak ada lembur. Repeat. Benar-benar seperti robot yang teratur.

"Mr Shinoda. Ada yang mau beli karya Anda yang bergambar dua orang dengan judul "The Siblings." Harganya melebihi yang kita duga," bisik salah satu asisten museum.

"Berapa?" tanya Satoru.

Asisten itu berbisik di sisi telinga Satoru. Pria itu terkejut. "Sebanyak itu?"

Asisten itu mengangguk. "Bagaimana?"

"Lepas saja." Satoru tersenyum. "Aku suka jika banyak yang menghargai karyaku."

"Baik, Mr Shinoda." Asisten itu pun berjalan ke arah calon pembeli.

Satoru lalu kembali menyapa para tamu undangan dengan ramah. Dia tahu, Alethea aman bersama dengan kedua orang tuanya.

***

"Thea, aku tidak meminta kamu terburu-buru mengambil keputusan. Dipikir-pikir dulu ya. Maksudnya kalau Satoru mendekati kamu," ucap Alaska.

"Apakah Anda tidak suka jika Satoru dengan saya?" tanya Alethea.

"Oh bukan. Bukan kamunya. Satorunya. Anak itu kalau kumat ghosting nya, pengen aku tendang ke planet Jupiter karena yang namanya seniman, selalu tergantung mood," jawab Alaska lekas-lekas. "Bukan karena kamu ataupun status kamu."

"Kami sangat hapal Satoru yang suka seenaknya. Jika dia mengejar kamu, yakinkan diri kamu bahwa kamu bisa menerima sikap moody nya anak itu," timpal Akito.

"Saya bertemu dengan banyak artis dan sebagai seniman, mereka punya ego tersendiri jadi bisa dibilang saya paham," senyum Alethea.

"Ah syukurlah kalau kamu paham," kekeh Akito.

"Thea! Ya ampun aku cari kamu! Ayo, kita harus lihat karya Satoru lainnya. Kamu malah mengobrol disini. Maafkan saya tapi saya harus membawa kurator saya. Permisi." Jennifer datang dan langsung menarik Alethea.

"Maafkan saya tapi Boss saya sudah menarik saya. Permisi," senyum Alethea yang bergegas mengikuti Jennifer.

Akito dan Alaska saling berpandangan. "Itu Jennifer? Boss yang heboh?" tanya Akito.

"Tidak salah lagi." Alaska tersenyum.

Endingnya, Jennifer dan Alethea harus pulang terlebih dahulu, meninggalkan Satoru yang masih disana untuk menyelesaikan proses pembayaran dari lukisannya yang laku terjual.

"Dan akhirnya aku ditinggal Thea," keluh Satoru saat mereka pulang ke penthouse mereka di daerah Central Park.

Akito dan Alaska memiliki penthouse dan apartemen di beberapa kota besar karena Alaska sering bepergian memarkan lukisannya. Akito ingin istrinya tetap nyaman jadi dia membeli beberapa aset demi Alaska. Apalagi sekarang Satoru mengikuti jejak ibunya jadi aset mereka tetap terpakai.

"Kan Thea tamu di sini. Jangan kamu seenaknya deh," ucap Alaska sambil berjalan bergandengan tangan dengan Akito.

"Kalau kamu memang suka sama dia, sebaiknya kamu itu melakukannya dengan benar. Jangan main ghosting , pastikan hati kamu. Paham?" timpal Akito dengan nada tegas. "Otousan tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pria yang pengecut dan tidak gentleman!"

"Tenang saja. Aku tidak akan menjadi pria pengecut." Satoru tersenyum manis.

***

Pagi menjelang siang ketika Satoru tiba di hotel tempat Alethea menginap.

Dia berdiri di depan pintu masuk hotel dengan kedua tangan berada di saku mantelnya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, meskipun sebenarnya sejak tadi dia memikirkan bagaimana cara mengajak Alethea menghabiskan waktu bersamanya tanpa membuatnya merasa tertekan.

Begitu Alethea turun ke lobi, pandangan Satoru langsung tertuju kepadanya.

"Alethea."

Alethea tersenyum ketika melihatnya. "Satoru? Apa kau sedang ada urusan di sini?"

"Tidak."

Jawaban singkat itu membuat Alethea mengangkat alis. "Tidak."

Satoru kemudian tersenyum kecil. "Aku datang untuk mengajakmu brunch."

"Brunch?"

"Ya. Kalau kau belum punya rencana."

Alethea melirik jam tangannya. "Sepertinya aku memang belum punya rencana."

"Bagus." Satoru terlihat sedikit lega.

Alethea tersenyum geli melihat reaksinya. "Memangnya kenapa kalau aku sudah punya rencana?"

"Berarti aku harus mencari alasan lain untuk bertemu denganmu." Satoru mengerlingan matanya.

Alethea terdiam sesaat. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cara Satoru mengatakannya membuat pipinya sedikit memerah.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku ikut."

Mereka kemudian pergi bersama.

***

Restoran tempat Satoru membawanya memiliki jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk. Suasananya tenang, dengan musik lembut mengalun di antara percakapan para pengunjung. Mereka duduk berhadapan.

Alethea memperhatikan menu, sementara Satoru justru lebih sering memperhatikan dirinya.

"Kau tidak membaca menu?" tanya Alethea tanpa mengangkat kepala.

"Aku sudah tahu apa yang ingin kupesan."

"Apa?"

Satoru tersenyum. "Yang sama denganmu."

Alethea akhirnya menatapnya. "Kau bahkan tidak tahu aku mau memesan apa."

"Makanya aku menunggu."

Alethea tertawa kecil. "Sepertinya hari ini kau aneh."

"Mungkin."

"Kenapa?"

Satoru menatapnya beberapa detik. "Karena aku sedang senang."

Jawaban itu membuat Alethea terdiam. Tidak ada kata-kata berlebihan. Tidak ada rayuan yang dibuat-buat. Hanya kejujuran sederhana yang justru membuat suasana di antara mereka terasa semakin hangat.

Brunch berlangsung lebih lama daripada yang mereka rencanakan.

Mereka berbicara tentang berbagai hal, tentang perjalanan Alethea, pekerjaan Satoru, tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi, bahkan hal-hal kecil yang biasanya tidak mereka bicarakan.

Sesekali mereka tertawa. Dan tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat.

Ketika mereka selesai makan, Alethea melihat jam. "Sudah hampir siang."

Satoru ikut melihat jam. "Kalau begitu..."

"Kalau begitu? Sore dewa?" Alethea menatap Satoru bingung.

Satoru berdiri dan mengambil mantelnya. "Kita makan siang."

Alethea tertawa. "Kita baru saja selesai brunch."

"Aku tahu."

"Jadi kau mau mengajakku makan lagi?"

"Ya."

"Kenapa?"

Satoru menatapnya dengan senyum lembut. "Karena aku belum ingin mengantarmu kembali ke hotel."

Alethea tidak langsung menjawab. Dia hanya menundukkan wajah sambil tersenyum kecil. "Baiklah."

***

Mereka kemudian berjalan kaki menyusuri kawasan kota. Berjalan berdua melewati taman kota iconic di New York yaitu Central Park.

Udara siang terasa nyaman. Satoru berjalan di samping Alethea tanpa terburu-buru. Sesekali tangan mereka hampir bersentuhan, tetapi keduanya sama-sama tidak mengatakan apa-apa.

Saat melewati sebuah toko buku, Alethea berhenti. Satoru ikut berhenti. "Kau suka buku?"

"Aku suka tempat seperti ini."

"Kalau begitu kita masuk."

Mereka menghabiskan hampir satu jam di dalam toko. Alethea melihat beberapa buku, sementara Satoru diam-diam memperhatikan buku yang menarik perhatian wanita itu.

Ketika Alethea sedang sibuk membaca bagian belakang sebuah buku, Satoru mengambilnya dari rak. "Aku akan membelinya untukmu."

Alethea menoleh. "Jangan."

"Kenapa?"

"Aku bisa membelinya sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu?"

Satoru tersenyum. "Aku hanya ingin memberikannya kepadamu."

Alethea menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerah. "Baiklah."

Mereka kembali berjalan. Dan ketika akhirnya tiba waktunya makan siang, Alethea mulai menyadari sesuatu. Hari itu tidak lagi terasa seperti sekadar brunch. Tidak juga seperti pertemuan biasa antara dua orang yang saling mengenal.

Mereka makan bersama. Berjalan bersama. Tertawa bersama. Bahkan membeli buku bersama.

Alethea menatap Satoru dari seberang meja restoran ketika mereka menunggu makanan datang.

"Satoru."

"Hm?"

"Apakah ini sebenarnya kencan?"

Satoru berhenti sejenak. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya. "Menurutmu?"

"Aku yang bertanya."

"Kalau menurutku..." Satoru meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau menghabiskan satu hari penuh bersama seseorang yang kita sukai, makan bersamanya dua kali, berjalan-jalan, dan berusaha membuatnya tersenyum..."

Alethea menatap dengan mata birunya. Tampak sangat penasaran.

Dia memandang mata Alethea. "...kurasa itu cukup pantas disebut kencan."

Alethea terdiam. Wajahnya perlahan memerah. "Jadi sejak awal kau memang menganggapnya kencan?"

Satoru tersenyum. "Sejak aku datang ke hotelmu pagi tadi."

Alethea menunduk sambil tersenyum malu. "Seharusnya kau mengatakannya dari awal."

"Kalau kukatakan dari awal, mungkin kau akan menolak."

Alethea menggeleng pelan. "Tidak."

Satoru menatapnya. "Tidak?"

"Aku tidak akan menolak."

Senyum Satoru menjadi lebih hangat. Di antara mereka, tidak ada lagi percakapan untuk beberapa saat. Hanya tatapan yang bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.

Dan ketika makanan mereka akhirnya datang, keduanya sama-sama tahu bahwa brunch tadi hanyalah awal. Hari itu telah berubah menjadi sebuah kencan, tanpa perlu direncanakan secara resmi.

Alethea tersenyum senang.

***

Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
amilia amel
moody-nya dimaafkan
dan setelah ini Thea bakalan lebih kapal mood-nya Satoru
D_wiwied
namanya juga seniman, tergantung moodnya.. baru jg belajar romantis eeh tau2 balik lg ke setelan awal yg datar lempeng lugas apa adanya.. memang unik keluargamu ya Toru bahkan secara keseluruhan the big fam 🤭😆😆
Teuing Saha🙃
🤣🤣🤣 Gemesin banget sih kalian berdua
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣🤣 yakin Nina kram itu pipi karena ketawa terus gara gara satoru🤣🤣🤣🤦🤦,tapi y MW gimana lagi mang seperti itulah Satoru,,dan y bener Thea kamu yg pertama buat Satoru dan semoga kalian jodoh aamiin 🤲
amilia amel
gapapa.... sekali-kali nepo memang diperlukan
D_wiwied
nepo dikit gpp lah wong kamunya udah cantik spektakuler gini.. pdhl biasanya seniman tu rata2 romantis lho koq yg ini oraaa,,, gpp wong masih dalam tahap belajar romantis ya Toru kencan berjalan lancar aja udah bagus bgt itu 🤭😆
Sayem Sayem
yakin tu Toru dah mentok cinta ny sama gadis dlm lukisan ny...jika ia d tunggu rostingan ala pria Pratomo
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 maaf Satoru y Thea tapi yakin , Toru pria baik kok cuma y gen Pratomo ny masih ada JD y begitu 🤣🤣🤣
Kaylaa
lha wes piye....emang modelnya gitu...gak suka basa basi....🤭
D_wiwied
setidaknya hargai kejujuran Satoru, The.. itu udah ajakan paling romantis menurut dia 🤭
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Sayem Sayem
mb hana visual e makin imut walau mode anime tp lucu bikin gemes🥰🥰
Sayem Sayem
TTS d mulai y toru..
Marsiyah Minardi
Maafkan aku ya Thea ,aku pun ikut ketawa sama kaya Nina
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia
Teuing Saha🙃
Berhenti ngakak kamu, Nina🤣🤣🤣 takutnya ngompol 🤭
amilia amel
Thea belum tau kalo "unromantic" adalah nama tengah para lelaki Pratomo 🤭🤭🤭
Nuraisah Aisah
sangat sangat luar biasa, tidak perlu diragukan lagi kalo karyanya Mbak Hana memang the best, tetap semangat dalam membuat karya-karya yang luar biasa kapanpun akan selalu ditunggu
Hana Reeves: mamaciih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Elsa Fanie
🤣🤣🤣🤣 biasanya kalo seniman romantis y Thea tapi maaf Satoru masih keturunan Pratomo kok JD y g2, ngajak nikah kaya orang ngajak beli cilok 😁😁😁,tapi nti pas udah nikah pasti romantis kok🤭
Elsa Fanie
nah bener kan blm ketemu j pusing apalagi kalo udah ketemu smw 🤣🤣🤣🤣,
Elsa Fanie
Masyaa Allah cantik ny anak pak Ben dan Bu Joy,,,g sabar y Thea pengen ketemu m yg lain tapi nti kalo udah ketemu jgn pening y 😁😁😁
D_wiwied
jujur aja ya The, cowok2 di klan Pratomo tu hampir semua ga ada yg romantis.. nglamar anak gadis orang ky ngjakain beli bakso 🤭😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!