NovelToon NovelToon
Menghempas Keluarga Benalu

Menghempas Keluarga Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.

Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Tempat pulang

Nadira berusaha tersenyum untuk menenangkan ibunya. Ia tahu wanita itu pasti mengkhawatirkannya, terlebih setelah mengetahui semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya.

Namun, Nadira sendiri belum tahu harus mulai bercerita dari mana. Terlalu banyak hal yang menumpuk di dalam pikirannya hingga ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk sekadar mengeluh.

"Aku baik-baik saja, Bu. Mungkin masih sedikit lelah karena beberapa hari ini harus bolak-balik menjalani pemeriksaan Naya di rumah sakit," jawab Nadira pelan.

Ibunya mengernyitkan dahi. Ia tidak sepenuhnya percaya pada jawaban tersebut. Sebagai seorang ibu, ia bisa melihat ketika putrinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu di balik senyuman tipisnya.

"Jangan membohongi Ibu, Nadira. Ibu ini ibu kandungmu. Mana mungkin Ibu tidak tahu kalau anak Ibu sedang tidak baik-baik saja?"

Nadira terdiam. Senyuman yang sejak tadi berusaha ia pertahankan perlahan memudar. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai terasa panas. Entah mengapa, mendengar pertanyaan sederhana dari ibunya justru membuat pertahanannya terasa rapuh.

Selama beberapa hari terakhir, Nadira berusaha terlihat kuat di hadapan banyak orang. Ia menahan kemarahannya ketika berhadapan dengan keluarga suaminya, menahan kesedihannya ketika mengingat perlakuan mereka terhadap Naya, dan menekan kekecewaannya setiap kali mengingat bagaimana Arhan seolah tidak pernah benar-benar memahami perasaannya sebagai seorang istri.

Namun, di hadapan ibunya sendiri, Nadira tidak tahu lagi bagaimana caranya berpura-pura kuat. Bukankah seorang ibu juga akan selalu membutuhkan ibunya? Lagi pula Nadira tetap anak dari orang tuanya.

"Sudahlah, Nak. Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun sekarang kalau memang belum siap." Ibunya mengusap bahu Nadira dengan lembut. "Yang terpenting, kamu dan Naya sudah pulang. Kalian bisa beristirahat di sini sampai keadaan benar-benar membaik."

Nadira mengangkat wajahnya. Ia menatap wanita yang berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Bu."

Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibirnya. Ibunya tersenyum, lalu menarik Nadira ke dalam pelukannya. Tanpa banyak bicara, ia membiarkan putrinya bersandar di bahunya.

Ia tahu Nadira bukanlah perempuan yang mudah mengeluhkan masalahnya kepada orang lain. Sejak kecil, putrinya selalu berusaha menyelesaikan segala sesuatu sendiri, bahkan ketika sebenarnya ia membutuhkan seseorang untuk membantunya.

Naya yang melihat ibunya dan neneknya tengah berpelukan, segera ikut memeluk dua wanita hebat di hadapannya itu.

"Nenek, ibu. Naya juga mau peluk," ujarnya.

Sang nenek segera memeluk cucu kesayangannya itu, dan membiarkan Nadira dan Naya untuk masuk ke dalam rumah itu. Seorang pelayan berusia paruh baya segera berjalan ke arah mereka.

"Nyonya Sari, nona Nadira dan nona kecil. Kalian ingin minum apa, biar saya buatkan, ujar Bi Idah.

Nyonya Sari melepaskan pelukannya dari Nadira dan Naya, lalu menoleh ke arah Bi Idah yang sudah berdiri di hadapan mereka dengan senyum ramah.

"Buatin teh hangat saja, Bi. Kalau untuk Naya, tolong buatkan susu hangat, ya. Sepertinya cucuku ini juga sudah lelah setelah perjalanan tadi," jawab Nyonya Sari.

"Baik, Nyonya." Bi Idah mengangguk sebelum mengalihkan pandangannya kepada Nadira dan Naya. "Kalau begitu, silakan duduk dulu, Nona Nadira. Saya akan segera menyiapkannya."

Nadira tersenyum kecil. "Terima kasih, Bi."

Bi Idah membalas senyumannya sebelum beranjak menuju dapur. Sementara itu, Nyonya Sari menggandeng tangan Nadira dan Naya menuju ruang keluarga. Rumah yang sudah lama tidak dikunjungi putrinya itu masih terasa sama seperti dulu. Tidak banyak perubahan, baik pada perabotan maupun susunan ruangan, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat tersebut.

Nadira memandang sekelilingnya. Entah mengapa, suasana rumah itu membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Ada begitu banyak kenangan yang tersimpan di sana, termasuk masa-masa ketika ia masih menjadi seorang gadis yang belum mengenal rumitnya kehidupan rumah tangga.

Dulu, setiap kali menghadapi masalah, ia hanya perlu pulang dan menceritakan semuanya kepada ibunya. Wanita itu akan mendengarkan tanpa menghakimi, kemudian memberikan nasihat yang terkadang baru ia pahami setelah melewati banyak hal.

Namun, setelah menikah dengan Arhan, Nadira perlahan membiasakan dirinya untuk menyelesaikan segala sesuatu sendiri. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir. Terlebih lagi, selama ini ia selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa rumah tangganya baik-baik saja.

Sayangnya, kali ini ia tidak lagi mampu menyembunyikan semuanya.

"Nadira, duduklah di sini, Nak." Suara Nyonya Sari menyadarkan Nadira dari lamunannya. Ia segera duduk di sofa, sementara Naya memilih duduk di samping neneknya.

"Bu, Naya boleh main di sini?" tanya gadis kecil itu sambil menunjuk beberapa boneka yang tersusun rapi di sudut ruangan.

"Tentu saja boleh, Sayang. Itu semua mainan Ibu waktu masih kecil. Kalau Naya mau memainkannya, silakan saja."

Mata Naya langsung berbinar. "Benarkah, Nek?"

"Iya. Tapi jangan sampai berantakan, ya. Nanti kalau sudah selesai bermain, kita rapikan lagi bersama-sama."

Naya mengangguk antusias sebelum berlari kecil menuju sudut ruangan. Melihat tingkah cucunya, Nyonya Sari tersenyum. Namun, senyum itu perlahan memudar ketika ia kembali menoleh kepada Nadira.

" Bu, ayah lagi bekerja? "tanyanya.

Sang ibu segera mengangguk kecil," Ibu sudah bilang ke ayahmu untuk pulang lebih cepat, ibu bilang kamu mau tinggal dirumah ini beberapa hari dan ayahmu terdengar senang, " ujarnya.

Nadira mengangguk, ia kembali menatap ke arah Naya yang tengah memainkan mainan itu dengan riang, sedangkan sang ibu yang hanya tahu Naya dirumah sakit dna tidak tahu permasalahan putrinya segera menoleh.

" Sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan suamimu, Naya?" tanya, sang ibu akhirnya.

Nadira terdiam mendengar pertanyaan ibunya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan mengalihkan pandangannya ke arah Naya yang masih asyik bermain dengan boneka-boneka di sudut ruangan.

Ia tahu cepat atau lambat ibunya akan menanyakan hal itu. Namun, membicarakan masalah rumah tangganya bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih ketika ia harus mengakui bahwa selama ini dirinya tidak sebahagia yang selalu ia ceritakan kepada kedua orang tuanya.

"Memangnya kenapa, Bu?" Nadira mencoba tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa. Aku dan Arhan hanya sedang sedikit berbeda pendapat."

Nyonya Sari menghela napas pelan. Ia sudah menduga putrinya akan memberikan jawaban seperti itu.

"Nadira, Ibu memang tidak tahu apa yang terjadi di rumah tanggamu. Namun, Ibu bisa melihat kalau ada sesuatu yang sedang kamu pendam." Wanita itu menggenggam tangan putrinya. "Kamu tidak perlu menyembunyikannya dari Ibu. Kalau memang ada masalah, ceritakan saja. Ibu tidak akan menghakimimu."

Nadira menunduk. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sementara pikirannya kembali dipenuhi berbagai kejadian yang beberapa hari terakhir membuat hatinya terluka.

Ia ingin menceritakan semuanya. Ia ingin mengeluarkan segala keluh kesah yang selama ini hanya berani ia simpan sendiri. Namun, ada bagian dari dirinya yang masih merasa ragu.

Bagaimanapun, Arhan tetap suaminya. Ia tidak ingin kedua orang tuanya memandang pria itu dengan buruk hanya karena masalah rumah tangga mereka. Namun, bukankah selama ini ia juga selalu berusaha melindungi perasaan Arhan, bahkan ketika pria itu tidak melakukan hal yang sama untuknya?

"Bu ..." Nadira akhirnya membuka suara. "Kalau seorang istri sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarganya, tetapi tetap saja dianggap salah, menurut Ibu dia harus bagaimana?"

Nyonya Sari mengernyitkan dahi. "Maksudmu?"

Nadira menarik napas panjang. Ia berusaha menyusun kata-kata agar bisa menjelaskan perasaannya tanpa harus menceritakan semuanya sekaligus.

"Aku selalu berusaha menghormati keluarga Arhan. Aku tidak pernah melarangnya membantu orang tuanya, tidak pernah mempermasalahkan ketika dia harus mengutamakan kepentingan keluarganya dalam keadaan tertentu. Aku juga berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka, meskipun terkadang ada hal-hal yang membuatku tidak nyaman."

Ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali tertuju kepada Naya yang sedang memeluk boneka beruang.

"Tapi, Bu, kenapa rasanya aku selalu dituntut untuk mengalah? Kenapa setiap kali ada masalah, aku yang harus mengerti keadaan mereka, sementara tidak ada yang mau mencoba memahami keadaanku?"

1
Noey Aprilia
Mampooosss.....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
Noey Aprilia
Hai kk...
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡
Heny
Harus berpisah biar nggak di ganggu lg km berhak menentukan sikao
Heny
Mertua pilih kasih
Adinda
laporin aja langsung kok hak orang diambil
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
Adinda
mungkin Arhan cuma anak angkat makanya ibunya seperti itu
falea sezi
🤣🤣 arhan liat kelakuan emak mu
Adinda
tinggalin aja punya orang tua seperti itu,apalagi anakmu gak dianggap dan cuma dijadikan atm berjalan
Adinda
jadi selama nadira jadi istri gak dikasih nafkah yang layak semua gaji arhan buat keluarganya begitu thor
Adinda
suruh suamimu nikah lagi bu imah mungkin kamu punya anak kecil laki laki🤣🤣
Adinda
keluarga parasit takut kehilangan atm berjalan kalau arhan cerai sama nadira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!