NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Yang Kubawa Pulang

Perjalanan pulang dari resort terasa seperti mimpi yang tak kunjung usai.

Zinnia duduk di kursi belakang mobil jemputan, tubuhnya bersandar pada pintu dengan pandangan kosong menembus kaca jendela. Pemandangan di luar bergerak cepat, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.

Di kursi lain, teman-temannya masih riuh membicarakan malam terakhir mereka.

"Gila, suara Radit semalam pas nyanyi fals banget!"

"Tapi kalian terhibur 'kan?" Radit malah bangga.

"Eh, jagung bakarnya enak, ya."

"Besok kita kirim foto-fotonya ke grup."

"Jangan lupa foto Didin pas lidahnya kepanasan gegara makan sosis."

"Sumpah. Lucu banget muka Didin pas itu."

"Kalian ya, malah seneng liat penderitaan diriku," keluh Didin.

"Ini satu-satunya jalan pintas biar lo langsung tenar, Bro."

"Sembarangan," sungut Didin.

Tawa pecah di dalam mobil, namun Zinnia hanya diam. Tangannya menggenggam ujung pakaian erat-erat di atas pangkuan.

Tak seorang pun tahu. Tak seorang pun menyadari bahwa sejak meninggalkan pantai tadi malam, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa hancur.

Beberapa kali salah seorang temannya mengajaknya bicara. Zinnia hanya memberikan senyum tipis sebelum kembali memalingkan wajah ke jendela.

Ia tidak sanggup menjelaskan. Bukan karena ia tidak ingin bicara. Sejak kecil, Zinnia memang terbiasa menggunakan bahasa isyarat dan tulisan untuk berkomunikasi. Namun kali ini, bahkan menuliskan apa yang terjadi pun terasa terlalu berat.

Setiap kali teringat malam itu, tubuhnya kembali menegang. Ia ingin menangis, tetapi air matanya seperti sudah habis.

 

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Zinnia segera turun.

"Zin, besok jadi ketemu di kampus, 'kan?" salah seorang temannya bertanya dari dalam mobil.

Zinnia menoleh, lalu mengangguk kecil. Ia mengangkat tangan, melambaikannya sebagai salam sebelum masuk ke halaman.

Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, senyum tipis yang sejak tadi ia paksakan langsung menghilang.

Zinnia berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Tangannya kembali gemetar. Ia memeluk dirinya sendiri, lalu berjalan cepat menuju kamar.

"Sudah pulang? Capek ya?" Ibunya yang muncul dari ruang tengah langsung menyambutnya.

Zinnia mengangguk.

"Kenapa wajahmu pucet gitu?" Riri menatap putrinya penuh kekhawatiran.

Zinnia menggeleng cepat. Ia kemudian menunjuk kepalanya dan memberi isyarat bahwa kepalanya sakit.

Riri mengangguk, namun kecemasannya tak langsung menghilang. "Ya udah, istirahat gih."

Zinnia mengangguk, melanjutkan langkahnya menuju kamar. Namun saat tinggal selangkah lagi hendak masuk, tiba-tiba perempuan itu berhenti. Ia membutuhkan sesuatu.

Sesuatu yang bisa membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Zinnia berbalik, melangkah menuju pintu utama.

Ibunya yang sedang berada di ruang tengah menoleh heran. "Baru pulang udah mau pergi lagi?"

Zinnia menunjuk kepalanya, kemudian membuat gerakan seperti menelan obat.

"Mau beli obat sakit kepala?" tanya Riri.

Zinnia mengangguk.

Ibunya tidak curiga. "Hati-hati di jalan."

Zinnia mengangguk sekali lagi sebelum pergi. Ia berjalan menuju apotek yang tidak jauh dari rumah. Langkahnya terasa berat.

Begitu masuk, aroma obat-obatan langsung menyambutnya. Zinnia berdiri di depan rak beberapa saat, berusaha mengatur napas. Ia mengambil obat yang ia butuhkan sebelum akhirnya melangkah menuju meja kasir. Tangannya gemetar ketika menyerahkan uang kepada kasir.

"Ini kembaliannya," ujar kasir.

Zinnia mengangguk dan segera memasukkan uang itu ke dompet. Matanya menghindari tatapan kasir.

Entah mengapa, sejak pagi tadi ia merasa semua orang sedang memerhatikannya. Seolah-olah luka yang tidak terlihat di tubuhnya bisa terbaca dari wajahnya. Seolah-olah semua orang tahu apa yang terjadi malam tadi.

Zinnia menggenggam kantong obat erat-erat. Ia menunduk, lalu berjalan keluar dari apotek.

Namun baru beberapa langkah, tangannya merogoh saku. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin. Cincin. Benda yang diberikan pria itu sebelum pergi.

Zinnia mengeluarkannya perlahan. Ia menatap cincin tersebut cukup lama.

"Cari aku dengan cincin ini."

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Air matanya akhirnya jatuh.

Ia segera mengepalkan tangan, menyembunyikan cincin itu di dalam genggamannya. Ia bahkan tidak tahu siapa pria itu. Yang ia tahu hanya satu.

Namanya Arvid.

Entah apa yang akan terjadi jika mereka bertemu lagi. Namun satu hal yang Zinnia tahu. Ia tidak mungkin melupakan malam itu.

Zinnia menghapus air matanya, lalu pergi ke beberapa tempat untuk membeli makanan dan minuman sebelum kembali ke rumah. Begitu sampai, ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Tangannya tremor saat membuka bungkus obat yang dibelinya dari apotek. Ia membaca petunjuk penggunaannya berkali-kali, meski beberapa kali matanya kehilangan fokus karena air mata.

Zinnia menelan obat itu dengan segelas air. Namun bukannya merasa lega, dadanya justru semakin sesak.

Obat itu bukan jaminan. Pikiran tersebut terus berputar di kepalanya.

Bagaimana kalau terlambat?

Bagaimana kalau obat itu tidak bekerja?

Bagaimana kalau...

Zinnia buru-buru menekan kedua telinganya. Ia tidak ingin memikirkan kemungkinan itu.

 

Jam di dinding kamarnya terus berdetak, berpindah dari siang menuju sore tanpa benar-benar ia sadari. Ponselnya tak pernah lepas dari tangan. Ia mencari segala sesuatu yang mungkin bisa dilakukan setelah kejadian yang dialaminya.

Jarinya bergerak cepat mengetik kata kunci di mesin pencarian. Satu artikel dibaca. Artikel lain dibuka. Kemudian ia berpindah ke forum, unggahan media sosial, hingga cerita-cerita orang yang bahkan tidak diketahui kebenarannya.

Apa pun yang terdengar seperti bisa membantu, ia coba.

Ia meneguk minuman bersoda meski baru beberapa teguk perutnya sudah terasa mual. Ia memaksakan makanan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang-orang sebagai makanan yang sebaiknya dihindari saat hamil.

Beberapa suapan masuk, sisanya ia muntahkan kembali. Zinnia terbatuk sambil memegangi perutnya. Air matanya kembali mengalir.

Ia mengambil ponselnya lagi. Mencari, membaca, mencari lagi. Tangannya berhenti ketika menemukan kalimat yang membuat wajahnya seketika pucat.

Sekarang tidak ada satu pun cara yang bisa ia lakukan sendiri yang dapat memberinya kepastian.

Zinnia menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Perlahan, ponsel itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke kasur.

Ia menunduk. Kedua tangannya bergerak refleks memeluk perutnya sendiri. Padahal belum ada apa-apa di sana. Belum ada tanda apa pun.

Namun untuk pertama kalinya, Zinnia merasa tubuhnya sendiri bukan lagi tempat yang aman baginya.

Tangisnya pecah. Ia membenamkan wajah ke lutut, berusaha menahan suara agar tidak terdengar sampai ke luar kamar.

 

...🔸🔸🔸...

...“Diam bukan berarti tidak terluka. Ada luka yang begitu dalam hingga bahkan untuk menceritakannya pun terasa seperti membuka kembali rasa sakit yang sama.”...

...“Terkadang yang paling menakutkan bukanlah sesuatu yang sudah terjadi, melainkan kemungkinan yang belum kita ketahui jawabannya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
siti irnani
Yaaaa sesuaiiiii judulnya bikin keseeelll juga sich ....
Dek Sri
lanjut
eny mamanya irwanfizi
makin bulet kayak sinetron
Anitha
Ini yang bikin gereget kenapa Zinnia membisu sih tidak jujur aja....Arvid ga akan narah sana kamu justru bakal senang
Anitha
sayangnya du gantung nih lagi tegang-tegangnya
Anitha
Zinnia tenang aja Arvid akan bertanggung jawab dan akan menikahimu....kamu harus ngaku yaa jujur sama Arvid kalo kamu Perempuan yang di pantai bersama Arvid.

kasihan Zinnia....semoga dapat Perlakuan istimewa dari Arvid setelah kebebarannya terungkap....

Dan berharap Keluarga Danendra sangat baik tidak memandang sosial media
Hanima
Lanjut
Anitha
Zinnia kamu harus tunjukin ke Arvid Cin-cin Pemberiannya....
jangan di urungkan lagi niatnya ya Zinn....
Anitha
Zinnia jangan salah paham dulu yang di omongin Arvid dan Juky bukan kamu,, tapi Oerempuan lain yang me njebak Arvid itu si Lena
Anitha
jangan terpengaruh dengan omongan yang kantin itu Zinnia....Arvid dan Keluarganya mungkin tidak seoerti yang kamu bayangkan,justru sebaliknya Keluarga Arvid akan menerimamu apa adanya demi kebahagiaan Putranya,apalagi ada anak Arvud dalam tubuhmu
Sastri Dalila
🥺🤗👍
Anitha
Khawatir dengan si Nita yang akan berbuat jahat pada Zinnia karena Arvid pastinya akan lebih memperhatikan Zinnia,apalagi kalo sudah terbukti bahwa Zinnia Perempuan yang di cari Arvid
Sastri Dalila
🥺🥺
Momz Haikal Sandhika
waduhhhh ...zinnia bisa salah faham ini...
Puji Hastuti
ealah belum apa² dah salah paham,
Dek Sri
Zinnia apa pun yang terjadi kamu harus kuat ya
Siti Jumiati
lanjuuuut kak... maaf baru bisa baca seharian rewang.
Eka Burjo
nah loh, Zinnia jadi salah faham 🫣
Hanima
Lanjuttt Zin
tse
wah belum belum dah salah paham aja nih...
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!