Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : Topeng Yang Mulai Retak
Suasana antrean area prioritas Bank Central pagi itu cukup padat. Di jemariku, terselip sebuah kartu nomor antrean layanan prioritas.
Saat mataku yang tenang tak sengaja menangkap dua sosok yang sangat kukenal di dekat meja Customer Service mereka adalah Prasetio dan Prilia. Waduh langsung bertemu saja di sini dua tikus curut ini, batinku getir.
Aku tidak perlu repot-repot lagi mencari kalian satu per satu, Bisik dalam hatiku. Target utamaku memang menunggu momen berharga ini, dan sekarang kalian malah hadir di sini.Aku tersenyum tipis.
Di saat yang bersamaan dua pasutri itupun menoleh ke arahku, ada raut kaget di wajah Prasetio saat melihatku, lalu dia melangkah menghampiriku.
"Maya loh kamu kok ke sini?! " Tanyanya keheranan. "Anak anak di mana?! " Lanjutnya lagi.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan suamiku, Prilia sudah berdiri di sampingnya, dengan senyum remeh dan memandang sebelah mata padaku.
"Ngapain kamu ke bank, Maya? kalau cuma ambil uang satu juta kan bisa lewat brilink, tidak harus ke bank Maya?" Prilia berucap dengan nada yang terdengar lembut dan sopan, sebagai pencitraan tentu nya agar terlihat baik di mata suaminya, yang juga suamiku.
Aku diam dan tenang mendengar ucapannya, tidak emosi sedikitpun.
"Aduh, Pa ayo cepat kita tarik dana nya, ngapain sih kamu bicara dengan nya?! Urusan kita masih banyak loh." Prilia dengan suara lembut manja nya bicara pada Mas Prasetio, tangan nya yang halus itu bergelayut manja di pundak nya, tepat di depan ku.
"HM!' Aku berdehem deheman ku tetap tenang dan ekspresiku tidak sedikit pun merasa cemburu melihat tingkahnya. Aku justru bersandar di kursi tunggu dengan gaya elegan, sambil memainkan kan ponsel ku, tanpa meng gubris ucapan nya sedikit pun.
"Maya?" Mas Pras berjalan mendekat ke arah ku, "Ayah dengan siapa May?" Nada nya sedikit terdengar cemas saat bertanya tentang Pak Burhan.
"Loh kenapa cuma bertanya denganku tentang Ayah? Bukankah keluarga Ayah itu bukan cuma aku? Ada kamu sebagai anak, ada Bu Salma sebagai istri, dan ada Prilia menantu yang cantik!" Aku menjawab tenang dan tetap mata tertuju pada ponsel di tangan ku.
"Maya bukan begitu?! Mas Pras terlihat serba salah. Ia lalu duduk di sampingku.
Prilia yang tidak tahan melihat Mas Prasetio mendekatiku langsung berkata dengan suara cukup ketus dan terdengar keras.
"Ingat status kamu, Maya! Kamu itu cuma istri siri! Kamu itu pelakor yang cuma diberi tumpangan di dalam rumah tangga kami! Nggak usah sok gaya datang ke area bank prioritas segala. Dasar parasit tidak tahu diri!" Waduh baru lihat suami nya mendekati ku sikap nya sudah seperti cacing kepanasan, aku tersenyum dalam hati.
Beberapa nasabah di area tunggu mulai menoleh. Kata 'pelakor' yang diucapkan Prilia dengan sangat lantang seketika menyedot perhatian seluruh isi ruangan.
Di tengah masyarakat, sebutan pelakor terasa jauh lebih menjijikkan daripada pelacur sekalipun. Bisik-bisik sinis mulai menjalar cepat di antara para pengunjung yang hari itu banyak terdapat kaum ibu ibu.
Pandangan mata orang-orang yang tadinya acuh kini berubah menjadi tatapan merendahkan, yang tertuju tepat ke arahku. Beginilah reaksi netizen mereka tidak akan mau tau tentang sebuah masalah yang mereka tahu hanya ucapan yang berada di depan mata.
"Terserah aku pun tidak mengenal orang orang ini,'' hatiku berbisik saat ku ku lirik orang -orang yang menoleh ke arah ku.
Prasetio semakin merasa serba salah. Aku tidak bergeser setapak pun dari posisiku. Tetapi sesaat kemudian aku berdiri berjalan ke arah nya dan......
PLAK!
Suara tamparan yang begitu nyaring memecah keheningan hall bank.
Gerakanku yang cepat dan kuat menampar wajah ayu itu, membuatnya terlempar keras ke samping kanan, pipi mulusnya langsung berubah merah padam. Suasana ruang bank seketika senyap mencekam. Bisik-bisik sinis nasabah terhenti seketika, dan petugas security yang tadinya berdiri santai di dekat pintu masuk bahkan tertegun kaku di tempatnya.
"Maya! Kamu gila?!" teriak Prasetio kaget dan tidak percaya. Dia syok luar biasa melihat pemandangan di depan matanya.
Prilia memegangi pipinya yang terasa panas membakar. Matanya membelalak lebar, napasnya memburu cepat karena terkejut dan murka. "Kamu... kamu berani menamparku?! Dasar pelakor!"
Dengan rasa emosi yang membuncah sampai ke kepala, Prilia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melayangkan ayunan keras berusaha membalas tamparanku. Bukan rasa sakit di pipinya yang membuat dia ingin segera membalas, melainkan rasa malu yang lebih dalam menguasai benaknya.
Namun dengan sangat tenang. Tanpa menggeser pijakan kakiku sedikit pun, tangan kiriku terangkat dan menangkis pergelangan tangan Prilia di udara. Cengkeramanku begitu kuat hingga gerakan Prilia terkunci mati. Sebelum Prilia sempat menyadari apa yang terjadi, tangan kananku bergerak cepat, mencengkeram kuat jemari di antara rambut Prilia dan menariknya ke bawah
"Aaargh!" Prilia menjerit kesakitan. Kepalanya terpaksa mendongak pasrah mengikuti cengkeramanku.
Orang-orang di dalam bank tertahan napasnya melihat dominasi dingin yang kutunjukkan.
Tanpa rasa takut sedikit pun, aku mendekatkan wajahku. Aku berbisik tepat di depan telinga Prilia dengan suara rendah namun begitu menekan.
"Tamparan itu belum seberapa, Prilia. Kamu pikir mulut besarmu dan status istri pertama itu bisa melindungi kejahatanmu? Aku sudah tahu semua siapa kamu dan ibumu yang busuk itu, serta penggelapan dana yang kau sembunyikan! " Makiku kesal.
Mata Prilia seketika membelalak lebar. Bibirnya membeku, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di kulit kepalanya. Wajahnya yang tadinya penuh kesombongan dan murka, dalam hitungan detik berubah pucat pasi bagai mayat.
Melihat perubahan drastis pada wajah Prilia dan mendengar ucapan dingin dari mulutku, Prasetio yang berdiri di sebelah kami memandangku dengan tatapan bingung, dia heran dengan ucapanku yang mengatakan siapa Prilia sebenarnya, dan ucapan itu jelas membuat Prilia seakan ketakutan.
"Apa maksutmu Maya, uang apa yang di gelapkan oleh Prilia,?!"
Mas Pras memandangku tajam penuh selidik, heeeem ternyata laki laki ini memang tidak tau, atau jangan jangan dia hanya pura pura tidak tau?!
Tanpa basa basi lagi aku pun langsung memberi ulti dengan sebuah pertanyaan yang membuat wajah Prasetio semakin memerah.
"Heeeem jadi kamu benar benar tidak tahu mas, kemana selama ini dana dari CV PERMAI ABADI di alihkan?! Kasihan kau mas?! Ucapku.
"Bahkan pemilik asli yang punya CV tersebut pun sudah tau saat ini. " Desahku sambil melirik ke muka Prilia tak acuh.
Wajah pasutri itu jelas sekali perubahannya saat aku menyatakan kalimat yang sengaja ku buat merendah namun jelas dan tenang.
"Kau siapa yang memberi tahumu pemilik asli CV ini Maya?! Suara Mas Pras meninggi.
Aku hanya tersenyum malas menjawab pertanyaannya. Tapi ku lihat sesaat Mas Pras seketika menjadi tertegun, entah apa yang di pikirkannya.
" Jangan kau dengarkan ucapannya Pa. " Prilia yang masih memerah wajahnya bekas tamparan ku tadi bersuara datar dengan muka di tekuk dalam. " Dia hanya mengarang cerita tahu apa dia?! Dia hanya seorang janda miskin yang tidak tahu rasa terimakasih sesikitpun sudah di tampung di dalam rumah dengan bawa anak lagi, di nafkahi tapi tidak pernah tahu diri, dasar pelakor! "
"Kau katakan sekali lagi Prilia semua ucapanmu itu, maka akan ku bongkar semua nya di sini siapa kau sebenarnya, aku sudah tahu kalian semua, termasuk Bagas dan Mardi abang abang mu itu yang ternyata kalian adalah ular berbisa semuanya, kalian benalu kalian lah yang menumpang hidup sebenarnya! " cercaku bertubi tubi.
Aku sudah sangat emosi semua kesaksian yang sudah aku terima rasanya ingin ku katakan saat ini juga. Tapi hatiku melarang saat ini bukan waktu yang tepat karena bukti belum di dapat secara nyata, bisa bisa nanti malah aku yang di katakan menyebarkan fitnah, merusak nama baik.
Mengingat hal itu aku diam dan duduk lagi di bangku sambil memegang nomor antrianku.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇