NovelToon NovelToon
Hari Terakhir Bersama Keluarga

Hari Terakhir Bersama Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Anak Genius
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Krieeet…

Keheningan malam yang mencekam itu tiba-tiba pecah oleh suara engsel pintu depan yang bergerak terbuka. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema di lobi, disusul oleh suara napas yang terengah-engah.

Ternyata itu Olivia. Adik perempuanku itu akhirnya pulang dari sekolahnya.

Ia berdiri di ambang pintu ruang makan dengan seragam sekolah yang tampak sedikit kusut karena beraktivitas seharian. Wajahnya yang kelelahan seketika berubah cerah begitu matanya menangkap sosokku yang sedang duduk di ujung meja makan, dikelilingi oleh berbagai hidangan yang tertata rapi.

"Kak Bella!" seru Olivia dengan riang. Ia segera melepas tas ranselnya, mencampakkannya begitu saja ke atas sofa terdekat, lalu berlari kecil menghampiriku. "Maaf ya, Kak, Olivia pulangnya telat banget. Tadi ada kelas tambahan mendadak buat persiapan ujian, terus jalanan macet parah."

Aku buru-buru menghapus sisa air mata di pipiku, mencoba menarik segaris senyuman terbaik yang bisa kuberikan di sisa umurku yang kian mengikis ini. Aku tidak ingin Olivia melihat kerapuhanku. Aku tidak ingin merusak momen terakhir bersamanya.

"Tidak apa-apa, Olivia. Yang penting kamu sudah pulang dengan selamat," ucapku dengan suara yang kuusahakan agar terdengar sehangat mungkin, meski dadaku rasanya kian menyempit menahan sakit.

Olivia menarik kursi tepat di sebelahku. Matanya berbinar-binar menatap deretan makanan di atas meja. "Wah, Kakak masak banyak banget hari ini! Aromanya enak sekali, Olivia sampai lapar banget dari tadi di jalan." Namun, sedetik kemudian, binar di matanya meredup saat ia menyadari kursi-kursi lain di meja makan itu masih kosong melongpong. Ia melirik jam dinding, lalu menatapku dengan ragu. "Kak... Kak Ethan, Kak Charles, dan Kak Aaron... mereka belum pulang juga?" Tanya Olivia

"Belum. Kamu yang pertama pulang," jawabku lembut sambil mengusap pelan puncak kepalanya.

Wajah Olivia seketika mendung. Rasa kecewa yang mendalam terlihat jelas dari sorot matanya yang meredup. Ia menatap piring-piring makanan yang sudah mendingin, seolah bisa merasakan kesepian yang sejak sore menemaniku di ruangan ini.

"Padahal hari ini kan..." Olivia menggantung kalimatnya, tidak berani melanjutkan kata ulang tahun Kakak karena takut akan semakin melukai hatiku. Ia mengepalkan tangannya di atas pangkuan, bibirnya mengerucut menahan kesal. "Kenapa mereka selalu seperti ini, sih? Apa pekerjaan di kantor jauh lebih penting daripada makan malam di rumah?"

Melihat kekesalannya, aku justru tersenyum tipis. Rasa nyeri di dadaku kembali berdenyut, seakan mengingatkan bahwa jam pasir kehidupanku terus mengalir turun tanpa bisa dihentikan. Sisa waktuku di dunia ini tidak banyak lagi, dan aku tidak ingin membuangnya untuk meratapi mereka yang tidak mengharapkanku.

"Sudah, tidak apa-apa, Olivia. Jangan dipikirkan," ucapku menenangkan, mencoba membuat suaraku tetap terdengar tegar. Aku mengambilkan secentong nasi hangat yang tadi sempat kusimpan di dalam penghangat, lalu meletakkannya di atas piring Olivia bersama lauk-pauk yang sudah kusiapkan. "Ayo kita makan berdua saja. Kakak sengaja memasak semua ini khusus untuk adik kecil Kakak yang paling pintar."

"Kakak, ini semua buatanmu?" tanya Olivia, matanya melebar takjub melihat deretan lauk yang tertata rapi.

"Hmm," jawabku sambil mengangguk kecil, menatap wajah polosnya dengan rasa hangat yang mengalir di dadaku.

"Kenapa menyiapkan lima porsi?" tanya Olivia lagi, keningnya berkerut heran saat menghitung jumlah piring dan peralatan makan yang sudah kusiapkan di atas meja.

Aku tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa sesak yang tiba-tiba kembali menghantam. "Ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja... aku sempat berharap bisa makan bersama kalian semua malam ini."

Olivia terdiam sejenak, menatapku dengan sorot mata bersalah. "Boleh saja, sih. Aku juga kebetulan belum makan apa-apa dari siang. Tapi, Kak... tadi setelah Kak Aaron mengantarku ke sekolah, dia langsung pergi lagi. Katanya, malam ini dia tidak akan pulang ke rumah."

Mendengar kabar tentang Kak Aaron, hatiku mencelos. Namun, aku segera menguasai diri. Sisa waktuku tinggal sebentar lagi, dan kehadiran Olivia di sisiku saat ini sudah lebih dari cukup.

"Tidak apa-apa," jawabku tulus. Aku menatap Olivia dengan mata yang berkaca-kaca, tetapi bibirku tetap tersenyum. "Asalkan ada satu orang saja yang memakan masakanku malam ini, Kakak sudah sangat senang."

"Terima kasih banyak, ya, Kak Bella," ucap Olivia dengan senyum manisnya yang begitu cerah, melumerkan sedikit rasa dingin yang sejak tadi menyelimuti hatiku.

"Kamu suka makanan manis, kan? Kakak sengaja membuatkan puding karamel ini untukmu. Kamu mau coba?" tanyaku pada Olivia, sambil menggeser piring kecil berisi puding yang tampak manis dan lembut itu ke hadapannya.

"Mau, Kak! Olivia mau makan semua masakan Kakak," jawab Olivia bersemangat.

Aku tersenyum tulus lalu menyerahkan puding karamel buatanku. Dengan tidak sabar, Olivia langsung menyendok puding itu dan menyuapnya ke dalam mulut.

"Mmm, enak banget, Kak! Kakak ternyata jago masak ya!" ucap Olivia dengan pipi yang menggembung karena penuh makanan. Matanya berbinar-binar menatapku dengan penuh kekaguman.

Melihat respons cerianya, dadaku terasa menghangat sekaligus pilu. Selama belasan tahun dikurung di gudang lantai tiga, memasak secara sembunyi-sembunyi di sepertiga malam adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk melupakan kesepian. Dan malam ini, melihat adik kecilku memakan masakanku dengan lahap adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah kuterima, meski aku tahu ini akan menjadi yang terakhir kalinya.

Aku menatap lekat-lekat wajah Olivia yang masih asyik menikmati puding karamelnya. Setiap kunyahan, setiap senyuman manisnya, berusaha kurekam baik-baik di dalam ingatan. Rasa perih di dadaku kembali mencengkeram, dan kali ini, kurasakan pandanganku mulai sedikit mengabur. Waktuku benar-benar semakin menipis.

Perlahan, aku mengulurkan tangan yang terasa dingin, lalu menggenggam lembut jemari Olivia di atas meja. Gerakanku membuat kunyahan Olivia terhenti. Ia mendongak, menatapku dengan sepasang mata bulatnya yang polos.

"Olivia..." suaraku bergetar, namun aku memaksakan segaris senyuman paling tulus di bibirku.

"Iya, Kak?"

"Terima kasih banyak, ya, sudah mau pulang dan makan malam bersama Kakak hari ini. Kehadiranmu di sini... benar-benar berharga buat Kakak," ucapku lirih. Air mata yang sejak tadi kubendung kini mulai menggenang lagi di pelupuk mata.

Olivia mengerutkan kening, tampak sedikit bingung dengan perubahan nadaku yang mendadak melankolis. "Kak Bella kok bicaranya begitu? Aku kan memang adik Kakak, sudah seharusnya aku pulang ke rumah ini."

Aku menggeleng pelan, mengencangkan sedikit genggaman tanganku pada jemarinya yang hangat. "Dengarkan Kakak, Olivia. Suatu hari nanti, apa pun yang terjadi, kamu harus berjanji untuk tetap tumbuh menjadi gadis yang kuat dan baik hati. Jangan pernah merasa sendirian, dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa pun yang terjadi di masa lalu."

Aku menjeda kalimatku demi menelan rasa sesak yang kian menghimpit tenggorokan. "Ingat ya, Olivia... Kak Bella sangat, sangat menyayangimu. Lebih dari apa pun di dunia ini. Maafkan Kakak kalau selama ini Kakak belum bisa menjadi kakak perempuan yang baik untukmu."

Olivia meletakkan sendoknya. Tatapan bingungnya kini berubah menjadi cemas melihat mataku yang berkaca-kaca. "Kak Bella kenapa? Kok seperti orang yang mau pergi jauh saja? Kakak tidak akan pergi ke mana-mana, kan?"

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan Olivia, ponselnya berdering nyaring.

"Sebentar ya, Kak. Kak Aaron menelepon," ucap Olivia padaku. Ia segera menggeser layar dan menempelkan ponselnya ke telinga.

"Halo, Kak Aaron! Hmm? Iya, Olivia sudah di rumah, sekarang lagi sama Kak Bella. Kak Bella masak banyak banget hari ini dan rasanya enak semua!" Olivia berujar dengan nada riang, terdengar sangat ingin memamerkan masakan yang sudah kusiapkan.

Namun, sedetik kemudian, keceriaan di wajahnya mendadak surut. "Apa? Hmm... oke, baiklah," ucap Olivia lesu sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.

"Olivia, ada apa?" tanyaku, mencoba menepis firasat buruk yang mulai merayap di dada.

Olivia menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan cemas. "Kata Kak Aaron... aku tidak boleh makan malam di rumah, Kak."

Jantungku rasanya mencelos mendengar penolakan yang begitu telak. "Kenapa?" tanyaku lagi, suaranya nyaris berbisik karena menahan sesak.

"Kata Kak Aaron, dia sudah menyuruh sopir datang ke rumah untuk menjemputku. Sopirnya juga sudah ada di depan gerbang. Malam ini Kak Aaron dan yang lainnya ada acara makan-makan di luar," ucap Olivia dengan nada suara yang sangat hati-hati, seolah takut kalimatnya akan menghancurkan hatiku berkeping-keping.

Dunia di sekelilingku rasanya runtuh seketika. Rencana makan malam di hari ulang tahunku—yang juga menjadi hari terakhirku di dunia—kini hancur lebur tanpa sisa. Namun, saat melihat raut wajah Olivia yang dipenuhi rasa bersalah dan kecemasan, aku tahu aku tidak boleh egois. Aku tidak ingin merusak kesenangannya bersama kakak-kakak yang lain.

Aku menelan paksa rasa sakit yang membakar dadaku, lalu memaksakan sebuah senyuman paling lebar dan ceria yang bisa kuukir.

"Oh, begitu? Ya sudah, tidak apa-apa, Olivia," ucapku dengan nada suara yang kuusahakan agar tetap terdengar santai. "Kamu pergi saja. Bergaul dengan Kak Aaron itu sangat penting untukmu. Jangan buat mereka menunggu lama."

"Tapi, Kak... masakan Kakak bagaimana?" Olivia menatap deretan makanan dan puding karamel yang baru dicicipinya sedikit dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak tega meninggalkan Kak Bella sendirian di sini."

"Hey, lihat Kakak," aku meraih kedua pipinya, menghapus keraguan di wajah adiknya. Tanganku terasa sedingin es, tetapi aku mencoba menyalurkan kehangatan terakhir yang kupunya. "Kakak sama sekali tidak apa-apa. Nanti makanan ini bisa Kakak simpan di kulkas, atau Kakak bagikan ke para pelayan di belakang. Lagipula, Kakak tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan ingin cepat-cepat istirahat di atas. Pergilah, Olivia. Bersenang-senanglah di sana."

Olivia menatapku ragu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, Kak. Olivia pergi dulu, ya. Nanti kalau ada makanan manis yang enak di luar, Olivia pasti akan bungkuskan untuk Kakak."

1
Cholifah Umro
Udah Bella biarin saja... gak usah cari masalah
M. Al-Farezi
Lanjutkan👍

eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~
my queen 👸: siap kk
total 1 replies
Sayekti 0519
sangat mengenaskan.mili terus air mata Ama ingus ku thooor
my queen 👸: terima kasih sudah mampir kk
pantau cerita ku yang lain ya 🙏❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!