NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Begitu selesai membersihkan diri, Dayang keluar menuju ruang tengah.

Rambutnya yang masih agak basah terikat rapi ke belakang.

Di atas meja, Rimba sudah menyiapkan satu wadah bekal berisi mi instan goreng bertabur telur ceplok yang aroma gurihnya langsung menggugah selera di tengah dinginnya subuh.

"Ini buat bekal kita berdua di lapak nanti, Mbak," ujar Rimba seraya menyodorkan wadah tersebut.

"Saya tadi sekalian masak mi instan sama telur. Buat Bintang juga sudah saya taruh di kamarnya, tinggal dia makan pas bangun nanti."

Dayang tertegun sejenak, menatap racikan bekal sederhana namun penuh perhatian itu.

Perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya. "Terima kasih banyak ya, Mas Bima. Kamu kok malah perhatian banget begini."

Dayang menganggukkan kepalanya pelan, lalu mengambil wadah bekal itu dan memasukkannya dengan telaten ke dalam tas kain yang biasa ia bawa ke pasar.

"Sama-sama, Mbak. Ayo, sekarang kita berangkat. Sudah mau pukul empat," ajak Rimba mantap seraya menyambar kunci motor sport milik Dayang.

Mereka berdua berjalan menuju pelataran rumah. Suasana desa masih teramat sunyi dan gelap, hanya disoroti remang lampu jalanan.

Rimba menyalakan mesin motor yang meraung halus di tengah dinginnya udara subuh, lalu membiarkan Dayang naik ke jok belakang.

Begitu Dayang berpegangan erat pada pinggangnya, Rimba memutar gas pelan dan meluncur membelah jalanan gang menuju Pasar Matahari.

Namun, di balik kegelapan semak-semak di ujung gang yang tak jauh dari rumah kayu, sebuah sosok berdiri membeku. Bayu—dengan rahang yang masih bengkak dan memar akibat pukulan tajam Rimba kemarin—menatap keberangkatan mereka dengan sorot mata penuh dendam dan cemburu yang membakar dada.

Tanpa membuang waktu, Bayu menyalakan sepeda motor tuanya tanpa menyalakan lampu utama.

Dari kejauhan, dengan penuh kebusukan di kepalanya, pria itu mulai membuntut secara diam-diam di belakang motor yang dikendarai Rimba dan Dayang.

Langit subuh masih temaram saat motor sport hitam milik Dayang mendarat halus di pelataran pelelangan Pasar Matahari.

Keriuhan khas pasar subuh langsung menyapa—suara deru mesin pikap, teriakan para kuli, dan aroma amis air laut yang memenuhi udara.

Baru saja Rimba menepuk standar motor dan membantu Dayang menurunkan keranjang kosong, langkah mereka langsung dihentikan oleh Pak Mat dan Jamal, dua kuli senior pasar yang sedang mengisap rokok kretek di dekat tiang.

Kedua mata pria setengah baya itu membelalak lebar.

Muka mereka menunjukkan rasa tidak percaya yang amat sangat. Jamal bahkan sampai menepuk jidatnya sendiri.

"Lho! Ya Allah, Mas Bima?!" seru Jamal setengah berteriak, pangling total melihat pria yang kemarin terkapar pingsan tak berdaya bagai mayat di tengah pelelangan.

Kini, 'Bima' berdiri tegap, berdada bidang, dengan kaos bersahaja yang membungkus otot-otot kokohnya.

Wajahnya segar, tatapannya tajam berwibawa, dan badannya tampak teramat sigap.

"Mbak Dayang! Ini Mas Bima yang kemarin pingsan itu, kan? Mas Bima sekarang kerja sama Mbak Dayang?" tanya Jamal memburu, pandangannya bolak-balik menatap Dayang dan Rimba.

Dayang menyunggingkan senyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Iya, Mal. Mulai hari ini Mas Bima resmi jadi kuli angkut di lapakku."

Pak Mat yang ikut mendekat tiba-tiba menyipitkan mata saat sorot lampu pelataran menimpa wajah Dayang.

Tatapannya tertuju pada plester putih yang menempel di pipi mulus gadis itu, lengkap dengan sisa memar kebiruan di sekitarnya.

"Lho, Mbak Dayang! Pipi Mbak kenapa itu kok sampai lebam dan diplester begitu? Ada yang berani main tangan sama srikandi pasar?" tanya Pak Mat kaget bercampur cemas.

Dayang melipat kedua tangannya di dada, menjawab santai namun bernada sindiran tajam yang cukup nyaring untuk membelah bisingnya pelataran pasar.

"Ooh, ini, cuma kena kibasan tangan orang galau yang kurang kerjaan kemarin sore. Ada yang kebiasaan kekanak-kanakan, cemburu ndak jelas, terus main pukul. Tapi tenang saja, pelakunya sudah kapok tak usir dari rumah!" ujar Dayang dengan nada tegas dan penuh cemooh.

Di balik tumpukan keranjang es batu yang tak jauh dari sana, Bayu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Gigi rahangnya berkeletuk menahan amarah yang membakar dada. Mendengar Dayang mempermalukannya secara tidak langsung di depan warga pasar—ditambah lagi melihat Rimba berdiri protektif di samping gadis itu—rasa cemburu dan dendam Bayu membubung tinggi hingga ke ubun-ubun.

Tanpa memedulikan Bayu yang mengawasi bagai musang kelaparan, Dayang berbalik mengarahkan perhatiannya pada sang kuli baru.

Dari arah gerbang samping, pikap Bang Jaka baru saja mundur dan mematikan mesinnya, membawa keranjang-keranjang ikan segar pesanan mereka.

"Mas Bima," panggil Dayang seraya menunjuk ke arah pikap Bang Jaka.

"Lapak kita di sebelah sana. Tolong bantu Bang Jaka turunkan keranjang ikan dan angkut ke lapak ya."

"Siap, Mbak Dayang," sahut Rimba mantap. Sang CEO Suryo Group itu langsung melangkah tegap menuju pikap, siap memamerkan ketangguhannya di hari pertama bekerja.

Rimba melangkah mendekati bagian belakang pikap Bang Jaka.

Tanpa ragu sedikit pun, ia menyingsingkan lengan kaos usangnya, memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh.

"Bima, ini berat lho! Biasanya diangkut berdua sama Jamal!" seru Pak Mat mengingatkan saat melihat Rimba hendak meraih keranjang kayu berisikan tumpukan kakap merah dan pecahan es batu tebal itu.

Rimba hanya tersenyum tipis. Sang CEO yang rutin berlatih beban berat di gym eksklusif itu menekuk lututnya, mengambil tumpuan mantap, lalu mencengkeram pinggiran kayu.

Dalam satu tarikan napas yang tenang, Rimba mengangkat keranjang seberat 50 kilogram itu ke atas bahu tegapnya.

Tanpa suara rintihan, tanpa gestur keberatan, tubuhnya berdiri tegap sempurna.

Dengan langkah mantap dan seimbang, Rimba mengangkut beban berat itu membelah kerumunan pasar menuju lapak Dayang, lalu menaruhnya dengan perlahan agar esnya tak berhamburan.

Jamal yang menyaksikan pemandangan itu sampai melongo hingga rokok kretek di bibirnya hampir terjatuh. Pak Mat menepuk dadanya tak percaya.

"Gila! Itu orang pingsan kemarin cuma pura-pura atau gimana?!" gumam Jamal terperanjat.

"Keranjang seberat itu diangkat sendiri kayak bawa kardus mie instan!"

Tak butuh waktu lama, kehebohan langsung menjalar ke sudut-sudut Pasar Matahari.

Sosok 'Bima' yang berwajah tampan, berdada bidang, berkulit bersih, serta memiliki tenaga seperti banteng itu seketika menjadi pusat perhatian.

Lapak ikan milik Dayang yang biasanya hanya didatangi langganan rutin, kini mendadak ramai diserbu pembeli—khususnya ibu-ibu pedagang dan pelanggan wanita yang sengaja memutar jalan hanya demi melihat kuli baru Dayang dari dekat.

"Aduh, Nduk Dayang! Pintar banget kamu cari kuli!" cerocos Bu Ningsih, pedagang sayur sebelah lapak, seraya menyenggol lengan Dayang dengan sikutnya.

"Gagah, ganteng, kerjanya cekatan begitu! Ini kuli apa model majalah yang nyasar ke pelelangan ikan?"

"Iya nih, Dayang! Kalau kulinya begini mah, tiap hari Aku rajin beli ikan kakap di tempatmu!" timpal Bu Sri tertawa Centil.

"Coba tanya, Nduk, dia sudah punya calon belum?"

Mendengar godaan bertubi-tubi dari ibu-ibu pasar, pipi Dayang kembali menyala merah padam.

Gadis bertubuh tegap yang biasanya sangar itu mendadak salah tingkah, tangannya sibuk memotong es batu demi menutupi rasa canggung yang membakar dadanya.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa bangga yang mekar hangat melihat betapa sigap dan berbakatnya 'Bima' membuktikan komitmennya.

Rimba yang sedang menata jajaran ikan segar di atas meja seng melirik ke arah Dayang.

Menyaksikan sang srikandi pasar dibuat tak berdaya oleh godaan tetangganya, senyum tipis kepuasan mengembang lembut di bibir sang CEO Suryo Group.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!