NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Kenakalan Seorang Hendra

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam lewat.

Hendra duduk bersila di sofa, punggung sedikit membungkuk. Cahaya layar smartphone memantul ke wajah, membuat matanya terlihat cekung. Aku memperhatikan dengan perasaan tidak enak sejak tadi menempel di pikiran.

“Gas,” katanya akhirnya. “Gua udah ngerucutin nih.”

Aku tidak langsung menjawab. Pendingin ruangan berdengung pelan, ritme tidak stabil.

“Ada dua nih,” lanjutnya. “Yang ini, sama yang ini, lo mau yang mana?” Ia memutar layar handphone ke arahku.

Sekilas aku melirik. Dua foto perempuan dengan pose terlalu dibuat-buat, senyum terasa menggelikan. “M-maksudnya gimana, Bang?”

“Yaelah lo, Gas. Polos amat jadi orang,” Hendra menatapku penuh harap, “Mana yang menurut lo paling cantik? Lo satu, gua satu.”

Aku menghela nafas panjang. “Gila lo ya, Bang? Gua nggak ah.”

Hendra mendengus kecil. “Astaga, Gas. Serius lah! Ngapain gua dari tadi sibuk milih. Kita cowok, kadang butuh beginian, biar segeran dikit.”

Sambil tertawa kecil, aku menggeleng pelan.

“Ya udah kalo lo nggak mau. Lo bantu gua aja, pilihin, yang menurut lo lebih cakep?” tanya Hendra lagi. “Biar gua nggak nyesel juga.”

Aku beranjak, berdiri sambil jalan menuju kamar mandi, “Terserah lo ah, Bang. Gua nggak ngerti selera lo juga kan.”

“Ah, payah lo, Gas,” sahutnya.

Di dalam kamar mandi, aku kembali memikirkan tentang apa yang dilakukan oleh Hendra. Ternyata ia tidak sebaik dugaanku.

Selesai dengan urusan panggilan alam, aku melihat ke arah sofa, Hendra sudah tidak ada.

Rupanya ia sedang bersiap, memakai celana jeans, menyemprotkan parfum yang baru saja dikeluarkan dari dalam tas.

“Gua cabut dulu ya, Gas. Lo nggak apa-apa kan gua tinggal sendirian?” ujarnya begitu keluar dari dalam kamar.

Wangi semerbak langsung menyebar ke seluruh isi ruangan.

“Yakin lo, Bang?” aku masih berusaha mengingatkan untuk terakhir kali.

“Udah, lo tenang aja,” ucapnya dengan tenang, seperti orang yang sering melakukan. “Nanti lo kunci aja pintunya, gua telpon lo kalo udah kelar. Jangan di silent hape lo.”

Tanpa pikir panjang, ia langsung keluar dari unit apartemen. Sedangkan aku masih terpaku. Masih tidak menyangka kalau Hendra benar-benar pergi.

Berbuat asusila.

Setelah apa yang telah terjadi pada kami beberapa waktu terakhir.

Saat ini aku sendirian di apartemen. Tempat baru yang sebenarnya masih terasa asing buatku.

Lampu kamar sudah ku padamkan, menyisakan sinar tipis dari cahaya kota Bandung menembus celah tirai. Aku berbaring telentang, menatap langit-langit yang rasanya terlalu dekat.

Pendingin ruangan menyala pelan, tapi tubuhku terasa hangat karena tertutupi oleh selimut cukup tebal.

Aku memejamkan mata, mencoba tidur. Namun pikiran terus berputar.

Shinta.

Wajah perempuan polos itu melintas di kepalaku, bercampur dengan bayangan lain jauh lebih kelam. Ancaman yang aku percaya belum sepenuhnya hilang, Ratna.

Tidak nyaman dengan posisi ini, aku memiringkan tubuh. Menghadap dinding.

“Pasti ada hubungannya,” gumamku dalam hati. Aku tidak tahu apakan memang ada kaitan atau tidak, tapi firasat terlalu kuat untuk diabaikan.

Dengan susah payah, aku kembali memejamkan mata.

Kali ini lebih lama. Lalu tepat saat kesadaranku mulai mengendur.

“Kembali..”

Suara itu berbisik, tepat di telingaku.

Aku tersentak.

Mataku terbuka lebar.

Jantung berdegup kencang ketika aku menyadari sesuatu sedang mengganggu. Hawa ruangan terasa berbeda. Bau lembab yang cukup ku kenal menyergap hidung.

Aku membalikkan badan.

Ini bukan kamar di Aromatic Square.

Aku menoleh ke sekeliling.

Dinding kusam, lemari tua, gorden tipis yang menguning.

“Bukankah ini kamar di Spring Town?” kataku dalam hati.

Pintu kamar masih tertutup rapat. Aku coba meyakinkan diri sendiri. Ini pasti mimpi.

Tapi tetap saja karena semua terlalu nyata. Tekstur lantai dingin menyeruak telapak kaki ketika aku bangkit duduk di atas ranjang.

“Tok, tok, tok”

Suara ketukan pintu terdengar.

“Tok, tok”

Dan terakhir, “Tok”

Ketukan itu terdengar begitu jelas. Membuatku merasa dejavu.

Nafasku tercekat. Perasaan takut yang bercampur dengan penasaran.

Aku menunduk, tangan refleks menggenggam gelang di pergelangan tangan. Selama ada ini di tanganku, “Harusnya aman sih,” pikirku meyakinkan diri.

Dengan langkah ragu, aku mendekat ke pintu. Tanganku gemetar saat memutar knop.

Pintu terbuka.

Namun yang terlihat membuatku tertegun.

Ruang tengah apartemen tidak gelap. Lampu menyala normal. Dinding bersih, tidak ada cat yang terkelupas. Bahkan nyaris tanpa noda.

Di sofa panjang, tempat biasa aku dan yang lain kumpul bersama, beberapa meter dari tempatku berdiri, terbaring seorang perempuan.

Rambut panjangnya terurai, wajah pucat terlihat tidak asing.

Ratna.

Ia tergeletak lemas, mata terpejam tapi dari raut wajah yang meringis, aku sadar ia tidak sedang tidur. Di dekatnya, ada wanita lain berlutut, panik, mencoba menopang tubuh Ratna.

Aku memicingkan mata.

“Dia kan?,” gumamku dalam hati. “Wanita yang ketemu gua di lift dua kali.”

Meski aku berada di sana, mereka seperti tidak melihat kehadiranku.

“Tok, tok, tok”

Ketukan pintu terdengar cukup keras.

Wanita itu tersentak, berusaha membangunkan Ratna dari rebahnya.

“Ma, bangun,” bernada tegas. Ia agak memaksa, hingga membuatnya terduduk.

Tapi karena kondisi Ratna yang sangat lemah, ia hanya mampu bersandar di dudukan sofa.

“Ma, ayolah,” suara wanita itu bergetar, terus memaksa Ratna berdiri.

Aku tidak mengerti, kenapa dipaksa bangun. Padahal ia mengetahui kalau kondisi Ratna tidak memungkinkan.

“Tok, tok”

Suara ketukan pintu semakin membuat wanita itu panik.

Putus asa dengan upayanya pada Ratna, ia lalu berdiri dan berlari ke arah pintu unit.

“Tok”

Bersamaan dengan suara ketukan terakhir, pintu terbuka.

Di baliknya berdiri dua orang dengan seragam APD lengkap. Wajah mereka tertutup masker dan pelindung wajah. Suasana langsung berubah tegang.

Wanita itu terlihat panik, namun berusaha untuk tetap tenang.

“Bu Livy?” salah satu petugas menyebut namanya.

Suasana sudah menjadi sangat tegang sejak wanita yang baru kuketahui namanya, Livy itu membuka pintu.

Salah satu petugas mengambil HT dari sakunya. “Tim keamanan, tolong ke unit 26B sekarang,” katanya berbisik tapi sangat jelas terdengar.

“Ibu kenapa bisa ada disini?” tanya petugas dengan nada tegas, seperti mengintimidasi. “Bu Ratna mana?”

Livy terdiam sejenak. Wajahnya panik, ia seperti tidak bisa menemukan jawaban yang tepat.

“Tolong, izinkan saya tinggal sama ibu saya. Kondisinya sakit parah,” ujarnya terbata, memohon sambil memegang tangan salah satu petugas.

Aku berjalan mendekat. Petugas itu juga tidak melihat keberadaanku.

“Ibu kan udah tau aturannya, nggak bisa, Bu!” kata petugas dengan nada lebih tinggi. Hampir membentak sehingga membuat Livy sedikit terkejut.

Tak lama kemudian, petugas lain berdatangan. Semua mengenakan APD lengkap. Mereka bergerak cepat, terkoordinasi.

Livy menangis, meronta, memohon, “Tolong, Pak. Ibu saya sakit.”

Tapi tidak ada yang mendengarkan. Bahkan mulutnya disumpal dengan kain putih. Suara Livy langsung tertahan.

Mereka menarik Livy menjauh, melewati koridor apartemen. Tentu saja ia tak berdaya karena tangan dan tubuhnya dipegang sejumlah petugas berbadan besar.

Aku berdiri terpaku, menengok ke arah dalam, Ratna masih terbaring. Penasaran dengan apa yang terjadi para Livy, aku melangkah keluar.

Tapi Livy sudah tidak terlihat, hanya tersisa suara rintihan terdengar pelan di telingaku. Sekarang posisinya mungkin sudah sangat jauh dari tempatku berada.

Kedua petugas yang mengetuk pintu tadi kemudian masuk sebentar, melirik ke ruang tengah. Aku yakin ia melihat dengan jelas, Ratna terbaring lemah di atas sofa.

Tapi seakan tidak peduli.

Ia hanya meletakkan satu kotak makanan dan beberapa obat ala kadarnya di balik pintu, lalu menutup begitu saja.

Mereka melanjutkan langkah, melewati beberapa pintu. Tapi kemudian berhenti di salah satu unit. Mengetuk, tiga kali.

“Tok, tok, tok”

Lalu, dua kali, “Tok, tok”

Dan terakhir, “Tok”

Salah satu petugas berbicara, “Udah mati kali ya?”

“Bisa jadi, udah dua hari nggak ada jawaban,” sahut petugas lainnya. “Kalo gitu, aku masukkin request pembersihan.”

Seketika, emosiku meningkat. Bagaimana bisa mereka mengatakan hal seperti itu dengan begitu mudahnya.

Sempat diam beberapa lama, para petugas sudah tidak terlihat. Aku membuka pintu, masuk lagi ke dalam.

Tubuh Ratna tersandar di sofa, tapi kali ini tak bergerak. Aku memperhatikan seksama, “Jangan-jangan..”

Penasaran, aku berjalan mendekat. Sekarang aku berada tepat di depannya. Dua jariku bergerak ke bawah hidung.

Benar saja, Ratna sudah tidak bernafas.

“Dia meninggal?”

Tapi belum sempat aku berpikir lebih lanjut. Tiba-tiba saja mata Ratna terbuka, melotot. Kedua tangannya mencekik leherku.

Aku refleks berteriak.

“Aaakhh..”

Aku terbangun duduk. Nafasku memburu, terengah. Aku sudah kembali di kamar apartemen Aromatic Square. Rupanya benar, itu hanya mimpi.

Fokus ku langsung teralihkan pada suara nada dering yang terdengar dari handphone. Hendra memanggil.

Dengan setengah sadar, aku mengangkatnya.

“Gas, gua di depan. Bukain pintu,” ucap Hendra santai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!