Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kerjasama Merugikan.
“Langit!”
“Tungguin!”
“Gue belum selesai ngomong!”
Langkah kaki panjang cowok itu akhirnya terhenti. Langit membalikkan tubuhnya perlahan, lalu menatap Aletha dengan wajah datar dan dingin seperti biasa. Sepasang mata hazelnya menatap lurus, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh napas Aletha yang memburu setelah mengejarnya sepanjang lorong.
“Apa lagi?” tanya Langit ketus.
Aletha mengambil langkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium samar-samar aroma maskulin khas perpaduan bergamot dan kayu cendana dari tubuh Langit. Amarah yang tadi meledak-ledak di dadanya mendadak surut, digantikan oleh rasa terdesak. Aletha menatap mata hazel itu dengan pandangan memohon yang dibuat semanis mungkin. Kedua tangannya menyatu di depan dada, bergaya layaknya seseorang yang sedang berdoa.
“Langit, please ya…” Aletha menurunkan intonasi suaranya, mencoba melunakkan nada bicaranya demi kelangsungan hidupnya.
Melihat perubahan drastis itu, sudut bibir Langit terangkat membentuk senyuman tipis yang nyaris tak terlihat. Ia tahu dengan pasti bahwa di balik sikap manis Aletha yang mendadak ini, ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh cewek tengil di hadapannya.
“Apa?” pancing Langit, menaikkan sebelah alisnya.
“Ngomong yang benar.”
Aletha berdehem pelan, meredam sisa-sisa kekesalannya dan menata kalimat di kepalanya.
“Soal rencana orang tua kita... lo pasti juga nggak setuju, kan? Kita ini musuh di sekolah, Ngit. Gimana kalau kita kerja sama buat gagalin ini?”
Sesuai dugaan Langit, gadis ini memang ada maunya. Langit mengernyitkan dahi, menajamkan pandangannya ke dalam manik mata Aletha yang masih menatapnya penuh harap. Alih-alih menjawab, senyum misterius kembali terukir di wajah tampannya.
Secara tak terduga, Langit melangkahkan kakinya maju. Satu langkah. Dua langkah. Refleks, Aletha melangkah mundur dengan panik hingga punggungnya membentur dinding marmer mansion yang dingin. Belum sempat Aletha protes, Langit memajukan tubuhnya dan bertumpu pada kedua tangannya di dinding, tepat di sisi kiri dan kanan kepala Aletha.
Set!
Pergerakan Aletha terkunci sepenuhnya. Jantung gadis itu seketika berdetak berkali-kali lipat lebih cepat. Entah mengapa, setiap kali Langit berada dalam jarak sedekat ini, jantungnya seolah menari-nari dan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
“L-Langit, jangan aneh-aneh! Cepat jawab!” Aletha mulai kehilangan kendali atas suaranya yang mendadak gugup.
Karena perbedaan tinggi badan mereka yang sangat jauh, Langit terpaksa membungkuk sedikit demi bisa menatap Aletha sejajar. Jarak wajah mereka hanya tersisa segelintir sentimeter. Aletha mendelikkan matanya, menahan napas saat merasakan embusan napas hangat Langit menerpa kening dan puncak kepalanya. Sudut mata hazel Langit berkilat jahil, menikmati kepanikan Aletha yang wajahnya kini sudah memerah sempurna seperti kepiting rebus.
“Nggak mau,” jawab Langit singkat dan dingin tepat di dekat telinga Aletha.
“Lo…”
“Langit... Aletha...”
Kata-kata makian Aletha terpotong seketika oleh suara panggilan lembut yang menggema di ujung lorong. Nyonya Hanna, wanita cantik bergaun putih yang masih tampak anggun di usia empat puluh tahun itu, melangkah mendekati mereka dengan senyum penasaran.
Langit menoleh ke arah sumber suara, namun posisinya masih belum berubah, masih mengungkung Aletha. Menyadari posisi mereka yang terlihat sangat ambigu dan berbahaya di mata sang mama, Aletha mengambil tindakan instan yang nekat. Ia mengangkat kakinya dan mengayunkannya ke depan.
DUK!
“Aww!” Langit meringis spontan. Kungkungan tangannya terlepas seketika. Ia mundur dua langkah sambil buru-buru membungkuk untuk mengusap tulang kering kakinya yang baru saja menjadi korban hantaman telak sepatu Aletha.
Hanna yang melihat kelakuan putri tunggalnya itu mempercepat langkah dengan mata terbelalak.
“Nak Sagara… kamu nggak apa-apa?”
Aletha hanya mendengus kasar, langsung melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah cemberut tanpa rasa bersalah.
“Saya baik-baik saja, Tante,” jawab Langit ringkas. Ia menegakkan tubuhnya kembali, merapikan setelan jas kasualnya dengan tenang. Kakinya masih terasa berdenyut sakit, namun gengsi besarnya memaksa cowok itu menahan ekspresi ringkih di depan calon ibu mertua.
“Aletha, jaga sikapmu,” tegur Hanna memberi tatapan memperingatkan pada putrinya, sebelum kembali tersenyum ramah pada Langit.
“Ayo, Papamu sudah menunggu di ruang tamu."
“Baik, Tante,” jawab Langit sopan.
Hanna memandang keduanya bergantian dengan binar mata jenaka.
“Kalian ternyata sudah dekat sekali, ya?”
“Kami satu kelas, Tante. Sering mengerjakan tugas bareng,” jawab Langit santai. Ia sengaja memanfaatkan alasan yang dipakai Aletha sebelumnya untuk mencari alibi, padahal pada kenyataannya mereka justru lebih sering bertengkar memperebutkan peringkat kelas.
Aletha merengut lebar sambil memutar bola matanya jengah.
'Mengerjakan tugas bareng mbahmu!' umpatnya dalam hati.
“Bagus kalau begitu. Mama bilang juga apa, kalian memang sudah jodoh dari sana-Nya,” ucap Hanna santai tanpa beban.
“Mama…” Aletha hendak melayangkan protes keras. Namun, Hanna langsung menggandeng dan menarik tangan putrinya itu dengan lembut tetapi tidak bisa dibantah.
“Ayo Letha, paman dan bibimu sudah menunggu,” seru Hanna sambil menuntun mereka kembali ke area depan.
Terjebak.
Itulah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Aletha beberapa menit kemudian. Ia terpaksa duduk di sofa ruang tamu yang mewah, tepat di sebelah Langit yang kembali memasang topeng anak teladan berwajah malaikat.
"Kami sudah berdiskusi dan sepakat untuk mempercepat acara pertunangan kalian. Bulan depan," ujar Baskara tenang, sembari menyesap teh hangatnya seolah baru saja menyampaikan perkiraan cuaca, bukan sebuah bom waktu.
"Apa?!" Aletha langsung berdiri tegak dari sofa, mengabaikan tatapan mata mamanya.
"Bulan depan? Pa, Letha masih SMA! Ujian kelulusan aja belum!"
"Langit sendiri bagaimana? Apa kamu keberatan jika acaranya diadakan bulan depan?" potong Baskara, sama sekali tidak berniat mendengarkan protes anak gadisnya.
Aletha menoleh cepat ke samping. Matanya melotot tajam, memberikan kode keras berkode darurat agar cowok itu ikut menolak rencana gila ini. Namun, Langit justru membetulkan posisi duduknya dengan santai, menegakkan punggung, dan memasang wajah paling berwibawa yang ia miliki.
“Kalau saya, sama sekali nggak keberatan, Om. Menikah atau tunangan dengan Aletha... rasanya itu keputusan terbaik yang telah ditentukan oleh para orang tua,” jawab Langit dengan nada suara yang dibuat semanis mungkin.
Aletha hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban itu. Emosinya tersulut. Di bawah meja yang tertutup, Aletha sengaja menggeser kakinya dan menginjak ujung sepatu pantofel mahal milik Langit menggunakan hak sepatunya kuat-kuat.
Langit tersentak kecil, namun ia berhasil menahan ekspresi sakitnya dengan luar biasa.
Alih-alih melepaskan kakinya, Langit justru menoleh ke arah Aletha. Dengan gerakan berani yang mengejutkan, tangannya bergerak ke bawah lutut, meraih tangan Aletha yang bebas, lalu menggenggamnya erat-erat di atas pangkuan mereka, tepat di depan mata seluruh keluarga yang langsung tersenyum menggoda.
“Lagipula, Aletha di kelas anaknya... menggemaskan, Om. Saya yakin kami bisa saling melengkapi,” tambah Langit dengan kilat kemenangan yang menantang di matanya.
Aletha merasa bulu kuduknya meremang.
“Letha... Letha mau ke toilet sebentar, Pa. Agak pusing,” pamit Aletha buru-buru. Ia menyentakkan tangannya dengan kasar hingga terlepas dari genggaman Langit, lalu melangkah cepat meninggalkan atmosfer ruang tamu yang membuatnya sesak napas.
Sesampainya di lorong dekat toilet, Aletha langsung bersandar di dinding. Ia menyalakan keran wastafel dan membasuh tangannya berulang kali menggunakan sabun, seolah-olah tangan cowok itu baru saja dicelupkan ke dalam genangan minyak jelantah yang kotor.
“Membasuh bekas sentuhan calon suami itu hukumnya pamali, Kurcaci.”
Aletha tersentak kaget. Ketika ia mendongak menatap cermin di depannya, bayangan Langit sudah berdiri di sana. Cowok itu bersandar santai pada pilar dengan kedua tangan tenggelam di dalam saku celananya.
“Lo ngapain ngintilin gue, hah?! Dan apa-apaan maksud lo tadi di dalem?!” bentak Aletha tertahan, takut suaranya terdengar sampai ke ruang depan.
“Lo kan juga nggak mau nikah sama gue! Kenapa malah mengiyakan, hah?!”
“Tawaran lo di lorong tadi soal kerja sama... kayaknya setelah gue pikir-pikir lagi, menarik juga,” sahut Langit santai. Wajah datarnya yang menyebalkan kembali muncul, menggantikan senyum palsunya yang di ruang tamu tadi.
Aletha mengernyit curiga.
“Maksud lo?”
“Tapi di dunia ini nggak ada yang gratis, Aletha. Perjanjiannya simpel,” ujar Langit sambil melangkah mendekat, menatap Aletha dengan pandangan penuh kendali.
“Kita pura-pura jadi pasangan ideal di depan orang tua kita sampai lulus SMA. Tapi, selama masa pacaran pura-pura ini berjalan... lo harus bersedia jadi babu pribadi gue di sekolah. Turutin semua perintah gue tanpa bantahan.
“Hah?! Nggak! Nggak sudi gue jadi babu lo!” Aletha menolak mentah-mentah dengan wajah berapi-api.
“Ya udah, kalau nggak mau,” sahut Langit acuh tak acuh. Ia berbalik badan dengan gerakan lambat yang disengaja.
“Gue tinggal balik ke ruang tamu sekarang, terus bilang sama bokap lo kalau kita mau acaranya dicepatin minggu depan. Gimana? Lebih praktis, kan?”
“Langit, jangan gila ya!” Aletha panik setengah mati. Tanpa pikir panjang, ia langsung maju dan menyambar ujung jas hitam Langit, menahannya sekuat tenaga agar cowok itu tidak melangkah kembali ke ruang tamu. Aletha memejamkan matanya erat-erat, merutuki nasib sialnya yang harus berurusan dengan psikopat berkedok model majalah ini.
“Oke! Deal! Tapi ingat, cuma di sekolah! Jangan macam-macam atau bertindak aneh-aneh! Dan setelah lulus, lo harus tepati janji buat batalin perjodohan sialan ini secara resmi!” seru Aletha pasrah.
Langit menatap tangan mungil Aletha yang mencengkeram jasnya, lalu melepaskannya perlahan dengan seulas senyum kemenangan yang paling menyebalkan di mata Aletha.
“Oke. Perjanjian kita dimulai besok pagi. Siapkan mental lo baik-baik, Kurcaci.”