Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Ketika Sahabat Terluka
Ketegangan yang membayangi Gavin selama beberapa minggu terakhir akhirnya memuncak pada sebuah malam yang jahanam. Rian belum juga kembali ke Kos Bu Broto hingga pukul dua dini hari. Padahal, Rian bukan tipe mahasiswa yang suka keluyuran malam; dia adalah makhluk rumahan yang paling jauh hanya pergi ke Warkop Cak Min atau toko komputer bekas.
Gavin yang tidak bisa tidur mondar-mandir di teras lantai dua. Perasaannya tidak enak. Firasatnya selalu akurat, sebuah insting yang diasah dari kerasnya konflik internal keluarga besarnya. Ia memutuskan untuk turun, menyalakan mesin Astrea Grand-nya yang menderu cempreng membelah keheningan malam, dan mulai menyisir jalanan di sekitar kampus.
Setelah hampir satu jam mencari, Gavin memelankan motornya di depan sebuah gang buntu yang gelap di samping pasar loak kota. Matanya menangkap bayangan sebuah motor yang tergeletak di atas aspal yang becek. Begitu mendekat, jantung Gavin serasa berhenti berdetak. Itu adalah motor bebek milik Rian, dengan lampu depan yang hancur berantakan dan stang yang bengkok akibat hantaman keras.
"Rian!" teriak Gavin, langsung melompat dari motornya tanpa peduli standarnya belum turun sempurna. Motor Astrea-nya ambruk begitu saja ke tanah.
Gavin berlari memasuki gang yang pengap itu. Di sudut paling gelap, bersandar pada tumpukan palet kayu bekas, tubuh kurus Rian terkulai lemas. Wajah sahabatnya itu babak belur, dipenuhi lebam biru keunguan. Sudut bibirnya mengalirkan darah segar yang mulai mengering, dan kacamata tebalnya hancur berkeping-keping di atas tanah. Di dalam pelukan tangannya yang gemetar, Rian masih berusaha melindungi tas ranselnya yang berisi laptop proyek riset mereka, meskipun tas itu kini sudah dipenuhi jejak injakan sepatu laras besar.
Gavin berlutut di samping Rian, kedua tangannya yang gemetar memeriksa denyut nadi di leher sahabatnya. Napas Rian pendek dan lemah.
"G-Gav...?" Rian mengerjap perlahan dengan mata kanannya yang membengkak. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang menyedihkan di balik rasa sakitnya. "Maaf... l-laptop kita... dihancurin sama mereka. Gue udah coba... pertahanin..."
Gavin merasakan dadanya bergemuruh hebat. Hawa slengean, ugal-ugalan, dan senyuman konyol yang selalu ia pasang sebagai topeng sehari-hari lenyap total dari wajahnya dalam sekejap. Matanya berubah menjadi sedingin es yang mematikan, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat—sebuah sisi gelap dari darah keluarga Dewantara yang selama ini ia tekan rapat-rapat di bawah karpet kemewahan Menteng.
"Siapa yang lakuin ini, Yan?" tanya Gavin dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan bergetar menahan amuk yang siap meledak.
"T-Tyson... anak buah Srigala Jalanan," bisik Rian lemas sebelum akhirnya kesadarannya hilang total dalam dekapan Gavin.
Gavin perlahan meletakkan tubuh Rian dengan sangat hati-hati di lantai gang. Ia berdiri tegak, mengepalkan kedua tinjunya hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam dan mengeluarkan bunyi gemertak besi. Detik itu juga, Gavin bersumpah demi prinsip kehormatannya: ia tidak akan menggunakan pengacara mahal atau kekuasaan korporasi ayahnya untuk menyelesaikan ini. Malam ini, ia akan berburu menggunakan hukum jalanan yang paling murni, dan ia akan memastikan Tyson membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh sahabatnya.
Bagaimana nasib Rian selanjutnya?bagaimana Gavin akan membalasan dendam?apakah nasib Tyson akan berakhir tragis? semua jawaban akan ada di Bab selanjutnya.