Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: LUKA YANG SAMA
Kue-kue kering masih berserakan di lantai. Tak ada yang memungutnya. Dengung server di belakang mereka terasa terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
"Dengar om dulu," ulang Victor.
Ia tak mendekat. Kedua tangannya terbuka di sisi tubuh, persis seperti sepuluh tahun lalu di bawah jembatan. Kenzo tahu arti gerakan itu. Cara Victor berkata aku tidak akan menyakitimu tanpa harus mengucapkannya.
"Itu nama Om." Suara Kenzo nyaris tak terdengar. "Di manifest itu. Tanda tangan Om."
"Iya."
Tak ada bantahan. Axel mengepalkan tangan di pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jadi Om..." Kenzo menelan ludah. "Om ikut... waktu Ayah..."
"Bukan, Nak. Bukan begitu. Tapi om juga nggak akan bilang om nggak bersalah. Om memang bersalah."
Victor menarik kursi kayu dari sudut ruangan, lalu duduk. Untuk pertama kalinya, Kenzo melihatnya benar-benar tua. Bukan karena uban, melainkan karena beban yang terlalu lama dipikulnya.
"Om ceritakan semuanya dari awal. Kalau setelah itu kalian mau pergi, om nggak akan menahan. Janji."
Axel menatap Kenzo. Kenzo tak membalas tatapannya, tetapi juga tak beranjak.
"Tiga bulan setelah om dipecat, om memang nggak punya apa-apa. Itu bukan bohong." Victor menatap kue-kue yang berserakan. "Tapi ada hal yang nggak pernah om ceritakan. Waktu itu, seseorang menawarkan pekerjaan. Orang yang sama yang memerintahkan pasukan om masuk ke kampung itu. Dia datang dengan sopan, membawa buah, lalu bilang om masih berguna. Mereka butuh orang yang tahu jalur dermaga, tahu siapa yang bisa disuap dan siapa yang nggak."
"Om menerima?"
"Om menerima."
Suaranya merendah.
"Soalnya om lapar, Kenzo. Istri om sudah nggak ada, anak om juga sudah nggak ada. Om pikir, kalau bukan om yang mengerjakannya, orang lain akan melakukannya. Dan mungkin mereka bakal lebih kejam."
Ruangan kembali sunyi.
Axel mengangkat tangan dan menggerakkan jari-jarinya perlahan.
Istri? Anak?
"Kamu belum pernah om ceritain, ya, Xel?" Victor tersenyum tipis, tetapi senyumnya segera pudar. "Nama istri om Laras. Anak om, Dimas. Umurnya empat tahun."
Kenzo mengangkat kepala.
Victor mengusap wajahnya berulang kali, seolah ingin menghapus sesuatu yang melekat di kulit.
"Waktu masih berseragam, om tinggal di barak. Laras dan Dimas tinggal di kampung kecil dekat Kota Tua. Rumahnya dari papan, ada pohon jambu di depan. Dimas suka manjat pohon itu, padahal om sudah berkali-kali melarang."
Ia tertawa kecil, getir.
"Waktu om menolak perintah itu, om pikir hukumannya cuma dipecat. Om pikir mereka hanya mau mempermalukan om. Tapi dua minggu kemudian, om pulang dari luar kota dan rumah itu sudah nggak ada."
Victor berhenti sejenak.
"Pohon jambunya masih ada. Cuma pohon jambunya."
"Om..." Suara Kenzo pecah.
"Mereka bilang itu perampokan. Polisi nggak pernah menemukan pelakunya. Tapi om tahu siapa yang melakukannya. Om pernah melihat cincin batu hijau di tangan orang yang datang ke pemakaman, membawa karangan bunga paling besar."
Kenzo mendadak kaku.
"Cincin itu..." bisiknya. "Waktu di rumah kami, ada orang yang memakainya."
"Iya. Orang yang sama."
Mata Victor basah, tetapi air matanya belum jatuh.
"Dan om tetap menerima pekerjaannya. Tahu kenapa? Karena om pikir, kalau om berada di dekatnya, suatu hari om bisa mengetahui siapa dia sebenarnya. Om bisa membalas dendam."
Ia menunduk.
"Alasan yang kedengarannya gagah, padahal cuma cara om membohongi diri sendiri supaya bisa tidur."
Axel bangkit dan berdiri di samping kursinya. Ia tak menyentuh Victor, hanya menemaninya dalam diam.
Victor menoleh kepadanya. Wajahnya runtuh.
"Maafin om, Xel."
Axel menggeleng pelan. Ia meletakkan telapak tangan di pundak Victor, lalu menyentuh dada lelaki itu, tepat di tempat kertas lipat tua biasa disimpan.
Aku tahu kamu menyimpan mereka di sini.
---
"Om," kata Kenzo akhirnya.
Tanpa sadar, ia sudah berjongkok di depan kursi Victor, seperti lelaki itu dulu berjongkok di hadapannya di bawah jembatan.
"Kalau Om membenci mereka, kalau Om tahu mereka membunuh keluarga Om, kenapa Om menyelamatkan aku? Kenapa Om membawa aku, memberi aku makan, dan mengajariku? Om bisa meninggalkan aku di sana. Bisa pura-pura nggak melihat."
Victor menatapnya lama. Bibirnya bergerak beberapa kali sebelum ia menemukan kata-kata.
"Karena kita punya luka yang sama, Nak."
Ia mengatakannya tanpa hiasan.
"Malam itu, waktu melihatmu di balik akar, om melihat Dimas. Om membayangkan kalau waktu itu om ada di rumah, kalau om nggak terlambat, mungkin seseorang bisa datang menyelamatkan Dimas seperti om menyelamatkan kamu."
Air matanya akhirnya jatuh.
"Om terlambat dua jam buat kamu, Kenzo. Tapi buat Dimas, om terlambat selamanya."
Ia mengusap wajahnya.
"Om nggak menyelamatkanmu karena om orang baik. Om bukan orang baik. Om cuma nggak sanggup melihat anak kecil mati sendirian lagi. Dan... om egois. Om butuh alasan untuk bangun setiap pagi."
"Kalau sekarang?" Suara Kenzo bergetar. "Om masih egois?"
"Kalau sekarang..." Victor tertawa lirih di sela tangisnya. "Sekarang om takut kalian pergi. Takut sekali. Kalian satu-satunya hal yang om lakukan dengan benar seumur hidup. Om sayang sama kalian. Sama kamu dan Axel."
Ia menarik napas, berusaha melanjutkan.
"Om nggak tahu cara bilangnya. Om memang nggak pandai..."
Victor tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Kenzo sudah memeluknya erat, kedua lengannya melingkari leher lelaki itu. Wajahnya terbenam di bahu Victor yang berbau tembakau dan sabun murah. Ia tak menangis keras, hanya membiarkan bahunya berguncang dan air matanya membasahi kemeja lelaki itu.
Sesaat kemudian, sepasang tangan kurus melingkari mereka dari samping.
Axel memeluk keduanya dengan canggung, dagunya bertumpu di kepala Kenzo. Dari tenggorokannya keluar suara parau yang tak berbentuk kata.
Kenzo mengenal suara itu. Suara yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di balik tumpukan karung beras.
Suara seorang anak yang berusaha mengatakan jangan pergi.
"Iya, iya," bisik Victor. Satu tangannya memeluk Kenzo, sementara tangan lainnya menepuk kepala Axel. "Nggak ke mana-mana. Om nggak ke mana-mana."
---
Nasi bakar Victor benar-benar gosong malam itu.
Ia bersikeras memasak sendiri, tetapi hasilnya tiga piring nasi hitam di bagian tepi dan telur yang nyaris menyerupai arang.
Mereka makan bersila di lantai dapur sempit tanpa banyak bicara. Axel mengetik di tabletnya.
Suara mesin berkata, "Ini enak."
Victor mendelik. "Bohong."
Axel mengetik lagi.
"Memang bohong."
Kenzo hampir tersedak karena tertawa. Itu tawa pertamanya yang benar-benar lepas sejak malam di bawah jembatan.
Victor terdiam saat mendengarnya, lalu buru-buru memalingkan muka sambil berpura-pura membersihkan sendok.
Larut malam, setelah Axel tertidur di sofa dengan tablet di dada, Kenzo duduk bersama Victor di tangga belakang. Gang sempit di hadapan mereka diterangi lampu jalan yang berkedip kuning.
"Om. Soal Tuan itu."
Victor tak menoleh, tetapi bahunya menegang.
"Orang yang menelepon pagi itu. Yang mengirim uang. Siapa dia?"
"Om nggak akan bohong," jawab Victor setelah jeda panjang. "Tapi om belum bisa memberi tahu kamu. Bukan karena om nggak percaya. Kalau kamu tahu sekarang, kamu bakal bertindak. Dan kalau kamu bertindak sekarang, kamu bisa mati."
Kenzo terdiam.
"Kamu belum siap. Dia bukan orang yang bisa dihadapi dengan kemarahan."
"Dia yang membunuh Ayah?"
"Bukan."
Jawaban Victor terdengar begitu yakin hingga Kenzo menoleh.
"Itu satu hal yang bisa om pastikan. Dia bukan orang di balik malam itu. Justru dia yang meminta om menjagamu. Dia yang menanggung semuanya."
Victor memandang lampu jalan yang berkedip.
"Ada alasan di balik semua ini, alasan yang rumit. Om nggak punya hak untuk menjelaskannya. Om sudah curiga selama bertahun-tahun, tapi belum pernah melihat dia menyakiti kita."
Ia menarik napas.
"Suatu hari kamu akan bertemu dengannya. Tapi belum sekarang. Keadaannya belum memungkinkan."
"Kenapa?"
"Karena kalau kalian bertemu sebelum waktunya, salah satu dari kalian—atau bahkan keduanya—bisa nggak selamat."
Kenzo menatap profil Victor lama-lama. Ada bagian cerita yang terasa janggal. Jeda yang salah, seperti yang pernah diajarkan Victor kepadanya: orang yang berbohong sering ketahuan dari jeda.
Namun, malam itu Kenzo memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia terlalu lelah, dan lelaki di sampingnya tampak terlalu rapuh.
Ia menyandarkan kepala di bahu Victor seperti saat kecil. Victor tak berkata apa-apa, hanya membiarkannya bersandar.
---
Namun, ada satu hal yang tak diketahui Kenzo.
Tiga jam setelah rumah itu sunyi, Victor menyelinap keluar lewat pintu belakang. Ia mengenakan jaket gelap, topi hitam, dan sarung tangan kulit tipis.
Dari bawah papan lantai gudang, ia mengambil sebuah kotak panjang. Di dalamnya tersimpan senapan berperedam yang dibongkar menjadi beberapa bagian.
Di sebuah gang di distrik pelabuhan, seorang lelaki gemuk dengan wajah berkeringat sudah menunggunya sambil memegang amplop tebal.
"Terlambat lima menit, Pradana."
"Lututku," jawab Victor datar. "Siapa targetnya?"
"Pengacara. Dia membocorkan nama penyuplai ke wartawan. Besok pagi, dia harus sudah nggak ada."
Victor menerima amplop itu tanpa menghitung isinya. Dua puluh tahun di dunia itu mengajarinya bahwa menghitung uang di depan orang yang membayar adalah penghinaan.
Namun, saat memasukkan amplop ke saku dalam jaket, jarinya sempat berhenti di atas tulang rusuk kiri, tempat kertas lipat tua biasa disimpan.
Malam itu ia tak membawanya. Ia tak pernah membawa kertas itu saat bekerja.
Biaya hidup mereka tak sedikit. Obat Axel, server-server, matras, peluru latihan, kontrakan di tiga kota yang terus berpindah, serta identitas palsu yang harus diperbarui setiap tahun.
Uang dari Tuan memang tak pernah putus, tetapi Victor tak mau sepenuhnya hidup dari belas kasihan seseorang yang bahkan tak pernah ia lihat wajahnya.
Maka, selama sepuluh tahun terakhir, ia membunuh.
Sedikit demi sedikit. Hanya orang-orang yang menurutnya pantas mati, begitu ia selalu meyakinkan dirinya sendiri. Hanya orang-orang kotor.
Tak seorang pun di rumah itu tahu bahwa nasi hangat di piring mereka dibayar dengan darah.
Menjelang fajar, Victor kembali. Ia berhenti di depan pintu belakang dan memandang lampu dapur yang masih menyala.
Kenzo duduk sendirian di sana dengan segelas air. Ia mengangkat kepala ketika pintu berderit.
"Om dari mana?"
"Cari angin," jawab Victor.
Senyumnya hangat dan sempurna, tanpa jeda sedikit pun.
Kenzo mengangguk. Victor masuk, mengacak rambutnya seperti biasa, lalu berjalan menuju kamar.
Kenzo sempat melihat sarung tangan kulit menyembul dari saku jaketnya. Ia juga mencium samar bau mesiu di lengan bajunya.
Namun, ia tak bertanya.
Ia belum tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan menyesali setiap pertanyaan yang tak diajukannya malam itu.
---
Di tempat lain, di sebuah ruang kerja dengan jendela setinggi langit-langit yang menghadap kota berkilauan, seorang lelaki menerima telepon tengah malam.
Ia mendengarkan laporan singkat dari seberang, lalu menurunkan pandangan ke selembar foto di atas meja.
Foto seorang remaja laki-laki dengan rambut belakang yang berdiri melawan, tertawa di tangga sebuah rumah. Gambar itu diambil dari kejauhan menggunakan lensa panjang.
Lelaki itu menyentuh tepi foto dengan ujung jari.
Di jarinya, sebuah cincin batu hijau berkilat di bawah cahaya lampu, lalu kembali redup.
"Belum," katanya pelan kepada seseorang di ujung telepon. "Belum waktunya dia tahu."
Di dinding belakangnya tergantung foto keluarga berbingkai emas: seorang lelaki, seorang perempuan, dan seorang anak perempuan kecil yang memeluk boneka kelinci.
Boneka dengan satu telinga terlipat.
---
Bersambung ke Bab 6