Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 19
Yuri menatap wajah Abimana yang mendengkur halus di sampingnya. Dalam keremangan kamar, garis-garis wajah pria yang dulu sangat ia cintai dan hormati kini terasa begitu asing dan menjijikkan. Tanpa emosi, Yuri perlahan bergeser membelakangi Abimana, beringsut hingga ke tepi tempat tidur agar tak sedikit pun kulit mereka bersentuhan.
Ia mematikan total layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja nakas. Malam ini, biar Sandra tenggelam dalam amarah dan kepanikan tanpa bisa menghubungi siapa pun. Biar wanita itu merasakan siksaan cemburu yang membakar dada sepanjang malam.
Yuri memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa begitu tenang.
Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden. Suara alarm di meja nakas berdering nyaring, membuat Abimana menggeliat pelan lalu terbangun. Pria itu mengucek matanya, mendudukkan diri di tepi tempat tidur sambil memegangi kepala yang terasa sedikit pening.
Yuri sudah berdiri di depan cermin, merapikan kerah pakaian kerjanya dengan raut wajah yang amat tenang, seolah-olah tak ada kejahatan besar yang baru saja ia rancang semalam.
"Dek..." panggil Abimana dengan suara serak khas bangun tidur. Pria itu menatap Yuri dengan senyum penuh percaya diri yang mengesalkan.
"Aduh, pusing banget kepala Mas. Tapi... senang deh semalam bisa borong belanjaan buat kamu. Kamu senang kan, Dek?"
Yuri berbalik, memasang topeng senyum tipis dan manis andalannya. "Iya, Mas. Makasih banyak ya. Aku nggak nyangka Mas punya simpanan komisi proyek sebanyak itu sampai bisa beliin aku macam-macam."
Abimana tertawa kecil, membusungkan dadanya yang bidang. "Kan Mas udah bilang, kamu nggak usah meremehkan suami sendiri. Mas itu selalu punya jalan. Nanti kalau proyek kantor selesai lagi, Mas bakal beliin kamu perhiasan."
Jalan dari uang selingkuhanmu, batin Yuri mencibir dingin.
"Yaudah, Mas mandi dulu sana," ujar Yuri lembut.
"Aku mau berangkat ke kedai agak awalan hari ini. Ada barang masuk yang harus dicatat."
"Lho, nggak sarapan bareng Mas dulu?" tanya Abimana agak cemberut.
"Mas kan bisa makan roti atau sereal mahal yang kita beli semalam. Aku buru-buru, Mas," jawab Yuri beralasan. Ia meraih tas selempangnya, memberikan anggukan kecil, lalu melangkah keluar kamar tanpa menunggu balasan dari Abimana.
Begitu melangkah keluar dari pintu rumah, Yuri menyalakan kembali ponselnya.
BZZT! BZZT! BZZT!
Ponsel di genggamannya bergetar tanpa henti bagai kesurupan. Puluhan notifikasi panggilan tak terjawab, belasan missed call dari nomor tak dikenal, serta rentetan pesan dari Sandra masuk bertubi-tubi. Pesan-pesan itu dikirim sepanjang malam hingga subuh tadi, penuh dengan amukan, histeria, permohonan, hingga keputusasaan.
Aroma biji kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan kedai yang masih sepi. Ajeng yang sedang mengelap meja kasir langsung mendongak begitu lonceng pintu berdentang dan melihat Yuri melangkah masuk.
"Yuri!" pekik Ajeng berbisik heboh. Ia melempar kain lapnya dan berlari kecil menghampiri Yuri.
"Sumpah ya, aku semalaman nggak bisa tidur memikirkan kelanjutan drama kamu! Gimana?! Si parasit itu sadar nggak kalau kartu debitnya dipakai? Terus si Sandra gimana?!"
Yuri terkekeh pelan, melepas tasnya dan meletakkannya di bawah meja kasir. "Si Abimana tidur nyenyak banget kayak kerbau habis kenyang. Sementara si Sandra... mungkin semalaman dia nangis histeris sampai matanya sembab."
"Sumpah, Yur?! Kamu apain lagi si pelakor itu?!" mata Ajeng membelalak lebar penuh semangat.
Yuri menyandarkan sikunya di meja kasir, berbisik pelan. "Aku foto si Abimana lagi tidur meluk aku, terus aku kirim ke Sandra dengan kapsyen kalau istri sah tetap pemenangnya."
"ASTAGFIRULLAH YURINIKA!" Ajeng menutupi mulutnya rapat-rapt dengan kedua tangan, menahan jeritan gembira.
"GILA! Kamu jahat banget, tapi SUMPAH AKU SUKA BANGET! Biar tahu rasa itu gundik! Pasti dia kebakaran jenggot semalaman!"
"Biarin aja. Dia yang janjikan mau bayar satu miliar demi melepas Abimana. Sekarang dia tinggal buktikan kata-katanya.mungkin sekarang dia sedang mencari uang itu," jawab Yuri tenang.
Saat mereka berdua sedang bersiap membuka kedai secara penuh, pintu kaca kembali terdorong terbuka. Lonceng berdentang halus.
Sesosok pria jangkung berkemeja kasual biru gelap, berkacamata tipis berbingkai perak, melangkah masuk dengan gaya anggun yang tak bisa diabaikan. Adhiyaksa Pratama berjalan mendekati meja kasir membawa sebuah dokumen kulit warna hitam.
Ajeng seketika membeku, menyenggol lengan Yuri.
"Yur... si pengacara datang lagi..."
Adhiyaksa berhenti di depan meja bar. Ia menyunggingkan senyum miring penuh karisma, membetulkan posisi kacamatanya seraya menatap Yuri lekat-lekat.
"Selamat pagi, Mbak Yuri," sapa Adhiyaksa dengan suara beratnya yang menenangkan.
"Pemandangan pagi yang menyegarkan. Wajah Mbak Yuri terlihat jauh lebih cerah dibanding kemarin."
Yuri menatap pria itu dengan alis bertaut pelan. "Iya karena saya sedang happy. Silahkan mau pesan apa, Mas?"
Adhiyaksa terkekeh pelan, tawa renyah berat yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tenang dan penuh daya pikat. Ia menyandarkan satu tangannya di atas meja bar kasir, menatap Yuri dengan binar mata jenaka di balik kacamata tipisnya.
"Pesan apa?" ulang Adhiyaksa seraya memiringkan kepalanya sedikit.
"Seingat saya, untuk pelanggan setia yang menempati meja sudut favorit selama lebih dari seminggu, para staf di sini sudah hafal di luar kepala pesanan saya. Americano panas tanpa gula dan satu croissant hangat."
Ajeng yang berdiri di samping Yuri mendadak menyenggol pinggang sahabatnya itu dengan sikut, berbisik heboh yang sengaja dipelankan.
"Bener kan, Yur? Kan aku udah bilang dia hafal banget ritmenya! Gaya pesannya aja udah kayak pemilik kedai!"
Yuri mengabaikan senggolan Ajeng dan tetap menatap Adhiyaksa dengan raut wajah profesional, meski ada sedikit lengkungan senyum tipis di bibirnya.
"Baik, Mas Adhiyaksa. Pesanannya sama seperti biasa. Silakan duduk di meja sudut, nanti Ajeng yang akan antar ke sana."
"Tunggu dulu," potong Adhiyaksa cepat sebelum Yuri sempat berbalik ke mesin espresso. Pria itu menegakkan tubuhnya, menepuk pelan map dokumen kulit warna hitam yang dipegangnya.
"Saya mau pesanan saya diantar langsung sama Mbak Yuri. Dan kali ini, tolong sempatkan waktu duduk sebentar di meja saya. Ada hal penting yang harus kita bicarakan menyangkut 'aset' satu miliar Mbak Yuri dan strategi hukum kita pagi ini."
Yuri menaikkan sebelah alisnya. "Di meja sudut? Mas, saya ini lagi jam kerja."
"Tenang saja, Mbak Yuri," balas Adhiyaksa seraya menyunggingkan senyum miringnya yang khas dan sedikit tengil.
"Saya sudah bilang kemarin kan? Kalau bos Mbak Yuri keberatan stafnya saya ajak diskusi sepuluh menit, biar saya yang langsung hubungi pemiliknya!"
Ajeng langsung menganga lebar, menatap Adhiyaksa dengan mata melotot tak percaya.
"Buset... Langsung hubungin pemilik tempat ini nggak tuh? Yur, mending kamu turuti deh sebelum kedai kita mendadak diusir!"
Yuri menghembuskan napas panjang, antara heran dan gemas menatap pria berkacamata di hadapannya itu.
"Mas Adhiyaksa... Mas ini beneran pengacara atau pemaksa sih?"
"Saya pengacara yang paham betul kapan momentum emas harus dieksekusi, Mbak Yuri," sahut Adhiyaksa santai tanpa dosa.
"Saya tunggu kopi dan croissantnya di meja sudut."
Tanpa menunggu persetujuan Yuri lagi, Adhiyaksa membalikkan badan dengan gerakan elegan, melangkah mantap menuju meja favoritnya di dekat jendela tempat sinar matahari pagi menerobos hangat.
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏