Elio pindah bukan karena mau.Seminggu setelah neneknya meninggal di desa, ibunya memaksanya pindah dari Jakarta ke SMA pinggiran yang dikelilingi kebun dan kabut. Rumah peninggalan nenek itu dingin, lembab, dan penuh sesajen yang belum sempat dibuang.Di malam terakhir nenek, nenek membisikkan satu hal sambil menggenggam tangan Elio erat: "Nenek buka jalannya ya, biar kamu gak kesepian."Sejak itu Elio melihat mereka.Awalnya hanya bayangan di ujung sawah. Lalu anak kecil tanpa kepala yang duduk di gerbang sekolah. Elio pikir dia gila.Sampai dia bertemu Ash.Di gudang belakang SMA-nya yang terkunci, ada cowok seumuran pakai seragam lama yang sobek. Tampan, pucat, dan tersenyum ke Elio. "Akhirnya ada yang bisa lihat lagi."Namanya Sean. Mereka memanggilnya Ash, karena dia seperti abu — tipis, beterbangan, selalu ada di sebelah, gak bisa diusir.Masalahnya, Ash bukan satu-satunya.SMA baru Elio menyimpan arwah penasaran dari tahun 90-an, dan semua mulai mendekat karena mata Elio
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckystar20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Emas dan Sahabat yang Tak Terlihat
Beberapa hari setelah pengakuan mengejutkan dari Ayu di belakang gedung laboratorium, Elio, Alvian, Bima, dan Ayu belum juga menemukan momen yang bener-bener pas buat kembali menyelinap ke rumah Jalan Kenanga Nomor 14.
Patroli warga desa pasca kejadian penerobosan malam minggu kemarin mendadak makin ketat. Pak RT sama beberapa warga senior bahkan bolak-balik lewat di wilayah utara cuma buat memastikan gak ada anak muda yang nekat mendekati rumah tua itu lagi. Ditambah lagi, Mbah Damar juga kelihatan makin sering berdiri di teras rumahnya setiap sore, menatap lurus ke arah jalanan dengan pandangan selidiki yang bikin Alvian terpaksa ekstra hati-hati.
Segalanya terasa buntu. Sampai akhirnya, di pertengahan minggu, Alvian membawa sebuah kabar angin yang mendadak mengubah segalanya.
Siang itu, pas jam istirahat kedua, mereka berempat—plus sosok gaib Ash—kembali kumpul di gazebo belakang perpustakaan yang rimbun.
Alvian membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan cepat, matanya memancarkan binar antusias yang jarang banget kelihatan. "Gue punya berita bagus."
Elio yang lagi menyandarkan punggungnya di tiang gazebo langsung menegakkan duduknya. "Kabar apa, Al?"
"Soal seluruh warga desa," jawab Alvian mantap. "Tadi pagi pas gue mau berangkat sekolah, gue dengar Kakek ngobrol sama ketua adat di teras. Sabtu malam besok, Desa Parangkusuma bakal mengadakan festival panen tahunan."
"Anjir! Festival panen?!" celetuk Bima heboh, matanya langsung berbinar-binar. "Gue tahu tuh! Yang ada panggung wayang kulit, pasar malam, sama pembagian tumpeng raksasa di lapangan balai desa bagian selatan itu kan?!"
"Iya, persis," Alvian mengangguk pelan. "Semua warga dari wilayah utara, tengah, sampai selatan wajib kumpul di lapangan balai desa dari sore sampai lewat tengah malam. Bahkan Kakek gue, Pak RT, sama para pemuda karang taruna yang biasa patroli juga bakal ada di sana buat memandu acara."
Elio langsung menepuk mejanya pelan, senyum lebar terukir di wajahnya. "Berarti... kawasan utara desa bakal bener-bener sepi melompong!"
"Benar," sahut Alvian dingin namun penuh kepastian. "Ini kesempatan paling pas yang gak boleh kita lewatkan. Jalur Jalan Kenanga Nomor 14 bakal bersih total dari pengawasan manusia."
Ayu yang duduk di sebelah Elio mengangguk setuju. Wajah manisnya nampak sangat tenang. "Sabtu malam besok emang momen paling ideal. Warga fokus di balai desa, jadi kita punya waktu melimpah buat menyusuri rumah itu tanpa takut digerebek lagi."
Di udara, Ash melayang turun lalu bersidang santai di atas meja semen. Hantu tampan berseragam vintage itu menyunggingkan cengiran khasnya yang jumawa. "Akhirnya! Otak lo emang encer banget, Manusia Sebelah! Gue udah gatal pengen melumpuhkan benteng gaib di rumah itu lagi."
Melihat suasana diskusi yang makin matang, Elio mendadak teringat sesuatu. Dia menoleh menatap Ayu yang lagi merapikan rok seragamnya. Ada satu hal penting yang belum sempat Elio jelaskan ke Ayu sejak cewek itu bergabung sama tim mereka.
"Yu..." panggil Elio dengan nada suara yang agak ragu.
Ayu menoleh, menatap Elio bingung. "Kenapa, El?"
Elio melirik ke arah Ash yang lagi melayang santai di tengah meja, lalu kembali menatap Ayu. "Sebelum Sabtu malam besok kita bergerak... ada satu hal yang harus lu tahu. Biar lu gak kaget."
Ayu memiringkan kepalanya tipis. "Soal apa?"
"Soal... sosok yang dari kemarin selalu ada di samping gue," ujar Elio pelan tapi serius. "Lo ingat kan, pas di lorong sekolah kemarin, pas makhluk jahat itu tiba-tiba hancur gara-gara ledakan hawa dingin?"
Ayu mengangguk pelan. "Iya. Gue bisa ngerasain ada energi abu-abu hangat yang super kuat yang nyelametin kita saat itu."
Elio memajukan badannya sedikit, suaranya makin memelan. "Namanya Ash. Atau nama aslinya, Sean. Dia itu hantu... sahabat gue yang selalu nemenin dan ngelindungin gue dari awal gue sampai di desa ini."
Seketika suasana di gazebo itu hening sejenak. Bima cuma bisa garuk-garuk kepalanya yang gak gatal, sementara Alvian menyimak tenang.
Ayu gak kelihatan takut atau kaget berlebihan. Manik matanya yang bening menatap lurus ke titik udara kosong di tengah meja—tepat di mana Ash lagi duduk bersila.
Meskipun Ayu gak bisa melihat wujud Ash secara utuh dan jelas kayak Elio atau Alvian, dengan sensitivitas auranya yang tajam, Ayu perlahan-lahan mulai memfokuskan pandangannya. Di matanya, udara di atas meja itu perlahan-lahan nampak bergoyang tipis, membentuk bayangan pendaran abu-abu kusam yang tebal dan memancarkan hawa sejuk yang menenangkan.
Ayu menyunggingkan senyum tipis yang sangat lembut. Dia menganggukkan kepalanya pelan ke arah pendaran abu itu.
"Gue... gak bisa ngeliat wajah lo secara jelas, Ash," kata Ayu halus, bicaranya bener-bener terarah ke tempat Ash berada. "Tapi gue bisa ngeliat pendaran bayangan abu-abu lo di sini. Dan gue bisa ngerasain hawa dingin lo. Makasih ya... kemarin udah nyelametin gue sama Elio di lorong."
Mendengar ucapan Ayu yang bener-bener ditujukan langsung padanya, Ash yang tadinya mau menyombongkan diri mendadak membeku total!
Muka gaib Ash mendadak berubah agak canggung, tapi matanya memancarkan rasa haru yang luar biasa. Cengiran konyolnya luntur, berganti jadi senyuman tulus yang kelihatan bangga banget.
"Anjir..." bisik Ash pelan, menatap Elio dengan muka berbinar. "Cewek ini keren banget, El! Dia bener-bener bisa ngerasain dan ngeliat pendaran abu gue walau cuma samar-samar! Gak kayak si Bima yang cuma bisa merinding disko!"
"Yee! Gue denger ya suara lu bikin tengkuk gue gatal!" celetuk Bima refleks sambil mengusap lehernya yang mendadak merinding gara-gara Ash ngomong kencang di dekatnya.
Elio sama Alvian langsung terkekeh melihat tingkah Bima. Rasa canggung yang sempat menggantung seketika mencair, digantikan sama ikatan kebersamaan yang makin kokoh di antara mereka berlima.
"Oke," Alvian mengetuk mejanya, menarik kembali perhatian semuanya. Dia mengeluarkan selembar kertas denah yang udah digambarnya rapi. "Sekarang kita fokus ke rencana penerobosan Sabtu malam besok."
Alvian menunjuk beberapa titik di denah kertas itu memakai pulpennya. "Plan A: Kita gak bakal lewat pintu depan lagi. Pintu depan udah dirantai ulang sama Pak RT dan jalurnya terlalu terbuka dari jalan utama. Kita bakal menyelinap lewat pintu belakang pekarangan yang tertutup rimbunnya pohon bambu."
Ayu memajukan badannya, menunjuk salah satu sudut di kertas. "Gue setuju. Pintu belakang itu terhubung langsung sama dapur tua. Dari sana, ada lorong kecil di sebelah lemari kayu yang menuju ke tangga bawah tanah. Itu ruangan utama yang Nenek Suri katakan."
"Mantap!" Elio memaju fokusnya. "Tugas Bima tetap bawa linggis sama tang besi buat bobol engsel belakang kalau terkunci. Gue sama Alvian bakal jadi penerang dan pembuka jalur. Ayu sama Ash... kalian berdua jadi benteng utama kalau-kalau ada sisa pemagaran gaib yang mencoba menyerang mental kita."
"Siap!" sahut Bima sambil mengacungkan jempolnya bangga. "Garam dapur tiga kilo siap diluncurkan!"
"Garam gak bakal guna, Bima," ulang Alvian datar tanpa ekspresi.
"Biarin! Biar estetik!" sungut Bima yang langsung disambut tawa renyah dari Elio dan pendaran cahaya abu Ash yang makin terang di udara.
Rencana matang udah tersusun rapi. Kelompok lima anggota ini—Elio, Alvian, Bima, Ayu, dan sosok gaib Ash—kini bener-bener siap. Sabtu malam besok, di saat seluruh warga desa terlena oleh riuhnya festival panen, mereka bakal melangkah menembus kegelapan lorong bawah tanah Jalan Kenanga Nomor 14 buat menuntaskan misteri besar yang selama puluhan tahun ini tersembunyi rapat.