Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - CAHAYA YANG TIPIS
Lin terbangun sebelum bunyi kayu alarmnya. Malam di loteng membuat suara sekecil apa pun terdengar dekat, tetapi pagi itu ia sudah membuka mata ketika gang masih sunyi. Ia mengenakan pakaian bersih yang disiapkan semalam, mengambil tanda kayu, lalu memeriksa nomor peserta sebelum turun.
Mo sudah menyalakan lampu di toko. “Kau makan?”
“Sedikit roti.”
“Cukup. Jangan berlari.”
Lin mengangguk dan berjalan menuju gerbang cabang Azure Flame Sect. Udara fajar dingin. Beberapa pemuda berjalan dari arah pasar, sebagian ditemani orang tua. Ada yang menggenggam surat lama, ada pula yang berbisik menghafal istilah unsur.
Di halaman luar, petugas memeriksa tanda kayu dan mencocokkan nama dengan daftar. Lin menyerahkan tandanya. Nomornya cocok. Ia diminta menunggu di bawah atap samping bersama peserta lain.
Seorang anak lelaki berumur sekitar lima belas tahun duduk gelisah sambil meremas ujung lengan bajunya. Ibunya menyuruhnya berhenti bergerak. Di sisi lain, seorang pemuda yang lebih tua tampak tenang, tetapi terus mengulang urutan nama-nama unsur di bawah napas.
Lin tidak mencoba menebak hasil mereka. Ia menulis waktu kedatangan dan kondisi halaman pada catatannya. Ketika melihat tanda kayu di tangannya, ia teringat barisan anak-anak di Sungai Abu. Dulu ia hanya tahu hasil akhirnya disebut biasa. Kali ini ia ingin mendengar keterangan langsung.
Pemeriksaan dilakukan di sebuah ruangan sederhana di dalam gerbang luar. Tidak ada aula besar atau tungku. Di tengahnya berdiri meja batu dengan sebuah lempeng bening berwarna abu-abu. Di belakang meja duduk seorang perempuan berjubah merah tua dan seorang pencatat.
Peserta dipanggil satu per satu. Mereka diminta menyebutkan nama serta asal, kemudian meletakkan telapak tangan pada lempeng dan mengikuti instruksi untuk tetap diam. Cahaya muncul pada beberapa bagian permukaannya dengan tingkat terang yang berbeda. Petugas mencatat hasil tanpa meminta peserta menebak warna.
Ketika nama Lin dipanggil, ia berjalan ke meja dan menyebutkan nama lengkap serta desa asalnya.
“Pernah menjalani pemeriksaan?” tanya perempuan berjubah itu.
“Waktu kecil. Ayah saya mengatakan hasilnya biasa.”
“Pemeriksaan sekarang mengukur keadaanmu saat ini. Letakkan tangan kiri di tengah lempeng. Jangan menyalurkan tenaga yang belum kau pahami. Diam dan bernapas normal.”
Lin meletakkan telapak tangannya. Permukaan batu terasa dingin. Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Ia hampir mengangkat tangan, tetapi petugas mengingatkan agar tetap diam.
Lalu muncul cahaya kusam di bawah telapak. Warnanya kuning tanah, tipis dan tidak merata. Setelah jeda, satu gurat merah redup tampak di tepi lempeng, lalu memudar.
Lin tidak merasakan aliran Qi atau gelombang tenaga. Hanya dingin batu yang berubah menjadi hangat di bagian tengah.
Pencatat menulis hasil. Perempuan berjubah itu meminta Lin mengangkat tangannya dan memeriksa lempeng sebelum memanggil peserta berikutnya.
“Apa arti hasil itu?” tanya Lin.
“Resonansi dasarmu rendah, tetapi terdeteksi. Kecenderungan tanah lebih jelas. Ada tanggapan api yang lemah.” Perempuan itu menutup buku catatan. “Hasil ini tidak memenuhi syarat penerimaan langsung sebagai murid luar pada seleksi sekarang.”
Lin menelan ludah. “Apakah itu berarti saya tidak bisa berkultivasi?”
“Tidak. Artinya hasilmu tidak mencapai batas yang ditetapkan untuk penerimaan ini. Jalur belajar lain mungkin ada, tetapi memerlukan guru, waktu, dan sumber daya. Aku tidak bisa menjanjikan hasilnya.”
“Apakah hasil ini bisa dibandingkan dengan pemeriksaan waktu kecil?”
“Tidak tanpa catatan lama. Dan pemeriksaan lama mungkin menggunakan alat berbeda. Ini yang dapat kami nyatakan sekarang.”
Petugas menyerahkan lembar hasil kecil bertanda cap. Di sana tertulis bahwa resonansi Lin rendah, kecenderungan tanah terlihat, dan tanggapan api lemah. Tidak ada angka persentase atau janji bahwa salah satu unsur akan memberinya keunggulan.
Ia mengucapkan terima kasih lalu keluar dari ruangan. Anak lelaki yang tadi gelisah memandang wajahnya.
“Bagaimana hasilmu?”
“Tanah lebih jelas, api lemah. Resonansi rendah.”
“Berarti kau diterima?”
“Tidak untuk seleksi ini.”
Anak itu menunduk. “Aku takut hasilku sama.”
Lin ingin mengatakan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti, tetapi ia baru saja merasakan sendiri bagaimana jawaban itu berat. “Apa pun hasilmu, minta mereka menjelaskan apa yang diukur. Jangan biarkan orang lain menambahkan arti yang tidak mereka katakan.”
Petugas memanggil nama berikutnya. Lin meninggalkan halaman dan berjalan pulang tanpa tergesa-gesa. Ia tidak merasa hancur, tetapi juga tidak lega. Kata rendah memberi batas yang jelas sekaligus membuka pertanyaan baru: berapa lama seseorang dengan resonansi seperti itu dapat belajar, dan apa yang harus dikorbankan untuk mencobanya?
Di persimpangan, ia berhenti untuk membaca ulang lembar hasil. Tidak ada kekuatan baru dalam tubuhnya. Ia tidak tiba-tiba dapat merasakan Qi. Cahaya yang tipis hanya muncul sebentar, lalu hilang ketika tangannya diangkat.
Mo sedang melayani pembeli saat Lin kembali. Ia menunggu sampai toko sepi, lalu meletakkan lembar hasil di meja tanpa menyodorkannya sebagai kabar kemenangan.
“Resonansi rendah,” katanya. “Kecenderungan tanah lebih jelas. Tanggapan api lemah. Saya tidak memenuhi syarat penerimaan langsung sebagai murid luar.”
Mo membaca lembar itu. “Kau merasakan Qi?”
“Tidak. Hanya permukaan batu yang hangat.”
“Berarti kau belum merasakan Qi.” Mo mengembalikan lembar hasil. “Jangan menyebutnya sebagai pengalaman yang belum kau alami.”
Lin tertawa pendek. “Saya akan menulisnya dengan tepat.”
“Apakah kau masih ingin belajar?”
Lin melihat catatan yang ia bawa. “Saya belum tahu berapa biayanya atau berapa lama jalannya. Tapi saya ingin tahu apa pilihan yang tersedia.”
“Kalau begitu, tanyakan tentang dasar-dasar yang dapat dipelajari tanpa penerimaan sekte. Jangan membeli teknik dari penjual jalanan hanya karena hasilmu rendah.”
Lin menyimpan hasil pemeriksaan di antara dua lembar kertas agar tidak terlipat. Ia lalu kembali membantu menimbang bahan dan melayani pembeli. Sore itu ia bekerja sampai toko tutup, sehingga Mo membayar upah penuh satu keping tembaga. Saldo Lin menjadi lima keping.
Sebelum menutup catatan, Lin membuat tiga bagian: hasil resmi, apa yang ia rasakan, dan apa yang belum diketahui. Di bagian pertama ia menulis kata “rendah”; di bagian kedua, “batu terasa hangat, tanpa sensasi Qi”; di bagian ketiga ia menulis, “belum tahu apakah latihan dapat mengubah kemampuan atau hanya menguatkan tubuh.”
Ia tidak menghapus ingatan tentang hasil masa kecil. Namun kini ada satu pemeriksaan yang dapat ia rujuk, dengan kata-kata yang lebih jelas dan batas yang disampaikan langsung oleh petugas.
Malam di loteng terasa sama seperti sebelumnya. Papan tetap berderit, selimut tetap tipis, dan tungku Mo masih terkunci di bawah. Yang berubah hanya lembar kecil dalam catatan Lin—bukan bukti bahwa ia ditakdirkan menjadi besar, melainkan ukuran awal tentang tempat ia berdiri.
Ia memutuskan untuk mempertahankan lembar itu dan mencari tahu apa yang masih bisa dibangun dari hasil yang rendah.