Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Hujan di Hari Ulang Tahun
Pagi di kamar baru itu datang terlalu cepat. Aira terbangun dengan posisi tubuh miring memeluk gulingnya. Pancaran sinar matahari pagi yang menembus celah gorden lantai dua puluh membuat matanya mengerjap perlahan.
Aira menyandarkan kepalanya ke headboard kasur. Aroma wangi seprai baru yang asing, keheningan kondominium mewah ini, serta kenyataan bahwa ia kini resmi menyandang status sebagai istri Devan Argawinata menindih dadanya dengan rasa sesak yang begitu liar.
Setiap kali Aira memejamkan mata, memori yang berusaha dikuburnya selama delapan tahun ini selalu menemukan celah buat mendobrak keluar.
Kenangan indah yang teramat manis, yang pada akhirnya hancur menjadi pecahan paling menyakitkan dalam hidupnya.
Delapan tahun lalu. Saat mereka berdua masih berusia tujuh belas tahun.
Suasana kelas XII IPA 2 SMA Garudawangsa siang itu riuh oleh suara kipas angin gantung yang berderit pelan dan derai tawa murid-murid pasca-jam pelajaran olahraga.
Di meja paling pojok dekat jendela, Aira duduk sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya berbinar-binar tanpa berkedip, mengamati cowok yang duduk tepat di sebelahnya—sebagai teman sebangku yang paling bikin iri seantero sekolah.
Devan.
Devan umur tujuh belas tahun adalah definisi sempurna dari kapten tim basket sekolah yang super tampan, sedikit cuek, tapi luar biasa pintar. Bajunya selalu dikeluarkan separuh, lengan kemeja putihnya digulung asal, dan aroma minyak wangi yang segar selalu menguar tipis dari tubuhnya tiap kali ia selesai berolahraga.
"Lu liatin gue mulu dari tadi, Ra. Muka gue ada beleknya ya?" tegur Devan tanpa menoleh dari buku catatan Fisika-nya. Ujung penanya masih menari lihai menyelesaikan rumus-rumus rumit.
Aira tersenyum lebar, menyenggol lengan Devan pake sikunya dengan manja. "Biarin sih! Muka pacar sendiri ini, masa gak boleh diliatin? Pelit amat lu!"
Devan mendengus pelan, tapi sudut bibirnya merangkak naik membentuk senyuman hangat yang sanggup bikin Aira meleleh detik itu juga. Devan meletakkan penanya, berpaling menatap Aira. Jemari tangan kanannya terulur, mencubit pipi Aira yang agak chubby dengan gemas sampai cewek itu meringis pelan.
"Lagian lu aneh. Tiap hari ketemu di kelas, tiap sore juga ketemu, tiap malam didepan HP... gak bosen-bosen apa liat muka gue?" goda Devan, nadanya santai tapi tatapan matanya penuh dengan kasih sayang.
"Nggak bakal pernah bosen!" sahut Aira cepat, memasang wajah manja paling maksimal. "Gue kan emang udah tergila-gila banget sama lu, Van. Lu tahu itu kan?"
"Iya, tahu. Dasar Cewek agresif," ledek Devan sambil terkekeh renyah.
Masa-masa itu, Aira dan Devan adalah couple goals nomor satu di SMA Garudawangsa.
Siapa sih yang gak tahu mereka? Devan yang nembak Aira duluan di atas panggung pas acara pensi sekolah—membawa seikat bunga mawar merah di depan ratusan pasang mata—sukses bikin satu sekolah geger.
Ke mana-mana mereka selalu berdua. Ke kantin bareng, ngerjain tugas bareng di perpustakaan, jalan-jalan sore naik motor matic Devan, sampai-sampai temen-temen sekantin suka heboh sendiri kalau liat Devan nyuapin Aira bakso.
"Cieee! Dunia serasa milik berdua ya, sisanya cuma ngontrak kan!" teriak Andi, temen satu tim basket Devan yang lewat sambil bawa mangkuk mie ayam. "Awas tuh Van, Aira jangan dimanja mulu, ntar makin ngelunjak!"
"Iri bilang, Bos!" sahut Devan tertawa sambil melempar bungkus krupuk ke arah Andi.
Devan emang kelihatan tenang dan cuek di luar, tapi kalau udah urusan Aira... sifat protektif dan cemburuannya bisa mendadak naik ke tingkat yang sangat tidak wajar.
Pernah suatu hari, ada cowok dari anak IPA 4 yang nekat ngasih kotak cokelat dan surat cinta ke meja Aira pas jam istirahat. Devan yang baru balik dari ruang guru langsung kepanasan. Tanpa banyak bacot, Devan mendatangi kelas anak itu, melempar kotak cokelat itu ke mejanya, lalu menegaskan dengan suara dingin di depan anak-anak lain kalau Aira cuma milik Devan Argawinata seorang.
Aira saat itu? Boro-boro takut, Aira justru merasa jadi cewek paling beruntung di dunia karena dicintai sebesar itu oleh Devan.
Hingga akhirnya... hari terkutuk itu tiba.
Tanggal 14 Oktober. Hari ulang tahun Aira yang ke-17.
Sejak pagi, Aira sudah heboh sendiri. Ia memakai bando pita, menanti-nanti kejutan apa yang bakal dikasih Devan buat sweet seventeen-nya.
Tapi sepanjang hari di sekolah, Devan bersikap agak dingin dan banyak diam. Aira mikirnya sih itu cuma bagian dari skenario prank ulang tahun yang biasa dibikin anak-anak.
Pukul lima sore, area sekolah sudah mulai sepi. Langit Jakarta mendadak berubah gelap gulita, dilapisi awan mendung tebal yang siap mencurahkan hujan deras.
Aira berdiri di tepi lapangan basket outdoor sekolah, memeluk tas ranselnya. Ia sengaja menanti Devan selesai latihan basket sendirian, berniat mengajak cowok itu makan di restoran steak langganan mereka buat merayakan ulang tahunnya.
Bruk! Bruk!
Suara pantulan bola basket bergaung di lapangan yang sepi. Devan berdiri sendirian di bawah ring, memasukkan bola berulang kali dengan gerakan cepat dan kasar. Keringat membasahi kaus hitamnya.
Aira tersenyum, melangkah mendekati pinggir lapangan sambil melambaikan tangan. "Van! Udah jam lima nih! Ayo beres-beres, hujan mau turun lho. Ayo kita makan bareng."
Devan mendribel bolanya sebentar, lalu memegangnya. Pria itu tidak langsung menjawab. Ia berdiri kaku di tengah lapangan, membelakangi Aira.
"Van?" panggil Aira lagi, langkahnya terhenti. Perasaannya mendadak tidak enak. Ada aura asing yang begitu dingin dan menusuk dari punggung cowok itu.
Devan berbalik perlahan. Tidak ada senyuman hangat yang biasa Aira lihat. Wajah Devan datar, kaku, dan matanya menatap Aira dengan tatapan paling dingin yang belum pernah Aira lihat sebelumnya.
Petir menyambar keras di langit, disusul gemuruh angin yang meniup kencang rambut Aira.
"Kita putus aja, Ra," kata Devan. Suaranya datar, tanpa beban, meluncur begitu saja dari bibirnya.
Aira membeku di tempatnya. Senyuman di wajah cantiknya luntur seketika. "H-hah? Lu ngomong apa sih, Van? Bercanda lu nggak lucu banget sumpah. Ini prank ulang tahun gue kan? Mana kue ulang tahunnya? Lu sembunyiin di mana?"
Aira tertawa hambar, melangkah mendekati Devan, memegang lengan cowok itu. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh kulit Devan, Devan mundur dua langkah. Menolak disentuh.
"Gue nggak bercanda, Aira," kata Devan lagi. Kali ini suaranya jauh lebih tajam dan dingin. "Gue beneran mau kita putus. Sekarang."
Jantung Aira serasa dihantam godam besar. "K-kenapa, Van? Gue ada salah apa sama lu? Kalau ada sifat gue yang lu nggak suka, ngomong ke gue! Gue bakal ubah, Van! Kenapa harus putus?!"
Tetesan air hujan mulai turun satu per satu dari langit, membasahi lapangan basket.
Devan menatap Aira, memasang raut wajah paling tidak peduli yang ia punya. "Gue udah capek, Ra."
"Capek... gimana maksud lu?" suara Aira mulai bergetar, air mata mulai menumpuk di sudut matanya, beradu dengan rintik hujan yang makin deras.
"Gue capek sama sifat lu yang kekanak-kanakan. Gue capek harus selalu turuti kemauan lu, ladenin manja lu tiap hari," racik Devan dingin, setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sembilu yang mengiris hati Aira. "Gue udah nggak ada rasa lagi sama lu, Aira. Gue bosan."
Aira menggelengkan kepalanya histeris. "Nggak... nggak mungkin! Lu bohong kan, Van?! Kemarin lu masih bilang cinta sama gue! Kenapa pas hari ulang tahun gue lu ngomong gini?!"
"Bulan depan gue bakal berangkat ke luar negeri," potong Devan tanpa memedulikan tangisan Aira.
Hujan deras tumpah ruah dari langit, menyiram tubuh mereka berdua hingga basah kuyup dalam hitungan detik. "Gue mau fokus lanjutin studi gue di sana. Gue nggak mau terbebankan sama hubungan remeh-temeh kayak gini lagi. Jadi stop kejar-kejar gue."
Barisan kalimat itu... diucapkan tepat di depan muka Aira di tengah guyuran hujan deras yang dingin.
Tanpa menunggu balasan dari Aira, Devan melempar bola basketnya sembarangan ke pinggir lapangan, membalikkan badannya, dan berjalan melangkah meninggalkan Aira sendirian di tengah hujan.
"DEVAN!" jerit Aira histeris. "DEVAN, JANGAN PERGI! VAN, KITA BISA OMONGIN INI BAIK-BAIK!"
Devan terus melangkah tanpa berbalik sedikit pun. Langkah kakinya konstan, dingin, seolah-olah Aira itu sampah yang baru saja ia buang dari hidupnya.
Lutut Aira lemas. Tubuhnya ambruk, terduduk di atas lapangan yang basah. Air matanya menyatu dengan air hujan yang mengguyur deras.
Jeritan tangisannya yang memilukan tenggelam di bawah gemuruh suara hujan dan petir yang bersahutan. Hari ulang tahunnya yang ke-17... berubah menjadi hari paling kelam yang meremukkan seluruh kepercayaannya pada cinta.
Namun... Aira tidak tahu satu hal.
Di balik tembok koridor gedung sekolah—hanya berjarak belasan meter dari lapangan outdoor itu—Devan berdiri bersandar di dinding.
Tubuh Devan basah kuyup. Kedua tangannya yang meremas besi pembatas koridor mengepal begitu erat.
Devan memperhatikan sosok Aira yang terduduk menangis kencang di tengah hujan deras. Pria itu menyaksikan bagaimana wanita yang sangat ia cintai hancur karena kata-kata yang baru saja dilontarkannya.
Dada Devan bergemuruh hebat. Rasa bersalah, rasa sakit, dan penyesalan yang luar biasa dahsyat menyiksa relung hatinya. Air mata Devan sendiri tumpah, menyatu dengan air hujan yang menetes dari ujung rambutnya.
Maafin aku, Aira... maafin aku... batin Devan histeris, giginya merapat menahan emosi yang menghantam dadanya.
Devan tidak punya pilihan. Keputusan besar keluarga Argawinata, keputusan dari sang ayah soal masa depan perusahaan, serta tekanan politik keluarga yang memaksanya harus segera angkat kaki ke luar negeri ... membuat Devan harus memutuskan hubungan ini dengan cara paling kasar.
Devan tahu, jika ia memutuskannya secara baik-baik, Aira tidak akan pernah mau melepaskannya, dan Aira hanya akan terseret dalam bahaya konspirasi bisnis keluarganya.
Devan memilih menjadi penjahat di mata Aira. Pria itu memilih dibenci oleh wanita yang paling dicintainya, daripada harus melihat Aira terluka lebih dalam di masa depan.
Devan terus berdiri disana, memandangi Aira yang terus menangis di tengah hujan, sampai akhirnya mobil milik keluarga Hermawan datang dan menjemput Aira.
Klek.
Aira terbangun dari kilas balik masa lalunya saat mendengar suara langkah kaki dari luar kamar.
Aira mengusap pipinya yang ternyata basah oleh air mata. Delapan tahun sudah berlalu, tapi rasa sakit dari hujan sore itu masih terasa begitu nyata di dadanya.
Aira menyapu air matanya kasar, mengubah raut wajahnya kembali menjadi dingin dan penuh amarah. Ia bangkit dari kasur, membenahi piyamanya, lalu melangkah menuju pintu.
Masa lalu adalah masa lalu. Devan yang sekarang adalah suami paksaannya, dan Aira bersumpah tidak akan pernah membiarkan pria itu menyakiti hatinya untuk kedua kalinya.
semangat thorr💪💪😍