NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan di Batas Senja

Hari itu terasa berjalan sangat lambat bagi Aruna. Di kelas, ia kesulitan berkonsentrasi. Setiap kali dosen berbicara, pikirannya melayang ke jalan setapak tua itu, ke janji yang terucap di keheningan malam. Dinda menyadari perubahan pada sahabatnya — wajahnya lebih cerah, namun matanya juga tampak gelisah, seolah menantikan sesuatu yang mengubah seluruh dunianya.

"Kau tampak berbeda hari ini," kata Dinda saat mereka duduk di kantin sebelum pulang. "Seperti orang yang sudah jatuh cinta."

Aruna tersipu, menunduk menatap nampan makanannya. "Aku tidak tahu apakah itu cinta, Dinda. Tapi aku merasa... hidupku baru saja mulai memiliki makna yang lebih lengkap."

Dinda menatapnya cemas. "Ini tentang sosok yang kau ceritakan kemarin, bukan?"

Aruna mengangguk pelan. "Namanya Orion. Ia berjanji akan menampakkan dirinya hari ini."

Dinda menahan napas. "Aruna, ini gila. Kau tidak tahu siapa dia, dari mana dia, apa tujuannya... dan kau mau bertemu dengannya sendirian di tempat sepi itu?"

"Aku tidak sendirian," jawab Aruna lembut namun tegas. "Ia akan bersamaku."

"Bagaimana jika ia bukan seperti yang kau bayangkan?" Dinda meraih tangan sahabatnya. "Bagaimana jika ia menyakitimu?"

"Ia sudah punya kesempatan itu berkali-kali," jawab Aruna tenang. "Namun ia tidak melakukannya. Justru sebaliknya — ia menyelamatkanku berkali-kali tanpa aku sadari. Aku percaya padanya, Dinda."

Dinda menghela napas panjang, menyadari tak bisa mengubah keputusan Aruna. "Baiklah. Tapi janjilah padaku: jika ada sesuatu yang salah, kau berteriak. Aku akan menunggu di ujung jalan setapak itu, tersembunyi. Jika kau memanggil, aku akan datang. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."

Mata Aruna berkaca-kaca. Ia memeluk sahabatnya erat. "Terima kasih, Dinda. Kau sahabat terbaik di dunia."

"Jangan berterima kasih dulu," gumam Dinda sambil memeluknya balik. "Tunggu sampai kau pulang dengan selamat, baru berterima kasih padaku."

Sore itu, langit tampak sangat indah — berwarna jingga keunguan yang memancar lembut, seolah langit sendiri sedang menyambut momen istimewa. Aruna berpisah dengan Dinda di persimpangan, lalu melangkah sendirian menyusuri jalan setapak yang kini tampak berbeda baginya — tidak lagi sepi, melainkan penuh harapan.

Setiap langkah terasa ringan namun jantungnya berdebar kencang. Ia menyadari bahwa hidupnya akan berubah setelah ini — entah menjadi lebih indah atau lebih rumit, ia belum tahu. Namun ia tidak ingin mundur.

Saat ia tiba di tempat yang paling teduh, di bawah pohon raksasa yang dahan-dahannya saling bertaut, ia berhenti. Ia berdiri diam, menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan:

"Aku sudah datang, Orion."

Hening sejenak. Kemudian kabut tipis mulai muncul dari balik semak, bergerak pelan membentuk jalan kecil menuju ke tengah-tengah tempat itu. Dan dari balik batang pohon tertua, ia melangkah keluar.

Aruna menahan napas.

Ia lebih tinggi dari yang dibayangkannya, tubuhnya tegap namun bergerak dengan keanggunan yang tak biasa — seolah tanah tak menyentuh kakinya sepenuhnya. Wajahnya tampan, namun bukan keindahan yang biasa dilihat di dunia ini; ada kesempurnaan yang tenang, diiringi jejak kesedihan yang mendalam di sudut matanya. Kulitnya pucat seputih cahaya bulan, rambutnya hitam pekat dan panjang sedikit, jatuh menutupi sebagian dahi. Namun yang paling memikat adalah matanya — berwarna keemasan lembut, memancarkan cahaya yang hangat sekaligus menyedihkan, menatapnya seolah ia adalah hal paling berharga yang pernah ada di semesta.

Ia mengenakan jubah gelap yang terbuat dari kain halus, berkilau samar saat terkena cahaya senja, seolah ditenun dari debu bintang.

Orion berhenti beberapa langkah di depannya, tak berani mendekat lebih jauh. Ia menatap Aruna dengan pandangan takjub, seolah ia sedang melihat mimpi yang menjadi kenyataan.

"Kau..." suara Aruna tercekat di tenggorokannya, "kau sangat indah."

Orion tersenyum tipis — senyum yang menyimpan ribuan rahasia dan kerinduan. "Indah?" suaranya terdengar lembut namun penuh keraguan. "Aku adalah kegelapan, Aruna. Orang-orang menyebutku mengerikan. Kutukan."

"Siapa yang bilang begitu?" tanya Aruna maju selangkah, lupa akan rasa takutnya. "Mereka tidak melihat apa yang aku lihat."

"Apa yang kau lihat?" tanyanya pelan, matanya tak lepas dari wajah Aruna.

"Aku melihat seseorang yang kesepian," jawab Aruna tulus. "Seseorang yang baik hati, yang rela menjaga orang lain meski tak ada yang tahu namanya. Seseorang yang... menungguku."

Tangan Orion mengepal pelan di sisi tubuhnya, seolah menahan diri agar tidak meraihnya. "Kau melihat jauh ke dalam diriku, padahal kebanyakan orang hanya melihat kulit luarnya saja."

"Karena aku tidak takut pada kegelapanmu," kata Aruna mantap. "Aku ingin mengenalimu, Orion. Bukan hanya sebagai pelindungku, tapi sebagai dirimu sendiri."

Orion menunduk sejenak, lalu kembali menatapnya. "Jika kau mengenalku lebih jauh, kau mungkin akan takut. Aku bukan manusia, Aruna. Aku berasal dari dunia yang tak kau ketahui. Ada aturan yang mengikatku, larangan yang tak boleh kulanggar."

"Ceritakanlah padaku," pinta Aruna lembut. "Biarkan aku yang memutuskan apakah aku takut atau tidak."

Orion menghela napas panjang, lalu duduk di atas akar pohon besar yang melengkung, memberi jarak namun tetap berada dalam jangkauan pandangannya. Aruna duduk di hadapannya, melipat roknya dengan rapi, menunggu.

"Aku adalah putra dari penguasa dunia bayangan," mulainya perlahan, matanya menatap ke kejauhan seolah melihat masa lalu yang jauh. "Ribuan tahun yang lalu, ayahku memerintah dengan kekejaman. Ia ingin menaklukkan dunia cahaya, memaksa manusia tunduk pada kegelapan. Aku menentangnya. Aku tidak ingin perang, tidak ingin penderitaan. Karena itu, aku dikutuk — diusir ke perbatasan dua dunia, terikat di sini, tak boleh pergi ke duniamu sepenuhnya, tak boleh pulang ke tempat asalku."

Aruna mendengarkan dengan hati yang perih. "Sendirian... selama ribuan tahun?"

Orion mengangguk pelan. "Hanya ada aku dan keheningan. Sampai pertama kali aku melihatmu — masih kecil, berlari di tepi sungai itu, tertawa. Cahayamu memancar begitu terang, begitu hangat... menembus kabut tebal yang menyelimuti tempatku. Sejak saat itu, aku tak bisa berhenti memperhatikanmu."

"Maka setiap kali aku hampir celaka..."

"Aku ada di sana," lanjutnya lembut. "Terkadang aku bisa bertindak langsung, terkadang hanya bisa memberi peringatan halus. Aku berusaha melindungimu tanpa diketahui siapa pun, termasuk kau sendiri. Aku takut jika kau tahu siapa aku, kau akan lari."

Aruna menggeleng pelan. "Aku tidak akan lari, Orion."

"Belum semua orang sepertimu," jawabnya sedih. "Dan ada bahaya lain. Semakin dekat kita, semakin terasa ikatan ini bagi mereka yang mengawasi. Ayahku masih mencari cara untuk melepaskan kutukanku — bukan untuk membebaskanku, melainkan untuk menggunakan kekuatanku. Dan jika ia tahu tentangmu... ia akan menganggapmu ancaman sekaligus kunci kekuasaan."

Aruna merinding, namun ia tidak mundur. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, Orion."

Orion tersenyum haru namun sedih. "Kau yang masih muda dan lembut... ingin melindungi aku yang berasal dari kegelapan?"

"Kegelapan bukan berarti lemah, dan cahaya bukan berarti kejam," jawab Aruna tegas. "Kita saling melindungi, bukan begitu?"

Orion menatapnya lama, seolah menyimpan setiap detail wajahnya di dalam ingatan. Perlahan, ia mengulurkan tangan kanannya — jari-jarinya panjang, pucat, namun terlihat kuat dan lembut sekaligus. Ia tidak menyentuhnya, hanya menawarkan sesuatu.

"Jika kau tidak takut..." suaranya bergetar, "sentuhlah tanganku. Hanya sebentar."

Aruna meraih tangan itu perlahan. Kulitnya terasa dingin, seperti menyentuh batu yang terkena embun pagi, namun ada kehangatan samar yang menjalar dari sentuhan mereka. Ia menggenggam tangan itu erat, memastikan ia benar-benar ada.

"Kau nyata," bisiknya.

"Dan kau adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagiku," jawabnya pelan.

Tiba-tiba Orion menarik tangannya pelan, seolah kesakitan. Aruna menyadari — di tempat jari-jarinya bersentuhan, ada cahaya samar yang muncul, lalu memudar perlahan, meninggalkan kemerahan halus di kulitnya.

"Apakah aku menyakitimu?" tanya Aruna cemas.

Orion menggeleng, meski napasnya sedikit berat. "Cahayamu... membakar sedikit lapisan pertahanan kegelapanku. Itu menyakitkan, ya. Tapi juga... melegakan. Seperti luka yang akhirnya bernapas."

Aruna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apakah kita tidak boleh bersentuhan sama sekali?"

"Boleh," jawabnya lembut. "Hanya sebentar. Semakin lama kita bersentuhan, semakin lemah aku. Tapi jangan khawatir... rasa sakit itu sebanding dengan kebahagiaannya."

Matahari kini hampir sepenuhnya tenggelam. Langit berubah menjadi biru tua yang dalam, bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Orion menatap ke arah cakrawala dengan cemas.

"Aku harus pergi sebelum fajar, dan sebaiknya sekarang juga... sebelum kegelapan yang lain menyadari keberadaanku di sini," ucapnya pelan.

"Kapan kau akan kembali?" tanya Aruna tak ingin berpisah.

"Besok, di waktu yang sama," janjinya. "Dan setiap hari sesudahnya, selama kau mengizinkan."

Ia mundur perlahan, kabut mulai menyelimuti tubuhnya kembali. Namun sebelum lenyap, ia berhenti dan menatap Aruna sekali lagi.

"Terima kasih," katanya tulus. "Karena tidak takut padaku."

"Terima kasih sudah menungguku," jawab Aruna.

Dan ia lenyap, menyatu dengan bayangan pepohonan, tanpa suara, tanpa jejak — kecuali perasaan hangat yang tertinggal di tangan Aruna, dan satu keyakinan di hatinya: ia tidak lagi sendirian.

Aruna berdiri sendirian di tempat itu, menatap ke arah tempat Orion berdiri tadi. Ia mengangkat tangannya, menggenggam udara seolah masih merasakan sentuhan itu.

Dinda muncul dari balik pohon tidak jauh dari sana, wajahnya masih cemas namun perlahan melembut melihat ekspresi sahabatnya.

"Kau bertemu dengannya?" tanyanya pelan.

Aruna mengangguk, tersenyum lebar meski matanya berkaca-kaca. "Ya, Dinda. Dan dia... dia sungguh luar biasa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!