Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Akhir dari Awal Baru
Bagi Alvaro, medan perang modern adalah sebuah lelucon tanpa jiwa. Sebuah orkestra kematian yang bising namun terasa begitu hampa, dimainkan oleh mesin-mesin dingin yang mengabaikan esensi dari peperangan itu sendiri.
Angin kering yang berhembus di antara gedung-gedung pencakar langit yang kini telah runtuh membawa serta abu vulkanik dari beton yang hancur, aroma tajam dari mesiu yang terbakar, dan bau logam yang teroksidasi oleh darah. Alvaro bersembunyi di balik puing-puing pilar beton tebal, tubuhnya menempel rapat pada struktur yang setengah hancur tersebut. Matanya yang tajam menatap awas dari balik kacamata taktisnya, memindai cakrawala kota yang kini lebih menyerupai kuburan massal raksasa daripada sebuah pusat peradaban manusia. Langit di atasnya berwarna kelabu pekat, tertutup oleh asap tebal dari fasilitas penyulingan minyak yang diledakkan dua hari lalu, menghalangi sinar matahari dan menciptakan suasana senja yang abadi dan menindas.
Sebagai seorang prajurit pasukan khusus Angkatan Darat yang lulus dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah akademinya, Alvaro bukanlah manusia biasa. Ia telah mengasah tubuh dan pikirannya melampaui batas maksimal yang bisa ditoleransi oleh anatomi manusia. Otot-ototnya padat dan efisien, dibentuk melalui siksaan fisik dan mental di kamp pelatihan yang dirancang untuk mematahkan jiwa siapa pun yang kurang tangguh darinya. Refleksnya setajam silet, mampu merespons ancaman dalam hitungan milidetik. Insting membunuhnya bukanlah sesuatu yang ia bawa sejak lahir, melainkan ditempa dan dipertajam melalui latihan neraka bertahun-tahun di berbagai medan ekstrem—dari hutan hujan yang lembap dan penuh penyakit hingga padang pasir yang membekukan darah di malam hari. Ia adalah lambang kesempurnaan seorang prajurit.
Namun, di tengah reruntuhan ini, sambil menggenggam senapan serbu canggih yang dilapisi polimer ringan, sebuah pertanyaan getir terus menghantui benaknya: Untuk apa semua itu?
Di era yang serba otomatis ini, perang tidak lagi mempedulikan seberapa kuat kau bisa mengayunkan tinju, seberapa presisi kau bisa menembak, atau seberapa cepat kau bisa melumpuhkan lawan dalam pertarungan jarak dekat yang brutal. Kehormatan dari sebuah pertarungan hidup dan mati, di mana dua orang prajurit saling berhadapan, menatap mata musuh untuk mengakui keberadaan satu sama lain sebelum nyawa direnggut, telah mati. Nilai-nilai luhur dari keberanian, pengorbanan, dan kemanusiaan di medan tempur telah digantikan oleh algoritma, sirkuit, dan prosesor silikon.
Pesawat tempur nirawak yang terbang di luar jangkauan visual manusia, misil kendali jarak jauh yang bisa melintasi benua, dan tank-tank baja otomatis yang bergerak tanpa awak kini mendominasi medan tempur. Bagi sistem-sistem ini, musuh bukanlah manusia dengan keluarga, mimpi, dan keberanian. Musuh kini hanyalah sekumpulan piksel merah yang berkedip di layar radar resolusi tinggi.
Kematian tidak lagi datang dari seorang prajurit yang lebih tangguh atau lebih cerdik, melainkan dari seorang operator yang duduk di sebuah ruangan ber-AC yang nyaman, mungkin ribuan kilometer jauhnya dari bau darah dan jeritan kesakitan. Seseorang yang mungkin sedang mengunyah makanan ringan saat jarinya menekan sebuah tombol presisi, mengirimkan api neraka dari langit ke koordinat GPS tertentu. Sebuah pembunuhan yang begitu steril, begitu bersih, dan begitu pengecut.
Bagi Alvaro, itu adalah penghinaan terbesar terhadap eksistensi seorang pejuang.
Sejak kecil, jauh sebelum ia mengenakan seragam kamuflase ini, ia selalu mendamba-dambakan pertempuran keras head-to-head. Di sela-sela waktu istirahat militernya yang sangat berharga, ketika rekan-rekannya menghabiskan waktu dengan bermain video game, berjudi, atau menenggak alkohol untuk melupakan trauma perang, Alvaro tidak melakukan satupun dari itu. Ia justru mengasingkan diri di sudut barak, menenggelamkan dirinya dalam tumpukan literatur sejarah militer abad pertengahan yang ia beli dari pasar loak atau unduh secara ilegal ke tablet militernya.
Ia mempelajari taktik perang kuno dengan fanatisme seorang pendeta. Ia membedah teknik-teknik pedang tradisional, terobsesi dengan Historical European Martial Arts (HEMA). Ia menghabiskan malam-malam panjang mempelajari geometri pertarungan mematikan dari aliran pedang Spanyol, La Verdadera Destreza, memahami bagaimana sebuah lingkaran imajiner di tanah bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Ia merindukan sensasi bobot pedang baja karbon di tangannya, keseimbangan crossguard, dan suara dentingan keras ketika dua bilah logam berbenturan dalam tarian mematikan.
Ia terobsesi dengan era di mana nilai seorang pria tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang ia gunakan, melainkan dari ayunan pedangnya, kekuatan lengannya, dan tekad baja di dalam dadanya saat ia berdiri di medan berlumpur yang basah oleh darah. Di era itu, kau bisa merasakan napas musuhmu. Kau tahu bahwa jika kau mati, kau mati oleh seseorang yang menaruh nyawanya di garis depan bersamamu.
Tapi di sinilah ia sekarang. Terjebak dalam seragam kamuflase taktis canggih yang dirancang untuk mengelabui sensor termal, memegang senapan serbu kaliber 5.56mm yang terasa sangat hampa di tangannya. Ia berada di tengah-tengah perang yang paradoks; sebuah perang di mana ia ditugaskan untuk membunuh, namun tidak diberi ruang dan martabat untuk benar-benar bertarung.
Debu beton kembali berjatuhan ke bahunya ketika sebuah getaran pelan terasa dari dalam tanah, pertanda bahwa artileri jarak jauh baru saja diluncurkan entah dari mana, menuju entah ke mana. Pasukannya telah tercerai-berai sejak penyergapan di sektor utara pagi tadi. Komunikasi satelit terputus akibat gangguan sinyal elektromagnetik dari pihak musuh. Ia sendirian, bertahan hidup dengan mengandalkan insting primalnya di tengah hutan beton yang mati ini.
Tiba-tiba, suara statis memecah keheningan yang tegang. Radio komunikasi di telinganya mendesis keras, memancarkan gelombang suara yang terputus-putus.
"Target... krkkk... mendekat. Peringatan udara... hssshhh... Vulture-9... Segera tinggalkan zona—"
Suara statis itu memutus komunikasi secara brutal, digantikan oleh keheningan frekuensi radio yang mati. Jantung Alvaro berdetak satu ketukan lebih cepat. Ia mendongak, menatap ke arah langit kelabu yang tertutup debu dan asap.
Di sela-sela awan yang pekat itu, sayup-sayup terdengar dengungan yang sangat familiar. Suara itu awalnya pelan, hampir tidak terdengar di antara desir angin, namun dengan cepat berubah menjadi nada tinggi yang melengking, layaknya ribuan lebah logam raksasa yang sedang marah. Itu bukanlah suara jet tempur atau helikopter. Itu adalah suara baling-baling kecil bertenaga baterai berkapasitas tinggi.
Sebuah loitering munition, drone bunuh diri taktis canggih yang dilengkapi dengan hulu ledak high-explosive anti-tank (HEAT), telah berhasil menembus penyamaran termalnya dan mengunci koordinat biologisnya.
Dari balik celah puing-puing, mata tajam Alvaro menangkap siluet kelabu dari benda mematikan itu. Benda itu sangat kecil, ramping, dan dirancang murni untuk satu tujuan: penghancuran tanpa kompromi. Drone itu tidak memiliki keraguan, tidak merasakan belas kasihan, dan yang paling menyedihkan bagi Alvaro, tidak memiliki rasa takut. Mesin itu meluncur vertikal dari ketinggian awan dengan kecepatan terminal yang mustahil dihindari oleh kaki manusia mana pun, membelah udara, menembus puing-puing bangunan tepat mengarah ke samping tempatnya berlindung.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik, namun bagi pikiran Alvaro yang sangat terlatih, waktu terasa melambat, memuai menjadi rentetan milidetik yang menyiksa.
Ia bahkan tidak membuang tenaga untuk mengangkat senapannya. Otak taktisnya yang brilian langsung melakukan kalkulasi instan dan memberikan hasil yang absolut: probabilitas keselamatan adalah nol persen.
Otot-otot di seluruh tubuhnya yang telah dilatih secara obsesif selama bertahun-tahun, kapasitas paru-parunya yang melampaui atlet olimpiade, teknik pernapasan tempur yang selalu ia banggakan untuk menenangkan diri, dan keahlian bela diri jarak dekatnya yang mematikan—semuanya, tanpa terkecuali, sama sekali tidak berguna di hadapan seonggok besi bodoh yang dikendalikan oleh algoritma pengenalan wajah atau oleh seseorang dari jarak ribuan mil. Rasa tak berdaya yang luar biasa mencekik dadanya, bukan karena ia takut mati, melainkan karena ia benci cara ia mati. Ini bukanlah kematian seorang ksatria. Ini adalah pembasmian hama.
Sialan, batin Alvaro.
Matanya terpaku tanpa berkedip pada drone yang moncongnya mulai memancarkan cahaya merah kecil—indikator bahwa pemicu ledakan telah aktif. Dalam sepersekian detik sebelum kehancuran menjemputnya, pikiran Alvaro tidak melayang pada masa kecilnya, tidak juga pada penyesalan hidup. Pikirannya melayang pada pedang, pada arena berlumpur, pada dentingan logam.
Andai ini abad pertengahan... pikirnya, sebuah senyum sinis yang tipis terbentuk di sudut bibirnya yang kering dan retak. Mungkinkah pertempuran yang kudambakan... kematian yang kuharapkan... bisa kurasakan?
BOM!
Sebuah ledakan yang memekakkan telinga merobek udara dengan kebrutalan absolut. Udara di sekitarnya seketika terkompresi sebelum meledak keluar dengan kekuatan yang meremukkan tulang. Gelombang kejut menghancurkan pilar beton di sampingnya menjadi debu dan proyektil mematikan. Panas yang luar biasa, mencapai ribuan derajat celsius, menyapu tubuhnya dalam sepersekian detik, membakar oksigen di sekitarnya dan menghanguskan seragam anti-apinya seolah itu hanyalah kertas tipis.
Dunia seketika berubah menjadi kilatan cahaya putih yang menyilaukan dan membutakan segala indera penglihatannya. Suara ledakan itu begitu keras hingga saraf pendengarannya hancur, meninggalkan dengingan tajam yang sangat menyakitkan sebelum akhirnya berganti menjadi keheningan absolut. Kilatan putih itu dengan cepat disusul oleh warna merah pekat yang menetes, menutupi sisa pandangannya yang kabur. Darah mengucur deras dari kepalanya, membasahi wajahnya yang tertutup debu.
Tubuhnya terlempar tanpa perlawanan, menghantam sisa-sisa dinding bangunan dengan kekuatan yang menghancurkan tulang rusuknya. Sensasi fisik dari rasa sakit yang luar biasa muncul sejenak, membakar seluruh ujung sarafnya, sebelum sistem pertahanan otaknya memutus aliran rasa sakit itu, menggantikannya dengan rasa kebas yang aneh dan dingin.
Alvaro terbaring tak berdaya di antara tumpukan puing, napasnya tersengal, paru-parunya menolak bekerja. Suara peperangan modern—deru mesin, ledakan artileri, dan dengungan drone—perlahan-lahan memudar dari sisa kesadarannya, digantikan oleh dengungan sunyi yang menenangkan dari dalam kepalanya sendiri. Gravitasi terasa menghilang, dan bumi seolah lenyap dari bawah punggungnya yang patah.
Dunia di sekelilingnya pun memudar menjadi gelap gulita. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi penyesalan. Tidak ada lagi drone dan senapan polimer. Di tengah keheningan kehampaan itu, Alvaro perlahan-lahan mulai kehilangan kesadarannya yang terakhir, membiarkan jiwanya tenggelam ke dalam jurang malam yang tak berujung, menutup satu babak dari kehidupannya yang penuh kekecewaan, dan melangkah menuju sesuatu yang tidak pernah ia sangka.
👍