"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."
Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?
💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB EMPAT: Dua Sisi Koin (Bagian 2)
“That moment!!!” ini ke sekian kalinya aku dan Ian terbahak-bahak karena mengingat pertemuan aneh kami. Mengingat bagaimana kami yang saat itu sudah enam bulan ngantor bersama ternyata memiliki wajah seperti pinang dibelah dua. Aku ingat sekali bagaimana wajah mbak Cyntia yang saat itu seperti melihat setan, sampai-sampai berkas yang dia bawa jatuh berserakan ketika melihat aku dan Ian berjalan beriringan untuk pertama kalinya. Dan semenjak itu seluruh divisi kantor ramai membicarakan kami. Kebanyakan mengembangkan isu bahwa aku dan Ian adalah kembar yang terpisah, seperti kisah-kisah sinetron itu. Aku hanya meringis, menyadari bahwa aku dan Ian memiliki kehidupan yang sangat jauh berbeda.
Adrian Veristyo Wijaya, panggilannya Ian. Dia anak tunggal dari keluarga Wijaya. Ayahnya bekerja sebagai COO di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Pekerjaan itu pula yang membuat ayah Ian sering bolak-balik ke luar negeri. Saking seringnya sampai seperti perjalanan Jakarta-Bandung kata Ian. Jadilah dia lebih sering tinggal berdua saja dengan ibunya. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan resmi. Yup, dia homeschooling sejak kecil. Ibunya kelewat khawatir pada pergaulan anak muda zaman sekarang. Beliau takut anak kesayangannya, yang sudah dibesarkan dengan susah payah selama 19 tahun, rusak hanya karena salah pergaulan. Yeah, mom’s problem in the world. Padahal Ian adalah anak yang cerdas. Kulihat hasil ujian kesetaraannya nyaris mendekati nilai sempurna seluruhnya. Sayang saja mengetahui jika dia hanya sekolah di rumah. Untuk urusan tampang, jangan ditanya lagi. Kamu ingat Ario? Ingat Farel? Nah, Ian adalah aku ditambah Ario ditambah Farel. Jadi, sudah sangat tampan, ditambah lagi baik hati setengah mati, dan juga cerdas setengah mampus. Lengkaplah dia sebagai pangeran idaman.
Dari semua info yang kudapat ini seharusnya kamu sudah bisa menarik kesimpulan. Ayolah, kamu pasti tahu apa yang kumaksud. TRUE. Ian adalah laki-laki di bawah dua puluh tahun yang amat sangat kaya raya. Sekali telepon, dia bisa saja minta iPhone keluaran teranyar. Bahkan kalau dia mau, dia bisa membeli Lamborghini seri mana pun saat ini juga. Tapi faktanya, dia sekarang malah ada di hadapanku. Makan nasi campur dan minum es jeruk. Beridentitas analyst programmer dari divisi sebelah. Isn’t that amazing?
“Anak kantor nggak ada yang tahu kalau kamu anak orang kaya?” tanyaku penasaran. Sudah kuduga dia akan tertawa.
“Nggaklah, buat apa juga mereka tahu? Enakan begini, dianggap sama rata sama orang lain.”
“Ya tapi masa nggak ada satupun yang curiga sama asal-usulmu sih? Aku aja langsung tahu kalau kamu anak orang kaya gara-gara ceritamu soal homeschooling itu. Orang biasa akan lebih milih sekolah formal yang dibiayai negara daripada sewa guru privat yang harus dibayar per jam. Belum lagi ujian buat ambil ijazahnya,” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Membayangkannya saja sudah membuat tabunganku menangis.
“Untungnya orang kantor nggak ada yang sepeka kamu,” Ian terkekeh sambil menyeruput es jeruknya. Oke, kuanggap itu pujian.
“Terus gimana ceritanya bisa kerja di sini?” aku melontarkan pertanyaan lagi. Sejak mengenalnya, aku jadi amat sangat penasaran dengan hidupnya. Dan sebaliknya, dia juga sangat penasaran dengan hidupku. Kami merasa seperti dua singa beda habitat. Yang satu hidup bertahun-tahun di kandang mewah sampai bosan, sedangkan yang satu lagi hidup mati-matian di hutan belantara untuk bertahan. Jadi, begitu kami bertemu dalam satu suaka, kami harus saling mengajari satu sama lain agar bisa sama-sama hidup berdampingan, bukan saling makan-memakan.
“Awalnya aku ingin bekerja di luar negeri, karena kupikir orang tuaku tak akan keberatan. Ketika kusampaikan keinginanku, ayah dan ibuku malah berdebat panjang lebar. Ayahku setuju karena ayah punya banyak kenalan kerja di beberapa perusahaan luar negeri. Tidak ada salahnya mencoba tes di salah satu perusahaan itu. Tapi, ibu tidak setuju. Takut aku akan terkena culture shock karena saat di sini saja aku tidak bergaul secara ‘normal’ dengan orang yang sebudaya denganku. Akhirnya mereka mengambil jalan tengah. Aku tetap diperbolehkan bekerja tapi harus di Bandung. Kebetulan perusahaan ini adalah mitra dari perusahaan ayahku. Track recordnya juga bagus. Jadi, kucoba saja melamar dan mengikuti rangkaian tesnya. And here I am,” Ian memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulut. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
“Mungkin takdir memang mempertemukan kita, brother,” kutepuk-tepuk bahunya dengan dramatis.
“Ih, apaan sih? Jijik kali!” Ian menampar tanganku keras-keras sambil terbahak. Aku nyengir.
Don’t waste your time on me
You’re already the voice inside my head...
“Halo, Chanku!” dengan cepat kujawab teleponku. Ada tawa merdu yang masuk. Ah, aku kangen sekali pada anak ini.
“Nggak, ini lagi makan siang kok. Ada apa? Tumben telepon duluan,” kusadari Ian menatapku lekat-lekat. Pasti dia akan menginterogasiku setelah ini.
“Belum tahu sih ini. Mungkin waktu kamu liburan semester aku bisa pulang. Tapi aku nggak janji juga ya. Kamu kan tahu sendiri aku masih anak baru di kantor. Nanti kalau udah fix, langsung aku kabari, oke?”
“Iya, Chan. Aku jaga kesehatan kok, kamu juga ya? Jangan lirik-lirik cowok lain!” godaku pada suara di seberang. Bisa kubayangkan muka Ara yang pasti sudah berlipat-lipat karena godaanku barusan.
“Oke. Love you!” tutupku sok romantis. Hanya dengan telepon lima menit saja, nyawaku rasanya sudah di Malang. Ara sepertinya main dukun karena bisa membuatku seperti ini dari jarak jauh.
“Gila ya?” Ian memegang keningku. Tanpa sadar aku sudah senyum-senyum sendiri meski panggilan di handphoneku sudah mati beberapa menit yang lalu. Benar kan perkiraanku? Ara pasti main dukun.
“Yang jelas bukan gila karenamu,” kusahut es jeruk Ian dan menyeruputnya sampai habis. Toh, dia tidak akan minta ganti.
“Well, well...mari kuinterogasi dirimu sebagai ganti es jerukku itu. Shall we?” Ian merengkuh bahuku kelewat erat. Ya memang dia tidak protes sih, tapi kenapa jadi begini?
“Eh? Kan cuma es jeruk,” tukasku tanpa bisa melepaskan rengkuhan Ian. Ian hanya tertawa melihatku. Dia bahkan mengacak-acak rambutku. Membuatku terlihat seperti korban bully. Kami pun meninggalkan kantin dengan berisik. Tentu saja hal itu membuat kami jadi pusat perhatian. Beberapa pasang mata wanita menoleh ke arah kami, saling menyenggolkan siku. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang langsung tertawa. Well done, Ian! Well done!
...***...