Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARYA ARSYAD SIKUMBANG
Pande Sikek, Tanah Datar — 1965
Di lereng Bukit Barisan, di tanah yang dingin dan berkabut, terletak Pande Sikek.
Nama itu tidak akan kau temukan mudah di peta-peta besar yang dijual di Bukittinggi. Ia terselip, kecil, seperti lipatan sarung yang lupa disetrika. Diapit oleh Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang berdiri seperti dua orang tua penjaga, Pande Sikek hidup dalam napasnya sendiri. Udara di sana tidak sama dengan udara di Padang Panjang atau di Batusangkar. Ia lebih tipis, lebih bersih, menusuk sampai ke sumsum. Kalau pagi, kabut turun seperti kain putih yang dihamparkan Tuhan semalam suntuk, menutup sawah, menutup surau, menutup jalan setapak dari batu-batu kali.
Tahun itu adalah 1965.
Indonesia sedang gaduh jauh di sana, di Jakarta, di radio-radio yang kresek-kresek suaranya. Tapi di Pande Sikek, kegaduhan itu hanya sampai sebagai bisik-bisik di kedai kopi, sebagai koran bekas pembungkus garam yang datang terlambat berminggu-minggu. Waktu di Pande Sikek tidak diukur oleh jam. Tidak ada jam dinding di kebanyakan rumah. Waktu diukur oleh kokok ayam pertama, oleh bayang-bayang gonjong yang bergeser, oleh azan Maghrib dari surau kayu, oleh air sungai yang jernih membelah sawah berundak yang mulai menguning, menanti disabit.
Desa itu belum dialiri listrik. Belum ada tiang-tiang yang membawa cahaya dari kota. Ketika matahari tenggelam di balik punggung Barisan, Pande Sikek tenggelam dalam gelap yang pekat, gelap yang sesungguhnya. Gelap yang membuat anak-anak tak berani keluar. Hanya cahaya petromax yang bergoyang di teras rumah-rumah kayu, dan cahaya kunang-kunang di pematang. Angin membawa bau tanah basah, bau daun kayu yang membusuk, bau asap tungku dari dapur-dapur yang masih menyala. Jalan tanahnya licin jika hujan, berbatu jika kemarau. Rumah-rumah gadang berdiri dengan bangga, meski dinding kayunya telah menghitam dimakan usia dan hujan, meski ukiran di pintu sudah mulai aus oleh tangan waktu.
Di ujung desa, agak menjorok ke dalam, dekat dengan rumpun bambu dan parak kopi, berdiri sebuah rumah gadang. Tidak besar, tidak juga kecil. Atap gonjongnya menjulang ke langit seperti tanduk kerbau yang runcing, gagah menantang kabut. Tiang-tiangnya dari kayu juwar yang keras, kayu yang tidak dimakan rayap. Rumah itu adalah rumah Siti Aminah Sikumbang. Rumah kaum. Rumah pusaka dari mamaknya.
Malam itu, malam Kamis di pertengahan tahun, kabut turun lebih tebal dari biasanya. Dinginnya bukan main. Napas yang keluar dari mulut terlihat putih-putih, seperti asap rokok. Embun menempel di daun-daun talas sebesar tampah. Anjing-anjing kampung meringkuk di bawah baleh-baleh, tak menggonggong. Desa sudah menutup pintu. Dari jauh terdengar suara air Batang Agam mengalir pelan.
Hanya satu rumah gadang itu yang masih terjaga.
Di dalam, suasana hening dan tegang. Tidak ada mantri, tidak ada bidan dari puskesmas, tidak ada rumah sakit di Pande Sikek. Puskesmas yang paling dekat ada di Padang Panjang, harus berjalan kaki berjam-jam memotong bukit, atau menunggu oplet yang kadang lewat kadang tidak. Kelahiran adalah urusan perempuan. Urusan mak tuo-mak tuo, dukun beranak yang tangannya sudah menolong puluhan bayi lahir di atas tikar pandan. Ilmunya tidak tertulis di buku. Ilmunya diturunkan dari mulut ke mulut, dari tangan ke tangan, ditolong oleh doa, oleh air putih yang sudah dibacakan ayat, oleh minyak kelapa kampung yang hangat.
Di bilik dalam yang dibatasi oleh kain sarung yang digantung, terbaring Siti Aminah Sikumbang. Perempuan Minang yang kuat, yang sehari-hari turun ke sawah, yang menggendong kayu bakar di punggungnya, malam itu wajahnya pucat. Keringat membasahi pelipisnya meski udara dingin. Rambutnya yang hitam, sebagian mulai memutih, menempel di dahi. Ia menggigit kain sarung yang dilipat, menahan rintihan.
Tiga orang mak tuo duduk mengelilingi baleh-baleh tempatnya berbaring. Mak tuo Piah, yang paling tua, rambutnya sudah putih semua, matanya masih tajam. Tangannya cekatan, meski keriput. Ia yang mengatur semua. Mak tuo Kaci di sebelahnya, menyiapkan air hangat dalam baskom seng, menyiapkan kain-kain putih yang sudah dicuci bersih dan dijemur berhari-hari. Dan Mak tuo Daroh, yang duduk di dekat kepala Siti Aminah, mengusap keringat di dahinya dengan kain basah, berbisik pelan, "Tarik napas, Aminah... tarik... tahan... elok-elok... Allah bersama awak."
Di sudut bilik, lampu petromax menyala. Cahayanya hangat, kuning, menari-nari di dinding kayu, menciptakan bayang-bayang besar yang bergerak. Bau minyak tanah bercampur bau minyak angin, bau daun sirih, dan bau anyir darah bercampur menjadi satu. Di luar bilik, di ruang tengah yang luas, tidak ada siapa-siapa. Tikar pandan digelar, tapi kosong. Anak-anak sudah disuruh ke dapur.
Di halaman, di bawah langit yang mulai ditutup kabut tebal, berdiri seorang lelaki.
Abdullah bin Rais Payobadar.
Orang sekampung mengenalnya. Lelaki bertubuh sedang, tapi kekar. Kulitnya hitam terbakar matahari. Tangannya besar, penuh kapalan karena cangkul, karena parang, karena menebang kayu besar di hutan untuk diambil kayunya. Ia lelaki yang jarang bicara. Kalau bicara, suaranya berat. Ia lelaki keras, yang kalau membajak sawah bisa seharian dari sebelum Subuh sampai Maghrib tanpa berhenti. Namun malam itu, semua kekerasan itu luruh.
Ia gelisah.
Ia memakai baju kaos oblong yang sudah tipis, sarung kotak-kotak dililitkan di pinggang, dan kopiah hitam yang miring. Ia mondar-mandir di atas rumput yang basah oleh embun. Dari halaman depan ke samping rumah, dari samping ke belakang, lalu kembali lagi. Tangannya meremas-remas. Kadang ia berhenti, menatap pintu bilik yang tertutup rapat oleh kain sarung itu, yang dari celahnya keluar cahaya petromax. Setiap kali terdengar rintihan tertahan dari dalam, bahunya terangkat.
Ia bukan lelaki yang pandai menunjukkan cemas. Tapi malam itu semua orang tahu ia cemas. Ini anak ketiganya. Tapi rasa takut itu selalu sama. Takut kehilangan. Di Pande Sikek, melahirkan adalah pertaruhan nyawa. Banyak cerita perempuan yang tidak kembali setelah melahirkan. Banyak cerita bayi yang biru dan tidak menangis.
Ia mendongak ke langit. Kabut begitu tebal, bintang tak terlihat satu pun. Hanya gelap. Ia membuka kedua tangannya, mulutnya berkumat-kumit membaca doa. Doa yang ia hafal sejak kecil di surau, doa yang diajarkan ayahnya, Rais Payobadar. "Ya Allah... permudah... permudah..."
Waktu berjalan lambat sekali. Petromax di dalam berdesis pelan. Angin lewat di antara rumpun bambu, menimbulkan suara berderak panjang.
Lalu —
Tangis itu pecah.
Tangis bayi memecah sunyi. Nyaring. Kuat. Panjang. Bukan tangis lemah. Tangis yang marah, yang menuntut udara, yang menuntut hidup. Tangis itu menembus dinding kayu yang tebal, menembus kain sarung pembatas, menembus kabut tebal di halaman, menembus dada Abdullah yang sesak.
Abdullah terhenti. Langkahnya yang mondar-mandir itu langsung mati. Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang, sampai ia bisa mendengarnya sendiri di telinganya. Tangannya yang terkepal terbuka.
Dari dalam, terdengar suara Mak tuo Piah yang lega, disusul tawa kecil.
Pintu bilik yang hanya berupa kain sarung itu terbuka pelan. Mak tuo Piah keluar, wajahnya berkeringat, kain di bahunya basah, namun matanya berseri-seri. Ia menatap Abdullah di halaman yang masih berdiri kaku.
"Laki-laki, Pak Abdullah," katanya dengan bahasa Minang yang kental, napasnya masih terengah. "Alhamdulillah. Laki-laki. Sehat. Tangisnyo kareh bana. Kuaik suaronyo, alah!"
Abdullah menatapnya, suaranya bergetar. Tenggorokannya kering.
"Amaknyo? Siti Aminah baa? Amaknyo baa, Mak tuo?"
Mak tuo Piah tersenyum, mengangguk-angguk cepat, paham kecemasan seorang suami.
"Selamat. Selamat inyo. Lalahnyo sajo. Pucat, tapi selamat. Bayinyo sehat, tangannyo kuaik, kakinyo kuaik. Rancak bana, Pak Abdullah."
Beban yang sejak sore tadi menghimpit dada Abdullah, beban yang membuatnya tidak bisa duduk, tidak bisa makan, luruh seketika. Lututnya terasa lemas. Ia menghela napas panjang, napas yang selama berjam-jam ia tahan. Air matanya, yang jarang sekali keluar, menggenang di sudut mata lelaki keras itu. Ia berbisik pelan, hampir tidak terdengar, "Alhamdulillah... Alhamdulillah... Ya Allah, tarimo kasih..."
Ia tidak langsung masuk. Ia membasuh mukanya dengan air embun di daun talas di samping rumah, menenangkan diri. Baru kemudian ia masuk perlahan, membuka selopnya di tangga.
Di bilik yang hangat oleh cahaya petromax, Siti Aminah Sikumbang terbaring. Wajahnya pucat, lelah luar biasa, bibirnya kering. Tapi bibir itu tersenyum. Senyum seorang ibu yang sudah melewati batas antara hidup dan mati. Rambutnya basah oleh keringat. Di sampingnya, di atas tikar pandan yang dialas kain putih, terbungkus sarung biru tua yang sudah disiapkan berbulan-bulan, seorang bayi merah.
Bayi itu kecil. Kulitnya masih merah, keriput, berlendir. Rambutnya hitam halus, tipis, menempel di kepalanya. Matanya terpejam rapat, tapi mulutnya masih membuka-tutup, bekas menangis. Tangannya yang kecil, sekepal tangan ayahnya saja, bergerak-gerak mencari hangat, jari-jarinya yang mungil mengepal.
Abdullah mendekat. Langkahnya pelan, seperti takut membangunkan sesuatu yang suci. Ia berlutut di samping baleh-baleh. Tangannya yang kasar, yang penuh kapalan karena cangkul dan parang, yang kukunya hitam karena tanah, terulur dengan hati-hati yang luar biasa. Begitu hati-hati, seolah ia sedang menyentuh kaca yang paling tipis. Ia menyentuh kepala bayi itu. Mengusap rambut halusnya.
"Anakku..." bisiknya. Suaranya pecah.
Siti Aminah menatap suaminya, lalu menatap bayi di sisinya. Dengan sisa tenaganya, ia mengusap kepala bayi itu.
Di dekat jendela kayu yang sedikit terbuka, membiarkan angin dingin masuk, berdiri dua anak kecil. Mereka dari tadi mengintip dari dapur, tidak berani masuk karena dilarang mak tuo.
Yang paling besar, Andi Rajo Alam Sikumbang. Umurnya tujuh tahun. Baju sederhananya kebesaran, itu baju turun dari sepupunya. Ia berdiri tegak, mencoba terlihat seperti orang dewasa, seperti bujang kecil. Tapi matanya tidak bisa bohong. Matanya takjub, lebar, melihat gumpalan merah yang bergerak-gerak itu. Adiknya.
Di sampingnya, Arlan Rasyad Sikumbang. Tiga tahun setengah. Rambutnya cepak, perutnya sedikit buncit. Matanya berbinar-binar. Tangannya menarik-narik lengan kakaknya, ingin ikut melihat lebih dekat, tapi takut dimarahi. "Adiak... adiak..." bisiknya berulang-ulang.
Siti Aminah melihat kedua anak bujangnya. Ia melambaikan tangan lemah.
"Sini... sini, nak..."
Andi Rajo Alam melangkah maju, mendekati baleh-baleh. Ia berlutut di samping ayahnya. Ia melihat wajah adiknya yang merah itu dari dekat. Bau harum bayi, bau minyak kelapa.
Siti Aminah mengusap kepala bayi di sisinya, lalu menatap suaminya. Suaranya pelan, tapi jelas di dalam bilik yang hening itu.
"Namonyo Arya," katanya pelan. "Kito namoi Arya. Arya Arsyad Sikumbang."
Nama itu sudah ia simpan selama berbulan-bulan. Arya, yang artinya bangsawan, yang mulia, yang dihormati. Bukan karena ingin menjadi bangsawan. Tapi karena ia ingin anak ini hidup mulia, tidak susah seperti mereka. Arsyad, yang artinya cerdas, yang mendapat petunjuk. Sikumbang, suku ibunya, suku yang mengalir darahnya, tanda ia anak dari Pande Sikek.
Abdullah mengangguk, mengulang nama itu di mulutnya, seperti mengeja doa baru. Air matanya akhirnya jatuh.
"Arya Arsyad Sikumbang... Arya Arsyad Sikumbang..."
Andi Rajo Alam yang berusia tujuh tahun itu, dengan suara anak-anak namun dengan kesungguhan seorang anak sulung Minang yang tahu ia akan menjadi contoh, mengucapkan janji pertamanya sebagai seorang kakak.
"Ambo jago adiak, Yah," ucapnya. Suaranya kecil tapi bulat. "Ambo jago Arya."
Abdullah menatap anak sulungnya, lalu mengusap kepalanya dengan tangan kasarnya.
Arlan yang kecil hanya tersenyum lebar, giginya yang baru tumbuh beberapa terlihat. Ia tidak mengerti arti menjaga. Ia hanya tahu ia punya teman baru. Ia menyentuh ujung sarung biru tua yang membungkus adiknya, menyentuhnya dengan satu jari.
"Adiak... Adiak Arya..."
Malam itu tak ada lagi yang dibicarakan. Tak ada cerita tentang susahnyo hiduik, tak ada cerita tentang harga padi yang turun, tak ada cerita tentang sawah yang butuh dipupuk esok. Tak ada cerita tentang politik di Jakarta yang jauh. Hanya ada napas bayi yang pelan-pelan teratur, napas ibu yang lelah namun lega, dan syukur seorang ayah yang duduk bersila di lantai kayu, menatap tiga putranya.
Di dalam rumah gadang itu, di bawah satu lampu petromax yang apinya mulai mengecil karena minyaknya hampir habis, berkumpullah sebuah keluarga kecil. Abdullah, Siti Aminah, dan tiga putranya — Andi Rajo Alam, Arlan Rasyad, dan yang baru lahir, yang tangisnya masih menggema di dinding-dinding kayu, Arya Arsyad.
Di luar, kabut semakin tebal menyelimuti Pande Sikek. Semakin dingin. Angin lewat di antara rumpun bambu, membawa dinginnya puncak Singgalang. Desa itu kembali sunyi, sunyi yang dalam, sunyi yang hanya dimiliki oleh desa-desa di lereng gunung.
Namun di dalam rumah itu, di bilik kecil yang hangat itu, cahaya kecil tetap menyala. Cahaya petromax yang bergoyang, menjaga kehidupan baru yang baru saja dimulai. Menjaga bayi dari Pande Sikek yang kelak akan membawa nama Sikumbang itu jauh, lebih jauh dari kabut yang malam itu menutupi desanya.