NovelToon NovelToon
MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

MERTUA CEREWET, TETANGGA JULID, SUAMI PELIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG DIRENCANAKAN

Hari yang dikatakan Juned sebagai "tugas luar kota" akhirnya tiba. Pagi itu ia berangkat dengan koper kecil, berpamitan singkat pada Ratih dan Anyara seolah semuanya biasa saja.

"Jaga Ibu baik-baik ya, Ra. Aku pulang lusa," ucapnya, mencium tangan Ratih lebih dulu sebelum menoleh sekilas ke Anyara dan hanya mengangguk tanpa kata-kata lain.

Anyara mengangguk balik, tanpa ekspresi berarti. Dalam hatinya, ia sudah tidak lagi berharap ucapan sayang atau pelukan perpisahan seperti pasangan lain—yang penting sekarang hanyalah bagaimana ia bisa melewati dua hari ke depan dengan tenang, sambil menyusun rencana yang sudah mulai terbentuk di kepalanya.

Sore harinya, karena persediaan bumbu dapur menipis, Anyara meminta izin ke Ratih untuk keluar sebentar membeli kebutuhan di pasar dekat rumah—lebih jauh dari minimarket biasa, tapi harganya lebih murah.

"Ya udah, cepetan, jangan lama-lama. Ibu nggak enak badan, butuh kamu di rumah," pesan Ratih sambil merebahkan diri di sofa ruang tengah.

Anyara berjalan kaki menuju pasar, menyusuri jalan yang mulai gelap karena senja sudah turun lebih cepat hari itu, mendung menggantung sejak siang. Selesai berbelanja, ia memilih jalan pintas melewati gang kecil yang biasanya ramai pedagang kaki lima, meski saat itu sudah mulai sepi karena hujan gerimis turun tiba-tiba.

Di tengah gang, seorang pria mabuk tiba-tiba menghadang langkahnya, bau alkohol menyengat dari napasnya.

"Eh, Mbak cantik, sendirian aja? Mau saya temenin?"

Anyara mundur selangkah, mencoba tetap tenang. "Maaf, Pak, saya buru-buru," jawabnya, berusaha melewati pria itu dari sisi lain.

Tapi pria itu malah menghalangi jalannya, tangannya terulur mencengkeram pergelangan tangan Anyara dengan kasar. "Sebentar aja, nggak usah takut."

"Lepasin!" seru Anyara, mencoba menarik tangannya, panik mulai menjalar di dadanya. Gang itu sepi, tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong, dan cengkeraman pria itu semakin kuat, membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat.

Tepat saat itu, sebuah mobil berhenti mendadak di ujung gang, lampu sorotnya menerangi kejadian itu. Pintu terbuka cepat, dan seseorang berlari mendekat.

"Lepasin dia!" suara itu tegas, dan Anyara mengenalinya seketika—Hans.

Pria mabuk itu menoleh kaget, cengkeramannya sedikit mengendur karena terkejut. Hans tidak membuang waktu, langsung menarik lengan Anyara menjauh dari pria itu, memposisikan dirinya di depan sebagai pelindung.

"Siapa lu?!" bentak pria mabuk itu, meski suaranya sudah terdengar goyah karena pengaruh alkohol.

"Nggak penting siapa saya. Yang jelas, kalau lu masih mau macem-macem, saya panggil polisi sekarang juga," jawab Hans, nada suaranya tenang tapi penuh ketegasan yang membuat pria itu mengurungkan niatnya.

Pria mabuk itu akhirnya mundur, menggerutu tidak jelas sebelum berjalan sempoyongan menjauh, menghilang di kegelapan gang yang lain.

Hans langsung berbalik menghadap Anyara yang masih gemetar, wajahnya pucat. "Mbak, Mbak nggak apa-apa? Ada yang sakit?"

Anyara menggeleng pelan, meski tangannya masih terasa sakit bekas cengkeraman tadi. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan, entah karena syok, karena lega, atau campuran keduanya.

"Saya... saya nggak apa-apa, Pak. Terima kasih," ucapnya terbata-bata.

Hans menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran, tanpa berpikir panjang ia merangkul bahu Anyara pelan, menuntunnya ke arah mobil. "Ayo, saya anter pulang. Kebetulan banget saya lewat sini."

Di dalam mobil, Anyara masih terisak pelan, mencoba menenangkan diri sendiri. Hans tidak banyak bicara, hanya menyerahkan tisu dari laci dashboard, membiarkan Anyara menenangkan diri tanpa terburu-buru.

"Maaf, Pak, saya jadi ngerepotin lagi," ucap Anyara setelah tangisnya sedikit reda.

"Jangan minta maaf, Mbak. Justru saya bersyukur kebetulan lewat sana. Kalau saya kepikiran apa yang bisa kejadian kalau saya nggak lewat..." Hans tidak melanjutkan kalimatnya, rahangnya mengeras sesaat, menahan emosi yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.

"Kenapa Bapak bisa lewat sana? Bukannya rumah Bapak jauh dari sini?"

Hans terdiam sesaat, seperti ragu untuk menjawab jujur. "Jujur aja, Mbak, saya emang sengaja lewat daerah sini beberapa kali belakangan, siapa tau kebetulan ketemu Mbak lagi. Tadi pas liat Mbak di gang itu, saya langsung berhenti tanpa pikir panjang."

Anyara menatapnya, tidak tahu harus merespons apa. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, campur dengan rasa bersalah karena situasinya yang begitu rumit—suami yang berselingkuh di satu sisi, dan pria lain yang diam-diam memperhatikannya sedemikian rupa di sisi lain.

"Pak Hans," ucapnya pelan, "terima kasih udah nolongin saya. Tapi saya juga nggak enak, karena posisi saya masih rumit banget sekarang."

"Saya ngerti, Mbak. Saya nggak minta apa-apa balik, cuma pengen mastiin Mbak aman aja," jawab Hans, matanya tetap fokus ke jalanan di depan, meski nada suaranya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepedulian biasa.

Sesampainya di dekat rumah, Anyara turun dari mobil, membetulkan kerudungnya yang sedikit berantakan, mencoba menenangkan diri sebelum masuk rumah.

"Pak Hans, sekali lagi, terima kasih banyak. Kalau nggak ada Bapak tadi, saya nggak kebayang jadinya gimana."

"Sama-sama, Mbak. Hati-hati ya, kalau bisa jangan lewat gang sepi lagi, apalagi sendirian pas udah mulai gelap."

Anyara mengangguk, lalu berjalan cepat menuju rumah, jantungnya masih berdebar kencang—bukan hanya karena kejadian tadi, tapi juga karena kesadaran baru yang mulai tumbuh dalam dirinya: bahwa perhatian Hans bukan lagi sekadar rasa terima kasih biasa, dan entah kenapa, ia sendiri tidak sepenuhnya menolak kenyataan itu.

Malam itu, setelah berpamitan pada Ratih dengan alasan kecapean dan langsung masuk kamar, Anyara duduk di tepi ranjang yang kosong—Juned masih di luar kota—menatap bekas cengkeraman merah di pergelangan tangannya, lalu menatap ponselnya yang menampilkan pesan baru dari Hans.

"Mbak, sampe rumah aman kan? Saya masih khawatir."

Anyara tersenyum tipis, mengetik balasan dengan hati yang masih bergejolak antara syukur, takut, dan sesuatu yang lain yang belum sepenuhnya berani ia akui pada dirinya sendiri.

"Aman, Pak. Terima kasih udah selalu ada pas saya butuh."

1
Heny
Apa anyana gk punya tlp orang kantor bisa di tanya kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!