Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pukul satu siang.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela dapur sudah terasa panas, menandai tengah hari yang sepi. Di dalam kamar utama, Mia baru saja selesai menidurkan Kayla sebentar setelah mereka bermain di lantai. Tapi perut kosong membuat anak itu gelisah. Ia menggeliat di gendongan ibunya, wajah kecilnya mengerut, lalu merengek pelan.
“Mam… ma mam…” suara Kayla terdengar manja, sambil menarik-narik kerah baju Mia.
Mia menghela napas pelan, lalu mencium puncak kepala putrinya. “Iya, sayang. Kita makan. Mama juga sudah lapar.”
Ia melangkah keluar kamar dengan hati-hati, masih menggendong Kayla di pinggang. Rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Di ruang tamu, tas-tas milik Lukman dan Sonya masih berserakan di sudut, dan suara televisi pelan terdengar dari kamar belakang yang kini mereka tempati.
Setibanya di ruang makan, Mia mendudukkan Kayla di kursi tingginya dengan lembut. Ia merapikan rambut anaknya yang agak berantakan, lalu berjalan menuju meja.
Tudung saji aluminium yang biasanya menutupi sisa makanan masih berada di tempatnya. Tadi pagi, sebelum Rian berangkat, Mia sengaja menyisakan nasi goreng dan ayam goreng dalam jumlah yang lumayan. Cukup untuk makan siang dirinya dan Kayla, bahkan masih ada cadangan jika Rian pulang lebih awal.
Ia membuka tudung saji.
Kosong.
Piring saji yang tadi masih berisi nasi goreng kini bersih. Hanya tersisa sedikit butiran nasi yang menempel di pinggir. Ayam gorengnya juga sudah habis, hanya menyisakan sedikit kuah di dasar mangkuk. Bahkan kerupuk yang ia simpan di toples ikut lenyap.
Mia berdiri diam beberapa detik. Tangannya masih memegang gagang tudung saji. Di kursi, Kayla menatap ibunya dengan mata bulat, lalu kembali merengek.
“Mam ma”
Mia menutup kembali tudung saji pelan-pelan. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa kesal yang naik ke tenggorokan. Bukan hanya soal makanan yang habis. Tapi soal sikap. Mereka datang pagi-pagi, langsung memakai kamar anaknya, lalu tanpa basa-basi menghabiskan makanan yang jelas-jelas disiapkan untuk keluarga inti.
Ia berbalik, berjalan menuju dapur. Begitu masuk, pemandangan yang menyambutnya membuat dahi berkerut lebih dalam. Beberapa mangkuk dan piring kotor memenuhi wastafel. Ada sisa nasi yang mengering di pinggir piring, sendok dan garpu yang berserakan, serta gelas yang masih menyisakan air minum. Tidak ada satu pun yang dicuci. Spons dan sabun cuci piring masih berada di tempatnya, tidak tersentuh.
“Dasar tamu tidak tahu diri,” gumam Mia pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh, menahan keinginan untuk membanting sesuatu.
Dari belakang, suara Kayla semakin keras. “Mamaaa… lapal…”
Mia segera berbalik. Ia tidak ingin anaknya melihat kemarahannya. Dengan cepat ia membuka kulkas, mencari apa saja yang masih tersisa. Ada telur, sedikit sayur, dan nasi putih yang masih cukup. Ia menyalakan kompor, menumis telur dadar sederhana sambil sesekali mengusap keringat di pelipis.
Sambil memasak, pikirannya berkecamuk. Baru sehari Lukman dan Sonya tinggal di rumah ini, sudah membuat Mia muak. Adik iparnya itu tidak tahu malu, mereka juga tidak punya sopan santun sebagai tamu di rumah orang lain.
Mia yang sudah lelah mengurus rumah dan putrinya, semakin lelah karena harus mengurus mereka juga.
Tak lama telur dadar yang Mia masak pun matang.
Mia menuangkannya ke piring, menambahkan sedikit kecap, lalu membawa makanan itu ke ruang makan. Ia menyuapi Kayla dengan sabar, meski tangannya masih sedikit gemetar karena menahan emosi.
“Pelan-pelan, sayang. Jangan buru-buru,” bisiknya lembut, meski di dalam hati ia ingin berteriak.
Kayla makan dengan lahap, sesekali tersenyum pada ibunya. Momen kecil itu sedikit menenangkan dada Mia. Tapi ketika ia menoleh ke arah dapur yang masih penuh piring kotor, rasa kesal itu kembali muncul.
Setelah Kayla selesai makan, Mia membereskannya, lalu kembali ke dapur. Ia menyingsingkan lengan baju dan mulai mencuci piring satu per satu. Air mengalir deras, menghilangkan sisa nasi dan minyak. Setiap gerakan tangan terasa berat. Bukan karena lelah fisik, tapi karena lelah perasaan.
Di tengah kegiatannya, tiba-tiba Sonya datang menghampirinya.
“Kak Mia… ada sisa makanan?” tanyanya dengan suara manis. “Aku lapar lagi. Kayaknya bayi ini rakus sekali.”
Mia tidak langsung menoleh. Ia terus menggosok piring yang sudah bersih, seolah butuh waktu untuk menyusun jawaban.
“Tadi semuanya sudah habis,” jawabnya akhirnya, nada suaranya datar. “Aku baru masak telur dadar untuk Kayla. Kalau mau, saya buatkan lagi.”
Sonya tersenyum lega. “Wah, terima kasih banyak, Kak. Nanti biar Lukman yang cuci piringnya, ya.” ucap Sonya.
Mia hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahnya. Ia tahu, janji itu tidak akan di lakukan. Sebab, saat ini Lukman sedang tidur.
Setelah Sonya kembali ke kamar, Mia menyelesaikan cuciannya. Ia mengeringkan tangan, lalu menatap dapur yang kini kembali rapi. Tapi rasa rapi itu tidak sampai ke hatinya.
Ia menggendong Kayla yang sudah mengantuk lagi, lalu duduk di sofa ruang tamu. Pandangannya jatuh pada foto pernikahan yang digantung di dinding. Dulu, di foto itu, ia tersenyum begitu cerah. Sekarang, senyum itu terasa jauh.
“Mama lelah, sayang,” bisiknya pelan pada putrinya yang sudah terlelap di pangkuan.
Di luar, siang terus berjalan. Tapi di dalam rumah yang semakin ramai itu, Mia merasa semakin sendiri.
THOR BUAT YG HAJAR MIA DI JEBLOSKAN PENJARA TANPA ADA NEGOSIASI BIAR IPAR DAN MANTAN MERTUA TAU ARTINYA K.A.R.M.A😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
kl masih bertahan ya goblok saja jd wanita. dah di pukul juga kn, foto trus lapor kan polisi lo.