NovelToon NovelToon
Memburu Langit Abadi

Memburu Langit Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RENDY Marcelius

Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.

Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.

Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.

Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAWA YANG MEMAKAN NAMA

Langit di atas Domain Lautan Darah tidak pernah biru. Seluruhnya tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seakan siap menimpa bumi kapan saja. Di bawahnya, hamparan rawa membentang sejauh mata memandang air hitam pekat yang memantulkan bayangan terbalik dari pohon-pohon gundul yang menjulang seperti jari kerangka yang mencakar langit. Udara berbau bercampur antara lumut busuk, darah lama, dan sesuatu yang lebih dalam bau ingatan yang dilupakan.

Xuanyuan berjalan di depan, Peta Aliran di tangannya bersinar redup, menunjuk lurus ke jantung rawa. Lian Yue berjalan di belakang, jubahnya tercipata lumpur hitam yang seakan tidak mau kering.

"Di sini orang tidak memanggil nama," katanya pelan, suaranya tertelan kabut tebal yang perlahan menyelimuti mereka. "Mereka bilang rawa ini menelan nama. Semakin sering kau menyebut siapa dirimu, semakin cepat ia mengingatmu... dan menarikmu ke bawah."

Xuanyuan berhenti. Ia menatap permukaan air yang tenang tanpa riak. Pupil Gandanya di balik kain hitam berdenyut samar ia merasakan puluhan, mungkin ratusan niat membunuh yang tersembunyi di balik kabut, di bawah air, di dalam batang pohon. Semua diam. Semua menunggu.

"Kita di wilayah Klan Wang," bisiknya. "Mereka tidak menyambut tamu. Mereka mengundang mangsa."

"Klan Wang tidak bertarung dengan pedang atau api. Mereka bertarung dengan ingatan. Mereka mencuri siapa kau, lalu meninggalkanmu sebagai cangkang kosong yang tidak tahu lagi mengapa kau hidup. Berhati-hatilah dengan apa yang kau ingat di sini, Xuanyuan. Terutama ingatan tentang orang yang kau cintai." suara Lang Wuyan terdengar serius, tanpa sedikit pun bercanda.

Mereka berjalan lebih dalam. Kabut semakin tebal, hingga jarak pandang hanya beberapa langkah. Sesekali di permukaan air muncul wajah - wajah yang terlihat seperti mereka sendiri, tapi dengan mata kosong dan mulut yang bergerak tanpa suara, memanggil-manggil nama yang tidak pernah disebutkan.

Tiba-tiba, suara terdengar bukan dari depan, tapi dari segala arah sekaligus.

Orang dari luar. Apa yang kau cari di tanah yang tidak memiliki jejak?

Xuanyuan mencabut Pedang Tulang Hitam di punggungnya. Bilah yang biasanya kusam itu kini bergetar pelan, seakan mengenali bahaya lama.

"Aku mencari Cermin Jiwa Terbelah. Bukan untuk mengambilnya selamanya. Hanya untuk melihat apa yang tercermin di dalamnya."

Suara itu tertawa suara ribuan orang yang tertawa bersamaan, namun tidak ada yang terlihat.

Cermin itu bukan untuk dilihat. Itu untuk dipatahkan. Dan kau... kau membawa dua benda terlarang ke rumah kami. Cermin retak di tangan gadismu... dan mata yang tidak boleh terbuka. Tian Jue akan sangat senang.

Tanpa peringatan, tanah bergetar. Tangan-tangan dari tanah dan air muncul, meraih pergelangan kaki mereka. Xuanyuan menebas, tebasan jiwa tulang hitam membelah udara tangan itu hancur menjadi asap hitam, tapi lebih banyak lagi yang muncul.

"Lian Yue! Cerminmu! Gunakan sekarang!" teriaknya sambil menahan puluhan serangan bayangan yang melesat dari kabut.

Lian Yue mengangkat separuh Cermin Retak itu. Cahaya putih memancar, namun kali ini cahayanya tidak menenangkan ia memantulkan kembali ketakutan terpendam setiap penyerang. Bayangan-bayangan itu berhenti, lalu berteriak kesakitan, menghilang kembali ke dalam kabut.

Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit terkejut.

Jadi itu benar. Cermin Penjaga juga telah memilih pihak. Kalian membawa perang ke pintu kami.

"Kami tidak membawa perang. Kami hanya lewat. Tapi jika kalian menghalangi... maka peranglah yang akan kalian dapatkan." Xuanyuan melangkah maju, mata di balik kain hitamnya kini terasa lebih dingin. Gulungan Buku Kas Darah di dadanya berdenyut seakan haus menambahkan nama baru ke daftarnya.

Kabut terbelah. Di depan mereka muncul sebuah pulau batu kecil di tengah rawa. Di atasnya berdiri sebuah kuil tua yang atapnya berbentuk tengkorak raksasa. Di tangga kuil itu, seseorang menunggu. Seorang pria paruh baya dengan jubah hitam yang disulam benang perak berbentuk mata tertutup. Wajahnya tenang, tapi matanya matanya penuh dengan kelelahan yang tidak berakhir.

Aku adalah Wang Sheng. Tetua Penjaga Cermin. Dan aku adalah orang yang ditugaskan untuk membunuhmu, Liu Xuanyuan. Tapi sebelum aku melakukannya... masuklah. Cermin itu menunggumu.

Pintu kuil terbuka sendiri. Di dalamnya, tidak ada altar, tidak ada dewa. Hanya sebuah kolam air hitam yang diam, dan di tengahnya, mengambang sebuah cermin yang terbelah dua tepat di tengah, seakan pernah dipukul dengan kepalan tangan yang sangat marah.

Ini Cermin Jiwa Terbelah. Ia tidak menunjukkan wajahmu. Ia menunjukkan siapa yang kau takutkan. Ia menunjukkan bagian dirimu yang sudah mati. Dan hanya dengan menerima kematian di dalam dirimu... kau boleh memegangnya.

Wang Sheng menatap Xuanyuan dalam-dalam.

Tapi berhati-hatilah. Banyak yang memegangnya dan tidak pernah kembali. Karena ketika kau melihat apa yang ada di dalam sana... kau mungkin tidak ingin menjadi dirimu sendiri lagi.

Xuanyuan melangkah mendekat. Air di kolam itu tidak memantulkan bayangannya. Ia memegang tepi cermin itu. Dingin. Seperti memegang kepingan bulan yang mati.

"Siap," bisiknya.

Ia menatap ke dalam cermin.

Dan di sana, ia tidak melihat dirinya.

Ia melihat dirinya — berdiri di atas tumpukan mayat. Mayat Lian Yue. Mayat Xiao Kun. Mayat Gu Qingzhu. Mayat semua yang pernah membantunya. Di tangannya, Pedang Tulang Hitam meneteskan darah. Dan di belakangnya, bukan bayangannya sendiri tapi sosok raksasa dari kehampaan, dengan ribuan mata yang semuanya menyerupai matanya sendiri.

"Lihatlah dengan jelas, anak yang membawa benih. Inilah yang akan terjadi. Semua yang mencintaimu akan mati. Semua yang kau peluk akan hancur. Dan pada akhirnya, kau akan berdiri sendirian di atas gunung tulang, bertanya untuk siapa kau memenangkan perang ini."

Xuanyuan gemetar. Tangannya melepaskan cermin itu perlahan. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

"Itu... bukan aku," katanya bergetar.

"Itu adalah bagian dari dirimu yang sudah ada. Ia tidak menunggu masa depan. Ia tumbuh bersamamu. Setiap kali kau membalas dendam, ia tumbuh. Setiap kali kau membunuh, ia tumbuh. Dan suatu hari... ia akan menggantikanmu sepenuhnya."

Cermin itu bergetar. Cahaya dari separuh cermin Lian Yue di luar sana mulai bersinar, merespons. Dua bagian cermin memanggil satu sama lain.

Xuanyuan menutup matanya. Ia memikirkan Sekte Awan Langit. Ia memikirkan Lian Yue yang tersenyum saat mereka masih kecil. Ia memikirkan pesan ibunya "kekuatan terbesar adalah yang memilih untuk tetap baik, meski dunia telah berubah menjadi neraka."

Ia membuka matanya. Ia tidak mengambil cermin itu dengan kekuatan. Ia mengambilnya dengan lembut, seperti seseorang yang mengangkat anak yang tertidur.

"Biarkan dia tumbuh. Biarkan dia menunggu. Tapi selama aku masih bernapas... aku yang memegang kendali. Bukan dia."

Saat tangannya menggenggam cermin itu, bayangan mengerikan di dalamnya tidak lenyap tapi ia berlutut. Di dalam cermin, raksasa kehampaan itu berlutut di depan sosok kecil yang berdiri tegak.

Cermin itu bersinar terang, lalu menyatu dengan separuh yang dimiliki Lian Yue. Sebuah gelombang kejut meledak keluar, mengusir kabut hitam dari seluruh kuil.

Wang Sheng terjatuh berlutut. Matanya melebar.

Mustahil... tidak ada yang pernah menaklukkan bayangannya sendiri. Semua orang hancur. Semua orang menyerah.

"Aku tidak menaklukkannya. Aku hanya mengakuinya. Dan aku memilih untuk tidak menjadi dia."

Xuanyuan berbalik. Cermin yang kini utuh kembali melayang di antara dirinya dan Lian Yue, bersinar lembut.

"Sekarang, Wang Sheng. Pilihlah. Berlututlah di depan Tian Jue dan biarkan dia mengorbankan klanmu seperti dia mengorbankan klanku. Atau berdiri. Dan bertarung bersama kami. Bukan untuk kemenangan. Tapi agar kau bisa berkata pada dirimu sendiri saat mati nanti: aku tidak menyerah. Aku tidak menyerahkan anak-anakku kepada monster."

Wang Sheng mendongak. Air mata mengalir di pipi tua itu. Ia menatap ke arah luar, ke arah rawa yang gelap.

Klan Wang telah melayani Langit Abadi selama tiga ribu tahun. Kami adalah anjingnya. Tapi... anjing pun bisa menatap tuannya dan bertanya: siapa yang memberi makan tuanku? Dan untuk siapa tuanku menjual kami?

Ia bangkit perlahan, lalu berlutut dalam satu lutut, menepuk dadanya dengan kepalan tangan.

Aku tidak berani membawa seluruh klan bersamaku. Banyak yang masih percaya pada janji abadi Tian Jue. Tapi aku... Wang Sheng, Tetua Penjaga Cermin... dari hari ini, aku berhenti melayani. Katakan padaku, Liu Xuanyuan. Ke mana kita pergi?

Xuanyuan tersenyum tipis. Senyum yang belum pernah dilihat siapa pun darinya bukan senyum dendam, tapi senyum harapan yang rapuh namun tak tergoyahkan.

"Kita pergi ke tempat di mana Langit Abadi tidak berani melihat. Kita pergi ke tempat di mana pedang ditempa dan pahlawan dikhianati. Kita pergi ke Lembah Pedang wilayah Klan Jian."

Ia melangkah keluar dari kuil, cermin yang utuh kini melayang di atas bahu kanannya. Cahayanya menembus kabut rawa yang pekat, membuka jalan yang sebelumnya tidak terlihat.

Dan di kejauhan, di puncak menara gading yang tak terlihat dari rawa, seseorang menurunkan lengan dari jendela.

Dia memulainya. Katakan pada Klan Jian. Tamu yang kami tunggu... telah tiba.

1
Eka P
h
Predi Siswanto
kapan kuat nya kalau kayak gini ini bukan pemburu langit tapi pemburu sampah bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!