Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
"Maaf, sayang. Aunty belum bisa menjadi mama kamu. Aunty perlu mengenal papa kamu terlebih dahulu sebelum menikah," ucap Alya hati-hati, suaranya lembut agar tidak menyakiti hati gadis kecil itu. Ia menatap Keysa lalu beralih ke Arya dengan pandangan malu-malu.
Keysa mengangguk pelan, seolah paham meski belum sepenuhnya mengerti. "Nda apa-apa. Aunty memang halus mengenal papa dulu. Bial nda kaget nanti kalau jadi mama Key. Coalnya papa olangnya cangat aneh."
Arya mendelik jengkel dengan ucapan putrinya, tapi sudut bibirnya kembali terangkat. "Lebih baik kita lanjut makan lagi," ucapnya sebelum Keysa melanjutkan cerita yang tidak-tidak.
Ruangan kembali dipenuhi tawa kecil Keysa dan senyum hangat Alya. Malam itu, di antara aroma makanan dan cahaya lembut, benih-benih sesuatu yang indah mulai tumbuh di antara mereka bertiga.
Keysa seolah tak terganggu dengan jawaban Alya, dia kembali sibuk dengan es krimnya. Sendok kecilnya bergerak lincah, sesekali mencuri topping strawberry dari bagian Alya dengan cekikikan kecil. Alya tersenyum lembut, sesekali membantu menyeka sudut mulut Keysa yang belepotan, sementara Arya hanya mengamati keduanya dengan tatapan yang semakin dalam.
Makan malam pun berakhir dengan manis. Arya membayar tagihan selayaknya laki-laki yang bertanggung jawab, lalu berdiri dan membantu Alya menarik kursi. Keysa menggenggam tangan Alya dengan tangan kecilnya yang lengket seperti lem.
"Ayo, kita antar aunty pulang," ucap Arya sambil mengulurkan tangan ke arah Keysa. Gadis kecil itu mengangguk antusias.
Malam semakin larut. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di sepanjang jalan, udara malam yang sejuk membawa aroma hujan tipis yang baru saja reda. Arya membuka pintu mobil SUV hitamnya yang mewah, terlebih dahulu membantu Alya duduk di kursi penumpang depan, lalu mengangkat Keysa ke kursi belakang dan memasang sabuk pengaman dengan penuh kasih.
Sepanjang perjalanan, Keysa tak henti-hentinya bercerita. Suaranya yang kecil tapi penuh semangat memenuhi kabin mobil yang nyaman.
"Papa, becok Key boleh main ke lumah aunty nda? Key bocan di lumah telus," katanya sambil mengayun-ayunkan kaki kecilnya.
Alya menoleh ke belakang, tersenyum. "Kalau papa izinkan, aunty senang kok kalau Keysa main. Tapi rumah aunty kecil loh, nda sebagus rumah papa."
"Key cuka lumah kecil! Acal ada aunty-nya," jawab Keysa polos, membuat Arya yang sedang menyetir tersenyum tipis di balik kemudi.
Sesekali Arya melirik Alya dari samping. Cahaya lampu jalan yang sesekali menyusup masuk menerangi wajah perempuan itu, membuatnya terlihat semakin lembut dan cantik.
Alya merasakan tatapan itu, pipinya kembali memanas. Ia pura-pura melihat ke luar jendela, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang berlalu, tapi sudut bibirnya tak bisa disembunyikan dari senyuman kecil.
"Terima kasih sudah mau makan malam dengan kami" ucap Arya pelan, suaranya rendah dan dalam. "Keysa jarang sebahagia ini."
Alya menoleh, matanya bertemu dengan mata Arya sebentar sebelum pria itu kembali fokus ke jalan. "Aku yang harus berterima kasih. Keysa anak yang lucu dan pintar. Kamu beruntung punya dia."
Keysa yang mendengar namanya disebut langsung menyengir lebar dari belakang. "Key juga cantik aunty" ucapnya dengan mata yang berkedip kedip lucu.
"Iya, tapi lebih cantik aunty Alya" goda Arya sambil melirik wajah Alya yang merah merona karena malu.
"Dia kenapa ngeselin sih, selalu membuat jantungku merinding disco" batin Alya.
Perjalanan terasa singkat karena obrolan yang mengalir. Tak lama kemudian, mobil Arya memasuki kompleks perumahan sederhana tapi rapi tempat Alya tinggal. Lampu taman kecil menyala redup di depan rumah-rumah bertingkat rendah. Arya memarkir mobil tepat di depan rumah Alya yang mungil dengan cat krem dan pot bunga di teras.
"Kita sudah sampai," kata Arya sambil mematikan mesin.
Keysa langsung melepaskan sabuk pengamannya dan mencondongkan tubuh ke Alya. "Aunty, besok jemput Key cekolah ya" pintanya dengan penuh harap.
Alya tertawa sambil membuka pintu mobil. "Iya, nanti kita lihat ya, Sayang. Takutnya bos aunty tidak mengizinkan" ucapnya sambil tersenyum melirik Arya.
"Boleh pacti boleh, nanti Key ngambek kalau papa nda bolehin aunty jemput Key" ucap Keysa.
Alya tersenyum sambil mengusap pipi gadis kecil itu.
Sebelum turun, Alya menoleh ke Arya. "Terima kasih sudah mengantar. Hati-hati di jalan"
Arya keluar dari mobil dan mengitari ke sisi Alya. Ia berdiri di depan perempuan itu, tubuh tingginya menjulang di bawah cahaya lampu teras yang kuning lembut. Untuk sesaat, mereka hanya saling pandang. Udara malam terasa lebih hening, hanya terdengar suara jangkrik yang berdengung.
"Alya, tolong pikirkan permintaan Keysa." panggil Arya pelan, suaranya serak sedikit.
Alya menunduk sebentar, jari-jarinya saling bertaut. "Arya, tapi masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dan pantas menjadi pendamping kamu. Aku ini cuma seorang janda, aku juga bukan berasal dari keluarga berada seperti kamu. Status sosial kita sangat berbeda, nanti apa kata karyawan di perusahaan mu"
Arya mengangguk, mengerti. "Aku tidak perduli soal nama dan kedudukan Alya. Aku hanya ingin kebahagiaan Keysa" ucapnya.
Alya terdiam, dia semakin ragu dengan permintaan gadis kecil itu. Arya hanya peduli dengan kebahagiaan Keysa, lalu bagaimana dengan kebahagiaannya jika menikah nanti?
Dari dalam mobil, Keysa menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya besar penuh rasa ingin tahu. "Papa cium aunty nda? Bial cepat jadi mama Key!"
"Keysa!" tegur Arya sambil menoleh, wajahnya sedikit memerah karena malu. Alya langsung tertawa, tangannya menutup mulut.
Alya mendekatkan tubuhnya sedikit, lalu dengan lembut menyentuh lengan Arya. "Good night, Arya. Good night, Keysa sayang," katanya sambil melambai ke arah mobil.
Keysa melambai balik dengan antusias, tangan kecilnya menggerak-gerak di balik kaca. "Good night, calon mama!"
Alya tersipu lagi sebelum akhirnya masuk ke rumahnya. Pintu tertutup pelan, tapi cahaya di teras masih menyala, seolah enggan melepaskan kepergian mereka.
Arya kembali ke mobil, duduk di balik kemudi, dan menghela napas panjang. Senyum kecil masih tersisa di wajahnya. Dari kursi belakang, Keysa menyandarkan kepalanya ke jok sambil menguap.
"Papa, aunty Alya baik ya? Key cuka aunty."
"Iya, papa juga menyukainya," jawab Arya pelan sambil menstarter mobil kembali.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Keysa tertidur dengan damai di kursi belakang, sementara Arya memangku gadis kecil itu dengan pikiran yang penuh akan Alya, perempuan yang perlahan mulai mengisi ruang kosong di hidupnya dan putrinya.
Di rumah mungilnya, Alya bersandar di balik pintu setelah menguncinya. Ia menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang, tersenyum sendiri di kegelapan ruang tamu.
"Calon mama..." gumamnya pelan, menggelengkan kepalanya sambil memegangi dadanya.