Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi menyapa kediaman Ashcroft dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Aruna tak lagi merasa perlu menyembunyikan segala sesuatu di dalam hatinya. Langkah kakinya pun terasa begitu ringan saat ia melangkah menuju ruang makan.
[Aku masih merasa malu sekali... Ternyata selama ini mereka semua mendengar setiap kata yang terlintas di hatiku.]
Helena yang sedang menuang teh ke dalam cangkir seketika tersenyum lembut mendengar suara itu.
"Tak perlu merasa malu, Nak."
Aruna tertegun sejenak, lalu wajahnya memerah seketika. "Ibu benar-benar mendengarnya..."
Helena tertawa renyah melihat wajah putrinya yang tampak malu. Adrian pun meletakkan lembaran korannya dan ikut tersenyum.
"Sekurangnya kini kau pun sudah mengetahui hal itu," ucapnya dengan nada bercanda.
Aruna duduk di kursinya sambil menghela napas panjang. "Rasanya sungguh aneh..."
Arthur pun meletakkan cangkir tehnya perlahan. "Kami pun butuh waktu untuk terbiasa pada awalnya."
Aruna menatap mereka satu per satu. Meski perasaan canggung itu masih tersisa, namun hatinya terasa begitu hangat diselimuti kasih sayang yang tulus. Ia tak lagi merasa sendirian di dunia yang asing baginya.
Namun kehangatan itu tak berlangsung lama. Seorang penjaga rumah tiba-tiba datang dengan langkah tergesa-gesa.
"Yang Mulia!"
Arthur menoleh seketika. "Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu yang ditinggalkan di gerbang utama, Yang Mulia." Penjaga itu menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu tua.
Hati Aruna seketika mencelos. "Kotak lagi..."
Cedric yang baru saja tiba dari kediaman keluarga Ravenwood pun ikut memperhatikan dengan saksama. Arthur membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya tergeletak sebuah cincin perak yang dihiasi simbol bulan sabit yang tampak begitu kuno.
Aruna tersentak mengenali benda itu. "Cincin itu..."
Sama persis dengan cincin yang ditemukan di samping jenazah Evelyne dalam kisah yang pernah ia baca.
Suasana ruangan seketika menjadi hening. Adrian mengambil cincin itu menggunakan sapu tangan agar tak meninggalkan jejak.
"Ada selembar surat di bawahnya," ucap Adrian pelan. Ia membuka kertas yang terlipat itu. Hanya tertulis satu kalimat singkat: Apakah kalian ingin mengetahui kebenaran sesungguhnya tentang Evelyne?
Di bawah kalimat itu tertulis sebuah alamat rumah tua yang berdiri jauh di luar ibu kota.
Tengkuk Aruna seketika merinding.
Arthur langsung menggeleng tegas setelah membacanya. "Kita tak akan pergi ke sana."
"Tetapi Ayah... ini mungkin satu-satunya petunjuk yang kita miliki," cegah Aruna tak setuju.
"Justru karena itu, kemungkinan besar hal itu hanyalah sebuah jebakan yang sengaja dipasang untuk menjebak kita."
Cedric pun mengangguk setuju. "Ayah benar, Aruna."
Aruna mengerutkan keningnya tak menerima. "Namun jika kita mengabaikannya begitu saja, kita bisa saja kehilangan petunjuk yang tak akan pernah muncul untuk kedua kalinya."
Cedric menatapnya lekat-lekat. "Aku paham kekhawatiranmu." Ia pun terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Kita tak akan mengabaikannya. Namun kita pun tak akan pergi ke sana tanpa persiapan yang matang."
Malam pun tiba. Aruna, Cedric, dan Adrian pun berangkat secara diam-diam menuju alamat itu. Arthur sebenarnya turut ingin ikut serta, namun mereka sepakat bahwa Adipati Ashcroft harus tetap berada di kediaman agar tak menimbulkan kecurigaan siapa pun yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam penuh. Rumah tua itu berdiri sendirian di tengah belantara pepohonan yang rimbun. Bangunan itu tampak telah lama ditinggalkan penghuninya. Pintu kayunya pun tampak rapuh dan hampir runtuh dimakan usia.
Aruna turun dari kereta sambil menatap bangunan itu lekat-lekat. "Tempat ini... persis sama seperti yang tertulis di dalam cerita."
Cedric menoleh kepadanya. "Kau pernah melihat tempat ini sebelumnya?"
"Dalam kisah yang pernah kubaca," jawabnya pelan.
Adrian menghela napas panjang. "Kita pun perlahan mulai terbiasa dengan jawaban seperti itu darimu."
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah tua itu. Tak ada siapa pun di sana. Hanya debu tebal yang melapisi setiap sudut ruangan serta aroma kayu lapuk yang menyengat hidung. Aruna memandang sekeliling ruangan itu dengan saksama, lalu menunjuk ke arah sebuah lukisan tua yang tergantung di dinding.
"Di sana..."
Cedric melangkah mendekat. "Lukisan apa yang kau lihat?"
"Sebuah lukisan potret keluarga."
Di dalam lukisan itu tergambar sosok seorang wanita muda yang cantik jelita. Rambutnya terurai panjang berwarna keemasan, sepasang matanya biru jernih bagai permata. Wajah itu terasa begitu akrab di mata Aruna hingga ia seketika terpaku di tempatnya.
"Itu..."
Adrian menatap lukisan itu lekat-lekat, wajahnya seketika berubah pucat. "Itu Evelyne."
Aruna menatap lukisan itu tak berkedip lama sekali. "Mustahil..." Dalam kisah yang ia ketahui, tak pernah sekalipun diceritakan bahwa Evelyne memiliki lukisan potret seperti ini. Dan yang jauh lebih aneh lagi... di samping sosok Evelyne dalam lukisan itu, tergambar pula sosok seorang pria yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Aruna melangkah mendekat perlahan. "Siapakah pria itu..."
Belum sempat siapa pun menjawab, terdengar suara langkah kaki yang berat turun dari lantai atas. Cedric seketika mencabut pedangnya hingga bunyi yang tajam terdengar bergema di ruangan itu.
"Siapa yang bersembunyi di sana?!"
Tak ada jawaban. Mereka pun melangkah menaiki tangga satu per satu dengan penuh kewaspadaan.