NovelToon NovelToon
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"

​Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.

​Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.

​Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.

​Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA

​Mobil taksi berwarna biru itu perlahan melambat, lalu berhenti tepat di depan gerbang besi tempa yang menjulang tinggi. Di balik pagar kokoh itu, berdiri sebuah bangunan megah bergaya modern klasik tiga lantai dengan cat putih bersih yang tampak anggun dan tenang.

​Maya menatap bangunan di hadapannya melalui kaca jendela taksi. Napasnya terhela panjang, membawa serta beban berat yang menggelayuti dadanya sejak melangkah keluar dari rumah Bayu satu jam yang lalu. Rasa ragu dan cemas sempat merayapi pikirannya sepanjang perjalanan, namun tatapan polos Naya yang tertidur lelap di pangkuannya dengan jemari kecil yang masih menggenggam erat tali tas punggungnya seolah menjadi penguat utama bagi Maya.

​Tidak ada jalan untuk mundur lagi. Ia telah memantapkan hatinya. Demi masa depan Naya, demi harga diri dan ketenangan jiwanya yang telah hancur berkeping-keping di rumah mantan suaminya, ia harus berani melangkah.

Rumah mewah inilah tempat yang akan menjadi awal dari lembaran baru hidupnya.

​"Sudah sampai, Mbak," ujar pengemudi taksi ramah, memecah keheningan.

​"Terima kasih, Pak," sahut Maya pelan.

​Maya membayar ongkos taksi, lalu menggendong Naya yang masih terlelap perlahan agar tidak terbangun. Dengan bahu kanan menyangga tas ransel besar berisi pakaian mereka berdua, Maya melangkah keluar dari taksi.

​Baru saja Maya berdiri di depan gerbang kecil, pintu samping gerbang utama itu terbuka lebar. Wajah hangat Bik Nana langsung menyambut pandangannya. Senyuman tulus terukir di wajah wanita paruh baya itu saat melihat sosok Maya dan putri kecilnya.

​"Masya Allah, Mbak Maya!" seru Bik Nana dengan nada suara penuh kehangatan dan rasa syukur yang tak terbendung. Ia segera melangkah keluar, menghampiri Maya dengan tergesa-gesa. "Akhirnya Mbak Maya datang lagi! Dari kemarin Bibik selalu mendoakan supaya Mbak Maya benar-benar mau terima tawaran kerja di sini."

​Maya tersenyum tipis, rasa haru mendadak menyeruak di relung hatinya. Perlakuan hangat Bik Nana terasa sangat bertolak belakang dengan bentakan dan tatapan penuh kebencian yang baru saja ia terima dari keluarga Bayu tadi pagi.

​"Iya, Bik Nana... Saya sudah memantapkan diri," ucap Maya tulus. "Saya siap bekerja di sini, Bik. Semoga saya tidak merepotkan dan bisa menjalankan tugas dengan baik."

​"Nggak ada yang direpotkan, Mbak! Malah Bik Nana seneng banget ada temannya di rumah sebesar ini," sahut Bik Nana cepat. Matanya kemudian beralih menatap Naya yang berada di gendongan Maya, lalu bergegas meraih tas ransel berat yang menggelantung di bahu Maya. "Ayo, Mbak, langsung masuk saja. Kasihan si kecil ini kalau kelamaan di luar, angin pagi masih dingin."

​Bik Nana menuntun Maya melintasi halaman depan yang asri dengan hamparan rumput hijau dan pepohonan rindang. Ketika melangkah melewati pintu utama yang megah, Maya terpana sejenak melihat keindahan interior rumah tersebut.

Lantai marmer yang mengilap, lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya lembut, serta penataan furniture yang sangat elegan namun terasa hangat.

​Namun yang membuat hati Maya makin bergetar adalah perlakuan Bik Nana. Bukannya menyuruh Maya menunggu di area dapur atau ruang belakang sebagaimana layaknya seorang asisten rumah tangga baru, Bik Nana justru mempersilakan Maya duduk di atas sofa empuk berwarna krem di ruang keluarga yang luas.

​"Mbak Maya duduk dulu di sini sebentar ya, baringkan Naya di sofa dulu supaya Mbak gak pegal," tutur Bik Nana ramah. Tanpa menunggu jawaban Maya, Bik Nana bergegas menuju dapur dan kembali beberapa saat kemudian membawa nampan berisi segelas teh hangat manis dan secangkir susu cokelat hangat untuk Naya, lengkap dengan sepinggan camilan kue basah.

​Maya terpaku melihat jamuan itu. "Bik Nana... ini tidak perlu repot-repot begini. Saya kan ke sini untuk bekerja sebagai ART, bukan untuk bertamu."

​Bik Nana terkekeh pelan seraya meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja kaca. "Mbak Maya ini ngomong apa toh? Di rumah ini, Pak Ibra pemilik rumah ini selalu berpesan supaya siapa pun yang tinggal di sini diperlakukan dengan baik dan dihormati. Untuk hari ini, Mbak Maya dan Naya itu tamu Bik Nana. Jangan merasa sungkan atau merasa rendah ya, Mbak."

​Air mata Maya hampir menetes mendengar kata-kata polos namun menyentuh dari Bik Nana. Sekian lama dianggap sebagai benalu dan pembantu tak berharga di rumah mertuanya sendiri, baru kali ini ia merasakan kembali diperlakukan sebagai seorang manusia yang dihargai.

​"Terima kasih banyak, Bik Nana..." bisik Maya dengan suara bergetar.

​"Sama-sama, Mbak. Nah, sekarang mari Bik Nana antarkan ke kamar Mbak Maya dan Naya. Biar Naya bisa tidur lebih nyenyak di kasur," ajak Bik Nana hangat seraya mengangkat tas ransel milik Maya.

​Maya mengangguk pelan, kembali menggendong Naya yang mulai menggeliat halus. Ia membayangkan akan diantarkan ke area belakangmungkin sebuah kamar kecil di dekat area cuci jemur yang biasa diperuntukkan bagi ART pada umumnya. Bagi Maya, kamar sekecil apa pun tidak masalah, asalkan bersih dan aman untuk putri kecilnya.

​Namun, langkah kaki Bik Nana justru membawanya menyusuri koridor utama di lantai satu yang sangat bersih dan berkarpet tebal. Bik Nana berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir indah yang terletak tidak jauh dari area ruang keluarga.

​Bik Nana memutar gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. "Ini kamarnya, Mbak Maya. Silakan masuk."

​Mata Maya membelalak lebar saat pandangannya menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut.

​Kamar itu sangat luas, bahkan jauh lebih luas dan mewah daripada kamar utama yang dulu ia tempati bersama Bayu di rumah lama mereka. Di tengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur berukuran king size dengan kasur empuk yang terbalut sprei putih bersih bertali renda halus. Di samping tempat tidur, terdapat lemari pakaian kayu yang besar, meja hias, TV serbaguna, serta sebuah sofa santai di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke taman samping yang hijau. Tidak hanya itu, kamar tersebut juga dilengkapi dengan pendingin udara (AC) serta kamar mandi dalam yang bersih dan modern.

​Maya berdiri mematung di ambang pintu, matanya berkedip ragu. Ia menoleh ke arah Bik Nana dengan raut wajah panik dan tidak enak hati.

​"Bik... Bik Nana, sepertinya Bik Nana salah buka pintu," kata Maya cepat dengan suara berbisik, takut terdengar tidak sopan. "Ini... ini pasti kamar tamu utama atau kamar keluarga pemilik rumah, kan? Kamar ART biasanya kan di area belakang, Bik. Saya tidak berani kalau harus tidur di kamar serapi dan semewah ini."

​Bik Nana tersenyum lebar, menepuk-nepuk bahu Maya dengan lembut untuk menenangkan kepanikan wanita muda itu.

​"Mbak Maya, Bik Nana gak salah pintu kok," jawab Bik Nana dengan nada suara yang mantap dan tegas. "Kamar ini memang khusus diperuntukkan untuk Mbak Maya dan Naya."

​"Tapi, Bik..."

​"Gak ada tapi-tapi, Mbak," potong Bik Nana hangat sebelum Maya sempat menolak. "Pak Ibra sendiri yang sudah berpesan sama Bik Nana kemarin malam. Beliau bilang, kalau Mbak Maya dan putrinya datang, tempatkan di kamar ini. Pak Ibra ingin Mbak Maya dan Naya bisa tinggal dengan nyaman dan aman di rumah ini. Beliau gak mau Mbak dan anak Mbak tidur di kamar belakang yang sempit."

​Dada Maya berdesir hebat. Rasa terharu, takjub, sekaligus tidak percaya bercampur aduk menjadi satu. Seorang pria asing yang bahkan belum pernah bertemu langsung dengannya hanya mengenal singkat dari rekomendasi atau situasi pertemuan tak sengaja sebelumnya begitu memikirkan kenyamanan dan kelayakan tempat tinggal bagi dirinya dan Naya. Sesuatu yang bahkan tak pernah dipikirkan oleh suami kandung dan ibu mertuanya sendiri selama lima tahun terakhir.

​"Pak Ibra... baik sekali ya, Bik," gumam Maya lirik, mengusap kepala Naya yang bersandar lelah di bahunya.

​"Pak Ibra itu memang orangnya sangat dermawan dan menghargai orang lain, Mbak," sahut Bik Nana bangga. "Jadi, Mbak Maya gak usah merasa canggung atau takut. Sekarang, baringkan Naya di kasur, lalu Mbak Maya istirahat dan bersih-bersih dulu. Soal pekerjaan, nanti siang baru kita bahas santai-santai."

​Maya melangkah masuk ke dalam kamar itu dengan perlahan. Ia meletakkan Naya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur yang empuk. Saat tubuh Naya menyentuh kasur yang lembut, bocah kecil itu menyunggingkan senyum tipis dalam tidurnya, tampak sangat nyaman dan tenang.

​Melihat putrinya bisa tidur dengan begitu lelap tanpa perlu mendengar teriakan, makian, atau suasana tegang rumah tangga yang beracun, air mata Maya akhirnya menetes pelan mengaliri pipinya.

​Keputusan ini benar. Langkahnya tidak salah. Di kamar yang hangat ini, di bawah atap rumah yang asing namun penuh kedamaian ini, Maya menatap masa depannya dengan tekad yang kian kukuh. Ia tidak akan lagi menjadi wanita lemah yang bisa diinjak-injak. Demi Naya, ia siap memulai kehidupan barunya dari sini.

1
Zhafran Althaf
aku kepo loooo kak banyakin updatenya
blcak areng: 2 bab ya kak sehari
total 1 replies
Zhafran Althaf
good job mayaaa
Lee Mba Young
iya lah ngapain juga bertahan di situ, mending pergi Wong anak nya saja gk di anggep. mending pergi drpd anaknya mlh trauma seumur hidup Dan tidak berkembang krn di besarkan di kluarga toxic
Zhafran Althaf
udah pergi aja biar kapok di bayu
Zhafran Althaf
kak centong nasi di rumahku masih panas kalau buat nabok ibunya bayu
Zhafran Althaf: gemess aku sama mulutnya yang lemes ituuu🤣🤣🤣
total 2 replies
susi ana
hadir thor
blcak areng: siap Akak😍😍
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir kK lanjut
blcak areng: ehh mksh kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!