NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Mafia Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Anak Genius
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.

Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Emily berteriak sekencang-kencangnya dengan berurai air mata memanggil nama suaminya. Ia melepaskan genggaman tangan Andreas dan berlari menghampiri Leon yang tertembak di lengan.

Melihat Emily berlari mendekati Leon, 2 orang penjahat dengan cepat mengejar Emily dan menangkapnya.

"Emily!!" teriak Leon sambil memegang lengannya yang berdarah.

Charles yang menyusul berlari mengejar Emily dari belakang, tak berhasil melepaskan istri atasannya dari musuh.

Charles mendapatkan pukulan di wajah dan tubuhnya sehingga ia terjatuh ke tanah.

"Leon, tolong aku!" Emily berteriak memanggil nama suaminya. Ia semakin lama semakin menjauh.

Leon yang terluka parah mengejar para penjahat yang membawa istrinya. Meskipun tubuhnya tak sanggup lagi tapi demi istri dan calon buah hatinya, ia tak memperdulikan rasa sakitnya. Baginya, orang tercintanya selamat.

Emily yang hendak dimasukkan ke mobil, terus memberontak. Semampunya ia menghajar para penjahat walaupun dirinya sedang hamil.

Mendapatkan kesempatan kabur, Emily berlari menghampiri suaminya. Lagi-lagi usahanya gagal, ia berhasil kembali terpegang.

Emily mencoba melawan, namun karena kurang keseimbangan ia malah terperosok ke dalam jurang. "Aaargghh...!"

Mendengar suara teriakan istrinya membuat Leon menoleh dan berlari mendekat, "Emily!!"

Melihat Emily terjatuh, para penjahat yang masih bernyawa bergegas mundur dan menarik diri. Mereka masuk ke mobil dengan cepat kemudian meninggalkan lokasi.

Leon sudah berada di ujung tebing, melihat ke arah bawah dan berteriak histeris memanggil nama istrinya.

Charles dan lainnya gegas mendekati Leon yang menangis.

"Tuan!!" Charles dengan cepat memegang tubuh Leon yang hendak melompat. Ia bersama 2 rekan menarik Leon sedikit menjauh dari bibir tebing.

"Mereka membu-nuh istriku!" isak Leon dalam pelukan asistennya.

"Maafkan kami, Tuan!" Charles juga meneteskan air mata dan merasa bersalah.

Leon tak menyalahkan asistennya, tapi yang disesalinya karena Emily turut menjadi sasaran para musuhnya.

Leon melepaskan pelukan Charles. "Aku mau mencari Emily!"

"Iya, Tuan. Kita pasti mencarinya, tapi tangan Tuan terluka dan hari mulai gelap!" kata Charles menenangkan.

"Aku tidak mungkin meninggalkan Emily sendirian di sini. Aku mau segera mencarinya!" Leon sekuat tenaganya melepaskan pelukan Charles dan berlari ke ujung tebing.

Leon kembali meneriakkan nama istrinya, ia berharap Emily mendengarnya dan tetap hidup untuknya.

Leon semakin frustrasi karena Emily tak memberikan respon apapun dari bawah jurang. "Emily, jangan tinggalkan aku!!" teriaknya.

Seorang pengawal dengan tubuh juga terluka akibat senjata tajam berlari mendekat, "Tuan, ini kalung Nona!" ia menyodorkan kalung pemberian ibunya Leon.

Sejenak Leon mengalihkan pandangannya kepada anak buahnya, ia menerima kalung itu dan kembali menangis histeris tak lama kemudian pingsan.

***

Lima belas jam berlalu, Leon membuka matanya. Dihadapannya berdiri kedua orang tuanya dengan raut wajah kesedihan. Bahkan, Mama Rachel matanya bengkak karena terus menangis.

Frans dan Rachel dikabarkan Charles setelah Leon mendapatkan pertolongan medis. Ia juga menerima kabar jika Emily menghilang. Sontak, membuat Rachel lemas dan hampir pingsan.

Tanpa menunggu lama, Rachel dan Frans ditemani sopir dan seorang pengawal bergegas ke rumah sakit.

Begitu sampai di rumah sakit, Rachel pun tak sadarkan diri melihat putranya terbaring dengan wajah dan tubuh memar ditambah peluru bersarang di lengan.

"Di mana Emily?" Leon lantas bangkit dan duduk, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya.

Rachel memeluk putranya dan menangis, ia berkata, "Tim penolong sedang mencarinya!"

"Aku juga mau mencarinya!" Leon mendorong pelan tubuh ibunya.

"Tidak, Nak. Kamu belum sehat!" cegat Frans dengan memegang bahu kanan putranya.

"Emily sendirian, Pa. Pasti dia sangat takut!" kata Leon dengan berurai air mata.

"Emily, wanita yang kuat. Dia pasti baik-baik saja!" Frans memberikan penghiburan.

"Tidak, Pa. Aku tetap tak yakin sebelum bertemu dia!" kata Leon lagi.

"Iya, Papa tau kamu khawatir. Kita juga lagi usaha, maka tenangkan dirimu!" ucap Frans.

"Kami juga kehilangan Emily. Kamu harus cepat sehat dan sembuh biar kita sama-sama mencarinya!" sahut Rachel.

-

Selama Leon dirawat, Rachel dan Frans tak pernah meninggalkan putranya. Mereka juga tak hentinya berkomunikasi dengan kepala tim penolong. Mereka ingin mendapatkan kabar menantunya.

"Bagaimana, Ma, Pa? Apa Emily sudah ditemukan?" tanya Leon.

"Mereka lagi berusaha. Tenanglah, Nak!" jawab Frans.

"Aku melewati malam tanpa melihatnya. Pasti dia sekarang sedang memanggil namaku!" lirih Leon.

Rachel yang tak tahan, memeluk putranya dan menangis.

"Emily adalah wanita tangguh apalagi ada calon anak kalian. Papa yakin dia segera ditemukan!* kata Frans optimis.

***

Dua malam pasca dirawat, Leon dengan lengan dibalut perban beserta kedua orang tuanya dan Charles mendatangi lokasi kejadian. Tim penolong masih terus bekerja sebelum Emily ditemukan.

"Bagaimana? Apa sudah tanda-tanda ditemukan?" tanya Leon kepada kepala tim penolong.

"Maaf, Tuan. Kami tak menemukan tanda apapun!" jawabnya.

Seketika hati Leon mendadak lemas.

"Kami akan menambah jadwal hari pencarian sampai besok hari, tetapi jika sama sekali tak mendapatkan tanda-tanda mengenai keberadaan Nona Emily maka pencarian terpaksa harus dihentikan."

Leon menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, "Tidak."

Rachel dan Frans lantas memeluk putranya ketika mendengar ucapan kepala tim penolong.

"Mereka tidak boleh menghentikannya sebelum Emily ditemukan selamat!" kata Leon lirih dan mata berkaca-kaca.

"Kita tak bisa memaksa mereka!" ucap Frans menenangkan.

****

Beberapa jam lalu setelah serangan, Anggoro tertawa lebar mendengar kabar Emily terperosok ke jurang. Tentunya itu menjadi kelemahan Leon.

"Akhirnya aku bisa menyingkirkan wanita itu!" Anggoro tersenyum seringai.

"Apa yang harus kita lakukan lagi, Tuan? Apa perlu kami menyingkirkan Leon?" tanya seorang pria dewasa yang merupakan asisten Anggoro.

"Tidak perlu. Kehilangan istrinya telah membuatnya hancur!" jawab Anggoro.

***

Dan benar saja hari ketiga pencarian, Emily tak ditemukan. Leon kembali menangis mendengar kabarnya. Dia kini kehilangan istri dan calon anaknya.

"Aku akan membalas kamu, Anggoro!" pekik Leon mengepalkan tangannya menahan amarahnya.

Charles yang berdiri dihadapan Leon yang terduduk di kursi tamu juga merasakan kesedihan atasannya.

"Siapkan para pengawal, besok aku akan menemui Anggoro dan memberi dia hukuman!" titahnya.

"Baiklah, Tuan." Charles kemudian berlalu.

Leon masih mengepalkan tangannya, ia tak sabar ingin bertemu dengan Anggoro. Dirinya bukan Leon yang dulu. Dia akan membuka semua bobrok Anggoro yang licik dan kejam.

"Aku pastikan kau takkan hidup nyenyak, Anggoro!" geram Leon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!