Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — SELIR BARU DI PAVILIUN
Matahari merambat naik melintasi atap-atap tembaga Paviliun Barat, membiaskan cahaya keemasan yang menembus tirai sutra tipis di ruang tengah. Meskipun ruangan itu dihiasi furnitur kayu mahoni berukir halus, karpet tebal dari wilayah selatan, dan vas-vas porselen berisi bunga lili segar, Alena tidak sedikit pun merasakan kehangatan. Tempat ini adalah sangkar emas—sebuah penjara indah tempat dirinya dikurung bersama rahasia dan mata-mata yang mengintai dari balik setiap celah pintu.
Status sebagai selir kerajaan ternyata tidak memberinya kebebasan sedikit pun. Sebaliknya, setiap gerak-gerik Alena kini berada di bawah pengawasan ketat.
"Nona Alena, teh krisan Anda sudah siap," ujar Nadia, seorang pelayan muda berambut pirang yang ditugaskan oleh pengurus istana untuk melayaninya. Nadia menunduk sopan, menyodorkan cangkir porselen di atas nampan perak, tetapi matanya yang cermat beberapa kali melirik ke arah sudut meja tempat surat-surat lama milik Alena tersusun.
"Terima kasih, Nadia. Meja itu sudah rapi, kau bisa beristirahat," sahut Alena lembut namun tegas.
Nadia mengangguk pelan, menyembunyikan rasa kecewanya karena tidak mendapat kesempatan untuk memeriksa tumpukan perkamen tersebut, lalu melangkah mundur ke luar kamar.
"Gadis itu dibayar oleh seseorang," bisik Mira begitu pintu kamar tertutup. Mira yang sedang melipat kemeja linen milik Elian melangkah mendekati Alena dengan kening berkerut. "Langkahnya terlalu pelan, dan matanya selalu berkeliaran setiap kali kau membicarakan Elian."
"Aku tahu, Mira," desah Alena sembari menyesap tehnya yang hangat. "Hampir semua pelayan di paviliun ini dibayar oleh dewan atau keluarga bangsawan lain. Kita tidak bisa mempercayai siapa pun di sini."
Namun, pengawasan pelayan hanyalah sebagian kecil dari tekanan yang harus dihadapi Alena. Sebagai selir baru yang tiba-tiba dibawa langsung atas perintah Ratu Eleanor—bersama seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun—kehadiran Alena menjadi bahan pembicaraan panas di seluruh penjuru istana.
Siang itu, sesuai dengan tradisi istana yang mewajibkan para penghuni Paviliun Barat untuk berkumpul di Taman Kaca setiap pekan, Alena dipaksa hadir. Taman Kaca adalah sebuah rumah kaca raksasa yang diisi oleh tanaman-tanaman langka dari luar negeri, tempat para selir dan wanita bangsawan kelas menengah menghabiskan waktu sembari minum teh dan bertukar rumor.
Alena melangkah masuk dengan gaun katun tebal berwarna biru keabu-abuan. Ia sengaja memilih pakaian yang paling sederhana di antara tumpukan gaun sutra yang dikirimkan oleh pengurus istana. Wajahnya dipoles tipis, rambut cokelat keemasannya disanggul rapi di belakang kepala.
Begitu Alena melangkah melewati pintu kaca berukir, gelak tawa pelan dari sudut ruangan mendadak terhenti.
Di sekeliling meja bundar dari batu marmer, duduk empat orang selir kerajaan yang mengenakan gaun-gaun sutra berwarna cerah dengan perhiasan batu permata yang berkilauan. Di tengah-tengah mereka, duduk Lady Rosaline—seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun dengan rambut hitam kelam dan tatapan mata yang tajam bagai belati. Rosaline adalah selir tertua di paviliun tersebut, putri dari seorang viscount yang telah tinggal di Istana Valerian selama enam tahun.
"Ah, lihat siapa yang akhirnya sudi bergabung dengan kita," ujar salah satu selir muda berbaju merah muda dengan tawa yang dibuat-buat. "Selir baru yang sangat misterius."
Alena membungkuk kecil, menjaga tata krama istana sejauh yang ia ingat. "Selamat siang, Lady Rosaline, Ladies."
"Duduklah, Alena," kata Rosaline, suaranya tenang namun dingin. Ia mengibaskan kipas bulu merak di tangannya pelan. "Kami baru saja membicarakanmu."
Alena mendudukkan diri di salah satu kursi kayu yang agak jauh dari pusat meja. Ia mengambil piala berisi air buah yang disodorkan pelayan tanpa meminumnya. "Membicarakan saya?"
"Tentu saja," selak selir berbaju merah muda tadi, namanya Lady Catherine. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Alena dengan tatapan menilai yang tidak menyenangkan. "Seluruh istana sedang membicarakan bagaimana seorang mantan juru tulis yang melarikan diri tujuh tahun lalu, tiba-tiba kembali dengan membawa seorang anak laki-laki... dan langsung diberikan kamar terbaik di Paviliun Barat."
"Ada yang bilang kau kembali karena kehabisan uang di desa," timpal selir lainnya dengan senyum ejekan. "Ada juga yang bilang kau menggunakan anak itu sebagai cangkuk untuk menarik kembali perhatian Pangeran Adrian."
Kata-kata itu terlempar kaku di udara, sengaja dirancang untuk memancing emosi Alena dan mempermalukannya di hadapan semua orang. Mereka ingin melihat selir baru ini menangis, marah, atau membela diri secara histeris.
Namun Alena hanya diam.
Pengalaman hidup sendirian selama tujuh tahun di desa telah mengajarinya satu hal penting: dalam lingkaran serigala seperti ini, emosi adalah kelemahan termudah yang bisa dimanfaatkan musuh. Jika ia bereaksi, mereka akan tahu di mana letak lukanya.
Alena memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah Lady Catherine dengan pandangan mata hijau hazel yang tenang dan jernih.
"Orang-orang di istana memang selalu memiliki imajinasi yang sangat luas, Lady Catherine," sahut Alena, suaranya halus namun tidak bergetar sedikit pun. "Tetapi saya berada di sini bukan karena keinginan pribadi saya, melainkan karena titah Ratu Eleanor. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai alasan kedatangan saya, mungkin Anda bisa menanyakannya langsung kepada Yang Mulia Ratu pada perjamuan berikutnya."
Wajah Lady Catherine mendadak memerah. Menyeret nama Ratu Eleanor dalam percakapan itu adalah sebuah langkah taktis yang jitu. Tidak ada satu pun selir di ruangan itu yang berani mempertanyakan keputusan Ratu secara terbuka.
Beberapa selir lain saling berpandangan dengan canggung, pura-pura sibuk menyesap teh mereka.
Lady Rosaline menyipitkan matanya. Ia memperhatikan Alena dengan rasa ingin tahu yang lebih dalam. Tidak seperti selir-selir muda yang biasanya mudah panik atau sibuk memamerkan perhiasan, wanita di hadapannya ini memiliki ketahanan mental yang sangat kokoh—sebuah kualitas yang langka sekaligus berbahaya di Istana Valerian.
"Jawaban yang sangat cerdas, Alena," kata Rosaline pelan. Ia melipat kipas bulunya dengan bunyi ktak yang nyaring. "Tapi ketenangan tidak akan menyelamatkanmu di tempat ini."
Rosaline berdiri dari kursinya. Gaun sutra mewahnya yang berwarna ungu tua bergesek halus di atas lantai batu. Ia melangkah mendekati Alena, memberi isyarat kepada selir-selir lainnya untuk meninggalkan rumah kaca tersebut.
Setelah para selir lain berjalan keluar sembari berbisik-bisik, Rosaline membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Alena. Aroma parfum mawar hitam yang pekat menguar dari tubuhnya.
"Kau pikir kau bisa bertahan hanya dengan bersikap diam dan bersembunyi di balik nama Ratu?" bisik Rosaline tepat di samping telinga Alena. Suaranya tidak lagi bernada ejekan, melainkan ketegasan yang dingin. "Dengar baik-baik, Alena. Di paviliun ini, kita semua hanyalah catur di papan permainan orang lain. Tapi kau... kau membawa seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun ke tempat di mana Lady Seraphina Ardent sedang menunggu gelar Ratu."
Alena menegang kaku, namun matanya tetap menatap lurus ke depan. "Saya tidak memiliki niat untuk bersaing dengan Lady Seraphina."
"Niatmu tidak penting!" potong Rosaline dengan bisikan tajam. "Yang penting adalah apa yang dilihat oleh keluarga Ardent! Duke Darius tidak akan membiarkan ada retakan sekecil apa pun pada takhta yang diincarnya untuk Seraphina. Kehadiran anakmu adalah retakan itu. Jika kau tetap bersikap naif dan mengira istana ini hanyalah tempat minum teh dan mendengar gosip, anakmu tidak akan bertahan hingga musim dingin berikutnya."
Alena memalingkan wajahnya, menatap mata hitam Rosaline yang pekat. "Mengapa Anda memberi tahu saya hal ini, Lady Rosaline? Bukankah Anda juga menganggap saya sebagai saingan?"
Rosaline tersenyum tipis—sebuah senyuman getir yang penuh kepahitan.
"Aku sudah berada di istana ini selama enam tahun, Alena. Aku sudah melihat tiga wanita lenyap dari paviliun ini tanpa jejak hanya karena mereka terlalu dekat dengan Pangeran Adrian atau mencoba bermain politik tanpa kekuatan," ujar Rosaline seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Aku tidak menyukaimu, Alena. Tapi aku lebih membenci keluarga Ardent yang memperlakukan tempat ini seolah-olah milik nenek moyang mereka. Anggap saja nasihatku ini sebagai peringatan: pasang matamu baik-baik, dan jangan pernah biarkan anakmu berjalan sendirian di lorong-lorong istana ini."
Rosaline berbalik dan melangkah pergi dari Taman Kaca, meninggalkan Alena sendirian di antara deretan tanaman langka dan keheningan yang mencekam.
Alena menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, memejamkan matanya rapat-rapat. Tangan kanan secara refleks meraba bagian luar sakunya, merasakan bentuk kaku liontin perak yang tersembunyi di dalam sana.
Peringatan Rosaline bergema paul di otaknya. Istana Valerian bukan lagi sekadar tempat yang menyimpan kenangan cintanya yang hancur bersama Adrian; tempat ini adalah arena pertarungan hidup dan mati, dan Elian berada tepat di garis terdepan.