Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Darah di Ujian Seleksi
Pedang berat pertama sudah berada tiga jari dari tengkoraknya.
Ujung bilah baja itu membawa tekanan angin yang menyakitkan kulit. Lin Tian tidak mencoba menangkis. Ia tidak bisa menang secara fisik melawan kultivator yang tubuhnya sudah ditempa selama bertahun-tahun.
Ia menjatuhkan dirinya ke belakang secepat kilat.
Hanya sepersekian detik. Ujung pedang berat itu mengenai tanah, menghancurkan batu fondasi dan menyemburkan pecahan kapur ke wajah.
Lin Tian sudah berguling keluar dari radius serangan. Pedang hijau bergerigi di tangannya melesat ke arah retakan di zirah lutut penjaga pertama.
Jed!
Bunyi logam menghantam daging terdengar nyaring. Pedang hijau itu tidak putus, tetapi menancap dalam hingga memotong otot tendonnya.
Penjaga itu menjerit histeris, lututnya patah ke belakang. Ia jatuh dengan berat, mengacungkan pedangnya lagi untuk menghantam Lin Tian yang sedang berdiri di sampingnya.
Lin Tian tidak memberinya kesempatan.
Ia melompat ke punggung penjaga yang jatuh itu, menyisipkan lutut ke belakang leher korban, dan menarik pegangan pedang yang menancap di lutut ke arah luar.
Tendon dan daging robek dengan suara basah. Darah segar menyembur membasahi mata kaki Lin Tian.
"Kau berani melukai penjaga Sekte Pedang Perak?!" teriak penjaga kedua.
Suara itu penuh dengan amarah dan sedikit ketakutan. Pria itu tidak menyerang secara langsung. Ia mundur dua langkah, meletakkan pedangnya di tanah, dan mencengkeram kedua tinjunya.
Qi putih memancar dari porosnya, membentuk bayangan pedang besar di udara di atas kepalanya. Teknik Sekte: Tebasan Awan Terbang.
Lin Tian menatap formasi qi itu. Dari aura yang keluar, kultivasi penjaga ini berada di Pengumpulan Qi tingkat lima. Dua tingkat di atasnya.
Ia tidak punya waktu untuk memproses itu. Bayangan pedang raksasa sudah turun membelah udara, memaksanya untuk bergerak.
Lin Tian berlari menuju kerumunan peserta ujian yang panik.
Ratusan pemuda dan pemudi itu histeris, mendorong satu sama lain untuk menjauh dari area pertempuran. Mereka menjadi benteng hidup yang menghalangi jalur serangan penjaga.
"Minggir!" teriak Lin Tian, mendorong bahu seorang pemuda berkacamata hingga jatuh ke tanah.
Penjaga kedua ragu-ragu sejenak. Tebasan qi raksasa itu bisa mengenai peserta ujian jika ia melancarkan serangan penuh. Peraturan ujian melarang membunuh peserta yang tidak bersalah, bahkan jika tujuannya adalah menangkap penjahat.
Itu adalah celah satu detik yang Lin Tian butuhkan.
Ia tidak menyerang penjaga itu. Ia menoleh ke arah tiang formasi terdekat—sebuah pilar kecil yang memancarkan cahaya biru redup.
Qi hitam di dadannya mendidih.
Lin Tian mengayunkan tangannya ke pilar itu. Bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk mengambil energi murninya.
Tato naga yang tak terlihat di kulitnya berdenyut. Qi hitam yang tadinya diam, kini mengalir liar dari ujung jarinya seperti akar tanaman yang haus air. Ia mencengkeram pilar formasi itu dan menyerap energi murni yang mengalir di dalamnya.
Vzzzt!
Suara listrik statis meledak. Cahaya biru di pilar itu berubah menjadi abu-abu mati dalam sekejap.
Lin Tian merasa seperti menelan bara api. Energinya terlalu besar untuk meridian barunya. Tubuhnya gemetar hebat, urat-urat di lehernya menonjol seperti ular yang sedang marah.
Tetapi energi itu berhasil diserap.
Dantiannya yang tadinya kering, kini meledak dengan tenaga segar. Lin Tian memutar tubuhnya, menelan ludah yang terasa seperti besi, dan berlari kembali ke arah penjaga yang masih ragu.
"Kau... apa yang kau lakukan pada pilar formasi?!" penjaga itu menatap pilar mati itu dengan mata melotot.
"Kau sedang menginterupsi ujian," Lin Tian menjawab, suaranya parau.
Ia menyalurkan seluruh energi yang baru saja diserap ke dalam pedang hijaunya. Bilah bergerigi itu bersinar dengan cahaya hitam yang pekat, memancarkan aura kematian yang membuat rambut di lengannya berdiri.
Penjaga itu sadar kesalahannya. Ia berteriak dan melancarkan Tebasan Awan Terbangnya ke arah Lin Tian.
Cahaya putih melesat, membelah udara.
Lin Tian tidak menghindar. Ia mengangkat pedangnya dan menebas ke arah cahaya qi raksasa itu.
Braaaam!
Bukan suara tabrakan, melainkan suara seret yang menusuk telinga. Qi hitam Lin Tian menyentuh bayangan qi putih, dan langsung mulai menggerogotinya. Bayangan pedang putih itu hancur seperti kertas basah yang terkena air panas.
Qi hitam itu terus melaju, menyapu kaki penjaga.
Zirah baja di kaki penjaga itu hancur lebur. Daging dan tulangnya hancur menjadi bubur. Penjaga itu menjerit kehilangan kedua kakinya, tubuhnya roboh ke tanah.
Lin Tian mendarat di sampingnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata panjang. Ia tidak menghina musuh yang sudah kalah.
Ia hanya menusukkan pedang hijaunya ke tulang selangka penjaga itu, menembus jantungnya dalam sekali gerak.
Penjaga itu kejang sekali, lalu terdiam. Matanya menatap Lin Tian, penuh dengan ketidakpercayaan yang membeku selamanya.
Kerumunan peserta ujian hening total.
Ratusan pasang mata menatap Lin Tian dengan rasa takut yang mendalam. Mereka tidak melihat seorang kultivator. Mereka melihat monster.
Seseorang yang bisa menghancurkan formasi hanya dengan menyentuhnya. Seseorang yang bisa memakan qi sendiri. Seseorang yang membunuh penjaga sekte seolah sedang menyembelih ayam.
"Sialan!"
Suara keras bergema dari podium utama.
Tetua berjubah emas di podium sudah tidak bisa duduk tenang lagi. Aura tekanan yang jauh lebih berat dari sebelumnya menekan seluruh alun-alun.
Langit di atas gunung tampak berubah warnanya. Awan berkumpul dengan cepat, membentuk pusaran hitam yang menakutkan.
"Kau berhasil membuatku marah, bocah," suara Tetua Emas itu bergema, terdengar di setiap sudut alun-alun. "Energi Iblis Pemakan Qi. Aku pikir itu hanya legenda orang tua."
Tetua itu melangkah turun dari podium, tidak menggunakan sayap atau teknik terbang. Ia hanya berjalan di udara, seolah anak tangga tak terlihat menopang kakinya.
Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kaki peserta ujian bergetar. Tekanan spiritual itu menekan Lin Tian hingga lututnya hampir menyentuh tanah.
Lin Tian memuntahkan darah segar, matanya tetap tajam menatap Tetua itu. Ia tahu, ini akhir dari babak ini. Ia tidak bisa mengalahkan kultivator tingkat Pondasi Awal.
Tapi ia juga tidak akan membiarkan dirinya ditawan. Tangannya merogoh kantong penyimpanan rampasannya. Ia mengeluarkan tiga botol racun tingkat tinggi sekaligus.
Tetua Emas itu melambaikan tangannya. Sebuah tangan qi raksasa seukuran rumah turun menyambar Lin Tian dari atas.
"Hancurlah!"
Lin Tian melemparkan ketiga botol itu ke arah tangan qi raksasa itu, lalu langsung berbalik dan berlari menuju lubang formasi yang terbuka.
Bum! Bum! Bum!
Ledakan racun meledak di tengah tangan qi, menciptakan asap tebal berwarna hijau kehitaman yang menggerogoti formasi qi Tetua itu. Tidak ada kerusakan permanen, tetapi itu menciptakan celah satu detik.
Celah itu cukup bagi Lin Tian.
Ia tidak lari ke gerbang keluar. Ia lari ke arah tebing terjal di balik alun-alun, menuju sebuah portal batu tua yang tertutup semak-semak dan bertuliskan peringatan terlarang.
"Lembah Naga Jatuh," desis Lin Tian.
Portal itu adalah tempat pembuangan sampah sekte dan ujian kematian tingkat lanjut. Tidak ada yang berani masuk ke sana karena formasi angin pisau di dalamnya.
Di belakangnya, tangan qi raksasa itu menabrak tebing, merobohkan batu besar dan membuat tanah longsor. Tepung kapur menutupi seluruh pandangan.
Lin Tian tidak ragu. Ia melompat ke dalam portal batu itu, tubuhnya ditelan oleh kegelapan dan suara angin menderu yang mencekik.
Tetua Emas mendarat di pinggir tebing, menatap portal yang sempit itu dengan wajah masam.
"Tidak masuk akal," gumam Tetua itu, janggutnya bergetar. "Siapa bocah gila yang akan memilih Lembah Naga Jatuh sebagai jalan kabur? Itu adalah kuburan yang tidak pernah ada yang kembali hidup-hidup."
Namun, di dalam kegelapan portal, Lin Tian sedang jatuh bebas. Angin pisau mengiris jubah perak curiannya hingga robek-robek, meninggalkan ratusan luka kecil di kulitnya.
Ia menutup matanya, membiarkan gravitasi menariknya ke bawah. Ia hanya punya satu harapan: bahwa legenda tentang Lembah Naga Jatuh itu benar-benar mematikan, sehingga tidak ada satu pun yang berani mengikuti jejaknya.