NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Setelah langkah kaki Karin menghilang di lantai dua, ruang tamu masih diselimuti keheningan. Tak seorang pun berani membuka suara.

Bu Ratna masih menatap ke arah tangga. Dadanya naik turun menahan amarah. Wajahnya memerah mengingat bagaimana menantunya baru saja mempermalukannya di depan para pelayan.

"Kurang ajar..." desisnya pelan.

Ia mengepalkan kedua tangannya sebelum kembali bergumam dengan nada geram.

"Sejak kapan dia berubah menjadi perempuan seperti itu?"

Di sampingnya, Bi Wati masih mengusap pipinya yang memerah. Rasa perih akibat tamparan Karin masih terasa.

"Nyonya Besar..." katanya lirih. "Maafkan saya. Saya tidak menyangka Nyonya Karin berani menampar saya."

Bu Ratna langsung menggenggam tangan pelayannya itu sebagai bentuk penghiburan.

"Bukan salahmu." Tatapannya kembali mengarah ke tangga.

"Dia memang sudah keterlaluan."

Vina yang berdiri di dekat mereka perlahan menundukkan kepala. Ia menghela napas pelan seolah ikut merasa bersalah.

"Semua ini gara-gara aku, Bu." Suaranya di buat seolah bergetar. "Kalau saja aku tidak datang ke rumah ini..." Ia menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan. "Nyonya Karin pasti tidak akan berubah seperti sekarang."

Mendengar itu, Bu Ratna buru-buru menggeleng.

"Jangan menyalahkan dirimu." Wanita itu mengusap lembut bahu Vina. "Justru sejak kembali dari rumah orang tuanya, sikap Karin berubah total."

Tatapan Bu Ratna perlahan berubah tajam.

"Pasti orang tuanya yang menghasutnya."

Vina mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya tampak semakin cemas.

"Kalau begitu... bagaimana kalau keluarga Nyonya Karin mulai ikut campur?"

Pertanyaan itu membuat Bu Ratna terdiam. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menimbang sesuatu. Beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah serius.

"Itu yang paling tidak boleh terjadi."

Bu Ratna menatap lurus ke depan sebelum melanjutkan ucapannya.

"Dimas tidak boleh kehilangan dukungan keluarga Wijaya sebelum semuanya selesai."

Vina mengangguk pelan. Namun di balik wajah polosnya, sudut bibirnya hampir terangkat. Inilah yang ia tunggu. Semakin Bu Ratna merasa terancam, semakin besar keinginannya untuk segera menyingkirkan Karin.

"Bu..." ucap Vina hati-hati. "Menurutku, Nyonya Karin sekarang sudah tidak mudah dikendalikan." Ia melirik sekilas ke arah Bi Wati. "Lihat saja tadi. Bahkan Bi Wati sampai ditampar."

Bi Wati langsung mengangguk.

"Benar, Nyonya Besar. Saya belum pernah melihat Nyonya Karin seperti itu."

Bu Ratna mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kalau dia pikir bisa melawanku hanya karena mulai berani bicara..." Wanita itu berhenti sejenak. Sorot matanya berubah semakin dingin. "...dia salah besar."

Bu Ratna mendengus pelan. "Rumah ini masih rumahku." Ia menatap Vina dengan penuh keyakinan. "Selama Dimas masih memihakku, Karin tidak akan bisa berbuat apa-apa."

Mendengar ucapan itu, Vina tersenyum lega.

"Ibu benar." Ia meraih tangan Bu Ratna dengan penuh rasa hormat. "Mas Dimas sangat mendengarkan perkataan Ibu."

Tatapannya dibuat penuh harap. "Selama Ibu ada di pihakku, aku tidak takut."

Bu Ratna mengusap lembut punggung tangan Vina.

"Kamu tenang saja." Senyum tipis mulai menghiasi wajahnya. "Ibu sudah menganggapmu seperti anak sendiri." Ia menatap Vina penuh keyakinan. "Kalau Dimas memang ingin menikahimu, Ibu akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya."

Mata Vina berbinar. "Terima kasih, Bu."

Tanpa ragu ia memeluk Bu Ratna dengan wajah penuh haru. Bu Ratna membalas pelukan itu sambil mengusap punggung Vina dengan penuh kasih sayang, sesuatu yang bahkan jarang ia lakukan kepada Karin.

Namun di balik pelukan itu, senyum tipis diam-diam terukir di bibir Vina.

"Karin..." batinnya. "Kalau kau pikir tamparan itu membuatku takut, kau salah. Aku justru akan membuatmu kehilangan semua yang masih kau miliki."

Sementara itu, di lantai dua...

Karin akhirnya sampai di depan kamarnya. Ia berhenti sejenak sambil mengembuskan napas panjang. Suara pertengkaran di ruang tamu masih terngiang di telinganya.

Tak lama kemudian, Arga menyusul dari belakang sambil membawa belasan shopping bag di kedua tangannya.

"Nyonya," panggilnya pelan.

Karin menoleh. "Masuk saja."

"Permisi, Nyonya."

Arga membuka pintu kamar, lalu masuk dengan langkah hati-hati. Ia meletakkan satu per satu kantong belanja di atas sofa dan sebagian lagi di dekat meja rias karena jumlahnya terlalu banyak.

Setelah semuanya selesai ditata, Arga mundur selangkah.

"Semua barang sudah saya keluarkan, Nyonya."

Karin mengangguk pelan.

"Terima kasih."

"Sama-sama, Nyonya."

Arga hendak berbalik keluar, tetapi langkahnya terhenti saat Karin kembali memanggilnya.

"Arga."

Pria itu segera menoleh.

"Ya, Nyonya?"

Karin terdiam beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Tadi... terima kasih."

Arga tampak bingung.

"Untuk apa, Nyonya?"

"Karena sejak tadi kamu tidak ikut mencampuri urusanku."

Arga tersenyum tipis. "Itu memang sudah seharusnya, Nyonya. Saya hanya menjalankan tugas."

Karin menggeleng pelan. "Tidak semua orang di rumah ini tahu bagaimana menghormati batas."

Ucapan itu membuat Arga terdiam. Ia hanya menundukkan kepala.

"Saya permisi, Nyonya."

"Tunggu."

Arga kembali mengangkat kepalanya.

"Ada lagi yang bisa saya bantu?"

Karin melangkah mendekati tumpukan kantong belanja. Tangannya mengambil sebuah kotak kecil berisi jam tangan pria yang baru saja ia beli di pusat perbelanjaan.

Ia menyodorkannya kepada Arga.

"Ini untukmu."

Arga sontak membelalakkan mata.

"Untuk... saya?"

"Iya."

"Saya tidak bisa menerimanya, Nyonya."

"Kenapa?"

"Itu terlalu mahal."

Karin tersenyum tipis.

"Anggap saja hadiah karena hari ini kamu sudah bekerja dengan baik."

Arga tetap menggeleng.

"Maaf, Nyonya. Saya digaji untuk bekerja. Saya tidak pantas menerima hadiah semahal itu."

Mendengar jawaban tersebut, Karin justru semakin yakin dengan penilaiannya.

Pria ini berbeda. Di rumah itu, hampir semua orang sibuk mencari keuntungan.

Namun Arga justru menolak pemberian yang dengan mudah bisa ia terima.

Karin memasukkan kembali kotak jam tangan itu ke dalam kantong belanja.

"Baiklah. Kalau memang belum mau menerimanya, aku tidak akan memaksa."

Arga menghela napas lega.

"Terima kasih atas pengertiannya, Nyonya."

Karin mengangguk.

"Kamu boleh kembali bekerja."

"Baik, Nyonya."

Arga membungkukkan badan dengan hormat, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu secara perlahan.

Begitu pintu tertutup, senyum tipis di wajah Karin perlahan menghilang.

Tatapannya jatuh pada pantulan dirinya di cermin.

"Hari ini baru permulaan..." gumamnya pelan. "Aku akan mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku. Sedikit demi sedikit."

1
Dede Dedeh
perasaan setiap episode nya kok cina and the geng yg selalu menang, karin terlalu lambat memberi balasan,,, kecewa aku thor/Pray/
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!