NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Otak yang Mati

Rangga tidak membalas pesan dari Universitas Camden.

Ia bahkan tidak sempat memikirkan kalimat Inggris itu terlalu lama.

Di RSUD Harapan Bangsa, setelah ledakan Jalan Cahaya Bangsa, tidak ada yang benar-benar kembali normal. Koridor masih penuh keluarga korban. Bau obat luka bakar menempel di udara. Beberapa tempat tidur tambahan masih berjajar di dekat UGD. Perawat berjalan lebih cepat daripada biasanya, seolah lantai rumah sakit ikut mengejar mereka.

Nama `Perisai Terakhir` terus muncul di layar televisi ruang tunggu.

Rangga lewat di bawah layar itu dengan kepala menunduk, membawa rekam medis.

Seorang keluarga pasien menunjuk pelan.

"Itu orangnya?"

Rangga pura-pura tidak mendengar.

Di meja jaga UGD, dr. Alya menaruh satu kotak makanan di depan kursinya.

"Jangan bilang sudah makan."

Rangga berhenti.

"Saya belum bicara."

"Wajahmu sudah bohong duluan."

dr. Alya duduk di seberangnya. Rambutnya diikat rapi, tetapi kantung matanya menunjukkan bahwa ia juga tidak tidur cukup sejak bencana. Di balik suara lembutnya, ada lelah yang sama.

"Kamu sudah lihat video?"

"Sedikit."

"Sedikit itu berapa?"

"Cukup untuk tahu saya harus mematikan notifikasi."

dr. Alya menatapnya, antara ingin tertawa dan ingin memarahinya.

"Orang-orang menyebutmu pahlawan."

"Pasien yang saya operasi masih ada yang kritis."

"Itu tidak membatalkan fakta bahwa kamu menyelamatkan banyak orang."

Rangga membuka kotak makanan. Nasi masih hangat.

"Kalau saya mulai percaya semua komentar itu, tangan saya bisa lambat."

dr. Alya terdiam sebentar.

Lalu ia berkata pelan, "Kalau kamu terus pura-pura bukan manusia, tubuhmu yang akan lambat duluan."

Rangga mengangkat kepala.

Di mata dr. Alya, tidak ada kekaguman seperti di internet. Yang ada hanya kekhawatiran yang terlalu nyata.

"Makan," katanya. "Lima menit saja. Aku jaga meja."

Rangga tidak membantah.

Malam berjalan dengan ritme yang tampak biasa: luka bakar kontrol, sesak napas, pasien pingsan karena dehidrasi, keluarga korban ledakan yang datang meminta kabar. Suster Yuni, kepala perawat shift malam, mondar-mandir membawa daftar panjang pasien pascabencana.

"Dokter Rangga," katanya sambil menahan tablet di dada, "kalau ada yang tanya wawancara, saya bilang Anda sedang tidak bisa diganggu, ya?"

"Tolong bilang begitu selamanya."

Suster Yuni tertawa pendek. "Kalau selamanya, humas bisa menangis."

Pukul dua lewat sedikit, tawa itu hilang.

Seorang pekerja pabrik yang sebelumnya dikategorikan stabil tiba-tiba muntah hebat. Tubuhnya kejang, pupilnya melebar tidak simetris, lalu kesadarannya turun seperti lampu yang padam.

Monitor menjerit.

dr. Alya langsung berdiri.

"Pasien korban asap kimia, laki-laki, tiga puluhan. Tadi sore masih sadar penuh."

Rangga sudah berada di sisi ranjang.

"GCS?"

"Turun cepat. Respons nyeri minimal."

"Pupil?"

"Kanan melebar."

Rangga membuka kelopak mata pasien, memeriksa refleks, lalu mendengar napas yang semakin tidak teratur.

Ada sesuatu yang lebih buruk daripada keracunan biasa.

Di kepala Rangga, suara sistem muncul.

[Terdeteksi nekrosis jaringan otak.]

[Pasien akan meninggal dalam 1 jam.]

[Aktifkan check-in?]

Satu jam.

Rangga menjawab tanpa ragu.

Aktifkan.

[Check-in berhasil.]

[Hadiah: Teknik Bedah Reseksi Otak Kelas Dunia.]

Pengetahuan tajam masuk ke pikirannya: batas jaringan hidup dan mati, cara membuka tengkorak dengan jalur paling kecil, bagaimana membuang jaringan nekrotik tanpa merusak fungsi vital, bagaimana membaca edema otak yang bergerak lebih cepat daripada keputusan manusia.

"MRI darurat. Siapkan ventilator. Hubungi keluarga. Ruang operasi sekarang."

Suster Yuni menelan ludah.

"Dok, separah itu?"

"Kalau menunggu pagi, dia meninggal."

Hasil MRI keluar seperti vonis.

Sebagian jaringan otak menunjukkan area nekrosis luas akibat paparan toksik dan gangguan aliran darah. Edema menekan struktur sekitar. Jika tidak dibuka dan dibersihkan, tekanan akan naik sampai batang otak gagal.

Istri pasien tiba dengan wajah kosong, masih memakai sandal rumah. Di belakangnya, seorang anak kecil digendong keluarga lain, tertidur tanpa tahu ayahnya berada di tepi jurang.

Rangga menjelaskan dengan kalimat paling sederhana yang ia bisa.

"Ada bagian otak yang sudah mati karena efek racun dan gangguan aliran darah. Kalau tidak dioperasi, kemungkinan besar beliau tidak selamat malam ini. Operasinya sangat berisiko. Kalau berhasil, tetap ada kemungkinan gangguan gerak, bicara, atau ingatan."

Istri pasien menatapnya.

"Kalau tidak operasi?"

"Waktunya mungkin kurang dari satu jam."

Kertas persetujuan bergetar di tangan perempuan itu.

"Dokter... saya tidak mengerti semua ini. Tapi saya lihat video Anda. Orang-orang bilang Anda menyelamatkan yang mustahil."

Rangga menahan napas.

Ini bagian paling berat dari ketenaran.

Orang membawa harapan yang terlalu besar ke meja operasi.

"Saya tidak dapat menjamin hasilnya, Bu. Saya akan berusaha sampai batas terakhir."

Perempuan itu menangis, lalu menandatangani.

"Tolong bawa suami saya pulang."

Ruang operasi dibuka.

Pak Bambang datang dengan wajah yang belum sepenuhnya segar sejak operasi bencana.

"Kamu baru bangun kemarin."

"Pasien tidak punya satu jam."

Pak Bambang melihat MRI.

Kali ini ia tidak berdebat.

"Aku asisten."

"Pak harus istirahat."

"Aku asisten," ulangnya.

dr. Alya berdiri di sisi anestesi dan monitor. Suster Yuni memastikan kamera dokumentasi operasi menyala untuk arsip internal, sesuai prosedur kasus langka. Tidak ada yang berpikir tentang internet.

Sayatan pertama dibuat.

Tengkorak dibuka dengan jalur kecil yang presisi.

Tekanan di dalam kepala terasa seperti musuh yang tidak terlihat. Begitu dura dibuka, jaringan yang bengkak mendorong keluar pelan, pucat, rapuh, dan berbahaya.

Rangga melihat batasnya.

Ia membedakan jaringan mati, bagian yang meradang, dan jaringan hidup yang masih dapat diselamatkan.

Tangannya bergerak perlahan.

Tidak seperti operasi abdomen atau trauma lapangan. Di sini, satu milimeter bisa berarti ingatan seseorang, gerak tangan seseorang, kemampuan seorang ayah mengenali anaknya.

"Suction kecil."

"Kasa mikro."

"Tekanan stabil?"

dr. Alya menjawab, "Stabil. Tapi edema masih tinggi."

Satu bagian nekrotik diangkat.

Lalu bagian kedua.

Saat mencapai area yang terlalu dekat dengan jalur fungsi vital, suara sistem yang tadi jelas mendadak sunyi.

Sistem tidak memberinya petunjuk, garis emas, ataupun kalimat dingin.

Hanya otak manusia di bawah lampu operasi dan napas semua orang yang tertahan.

Pak Bambang menatapnya.

"Rangga?"

Rangga tidak panik.

Ilmu yang diberikan sistem masih ada, tetapi keputusan detik itu harus ia ambil sendiri.

Ia mengingat wajah istri pasien, anak kecil yang tertidur di luar, dan seluruh operasi yang telah menyatukan gerakan tangannya dengan keputusan dalam pikirannya.

"Saya lanjut."

Gerakannya menjadi lebih lambat.

Lebih bersih.

Lebih manusia.

Ia tidak mengejar sempurna. Ia mengejar cukup: cukup membuang jaringan mati, cukup mengurangi tekanan, cukup menjaga fungsi yang masih bisa diselamatkan.

Tiga jam kemudian, tekanan intrakranial turun.

Perdarahan terkendali.

Struktur vital aman.

Rangga menjahit lapisan terakhir dengan mata yang merah, tetapi tangan tetap tenang.

"Operasi selesai."

Ruang operasi seperti baru ingat cara bernapas.

Pak Bambang melepas sarung tangan, lalu menepuk bahu Rangga satu kali.

"Kamu sadar tadi kamu mengambil keputusan tanpa siapa pun bisa menuntunmu?"

Rangga memandang pintu ruang operasi.

"Pasien tidak menunggu sampai saya yakin sepenuhnya."

Di luar, istri pasien berdiri ketika Rangga keluar.

"Bagaimana, Dok?"

"Operasi berjalan baik. Beliau masih kritis, tetapi tekanan di otaknya turun. Sekarang kita tunggu respons pemulihan."

Perempuan itu menangis tanpa suara, lalu membungkuk berkali-kali.

Rangga tidak menikmati rasa syukur itu. Ia hanya merasa tubuhnya makin berat.

Suster Yuni, yang masih sibuk merapikan dokumentasi operasi, mendapat panggilan dari bagian humas. Ada permintaan unggahan singkat tentang keberhasilan penanganan korban ledakan, untuk menenangkan publik.

"Potongan pendek saja," katanya pada diri sendiri.

Namun layar tablet terlalu kecil, folder terlalu banyak, dan matanya terlalu lelah.

Alih-alih memilih klip tiga puluh detik, ia memilih file dokumentasi penuh.

Ia menekan unggah ke akun resmi Instagram rumah sakit.

Baru beberapa menit kemudian, ia melihat durasi video.

Tiga jam.

Wajah Suster Yuni langsung pucat.

"Aduh... aduh, saya salah upload."

Ia mencoba menghapus.

Tetapi internet sudah lebih cepat daripada tangannya.

Potongan video mulai dipotong ulang oleh pengguna lain: tangan Rangga membuka tengkorak, area nekrotik yang diangkat, monitor yang stabil, Pak Bambang yang terdiam, dan kalimat pendek Rangga di tengah operasi.

Saya lanjut.

Menjelang subuh, ponsel Rangga dipenuhi pesan dalam bahasa Indonesia, Inggris, Melayu, Arab, Jepang, dan bahasa lain yang tidak sempat ia kenali.

Di antara semuanya, satu pesan berbahasa Indonesia muncul dari nomor asing.

Dokter Rangga, saya dr. Farrel Wicaksono. Saat ini saya praktik di Amerika Serikat. Prof. Howard Bennett dari Universitas Camden sangat tertarik dengan video operasi Anda. Kami perlu bicara langsung. Saya sudah dalam penerbangan menuju Cakrawala.

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!