Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
"Desain itu pengembangan paralel yang wajar."
Ahli dari pihak PT Cantika Teknologi mengucapkan kalimat itu pada menit ketujuh sidang.
Kevin Tanuwijaya langsung menegang di kursi penggugat.
Alexander tidak bergerak.
Ruang sidang Pengadilan Niaga Bidang HKI Kota Cahaya tidak sebesar ruang perkara MakanYuk, tetapi tekanannya berbeda. Di sini, satu istilah teknis yang dibiarkan lewat bisa mengubah pencurian menjadi inovasi.
Majelis hakim memandang ahli itu.
"Saudara ahli, jelaskan maksud pengembangan paralel."
Ahli itu membetulkan kacamata. "Dalam industri robotika, dua perusahaan dapat menghasilkan desain yang mirip karena menghadapi masalah teknis yang sama. Lengan robot gudang harus mengangkat beban, menyeimbangkan sudut, dan merespons sensor. Kemiripan struktur tidak otomatis berarti penjiplakan."
Pengacara PT Cantika tersenyum tipis.
Kalimat itu aman, ilmiah, dan terdengar masuk akal.
Kevin berbisik, "Dia membuat mereka terlihat normal."
"Diam dulu," jawab Alexander pelan.
Pengacara Cantika berdiri.
"Dengan demikian, apakah Saudara ahli melihat produk klien kami sebagai salinan?"
"Tidak," jawab ahli itu. "Saya melihatnya sebagai pengembangan teknis independen dengan tujuan fungsi serupa."
Alexander mencatat satu kata:
fungsi.
Itu jejak.
Ketika giliran pemeriksaan silang tiba, ia berdiri membawa dua lembar gambar teknis dan satu laporan uji produksi Aeon.
"Saudara ahli," kata Alexander, "benar bahwa dua tim berbeda bisa menghasilkan solusi mirip untuk masalah teknis yang sama?"
"Benar."
"Benar juga bahwa kemiripan umum pada fungsi tidak cukup untuk membuktikan penjiplakan?"
"Benar."
Pengacara Cantika tampak lebih santai.
Kevin justru menatap Alexander seperti ingin bertanya kenapa ia membantu lawan.
Alexander membiarkan ruang sidang mengikuti ritmenya.
"Kalau begitu, mari kita tinggalkan kemiripan umum."
Ia mengangkat gambar pertama.
"Ini desain lengan robot generasi pertama PT Aeon Robotika. Pada sambungan modul S-3, terdapat lekukan kecil di sisi dalam penahan beban. Saudara melihat?"
Ahli mencondongkan badan. "Saya melihat."
"Menurut laporan uji internal Aeon, lekukan itu bukan fitur ideal. Itu cacat desain awal yang menyebabkan getaran mikro pada beban di atas dua puluh kilogram. Benar?"
Ahli membaca dokumen yang diberikan panitera.
"Jika laporan ini benar, ya."
"Terima kasih. Sekarang lihat gambar kedua, pendaftaran PT Cantika Teknologi."
Alexander meletakkan gambar itu di layar presentasi kecil pengadilan.
"Pada modul yang mereka sebut C-Anchor, posisi lekukan kecil itu muncul lagi. Ukurannya berbeda sedikit karena skala gambar diubah, tetapi sudutnya sama. Letaknya sama. Bahkan efek getaran mikro pada uji beban awal mereka juga tercatat dalam laporan produk yang kami peroleh dari brosur teknis investor."
Pengacara Cantika berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Kuasa penggugat menyimpulkan terlalu jauh."
Ketua majelis menatap Alexander. "Ajukan pertanyaan, bukan kesimpulan."
"Baik, Yang Mulia."
Alexander kembali kepada ahli.
"Saudara ahli, dalam pengembangan paralel yang independen, apakah dua tim yang tidak saling mengakses cetak biru biasanya mengulang fitur ideal yang sama, atau juga mengulang cacat desain awal yang sama?"
Ahli itu diam.
Satu detik.
Dua detik.
Ruang sidang ikut menunggu.
"Cacat bisa terjadi secara kebetulan," katanya akhirnya.
"Bisa," kata Alexander. "Kalau satu cacat."
Ia mengambil lembar ketiga.
"Pada desain Aeon, ada tiga cacat produksi awal yang tidak dipertahankan dalam versi final: lekukan modul S-3, urutan baut pengunci yang membuat perawatan lebih lambat, dan posisi kabel sensor yang terlalu dekat dengan engsel panas. Ketiganya dicatat sebagai masalah generasi pertama."
Ia menunjuk gambar Cantika.
"Dalam dokumen Cantika, ketiganya muncul dalam bentuk yang sama, lalu diberi nama baru."
Kevin menahan napas.
Alexander menatap ahli.
"Pertanyaan saya sederhana. Secara ilmiah, seberapa besar kemungkinan dua tim independen menemukan solusi fungsi yang mirip, mengulang tiga cacat awal yang sama di posisi yang sama, lalu memperbaikinya dalam urutan revisi yang sama?"
Ahli itu menelan ludah.
Pengacara Cantika tidak tersenyum lagi.
"Kemungkinannya kecil," jawab ahli itu.
"Kecil atau sangat kecil?"
"Sangat kecil."
"Apakah hal itu lebih konsisten dengan pengembangan paralel atau dengan akses terhadap cetak biru awal?"
Pengacara Cantika berdiri. "Keberatan!"
Ketua majelis mengetuk palu kecil. "Saudara ahli dapat menjawab dalam batas keahliannya."
Ahli itu melihat ke meja Cantika.
Lalu ia melihat gambar teknis di layar.
"Lebih konsisten dengan akses terhadap cetak biru awal."
Kevin menutup mulutnya.
Tidak ada sorak.
Tetapi bahunya turun seperti seseorang baru saja melepas batu dari punggungnya.
Alexander belum selesai.
"Saudara ahli, jika sebuah produk hanya meniru fungsi, ia bisa disebut pengembangan paralel. Tetapi jika ia meniru jejak kesalahan, apakah istilah itu masih tepat?"
Ahli itu menghela napas.
"Tidak sepenuhnya."
"Terima kasih. Tidak ada pertanyaan lagi."
Debat Persidangan di dalam diri Alexander menajam perlahan. Ia tidak mendapat notifikasi level, tetapi ia merasakan cara ruang sidang berubah: dari mendengar ahli Cantika sebagai otoritas menjadi memeriksanya sebagai manusia yang bisa salah arah.
Majelis berunding singkat.
"Sidang ditunda untuk pemeriksaan lanjutan dan penyerahan dokumen pembanding teknis yang lebih lengkap," kata ketua majelis. "Para pihak diminta menjaga seluruh dokumen digital dan fisik terkait agar tidak berubah."
Ketukan palu menutup sesi.
Di luar ruang sidang, Kevin hampir memeluk Alexander, lalu menahan diri karena melihat jubah advokat dan lorong pengadilan.
"Lex, tadi itu..."
"Belum menang."
"Tapi mereka goyah."
"Ya. Itu boleh kamu nikmati lima detik."
Kevin benar-benar menghitung dengan jari.
Alexander akhirnya tersenyum.
Beberapa pengacara dari firma lain yang tadi menunggu sidang berikutnya melewati mereka sambil berbicara pelan.
"Itu yang menang perkara MakanYuk?"
"Sekarang masuk HKI juga?"
"Cara dia memutar ahli Cantika rapi."
Alexander mendengar, tetapi tidak menoleh.
Ia sedang melihat ujung lorong.
Seorang pria tua berdiri di dekat pintu keluar.
Rambutnya putih, punggungnya tegak, dan cara ia mengamati ruang sidang tidak seperti wartawan, bukan juga seperti kuasa hukum. Di dada jasnya, ada pin kecil purnawirawan yang segera ia tutup dengan telapak tangan ketika sadar Alexander melihat.
Mata mereka bertemu.
Pria itu tidak tersenyum.
Ia hanya menatap Alexander sejenak, seperti sedang mencocokkan wajahnya dengan seseorang dari masa lalu.
Lalu ia berbalik dan pergi.
"Lex?" Kevin mengikuti arah pandangnya. "Kamu kenal?"
Alexander menggeleng pelan.
"Belum."
Tetapi saat pria tua itu menghilang di tangga, lencana Herman Wijaya di saku Alexander terasa berat.
Sidang paten baru saja dimulai.
Namun bayangan masa lalu ayahnya sudah datang menonton dari kejauhan.