Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 43: Diana Tumbang
Diana Prasetyo muncul di UN sebagai dosen tamu tepat ketika semester hampir berakhir.
Surat penugasannya ditandatangani Wakil Rektor Darmawan. Bu Sinta menyambutnya di kantor fakultas dan memperkenalkan Diana sebagai akademisi muda dengan koneksi internasional.
“Kita pernah bertemu di Puncak,” kata Diana kepada Kirana. “Senang melihat kamu masih bertahan.”
“Saya juga senang Ibu masih ingat.”
Nada Kirana sopan, tetapi Winda mendengar durinya.
Diana menggunakan setiap kesempatan untuk mendekati Arya: meminta diskusi riset, menawarkan makan siang, dan sengaja menunggu di parkiran. Arya menolak dengan kalimat formal yang sama.
“Silakan koordinasi melalui administrasi.”
Penolakan itu tidak menghentikannya. Suatu siang, Diana mencegat Kirana di lorong kosong.
“Kamu sudah tahu siapa Arya sebenarnya?”
“Sudah.”
“Lalu kamu masih berpikir hubungan ini setara?”
“Kesetaraan tidak dihitung dari saldo perusahaan.”
“Kamu sembilan belas. Dia memimpin konglomerasi. Orang akan melihatmu sebagai mahasiswi yang naik kelas lewat ranjang.”
Kirana menyalakan perekam di ponsel dan meletakkannya terbuka. “Ulangi. Saya ingin memastikan tidak salah dengar.”
Diana menatap ponsel. “Kamu merekam saya?”
“Percakapan yang melibatkan saya. Kalau Ibu ingin bicara profesional, saya simpan sebagai catatan. Kalau ingin menghina, Ibu bisa berhenti.”
Wajah Diana menegang. “Saya mencoba menyelamatkan masa depanmu.”
“Masa depan saya bukan proyek Ibu.”
Bu Sinta muncul dari ujung lorong. Ia mengatakan Wakil Rektor Darmawan sedang mempertimbangkan laporan etik atas hubungan Kirana dan Arya. Sebagai balasan, Diana bersedia membantu “mengamankan” posisi Kirana jika ia menjauh.
Sinta juga menyebut lowongan dosen tetap yang akan dibuka. Diana sudah dijanjikan rekomendasi, sementara Sinta berharap pamannya mengangkatnya tanpa seleksi terbuka. Sebagai gantinya, Diana diminta mendukung beberapa keputusan fakultas dan mendekati Arya agar DG tidak mempertanyakan anggaran baru.
“Kalian membicarakan jabatan dan anggaran di depan mahasiswa yang sedang kalian ancam,” kata Kirana. “Itu keputusan buruk.”
Diana baru sadar Sinta berbicara terlalu banyak. Ia mencoba mengakhiri percakapan, tetapi seluruh pengakuan sudah terekam.
“Jadi Ibu menawarkan perlindungan dari laporan yang dibuat kelompok Ibu sendiri?” tanya Kirana.
Sinta membantah, tetapi perekam masih menyala.
Kirana mengirim salinan ke alamat pribadinya dan Winda. Ia juga menulis kronologi resmi, bukan sindiran anonim. Semua komunikasi Diana, undangan makan, serta ancaman Sinta disimpan dengan tanggal.
Sore itu, Diana menjalankan rencana lain. Ia menunggu Arya di parkiran dengan ban mobil kempis dan meminta diantar. Namun petugas keamanan menunjukkan rekaman yang memperlihatkan Diana sendiri melepas udara melalui katup beberapa menit sebelumnya.
“Kamera baru?” tanya Diana pucat.
“Sudah ada sejak awal semester,” jawab petugas.
Arya datang bersama Kirana dan kepala keamanan. Ia tidak menawarkan tumpangan.
“Bu Diana, kendaraan derek sudah dipanggil,” katanya. “Semua urusan profesional selanjutnya melalui fakultas.”
“Arya, saya hanya ingin bicara empat mata.”
“Tidak ada pembicaraan pribadi antara kita.”
Diana maju hendak memegang lengannya. Arya mundur cepat. Wajahnya memucat, dan rasa muak melintas sangat nyata sebelum ia menguasai ekspresi.
Kirana melihat reaksi itu, tetapi tidak sempat bertanya.
“Jangan sentuh saya,” kata Arya.
Seluruh parkiran mendengar.
Diana menatap Kirana. “Kamu pikir dia mencintaimu? Dia hanya terobsesi karena kamu berbeda.”
Arya berdiri di sisi Kirana tanpa menyentuhnya sampai mendapat anggukan. Setelah itu, ia merangkul pinggang pacarnya di depan Diana.
“Apa pun alasan saya memilih Kirana bukan urusan Anda,” katanya. “Yang jelas, tidak pernah ada ruang untuk Anda.”
Rekaman keamanan, perekam Kirana, dan surat ancaman Sinta dibawa ke komite etik. Diana dipanggil untuk pemeriksaan terkait manipulasi fasilitas dan intimidasi mahasiswa. Penugasannya dibekukan sementara. Sinta juga diminta menjelaskan kenapa ia menjanjikan perlindungan dengan membawa nama pamannya.
Kirana hadir didampingi perwakilan kemahasiswaan, bukan Arya, agar kesaksiannya tidak dianggap dipengaruhi pacar. Ia menyerahkan file asli beserta metadata dan menolak menjawab pertanyaan yang mencoba mengalihkan fokus pada pakaian atau kehidupan pribadinya.
“Apakah hubungan Anda dengan Prof Arya memicu konflik?” tanya salah satu anggota komite.
“Hubungan kami sudah dilaporkan melalui mekanisme akademik. Yang diperiksa hari ini adalah ancaman Bu Sinta dan tindakan Bu Diana. Silakan pisahkan dua perkara.”
Ketua komite menyetujui. Bu Sinta tidak bisa lagi memakai gosip untuk mengaburkan bukti.
Winda menunggu di luar ruangan dengan air minum. “Tanganmu dingin.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kalimat klasik orang yang tidak baik-baik saja.”
Kirana menerima air dan mengakui ia gemetar. Melawan bukan berarti tidak takut. Bedanya, kali ini ketakutan tidak membuatnya diam.
Di forum kampus, Kirana tidak membocorkan hinaan pribadi. Ia hanya mengunggah informasi layanan pengaduan dan menulis bahwa mahasiswa berhak mendokumentasikan intimidasi secara bertanggung jawab.
Langkah itu membuat mahasiswa lain berani melapor. Ada dua kesaksian bahwa Sinta menjanjikan posisi asisten dengan imbalan dukungan, serta satu laporan bahwa Diana menggunakan acara akademik untuk kepentingan pribadi.
“Kamu menghancurkan karier saya,” kata Diana ketika mereka bertemu terakhir di kantor fakultas.
“Saya hanya mencatat tindakan Ibu. Keputusan dibuat komite.”
Diana menurunkan suara. “Saya mengenal keluarganya lebih lama daripada kamu. Kamu tidak tahu hal yang mereka sembunyikan.”
“Kalau ada rahasia, Arya yang harus menjelaskannya. Bukan Ibu yang menggunakannya untuk menakutiku.”
“Kamu terlalu percaya diri.”
“Dan Ibu terlalu yakin kedekatan lama memberi hak atas seseorang.”
Diana kehilangan jawaban. Selama ini ia menganggap dirinya pilihan logis hanya karena berasal dari lingkaran yang sama. Kirana menolak menerima logika bahwa seorang laki-laki adalah hadiah bagi perempuan dengan silsilah paling cocok.
“Kamu akan menyesal masuk ke dunia Arya.”
“Kalau saya menyesal, itu tetap keputusan saya.”
Diana pergi dengan kartu akses yang sudah dinonaktifkan. Bu Sinta menyusul tanpa berani menatap Kirana.
Di tangga, Arya menunggu.
“Saya bisa menangani lebih cepat,” katanya.
“Aku tahu. Tapi ini serangan kepadaku. Aku perlu melawannya dengan suaraku.”
Arya mengangguk. “Kamu melakukannya dengan baik.”
Kirana teringat wajah pucatnya saat Diana hampir menyentuh. “Mas kenapa tadi?”
“Saya tidak suka disentuh orang yang tidak saya izinkan.”
Jawaban itu benar, tetapi terasa belum lengkap.
Sementara mereka meninggalkan gedung, Bu Sinta menelepon pamannya. Wakil Rektor Darmawan mendengar bahwa Diana dibekukan, namanya masuk dalam rekaman, dan Arya menolak tunduk.
Darmawan tidak bertanya apakah bukti itu benar. Ia hanya bertanya siapa yang sudah melihatnya dan apakah Rektor Sudibyo telah menerima salinan. Bagi dirinya, masalahnya bukan penyalahgunaan wewenang, melainkan kendali yang mulai lepas.
Sinta memintanya menyelamatkan nama mereka sebelum komite memperluas pemeriksaan. Darmawan memilih jalan yang selama ini selalu berhasil: menekan orang dengan jabatan lebih rendah di depan banyak saksi.
“Kalau dosen honorer itu mau perang,” katanya, “besok saya sendiri yang akan mengajarinya siapa yang berkuasa di UN.”