NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMATIAN LISA DAN SUSI

Mama Rey tersenyum tenang mendengar jawaban Joe, lalu berbicara dengan lembut namun tegas. "Kalau begitu, Tante punya mobil jip besar yang bisa kalian pakai untuk perjalanan itu. Mobil itu kuat dan tidak terlalu mencolok, cocok untuk menempuh jalan jauh tanpa menarik perhatian. Orang yang ingin kalian temui tinggal di tempat yang cukup jauh, dan jalan menuju ke sana tidak selalu mulus. Mobil itu bisa diandalkan di berbagai kondisi jalan." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih hati-hati, "Tapi sebaiknya kalian berangkat besok pagi saja. Hari ini sudah mulai malam, tidak baik dan berbahaya memulai perjalanan panjang saat hari sudah gelap. Matahari hampir terbenam, dan cahaya lampu saja tidak cukup untuk melihat segala bahaya yang mungkin ada di sepanjang jalan."

Joe mengangguk setuju. "Baik, Tante. Terima kasih. Kami akan berangkat besok pagi."

Tak lama kemudian, Lisa muncul dari arah dapur sambil tersenyum ramah. "Malam sudah tiba. Mari makan malam bersama dulu sebelum beristirahat."

Mereka pun berkumpul di meja makan yang terletak di ruang tengah. Aroma masakan yang lezat memenuhi seluruh ruangan. Seperti biasa, Arthur tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda Lisa. "Hei, Lis... masakan loe makin enak saja tiap hari. Kalau loe setuju jadi tukang masak pribadi di rumah gue, gue janji hidup gue bakal penuh kebahagiaan tiap hari. Gue bahkan akan sediakan kamar terpisah khusus buat loe."

Lisa hanya tersenyum sinis sambil meletakkan piring berisi sayur dan daging di meja. "Kau hanya pandai bicara, Arthur. Lebih baik makanlah dulu sebelum mulutmu penuh omongan kosong. Kalau sudah kenyang, mungkin kau akan lebih sadar mana yang mungkin dan mana yang tidak."

Mama Rey dan Joe hanya tertawa mendengar perdebatan ringan mereka berdua. Suasana hangat itu terasa begitu singkat, seakan mereka sedang menikmati momen damai yang terakhir kalinya. Mereka makan dengan tenang, sesekali berbicara hal-hal ringan tanpa menyadari bahwa bahaya besar sedang bergerak mendekat ke arah rumah yang damai itu. Setelah selesai makan, mereka berpisah untuk beristirahat dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa besok pagi.

 

Keesokan harinya, udara masih sejuk saat matahari baru saja muncul di ufuk timur. Cahaya keemasan menyinari halaman rumah yang luas dan rapi. Mama Rey menemui Joe dan Arthur yang sudah siap berdiri di beranda dengan tas besar di pundak mereka.

"Joe..." panggilnya pelan namun penuh perhatian. "Sebenarnya Tante menyarankan kalian menunda dulu keberangkatan ini. Tunggu sampai tubuh kalian benar-benar pulih sepenuhnya. Perjalanan yang akan kalian tempuh tidaklah mudah dan tidak sebentar. Kalau kondisi belum bugar sepenuhnya, kalian akan kesulitan nanti di tengah jalan."

Joe menggeleng pelan namun tegas. "Terima kasih, Tante. Tapi kami harus segera berangkat. Orang yang ingin saya temui itu penting, dan kami harus tiba di sana secepat mungkin. Semakin lama kami menunggu, semakin besar kemungkinan hal buruk terjadi."

Mama Rey menghela napas panjang, lalu menatap mereka dengan tatapan serius. "Baiklah... kalau itu keputusan kalian. Hanya satu pesan Tante: berhati-hatilah di sepanjang jalan. Perjalanan kalian sangat jauh dan penuh ketidakpastian. Jangan pernah lengah, bahkan di tempat yang terlihat paling aman sekalipun. Tidak semua orang yang menyapa dengan ramah berarti bermaksud baik."

"Terima kasih banyak atas semua kebaikan Tante," ucap Joe dengan tulus. "Kami pasti akan membalas kebaikan Tante suatu hari nanti."

Arthur ikut menambahkan sambil tersenyum lebar. "Terima kasih, Tante! Dan terima kasih juga untuk loe, Lis!" serunya menoleh ke arah gadis yang berdiri di ambang pintu. "Gue tunggu kapan loe berubah pikiran dan mau jadi tukang masak pribadi gue ya!"

Lisa tertawa renyah mendengarnya. "Mimpilah setinggi langit, Arthur. Mungkin nanti kalau loe sudah sadar, loe akan tahu betapa mustahil mimpi loe itu."

Mama Rey tersenyum lembut, lalu mengangguk melepas kepergian mereka. Joe dan Arthur melangkah keluar menuju mobil jip besar yang sudah dipanaskan mesinnya, lalu berangkat menuju tujuan yang jauh di seberang sana. Mobil itu perlahan menghilang di tikungan jalan, meninggalkan rumah yang tampak tenang namun menyembunyikan nasib yang mengerikan.

Setelah mereka pergi, Lisa bersiap berangkat ke kampus dengan tas di bahu. Sementara itu, Mama Rey sibuk membereskan meja makan dan peralatan dapur dengan tenang. Namun baru beberapa menit setelah Lisa melangkah keluar pintu, ia kembali dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah seakan baru saja dikejar sesuatu yang mengerikan. Ia berdiri di teras rumah, tubuhnya gemetar hebat, lalu memanggil dengan suara yang bergetar.

"Mama... Mama!"

Mama Rey segera berjalan menuju pintu depan dengan cepat karena merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Lisa? Kenapa kau kembali?"

Saat ia sampai di depan pintu dan melangkah keluar ke teras, darah segar terasa berhenti mengalir di pembuluhnya. Di sana, di atas teras yang dilapisi ubin putih bersih, berdiri Lisa dengan wajah ketakutan yang luar biasa. Matanya terbelalak penuh kepanikan. Di sampingnya berdiri seorang pemuda berwajah dingin dengan senyum yang mengerikan, menodongkan pistol tepat ke pelipis gadis itu.

"Siapa kau?" tanya Mama Rey dengan suara bergetar namun berusaha tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang.

Pemuda itu menyeringai kejam, matanya menyala penuh kebencian yang sudah lama tersimpan. "Siapa aku? Aku adalah mimpi buruk yang akan terus menghantuimu."

Mama Rey menatapnya tajam, berusaha mengenali wajah yang tampak asing namun terasa menyimpan dendam mendalam. "Jika kau mencari Joe dan Arthur, kau sudah terlambat. Mereka sudah pergi jauh dari sini sejak pagi tadi."

Mendengar nama kedua orang itu disebut, pemuda itu seketika meledak dalam kemarahan yang tak terkendali. Tanpa peringatan sedikit pun, ia menarik pelatuk — DOR! — peluru menembus kaki Lisa tepat di atas ubin teras yang keras. Gadis itu menjerit kesakitan yang memilukan lalu terjatuh di lantai dingin, darah segar segera mengucur deras dan membasahi ubin putih di bawahnya hingga berwarna merah pekat.

"Lisa!" teriak Mama Rey hendak berlari mendekat untuk menolong, namun pemuda itu segera mengarahkan mulut senjatanya kembali tepat ke kepala Lisa dengan tangan yang stabil dan penuh ancaman.

"Jangan bergerak!" bentaknya dingin dan mengancam. "Kali ini kepalanya yang akan tembus oleh peluru pistol ini." Ia menatap Mama Rey dengan pandangan penuh kebencian yang lama tersimpan. "Kau pikir aku tidak tahu siapa kau? Kau adalah wanita yang berani kabur meninggalkan Rey. Kau pikir kau bisa lari begitu saja dan hidup tenang tanpa ada yang tahu?"

Pemuda itu terdiam sejenak, lalu menyeringai lebih lebar seakan sedang menikmati ketakutan mereka. "Kau pasti sudah lupa wajahku karena terlalu lama menyembunyikan diri. Biar aku perkenalkan diri. Aku adalah anak William dan Nisa — Billy."

Mama Rey menatapnya dengan pandangan sedih namun tajam, menyadari bahwa masa lalu yang ia hindari akhirnya datang menjemput. "Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Wajar saja Nisa memiliki anak yang sejahat dirinya."

Billy tertawa sinis mendengar ucapan itu, suaranya terdengar sangat mengerikan di tempat yang sunyi itu. "Awalnya aku hanya bermaksud mencari tahu di mana tempat persembunyian Joe dan Arthur, lalu membiarkan kau dan gadis ini hidup. Tapi sekarang..." Ia menatap mereka dengan mata yang menyala penuh kebencian yang tak bisa lagi dipadamkan. "Aku berubah pikiran. Lebih baik kalian berdua mati di sini agar tidak ada yang tahu siapa yang datang ke rumah ini pagi ini."

Tanpa ragu sedetik pun, tanpa belas kasih sedikit pun, Billy mengangkat senjatanya dan menembak tepat ke arah kepala Lisa — DOR! — gadis itu terkapar diam di atas ubin teras seketika, matanya masih terbuka menatap langit yang cerah namun tidak lagi melihat apa-apa.

"LIISA!" jerit Mama Rey sekuat tenaga, suaranya pecah dalam kepedihan yang luar biasa. Ia menatap mayat gadis yang dianggapnya seperti anak sendiri, lalu menatap Billy dengan mata yang basah namun penuh amarah yang membara. "Kau... kau tidak akan pernah lepas dari dosa ini, Billy! Kau akan binasa karena kejahatanmu sendiri!"

Billy hanya tertawa dingin tanpa merasa bersalah sedikit pun, lalu mengarahkan mulut pistol tepat ke wajah Mama Rey dengan jarak yang sangat dekat. "Selamat bernostalgia di neraka bersama gadismu."

DOR! — peluru melesat tepat ke arahnya. Mama Rey jatuh di atas ubin teras yang dingin, matanya terbuka menatap langit yang cerah namun begitu kejam. Ia tewas seketika di tempat yang selama ini ia harapkan menjadi tempat berlindung dan kedamaian.

Billy menurunkan senjatanya dengan wajah tanpa perasaan, lalu mengeluarkan ponsel dan berbicara singkat dengan nada biasa seakan tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. "Kemarilah. Bereskan semuanya di sini... dan bakar habis rumah ini sampai tidak ada satu pun yang tersisa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!