Arka Wicaksono, 28 tahun, programmer lulusan bootcamp. Hidupnya habis di depan layar komputer — lembur tanpa akhir, gaji pas-pasan, dan mimpi yang sudah lama mati. Sampai suatu malam, jantungnya berhenti di tengah shift ketiga berturut-turut. Mati. Tamat.
Atau begitulah seharusnya.
Arka membuka mata di kamar kos-nya di Bandung. Tahun 2018. Usia 20 tahun. Mahasiswa ITB semester 5.
Dan di saku celananya — sebuah smartphone dari tahun 2026 dengan satu aplikasi yang tidak seharusnya ada: ChatGPT.
AI yang bisa menulis kode sempurna dalam hitungan detik. Merancang produk yang belum pernah dilihat dunia. Menganalisis pasar dengan ketepatan yang melampaui konsultan manapun.
Dengan ingatan masa depan di kepalanya dan AI tercanggih di tangannya, Arka memulai dari nol: menyelamatkan pabrik ayahnya yang hampir bangkrut, membangun platform teknologi yang mengguncang industri, dan diam-diam menyiapkan strategi yang akan membuat dunia berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Membangun Tim
Pull request masuk tiga hari setelah ShieldNet dipublish.
Arka sedang di kelas Algoritma dan Pemrograman ketika notifikasi GitHub muncul di ponselnya. Dia membukanya di bawah meja.
**PR #1:** Refactored encryption module — replaced AES-128 with AES-256-GCM, added IV rotation per session, fixed timing attack vulnerability in authentication layer.
Arka membaca diff-nya. Enam ratus baris. Setiap perubahan presisi, hasil kerja seseorang yang benar-benar memahami kriptografi di level arsitektural. Orang ini menemukan timing attack vulnerability yang bahkan Arka tidak sadari ada di kode ChatGPT.
Username: **ghost_in_warnet**.
Tidak ada foto profil. Tidak ada bio. Repository lain: nol. Tapi contribution graph-nya menunjukkan aktivitas sporadis selama dua tahun—semuanya di fork dari proyek keamanan besar. Contributor yang mengintai di bayang-bayang.
Arka menerima PR dan mengirim pesan lewat GitHub Issues:
*"PR yang sangat solid. Timing attack fix-nya menunjukkan pemahaman mendalam soal side-channel attacks. Siapa kamu?"*
Balasan datang empat jam kemudian.
*"Orang yang penasaran siapa yang bisa menulis framework keamanan selevel ini dari Indonesia. Kode ini lebih baik dari yang dipakai sebagian besar bank di negara ini. Kamu engineer di mana?"*
*"Mahasiswa ITB."*
Jeda lama. Tiga puluh menit.
*"Bohong."*
*"Kopi? Aku di Bandung."*
Jeda lagi. Lima belas menit.
*"Warnet Cyber Galaxy, Jalan Cihampelas. Besok jam 2 siang. Aku yang pakai hoodie hitam."*
---
Warnet Cyber Galaxy ternyata masih ada—salah satu warnet sisa era 2000an yang bertahan karena harga murahnya: Rp 5.000 per jam. AC rusak setengah, monitor CRT campur LCD, bau rokok dan mi instan bercampur di udara pengap.
Arka masuk dan langsung menemukannya. Hoodie hitam tidak membantu—setengah orang di warnet pakai hoodie hitam. Layarnya yang membuat dia mencolok. Di antara anak SMA yang bermain game dan mahasiswa yang download film, ada satu orang yang monitornya menampilkan terminal dengan teks hijau berjalan cepat. Wireshark di satu tab, terminal di tab lain, VS Code di tab ketiga.
Fajar Nugroho. Dua puluh satu tahun. Mahasiswa ITB juga, tapi jurusan Teknik Elektro—bukan Informatika. Kurus, rambut acak-acakan, kantung mata yang menunjukkan kebiasaan begadang kronis. Jari-jarinya bergerak di keyboard dengan kecepatan yang membuat Arka teringat pada dirinya sendiri di malam-malam deployment.
"Fajar?"
Orang itu menoleh. Matanya gelap, tajam, dan langsung menilai—scanning Arka dari atas ke bawah seperti firewall memproses packet.
"Arka Wicaksono?"
"Ya."
"Duduk." Fajar menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Tidak ada basa-basi, tidak ada senyum. Arka menghargai itu.
Dia duduk. Fajar langsung membuka laptopnya sendiri—ThinkPad bekas dengan stiker hackerspace—dan menampilkan repository ShieldNet.
"Gue harus jujur," kata Fajar, suaranya pelan tapi intens. "Gue sudah analisis kode lo selama tiga hari. Dan gue nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Karena ini nggak masuk akal." Fajar menunjuk layar. "Anomaly detection module lo pakai teknik yang gue baru baca di paper IEEE dari MIT—paper yang terbit bulan lalu. Dan lo sudah implementasi jadi working code. Encryption layer lo lebih rapi dari yang dipakai Omnitech untuk Gmail. Dan lo bilang lo mahasiswa?"
"Semester lima."
Fajar menatapnya. Ekspresinya campuran antara frustrasi dan kagum—frustrasi karena dunianya yang logis tidak bisa menjelaskan apa yang dia lihat.
"Lo kerja di mana sebelumnya? Startup? Perusahaan luar negeri? Militer?"
"Nggak pernah kerja."
"Bullshit."
Arka tidak bereaksi. Dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
"Aku banyak baca, banyak eksperimen. Autodidak." Dia menatap Fajar langsung. "Yang penting, kamu melihat kode itu dan bisa improve. Timing attack fix yang kamu kirim menunjukkan pemahaman level yang sangat sedikit orang di Indonesia punya."
Jeda.
"Aku punya proyek," lanjut Arka. "Produk komersial. Platform berita dengan recommendation engine. Sudah MVP. Tapi aku butuh seseorang yang bisa handle security dan infrastructure dari hari pertama. Full commitment."
Fajar bersandar di kursinya. "Gue anak warnet, bro. Gue belajar hacking dari tutorial YouTube dan forum underground. Gue nggak punya sertifikat, nggak punya CV, nggak punya apa-apa kecuali—" dia menunjuk layarnya "—ini."
"Itu lebih dari cukup."
"Lo bahkan belum lihat apa yang gue bisa."
Arka tersenyum tipis. "PR yang kamu kirim ke ShieldNet sudah cukup jadi CV."
Fajar diam. Di warnet yang pengap, suara game dari monitor-monitor lain terdengar seperti white noise.
"Gue harus tanya satu hal," kata Fajar akhirnya.
"Tanya."
"Proyek lo ini—platform berita—apa yang bikin lo yakin itu bisa berhasil? Indonesia udah punya Detik, Kompas, Line Today. Kenapa orang harus pindah ke app baru dari... siapa? Mahasiswa ITB?"
Arka mengeluarkan ponselnya dan membuka KlikNews beta. Dia menyerahkannya ke Fajar.
"Pakai lima menit. Baca beberapa artikel. Lalu bilang pendapatmu."
Fajar mengambil ponsel dengan skeptis. Dia mulai scroll. Membaca satu artikel tentang keamanan siber. Lalu satu lagi tentang perkembangan Linux kernel. Lalu satu tentang competitive programming.
Dua menit berlalu. Fajar belum mengembalikan ponsel.
Tiga menit. Empat menit. Matanya bergerak cepat—membaca, scroll, membaca lagi.
Lima menit.
"Ini..." Fajar mengangkat kepala. Ekspresinya berubah total. "Ini tahu gue suka cybersecurity. Gue nggak masukin preference apa pun. Gimana...?"
"Recommendation engine. Hybrid model—collaborative filtering plus content analysis. Belajar dari perilaku baca real-time."
Fajar menatap Arka. Lalu menatap ponsel. Lalu Arka lagi.
"Siapa yang bikin algoritma ini?"
"Aku."
"Sendirian?"
"Ya."
Fajar menarik napas panjang. Lalu dia melakukan sesuatu yang Arka tidak duga—dia tertawa. Suaranya terdengar seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang selama ini dia cari tanpa sadar.
"Bro," katanya. "Gue udah dua tahun nge-freelance security audit untuk startup-startup kecil. Lima ratus ribu di sini, sejuta di sana. Cukup buat bayar warnet dan makan. Tapi nggak ada satu pun proyek yang bikin gue excited."
Dia mengembalikan ponsel Arka.
"Ini bikin gue excited."
"Jadi?"
"Gue in." Fajar mengulurkan tangan. Tangannya kurus, jari-jarinya panjang—tangan yang terbiasa dengan keyboard, bukan jabatan tangan bisnis. "Tapi gue punya syarat."
"Apa?"
"Gue mau akses penuh ke codebase. Semua. Nggak ada modul yang di-lock dari gue. Kalau gue handle security, gue harus tahu setiap sudut sistem."
Arka berpikir sedetik. Codebase berarti Fajar akan melihat kualitas kode yang seharusnya mustahil untuk satu orang. Tapi Fajar sudah melihat ShieldNet dan menarik kesimpulan sendiri—bahwa Arka adalah prodigy. Lebih baik membiarkan narasi itu bertahan.
"Deal."
Mereka berjabat tangan di warnet yang bau rokok, ditemani soundtrack dari game online yang dimainkan anak SMA di monitor sebelah.
---
Malam itu, Arka kembali ke BandungWorks. Kevin sudah pulang. Ruangan sepi—hanya dia dan dengungan server kecil yang mereka pasang di bawah meja.
Dia membuka laptop dan cek dashboard KlikNews beta. Dua puluh user masih aktif, metrics stabil, recommendation engine berjalan normal.
Lalu dia melihat sesuatu di log server.
Alert dari intrusion detection system. Tiga upaya akses tidak sah dalam enam jam terakhir—semuanya dari IP yang berbeda, tapi pola serangannya identik. Probing port. Mencari celah.
Serangan ini targeted.
Seseorang sudah tahu KlikNews ada. Dan seseorang sedang mencoba masuk.
Arka menatap log itu. Di kehidupan sebelumnya, sebagai programmer biasa, serangan seperti ini akan membuatnya panik. Tapi sekarang—
Sekarang dia punya Fajar Nugroho.
Dia mengirim WhatsApp:
**Arka:** Fajar, cek email. Aku forward server log. Ada tamu yang tidak diundang.
**Fajar:** [membaca 2 menit]
**Fajar:** Port scanning pattern ini systematic. Bukan script kiddie.
**Fajar:** Besok gue setup honeypot. Mau tau siapa yang main-main.
**Fajar:** 😈
Arka meletakkan ponsel. Senyum tipis.
Tim sudah tiga orang. Kevin untuk dunia luar. Fajar untuk pertahanan. Arka untuk segalanya di antaranya.
KlikNews belum launch. Tapi seseorang sudah merasa terancam.
Pertanyaannya: siapa?