Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - APA NYONYA INI MALU?
Kirana Paramitha duduk membisu di kursi dekat jendela vila keluarga Wijaya, kedua tangan menggenggam Gelang Lentera di pergelangannya. Nama "Rangga Adinata" terpampang di bawah ikatan Sumpah Sejiwa yang terpatri tadi malam, dan untuk kesekian kalinya ia menarik napas dalam-dalam. Sesuatu memberitahunya bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar urusan bercerai.
Pria yang semalam ia tolong dalam keadaan linglung itu ternyata bukan orang sembarangan. Panglima Kabut, panglima pertama Kekaisaran Cakrawala, sosok yang selama bertahun-tahun selalu tampil berbalut kabut dan bertopeng naga. Kirana belum bisa membayangkan wajah pria itu saat terjaga dalam keadaan waras; apa gerangan yang akan dilakukannya begitu mengetahui dirinya telah terikat sumpah suci dengan seorang gadis asing.
"Rara, tadi malam... apa dia sempat mengucapkan sesuatu kepadamu?" tanya Ratih dengan suara gemetar, tidak mampu menyembunyikan kegelisahannya. "Setelah sadar dari Masa Api Darahnya, apa dia marah kepadamu? Apa dia sempat mengancammu?"
"Tidak, Bu. Aku bangun lebih dulu dan segera melarikan diri sebelum dia terbangun," jawab Kirana jujur. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap tenang. Malam itu, begitu ia menyadari bahwa pria yang ia tenangkan ternyata adalah Panglima Pertama Kekaisaran, ia tidak berani menunggu sedetik pun di tempat itu.
Ibu dan anak itu saling memandang, mulut keduanya menganga tanpa suara. Beberapa saat lamanya mereka hanya terdiam, mencerna setiap kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa. Lalu tiba-tiba Kirana melompat bangkit dari sofa dengan tekad yang menguat di hatinya.
"Sudahlah, Bu. Apa pun yang terjadi, toh pedang sudah terlanjur menghunjam. Aku akan langsung menghubunginya saja," ucap Kirana berusaha terdengar tegas. "Kalau harus minta maaf, ya kuminta maaf. Kalau harus mengganti rugi, ya kuganti. Kalau dia menghendaki perceraian seketika, biarlah itu terjadi."
Sayangnya, anak naga setampan itu. Rangga memang tampan luar biasa bahkan ketika sedang dilanda krisis; mata yang sayu, wajah yang lembut, tidak heran jika banyak yang memujanya. Namun bagi Kirana, ketampanan itu hanyalah bayangan yang menyesatkan.
Ketampanan memang penting, tetapi nyawa jauh lebih penting! Kirana tidak berniat mati muda karena kesalahan sekecil ini. Lagi pula, ia masih ingin hidup panjang untuk mengabdi dan membalas budi orang tua yang telah membesarkannya.
Dan yang lebih penting lagi, Kirana tidak ingin membebani keluarganya. Biarlah masalah ini ia selesaikan sendiri, sebesar apa pun risikonya. Keluarga Wijaya tidak perlu ikut menanggung ulahnya yang gegabah semalam.
Meskipun mungkin segalanya sudah terlanjur kacau, bukankah setiap kekacauan selalu ada jalan untuk diperbaiki? Kirana menggenggam tangannya sendiri, berusaha menanamkan keyakinan itu ke dalam dadanya yang berdebar-debar.
Ratih yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya menyarankan: "Rara, bagaimana kalau kau kirim pesan dulu kepada pria itu, lalu bicarakan baik-baik? Daripada kau duduk diam dan terus menebak-nebak, lebih baik kau berusaha mencari tahu sikapnya dari awal."
"Um!" Kirana mengangguk setuju. Betul juga, menebak-nebak hanya akan membuatnya semakin gelisah. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah mencari tahu bagaimana sikap Panglima Kabut setelah bangun dan menyadari apa yang terjadi semalam.
Meskipun kedua Gelang Lentera mereka belum saling berteman, Sumpah Sejiwa yang telah terikat jauh lebih kuat daripada sekadar persahabatan. Ikatan itu tidak mungkin dihapus tanpa perceraian resmi, dan dengan begitu Kirana tidak akan kesulitan menemukan nama Rangga di dalam jejaring gema.
Kirana mengerahkan seluruh keberaniannya, lalu mulai menyusun sepucuk pesan untuk Rangga. Jemarinya berhenti di atas huruf-huruf yang berkilau, dan otaknya bekerja keras memilih kata yang paling tepat untuk situasi yang paling rumit dalam hidupnya ini.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menyeretmu masuk ke dalam pernikahan ini." Kirana membatin, menguji kalimat itu di dalam kepala. Namun begitu ia membayangkan kalimat itu terucap, rasanya terlalu blak-blakan, menusuk langsung ke inti persoalan yang belum ia pahami sepenuhnya.
Terlalu langsung, tidak, tidak, tidak! Kirana menggeleng keras dan segera menghapusnya. Kalimat seperti itu justru akan membuat pria itu mengira dirinya menyesal atau bahkan menolak pernikahan yang telah diikat oleh sumpah suci.
"Atau, sebaiknya aku bilang bahwa aku tidak berniat membantumu meredakan krisis; hanya saja kau tampak sangat kesakitan saat Masa Api Darah, dan aku tidak tega melihatnya?" Kirana kembali membatin, menimbang-nimbang. Namun begitu kalimat itu selesai, ia kembali merasa semuanya tidak kunjung tepat.
Itu juga tidak pas. Menyebut-nyebut penderitaan pria itu hanya akan mengingatkannya pada masa-masa rapuhnya, dan siapa tahu ia malah akan semakin marah karena merasa disindir. Kirana menghela napas frustrasi, jarinya tetap menari di atas pesan yang tak kunjung selesai.
---
Di sisi lain, Guruh, roh pendamping yang berdiam di dalam Gelang Lentera Rangga, memperhatikan kotak pesan yang tidak henti-hentinya berubah. Setiap kali kalimat mulai terbentuk, tiba-tiba huruf-huruf itu menghilang lagi sebelum sempat terkirim. Guruh geli melihat tuan kecilnya menunggu dengan sabar.
"Tuan, Nyonya sedang mengirim pesan untuk Tuan!" seru Guruh dengan nada riang, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Sudah lama sekali dia mengetik lalu menghapus terus. Mungkin dia sedang menulis surat yang sangat panjang dan puitis untuk Tuan?"
Rangga yang sedang duduk di dalam kapal terbang menuju ibu kota membuka percakapan antara dirinya dan Kirana. Dengan tenang ia menyandarkan punggung, kedua matanya menatap huruf-huruf gema yang memancar dari gelangnya.
Panca indra yang ia miliki masih sama seperti biasa, namun perangai pria ini telah berubah total. Ketika terbangun dari Masa Api Darah, Rangga kembali menjadi Panglima Kabut yang dingin dan berwibawa, jauh dari sosok kanak-kanak yang semalam berlinang air mata.
Sudut bibirnya terkatup rapat, dan di dalam matanya tersimpan kilau dingin yang membuat siapa pun merasa segan. Meskipun kali ini ia tidak mengenakan topeng naga seperti biasanya, aura yang dipancarkannya tetap membuat orang-orang di sekitarnya tidak berani mendekat sembarangan.
Pandangan Rangga jatuh pada kotak pesan itu. Beberapa saat ia menunggu, lalu menyadari bahwa kata-kata yang sedari tadi diketik pihak lain telah lenyap seluruhnya. Kotak itu kosong, bersih, seolah tidak pernah ada apa pun yang tertulis di dalamnya.
Alhasil, dari pihak Kirana tidak ada satu pun yang terkirim, bahkan sebuah tanda baca pun tidak. Rangga menunggu beberapa detik lagi, dan tetap saja tidak ada yang muncul. Keheningan di dalam kabin hanya diisi oleh Guruh yang tertawa kecil menahan geli.
Guruh akhirnya tidak tahan lagi: "...Nyonya, apa gerangan Nyonya ini sedang merasa malu?" tanyanya dengan nada nakal. "Kalau Nyonya tidak tahu harus menulis apa, bukankah lebih baik langsung mengirim sebuah nama saja? Nama Tuan pasti lebih bermakna daripada seribu kata-kata."
Rangga menundukkan mata setengah, menghalangi kilau dingin yang berkelip di baliknya, lalu berkata dengan suara datar: "Guruh, aku ingin menghadap Baginda sepuluh menit lagi. Percepat perjalanan kita."
"Baik, Tuan!" Guruh tidak berani bermalas-malasan lagi. Jarak menuju Provinsi Kedaton masih tersisa sedikit, dan ia tahu betul tuan kecilnya tidak suka terlambat. Ia memusatkan seluruh perhatiannya untuk mengemudikan kapal terbang menuju istana yang terletak di jantung ibu kota.
Pada menit kesembilan lewat lima puluh detik, kapal terbang itu mendarat dengan mulus di halaman istana. Guruh menghela napas lega, merasa bersyukur tidak sedikit pun ia terlambat dalam menjalankan perintah tuan kecilnya.
Rangga melangkah masuk ke dalam istana dengan langkah yang mantap dan pasti. Para pelayan serta pengawal yang berpapasan dengannya serentak menoleh, tercengang menyaksikan pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Panglima? Panglima tidak mengenakan topeng naga hari ini?" bisik seorang pengawal kepada rekannya, suaranya penuh keterkejutan. "Selama ini Panglima tidak pernah sekalipun memperlihatkan wajahnya di depan umum!"
Bagaskara Adinata pun terkejut saat melihat pamannya muncul tanpa topeng. Namun yang paling membuat Kaisar muda itu cemas bukanlah soal topeng, melainkan kondisi tubuh sang Panglima. Ia berdiri cepat dari singgasananya, menatap pamannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Paman, apa Paman baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bagaskara, mencoba menenangkan diri. "Kemarin Paman tiba-tiba saja hilang tanpa kabar, dan pagi ini Paman muncul tanpa topeng. Aku jadi khawatir."
"Aku memimpin pasukan memusnahkan Gerombolan Belalang Maut di kawasan langit dekat perbatasan," jawab Rangga dengan datar. "Dalam perjalanan pulang, tabib militer di kapal tertular oleh wabah belalang itu, terjadi huru-hara, dan kapal terbang akhirnya jatuh. Tetapi sebelum jatuh, telur-telur belalang yang mengancam itu sudah berhasil kami musnahkan seluruhnya."
Rangga menceritakan semua itu tanpa sedikit pun emosi di wajahnya, seolah peristiwa maut yang ia lalui hanyalah laporan cuaca biasa. Namun Bagaskara tahu betul betapa dahsyatnya pertempuran yang harus dilalui pamannya itu.
Ia mengangguk pelan: "Apa pun yang terjadi, yang penting Paman selamat. Tetapi... soal Masa Api Darah Paman itu..."
Bagaskara telah mendengar dari ajudannya bahwa pamannya ditemukan di sebuah gedung tempat dua keluarga bangsawan setempat tengah menggelar pernikahan. Saat itu Panglima Kabut berada di puncak krisisnya, kehilangan akal seperti kanak-kanak yang tersesat.
Sebagai keponakan, Bagaskara sebenarnya sedikit penasaran. Bagaimana mungkin pamannya yang selama ini selalu waspada bisa tersesat ke tengah perayaan orang asing? Namun ia tidak berani bertanya terlalu dalam.
Rangga menjawab dengan wajah yang tidak berubah: "Baginda, mohon sambungkan dulu dengan Cakra, roh Arsip Agung."
"Baik, Paman." Bagaskara mengangguk, meskipun matanya masih menyimpan rasa ingin tahu yang belum terpuaskan. Ia memberi isyarat kepada para pelayan untuk menutup pintu ruangan.
Dari udara muncul sosok Cakra yang bersinar redup, roh penjaga catatan langit yang menegakkan Hukum Sumpah Sejiwa. Dengan nada yang sangat resmi dan kaku, ia berkata: "Baginda, ada yang bisa saya bantu?"
"Bukan aku yang mencarimu," kata Bagaskara sambil menunjuk ke arah pamannya. "Pamanku yang memanggilmu."
Cakra terdiam beberapa saat, memutar wujudnya yang bercahaya menuju arah Panglima Kabut. Ia tampak kehilangan kata-kata, seolah sedang mencerna sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "......"
Rangga berdiri tenang di hadapannya, menunggu dengan sabar. Bagaskara semakin penasaran; urusan apa gerangan yang membuat pamannya meminta menghubungkan Arsip Agung di tengah kesibukan seperti ini.