NovelToon NovelToon
Mechabest

Mechabest

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Penyelamat / Action
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

​Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.

​Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata-mata Dari Kota Neo

Suasana santai setelah liburan di Pantai Blue Waves masih menyisa di Asrama Pusat Mechabest. Gelak tawa dan cerita konyol tentang Yasing yang kemasukan pasir atau kesialan Alifian yang dihitung secara matematis masih sering menjadi bahan lelucon di kantin markas. Namun, kedamaian di Kota Mecha selalu menyimpan kejutan yang tak terduga.

Pagi itu, di batas terluar Kota Mecha—sebuah kawasan pelabuhan udara tempat kapal-kapal kargo antarkota melintas—kesibukan berjalan seperti biasa. Petugas sistem otomatis lalu lalang mengawasi kontainer-kontainer data dan bahan bakar yang baru tiba dari wilayah tetangga.

Di antara lalu lalang pekerja dan lalu lintas kapal kargo yang padat, sebuah kapal melayang berukuran sedang dengan lambung berwarna perak mengkilap mendarat di Dok 4. Kapal tersebut tidak membawa lambang Dark Mecha maupun simbol Kota Mecha. Di sisi lambungnya, hanya terukir lambang geometri yang sangat presisi: sebuah lingkaran berlapis tiga dengan pendar garis biru neon.

Lambang dari Kota Neo—sebuah megapolitan futuristik yang terkenal akan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pertahanan independennya.

Dari balik pintu hidrolik kapal yang terbuka pelan, melangkah keluar seorang pemuda tinggi berjaket trench coat abu-abu terang dengan aksen garis biru menyala. Rambutnya hitam pendek rapi, dan pandangan matanya sangat dingin, tajam, serta penuh kalkulasi. Di pergelangan tangan kanannya, terpasang sebuah perangkat gelang tipis bertuliskan Neo-Tracker.

Nama pemuda itu adalah Rian. Dia bukan sekadar pendatang atau pedagang antarkota. Rian adalah agen intelijen tingkat tinggi alias mata-mata rahasia yang dikirim langsung oleh Dewan Penguasa Kota Neo.

Tugas Rian hanya satu: menyelidiki kebenaran di balik hancurnya kekuatan Sang Omega dan bagaimana sekumpulan remaja di Kota Mecha—yang dikenal sebagai Mechabest—mampu menumbangkan teknologi Dark Mecha Prime.

"Suhu lingkungan stabil. Kubah energi Kota Mecha berada dalam kapasitas sembilan puluh delapan persen," bisik Rian pelan pada perangkat mikro yang menempel di balik kerah jaketnya.

[Sinyal terhubung, Agen Rian,] suara komputer AI internal Kota Neo bergema halus di telinganya. [Target utama Anda adalah mengumpulkan data biometrik generasi baru Mechabest, terutama struktur modul hewan yang diciptakan oleh Profesor Einstein. Hindari kontak langsung.]

"Diterima. Penyusupan dimulai," jawab Rian datar.

Dengan langkah yang sangat tenang, Rian melangkah melewati pemindai keamanan pelabuhan udara. Perangkat gelang Neo-Tracker di tangannya membiaskan sinyal biometriknya secara otomatis, membuat sistem keamanan Kota Mecha membaca Rian sebagai "Turis Akademis" biasa dari wilayah netral.

Sementara itu, di SMA Garuda Mecha, jam istirahat kedua baru saja dimulai.

Yasing sedang duduk bersandar di bangku taman sekolah sambil memutar-mutar bolpoin di jarinya. Di sampingnya, Maul sedang menikmati roti cokelat dengan ekspresi muka plenger khasnya yang tidak pernah berubah.

"Ul, lu merasa ada yang aneh gak sih hari ini?" tanya Yasing tiba-tiba, menatap ke arah gerbang sekolah yang berada di kejauhan.

Maul mengunyah rotinya perlahan, menelan, lalu menoleh ke Yasing. "Aneh gimana, Sing? Roti cokelat kantin hari ini rasanya tetap sama kok. Nggak ada yang aneh."

"Bukan roti lu, Bambang!" semprot Yasing gemas. "Maksud gua... perasaan gua dari tadi pagi kayak ada yang memperhatikan kita dari jauh. Kayak ada aura dingin gitu."

"Berdasarkan analisis sensorik," sela Alifian yang mendadak muncul dari balik pohon taman sambil membawa dua buku tebal, "perasaan diawasi bisa disebabkan oleh efek residual pasca-pertempuran atau yang biasa disebut paranoia taktis ringan. Tingkat kecenderungannya mencapai enam puluh persen pada individu impulsive seperti Yasing."

Sahla yang berjalan di belakang Alifian ikut tertawa kecil. "Tuh kan! Lu cuma kebayangan musuh terus, Yasing! Udah ah, mending kita dipanggil Teh Caca ke markas habis pulang sekolah nanti. Katanya ada penyesuaian modul baru buat Mecha Watch kita."

Namun, Yasing tidak sepenuhnya salah.

Jauh di atas atap gedung pertokoan yang berada tepat di seberang SMA Garuda Mecha, Rian berdiri tegap di balik bayangan papan reklame digital. Mata kirinya terpasang sebuah lensa kontak pintar yang bisa memperbesar pandangan hingga jarak beberapa kilometer.

Melalui lensa tersebut, Rian sedang merekam seluruh gestur, frekuensi denyut nadi, serta sinyal energi pasif yang terpancar dari Mecha Watch milik Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla.

[Data biometrik awal terdeteksi,] suara AI Kota Neo berbisik di telinganya. [Empat subjek generasi baru Mechabest. Fluktuasi energi Inti Hewan menunjukkan kestabilan tinggi. Menyimpan rekaman profil: Singa/Beruang (Yasing), Badak/Banteng (Maul), Elang/Burung Hantu (Alifian), dan Cheetah/Kelinci (Sahla).]

"Menarik..." gumam Rian pelan, mengamati Yasing melalui lensa pintarnya. "Anak-anak sekolah biasa ini yang berhasil membalikkan gelombang invasi tiruan? Kelihatannya tidak ada yang istimewa... kecuali sinyal ikatan energi mereka yang tidak biasa."

Rian menekan tombol pada gelangnya. Sebuah miniatur draf canggih berukuran sekecil lalat meluncur dari lengannya, terbang tanpa suara menembus udara menuju ke arah area sekolah, membawa mikro-sensor pemindai data tingkat tinggi.

Sore harinya, di Markas Pusat Mechabest.

Ruang Komando Utama tampak tenang. Teh Caca dan Opik sedang memeriksa konsol jaringan bersama Prof. Einstein, sementara Pasya dan Kelay baru saja tiba dari sekolah mereka.

Yasing, Maul, Alifian, dan Sahla melangkah masuk ke ruangan, melemparkan tas sekolah mereka ke sofa santai.

"Halo Prof! Halo Teh Caca!" sapa Sahla riang.

"Gimana modul barunya, Prof? Udah siap dipasang di jam gua?" tanya Yasing bersemangat sambil memamerkan pergelangan tangannya.

Namun, sebelum Prof. Einstein sempat menjawab, tiba-tiba lampu indikator di konsol utama milik Opik berkedip-kedip halus berwarna biru pudar.

BEEP... BEEP... BEEP...

Opik mengerutkan dahi. Tangannya dengan cepat menari di atas keyboard holografik. "Bentar... ada frekuensi asing yang sangat tipis masuk ke wilayah udara markas."

Teh Caca langsung berdiri siaga. "Sinyal dari mana, Opik? Dark Mecha lagi?"

"Bukan," jawab Opik heran, pandangannya meneliti grafik sinyal yang tidak biasa di layarnya. "Bukan enkripsi Dark Mecha atau sisa data Omega. Sinyal ini sangat rapi, sangat presisi, dan menggunakan protokol enkripsi tingkat tinggi berbasis AI murni... Ini sinyal dari teknologi Kota Neo!"

"Kota Neo?!" Bang Pasya terbelalak kaget. "Kota yang super ketat dan gak pernah ikut campur urusan kota lain itu?!"

"Kenapa mereka mengirim sinyal pemindai ke markas kita?" tanya Kelay cemas.

Di saat yang sama, mikro-drone sekecil lalat yang dikirim oleh Rian melayang halus di dekat kisi-kisi ventilasi atas Ruang Komando, merekam seluruh tampilan layar dan percakapan para anggota Mechabest.

Namun, Rian meremehkan kepekaan salah satu anggota generasi baru.

Maul, yang sedang berjalan menuju kulkas markas buat mengambil minuman dingin, mendadak menghentikan langkahnya. Mata datarnya melirik pelan ke arah sudut atas ventilasi. Tanpa ada yang menyadari, gerak refleks Mode Badak milik Maul merasakan adanya getaran frekuensi mikro di udara.

SRET!

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Maul melemparkan kaleng minumannya yang kosong ke arah ventilasi dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa!

CRASH!

Kaleng kosong itu menghantam tepat pada mikro-drone milik Rian hingga hancur berkeping-keping!

"Eh?! Ada apa, Ul?!" jerit Yasing kaget melihat reaksi mendadak Maul.

Maul berjalan mendekati serpihan robot mikro yang jatuh di lantai, lalu mengambilnya dengan dua jari. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Ada lalat besi aneh lagi ngintip kita."

Opik langsung membesarkan gambar serpihan itu di layar utama. "Itu Micro-Spy Drone milik militer Kota Neo! Seseorang sedang memata-matai kita dari dalam kota!"

Jauh di atas atap gedung pertokoan, lensa pintar Rian mendadak mengalami blackout saat sinyal mikro-drone miliknya terputus total.

Rian menarik napas pelan, mengukir senyum tipis yang dingin di bibirnya.

"Ternyata refleks mereka lumayan juga... terutama anak bermuka datar itu," bisik Rian. Dia membetulkan kerah jaket trench coat-nya dan berbalik arah. "Informasi awal sudah cukup. Saatnya melangkah ke tahap pengamatan langsung."

1
Ayyasying
GG BANGET BANG! GACORRR!!N/Drool//Drool//Smile/
Dwi Agustina
keren banget ceritanya 👍👍
Dwi Agustina
keren Abang, lnajutkan berkarya 💪💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!