NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:17
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Anak Nakal dan Sepiring Nasi

Beberapa hari setelah hujan, matahari kembali menyengat Girimulyo.

Laras sedang menyusun dua puluh bungkus nasi di meja bambu halaman. Nasi itu pesanan buruh yang memperbaiki jalan dusun. Rukmini membungkus sambal, sedangkan Sekar mengikat setiap bungkus dengan karet.

“Dua puluh bungkus, dua puluh pembayaran,” Laras mengingatkan. “Jangan sampai hitungannya tertukar.”

“Aku sudah menulis nama pemesan.” Sekar mengangkat kertas kecil dengan bangga.

Arya pergi membantu memperbaiki atap rumah Jarwo. Guntur berada di kebun belakang. Karena pesanan harus diambil sebelum tengah hari, pintu pagar bambu dibiarkan terbuka.

Ucok muncul tanpa salam.

Anak laki-laki Bu Marni itu langsung berjalan ke meja. Tangannya meraih satu bungkus nasi.

“Ucok, itu pesanan orang,” kata Sekar.

“Aku lapar.”

“Pulang dan minta makan pada ibumu.”

Ucok sudah membuka bungkusnya. Ia mengambil ayam goreng, menggigit sekali, lalu melempar sisanya karena potongannya kecil.

“Tidak enak.”

Rukmini berdiri. “Nak, jangan dibuang. Makanan tidak boleh diperlakukan begitu.”

Ucok malah mengambil bungkus kedua.

Sekar menangkap pergelangan tangannya. “Sudah.”

Anak itu menjerit seolah dipukul. Ia menarik tangan, menyenggol baskom sambal, lalu menendang kaki meja. Tiga bungkus nasi jatuh ke tanah. Minyak dan sambal merembes melalui daun pisang, bercampur debu.

Laras menahan napas. Nilainya tidak besar bagi orang Jakarta, tetapi bagi mereka, tiga bungkus berarti beras, minyak, ayam, dan tenaga sejak subuh.

Ia berjalan mendekat tanpa meninggikan suara. “Ucok, letakkan bungkus itu.”

“Tidak mau!”

“Kamu sudah merusak empat pesanan. Kalau masih mengambil satu, ibumu harus mengganti lima.”

Ucok menjulurkan lidah. “Ibu bilang orang kota itu kaya. Kalian pelit.”

Sekar membelalak. Rukmini memegang bahunya sebelum gadis itu membalas.

Laras mengambil bungkus dari tangan Ucok dan menaruhnya di meja. “Kalau lapar, minta baik-baik. Kalau mengambil tanpa izin dan merusak milik orang, itu bukan lapar. Itu perbuatan salah.”

Ucok menjatuhkan diri ke tanah dan meraung.

Tangisannya menarik beberapa tetangga ke pagar. Bu Marni datang paling akhir, membawa gayung di satu tangan. Begitu melihat anaknya berguling, ia membuang gayung dan berlari.

“Ucok! Siapa yang memukulmu?”

“Tante Sekar pegang tanganku! Mereka tidak kasih aku makan!”

Bu Marni langsung menunjuk wajah Sekar. “Beraninya orang dewasa mengeroyok anak kecil!”

“Tidak ada yang mengeroyok,” jawab Sekar. “Dia masuk, mengambil nasi, lalu menendang meja.”

“Namanya juga anak-anak! Apa salahnya memberi sepiring nasi?”

Laras menunjuk empat bungkus rusak di tanah dan bungkus kelima yang telah dibuka. “Yang ia ambil bukan sepiring nasi di dapur kami. Itu pesanan orang. Kami sudah menegurnya baik-baik.”

Bu Marni berkacak pinggang. “Jadi kamu lebih sayang uang daripada anak tetangga?”

“Saya lebih memilih mengajari anak membedakan meminta dan mengambil.”

Ucok berhenti menangis sejenak untuk melihat ibunya. Ketika Bu Marni kembali mengelus kepalanya, ia meraung lebih keras.

Orang-orang mulai berbisik. Seorang ibu yang ikut memesan nasi mengenali bungkus di tanah.

“Itu pesanan suamiku,” katanya. “Kalau terlambat, buruh di jalan makan apa?”

Bu Marni mendelik. “Kamu membela pendatang?”

“Aku membela nasi yang sudah kubayar.”

Laras meminta Sekar memisahkan semua bungkus yang mungkin terkena tanah. Ia tidak mau mempertaruhkan kebersihan hanya demi mengurangi kerugian.

“Ibu, tolong goreng telur,” katanya kepada Rukmini. “Kita ganti lauk yang rusak. Sekar, hitung ulang.”

Ketenangan mereka membuat tuduhan Bu Marni terdengar makin kosong.

Namun perempuan itu belum menyerah. Ia menarik Ucok berdiri dan memamerkan bekas merah tipis di pergelangan anaknya.

“Lihat! Mereka menyakiti anakku.”

“Bekas itu muncul karena dia menarik tangan saat Sekar mencegahnya menjatuhkan makanan lagi,” kata Laras. “Ada tiga orang yang melihat dari awal.”

“Semua keluargamu sendiri.”

“Bu Sari di pagar sudah ada saat bungkus pertama dibuka,” sahut Rukmini.

Bu Sari mengangguk ragu. “Saya memang lihat Ucok mengambil dua. Tidak ada yang memukul.”

Bu Marni mengubah sasaran. “Sejak keluarga kalian datang, kampung ini tidak tenang. Rebutan air, sekarang anak kecil dibuat menangis. Kalian pikir karena pernah tinggal di Menteng, kalian boleh mengatur semua orang?”

Laras menatapnya lurus. “Di sumber air, Ibu datang belakangan dan menendang tanda antrean. Hari ini, anak Ibu masuk tanpa izin dan merusak pesanan. Yang saya atur hanya milik rumah saya sendiri.”

Beberapa orang mengangguk. Bisikan bergeser.

Bu Marni melihat perubahan itu dan segera meninggikan suara. “Baik! Kita ke Pak Kades. Biar semua tahu keluarga siapa yang suka menindas anak!”

Ia menyeret Ucok ke jalan sambil memanggil suami dan kerabatnya. Dalam waktu singkat, orang-orang yang tidak menyaksikan kejadian awal ikut berkumpul karena penasaran.

Sekar berbisik, “Dia mau membuat kita terlihat bersalah karena jumlah mereka lebih banyak.”

“Jumlah orang tidak mengubah empat bungkus nasi yang rusak,” jawab Laras.

Guntur keluar dari kebun. Wajahnya mengeras melihat kerumunan, tetapi Laras meminta beliau tetap dekat Rukmini. Ia sendiri menyimpan kertas pesanan, menghitung kerugian, lalu meminta Bu Sari dan pemesan lain mengingat apa yang mereka lihat.

Bu Marni berdiri di tengah jalan, berteriak bahwa anaknya dipukul dan dibiarkan kelaparan. Ucok sudah tidak menangis. Anak itu justru memakan ayam dari bungkus pertama sambil menonton ibunya.

“Ayo ke rumah Pak Waluyo sekarang!” seru Bu Marni.

Laras hendak menjawab ketika suara sepeda motor berhenti di ujung jalan.

Arya turun. Di tangannya masih ada palu milik Jarwo. Ia melihat makanan yang hancur, pergelangan Ucok, lalu Sekar yang menahan marah. Tatapannya berhenti pada Laras.

“Kamu tidak apa-apa?”

“Aku tidak disentuh.”

Baru setelah mendapat jawaban itu Arya menghadap kerumunan.

Bu Marni segera maju. “Bagus kamu datang. Istrimu dan adikmu mengeroyok anakku hanya karena sepiring nasi!”

Arya menaruh palu di atas pagar, jauh dari tangannya. Ia berdiri di depan Laras, tidak mengancam siapa pun, tetapi jalan sempit mendadak sunyi.

“Kalau ingin menghadap Pak Kades,” katanya datar, “kita pergi bersama saksi dan barang buktinya.”

Bu Marni membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Arya mengambil empat bungkus nasi yang rusak, menaruhnya dalam baskom, dan menyerahkannya kepada Sekar. Setelah itu ia mengulurkan tangan kepada Laras agar istrinya tidak perlu melangkahi tanah becek di depan pagar.

“Tidak ada yang menghapus jejak dan tidak ada yang menambah cerita,” katanya kepada semua orang. “Pak Waluyo akan mendengar kejadian dari awal.”

Kerumunan mulai bergerak menuju rumah kepala desa.

Bu Marni berjalan paling depan sambil terus mengomel. Laras berada di belakang Arya, membawa catatan pesanan. Ucok mengikuti ibunya dengan mulut berminyak dan sisa ayam masih tergenggam.

Kali ini, Bu Marni tidak hanya menantang keluarga yang dianggapnya sedang jatuh.

Ia juga membawa sendiri bukti kebohongannya ke hadapan kepala desa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!