NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8

Berburu Hantu di Jaringan

Dua hari setelah cincin itu berpindah tangan, layar utama ruang teknis Prima Aeroteknik menampilkan dua huruf yang membuat Nathan kehilangan kesabaran.

JK.

“Jelaskan dari awal,” katanya.

Kepala keamanan jaringan berdiri di depan meja panjang. Tiga teknisi lain duduk kaku di hadapan laptop masing-masing. Tak seorang pun berani melihat Nathan terlalu lama.

“Jalur yang kita tanam di Awan Group sudah diputus, Pak. Semua komponen dibersihkan tanpa merusak sistem utama.”

“Itu sudah ada dalam laporan. Apa yang belum kalian tulis?”

Pria itu menelan ludah. “Sebelum memutus jalur, orang tersebut memasang pelacak balik.”

Nathan menyilangkan tangan. “Sejauh mana?”

“Belum sampai ke server inti Prima. Tapi dia sempat mengikuti jalur penghubung dan membaca sebagian identitas jaringan.”

“Sebagian?”

Salah satu teknisi menampilkan catatan yang tertinggal. Di akhir laporan pembersihan Awan Group, hanya ada tanda tangan singkat.

JK.

Nama itu pernah memenuhi forum-forum tertutup tiga tahun lalu. Peretas yang tidak pernah menampilkan wajah, menolak hampir semua wawancara, dan menyelesaikan pekerjaan seolah bisa melihat celah yang luput dari tim berisi puluhan orang. Lalu JK menghilang tanpa penjelasan.

Sekarang orang itu kembali tepat di jaringan yang menyimpan kepentingan Nathan.

“Kenapa pelacaknya tidak terdeteksi sejak awal?”

“Karena dia tidak mencoba masuk, Pak,” jawab teknisi. “Dia menunggu jalur kita bergerak lebih dulu, lalu mengikuti arah pulangnya.”

Nathan memukul meja dengan telapak tangan. Gelas kopi di ujung meja bergetar.

“Kalian membiarkan seseorang menempel pada jalur kita dan baru sadar setelah dia pergi?”

Ruangan itu hening.

Kemarahan Nathan bukan sekadar karena akses ke Awan Group sudah hilang. Jalur tersebut dibangun berbulan-bulan untuk memantau pergerakan Marcus dalam perebutan kontrak penerbangan. Kini seseorang bukan hanya memutusnya, tetapi juga membalik posisi Nathan dari pemburu menjadi sasaran.

Ia tidak suka lawan yang tidak terlihat.

Tablet di meja bergetar. Panggilan dari pusat operasi Angkasa Air masuk, membawa masalah lain yang masih berhubungan dengan Awan Group.

“Kapten, jadwal tender perawatan armada berubah,” lapor seorang manajer dari layar. “Awan mengajukan penawaran baru pagi ini. Angkanya hampir persis menutup keunggulan kita.”

“Apakah dokumen Prima bocor?”

“Belum ada bukti. Tapi waktu perubahan mereka terlalu tepat.”

Nathan melihat peta akses sekali lagi. Jalur yang ia tanam di Awan semula digunakan untuk mengetahui apakah Marcus bergerak mengincar kontrak utama Halim Group. Kini jalur itu sudah hilang, sementara penawaran Awan berubah sebelum tim Angkasa sempat mengambil keputusan.

“Batasi akses dokumen tender,” perintah Nathan. “Pisahkan data operasi Angkasa dari server proyek Prima. Semua perubahan harus memakai persetujuan dua tingkat.”

“Baik, Kapten.”

Panggilan berakhir. Satu celah yang dibuka Marcus bisa menyentuh jadwal armada, biaya perawatan, dan posisi Angkasa di pasar. Nathan tidak berniat menunggu sampai ancaman tak terlihat itu menjadi kerugian nyata.

Pintu ruang teknis terbuka. Reno Siawira masuk tanpa mengetuk, membawa dua map dan ekspresi yang terlalu santai untuk suasana di dalam.

“Aku dengar hantu lama muncul lagi.”

Nathan menatapnya tajam. “Kalau datang cuma untuk bercanda, keluar.”

Reno menarik kursi. “Aku datang bawa informasi. Marcus memasang penawaran audit darurat beberapa hari lalu. Bayarannya besar dan dikirim ke jaringan lama yang biasa dipakai klien JK.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Salah satu calon penyedia keamanan juga menawari kita kerja sama. Dia kesal karena kontraknya diambil dalam hitungan menit.” Reno membuka map pertama. “Awan Group menyewa JK. Setelah itu, pintu kita hilang. Nggak perlu jadi jenius untuk menghubungkan keduanya.”

Nathan memandang garis waktu di layar. Semua memang mengarah pada Marcus. Paman keduanya tahu Prima telah lama mengawasi Awan Group. Ia punya uang, alasan, dan akses untuk mencari ahli terbaik.

Kesimpulan itu bukan tebakan kosong.

Hanya saja Nathan tidak tahu ada satu orang lain yang memiliki alasan lebih pribadi untuk menyentuh jalur Prima.

“Hubungi Marcus,” perintah Nathan.

Sambungan video dibuka dari ruang rapat. Wajah Marcus muncul beberapa detik kemudian, dengan latar jendela tinggi kantor Awan Group.

“Ada apa?” tanyanya dingin.

“Kau menyewa JK.”

Marcus tidak terlihat terkejut. “Aku menyewa orang untuk membersihkan sistem perusahaanku.”

“Orangmu memasang pelacak ke jaringan Prima.”

“Kalau jaringanmu tidak masuk ke perusahaanku, pelacak itu tidak akan menemukan jalan pulang.”

Reno mengangkat alis, tetapi menahan senyum.

Rahang Nathan menegang. “Kau sedang membuka perang.”

“Aku hanya mengganti kunci rumahku.” Marcus mendekat ke kamera. “Kalau tanganmu terjepit di pintu, jangan menyalahkan tukang kuncinya.”

Sambungan terputus.

“Dia nggak menyangkal,” ujar Reno.

“Karena dia ingin aku tahu.”

“Atau karena dia memang nggak peduli.”

Nathan mengabaikan komentar itu. Marcus jelas melindungi JK sebagai aset baru. Menemukan identitas peretas tersebut berarti bukan hanya menutup ancaman, tetapi juga merebut keunggulan yang baru saja dibeli Awan Group.

Cheryl masuk dari pintu samping membawa tablet. Ia telah menunggu di ruang kerja sebelah sejak rapat dimulai.

“Aku dengar suaramu sampai luar,” katanya pelan. “Masalahnya separah itu?”

“Bisa ditangani.”

Cheryl melihat tanda tangan JK di layar. “Orang ini sengaja menantangmu?”

“Dia dibayar Marcus.”

“Tetap saja, dia memilih meninggalkan nama.” Cheryl berdiri di sisi Nathan. “Bisa jadi bukan cuma soal Awan. Mungkin ada orang yang memang ingin menyerang Prima atau menjatuhkanmu.”

Reno meliriknya. “Kalau mau menyerang, dia bisa merusak sistem. Nyatanya dia cuma membersihkan jaringan kliennya.”

“Pelacak balik bukan bagian dari membersihkan,” balas Cheryl. “Aku cuma nggak mau Nate meremehkan ancaman.”

Nada suaranya penuh perhatian. Cheryl sendiri tidak tahu siapa JK. Ia hanya tahu setiap musuh Nathan memberinya alasan untuk berdiri lebih dekat, terlihat sebagai orang yang memahami beban laki-laki itu.

Nathan menatap peta koneksi di layar. Satu jalur terputus di tengah, menyisakan bayangan arah yang tak bisa dikejar timnya.

“Cari semua akun perantara yang pernah dipakai JK,” katanya kepada kepala keamanan. “Periksa pola kontrak lama, pembayaran, bahasa, waktu aktif. Jangan sentuh sistem Awan lagi. Aku mau orangnya, bukan perang terbuka.”

“Batas biaya, Pak?”

“Tidak ada.”

Reno bersiul pelan. “Kamu benar-benar tersinggung.”

“Aku tidak suka ada orang masuk ke wilayahku tanpa terlihat.”

“Lucu.” Reno menyandarkan punggung. “Biasanya orang yang paling dekat justru paling sulit kelihatan.”

Nathan menoleh. “Maksudmu?”

“Nggak ada.” Reno mengangkat kedua tangan. “Cuma filosofi pagi.”

Nathan kembali menatap tanda tangan JK.

Di kepalanya, semua jalur mengarah kepada Marcus dan Awan Group. Tak sekali pun terlintas bahwa orang yang diburunya baru saja menjual cincin kawin mereka, melunasi satu utang, dan tidur di kamar tamu sebuah apartemen sewa.

“Temukan JK,” ulangnya.

Di layar, dua huruf itu tetap dingin dan tidak menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!