Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Menulis
Beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka.
Rafael keluar dengan kemeja hitam dan celana panjang yang baru saja dibawakan Davin. Rambutnya masih sedikit basah, sementara wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa saat yang lalu.
Ia mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah... sudah lebih baik."
Di sisi lain, Zilia tampak sibuk menatap layar ponselnya. Sesekali jemarinya mengetik balasan pesan dari Rara dan Edo yang sejak tadi menanyakan kabarnya.
Rafael memperhatikan gadis itu tanpa berkedip.
Kamar bernuansa putih dengan aroma bunga melati itu terasa begitu nyaman.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia memijat pelipisnya pelan.
"Aku benar-benar hampir membuat masalah besar."
Rafael menggeleng kecil, lalu bergumam dalam hati.
"Kalau tadi aku benar-benar kehilangan kendali... mungkin aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
Keheningan menyelimuti kamar.
Entah mengapa, suasana itu terasa begitu canggung.
Rafael berdehem pelan.
"Ehem..."
Zilia menoleh.
"Hm? Sudah selesai gantinya?"
"Iya."
"Syukurlah."
Hening lagi.
Rafael memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Maaf... aku jadi merepotkanmu."
"Gak apa-apa."
"Lagipula, kamu juga korban."
Rafael mengangguk pelan.
Tatapannya kembali menyapu seisi kamar.
Di atas meja belajar terdapat beberapa buku kuliah yang tersusun rapi.
Di sudut ruangan ada foto Zilia bersama Ibu Retno saat masih tinggal di desa.
Sementara di rak kecil dekat tempat tidur, terdapat beberapa tanaman hias mungil.
"Kamarmu... nyaman."
Zilia tersenyum tipis.
"Aku juga baru menempatinya."
"Belum terbiasa."
Rafael terkekeh pelan.
"Kalau begitu, kita sama."
"Maksudnya?"
"Aku juga belum terbiasa."
"Terbiasa apa?"
Rafael mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Terbiasa membayangkan..."
"...kalau suatu hari nanti benar-benar menjadi suamimu."
Ucapan itu membuat wajah Zilia langsung memerah.
"Kak Rafael!"
"Aku cuma bercanda."
"Ih, gak lucu."
Rafael tertawa kecil.
"Maaf."
"Aku hanya ingin mencairkan suasana."
Zilia berdecak pelan, meski tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.
Suasana yang semula tegang perlahan berubah lebih ringan.
Rafael kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.
"Sepertinya aku harus kembali ke bawah."
"Kalau terlalu lama di sini..."
"...orang bisa salah paham."
Zilia mengangguk setuju.
"Iya."
"Tunggu sebentar."
Zilia membuka pintu kamar sedikit, lalu mengintip ke lorong.
Setelah memastikan keadaan sepi, ia menoleh kepada Rafael.
"Aman."
Rafael berjalan mendekati pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak.
"Terima kasih, Zilia."
"Bukan cuma karena sudah menolongku."
"Tapi juga..."
"...karena malam ini kamu memilih mempercayaiku."
Zilia mengangguk pelan.
"Aku percaya sama orang yang berusaha menjaga dirinya sendiri, bahkan saat sedang berada dalam kondisi terburuk."
Kalimat itu membuat Rafael tersenyum tulus.
"Semoga kepercayaan itu tidak pernah hilang."
Setelah itu, Rafael membuka pintu perlahan dan keluar dari kamar.
Tanpa mereka sadari, dari ujung lorong lantai dua, sepasang mata tengah memperhatikan kepergian Rafael dengan tatapan tajam.
Lora.
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Zilia..."
"Aku tidak akan membiarkan Kak Rafael benar-benar jatuh hati kepadamu."
Tekadnya semakin kuat.
Malam itu, rasa iri di dalam hati Lora telah berubah menjadi obsesi yang jauh lebih berbahaya.
Menulis
Baru beberapa langkah meninggalkan kamar Zilia, Rafael menghentikan langkahnya.
"Lega juga akhirnya bisa keluar tanpa ada yang curiga," gumamnya pelan.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik.
"Kaak Rafael!"
Suara yang sangat dikenalnya membuat Rafael memejamkan mata sesaat.
"Lora lagi..."
Lora berlari kecil menghampiri Rafael. Wajahnya dipenuhi raut penyesalan, tetapi sorot matanya masih menyimpan harapan.
"Kak Rafael... maafin Lora."
Rafael tetap berdiri tanpa menoleh.
"Lora."
"Aku benar-benar minta maaf."
"Lora nggak bermaksud bikin Kak Rafael seperti tadi."
Rafael akhirnya berbalik.
Tatapannya dingin.
"Kamu yakin?"
Lora langsung menundukkan kepala.
"Lora cuma... cuma ingin Kak Rafael lebih dekat sama Lora."
"Itu bukan alasan."
"Tapi Lora sayang sama Kak Rafael."
"Lora!"
Suara Rafael terdengar lebih tegas.
"Perasaanmu bukan pembenaran untuk melakukan hal yang membahayakan orang lain."
Lora kembali mendekat.
Dengan manja, ia meraih lengan Rafael.
"Kak... jangan marah sama Lora, ya."
"Lora janji nggak akan ngulang lagi."
Rafael langsung melepaskan tangan Lora.
"Jangan sentuh aku."
Lora kembali memegang ujung lengan bajunya.
"Please, Kak."
"Lora benar-benar minta maaf."
Rafael mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah cukup."
"Tapi—"
"Aku bilang cukup!"
Suara Rafael yang meninggi membuat Lora sontak terdiam.
"Apa kamu tahu apa yang hampir terjadi tadi?"
"Kalau aku benar-benar kehilangan kendali, bukan cuma aku yang hancur."
"Nama baik keluarga kita juga ikut hancur."
"Lora..."
"Jangan pernah mengulanginya lagi."
Lora menggigit bibir bawahnya.
Air matanya mulai mengalir.
"Apa Kak Rafael benar-benar benci sama Lora?"
Rafael mengembuskan napas panjang.
"Bukan benci."
"Tapi aku sangat kecewa."
"Sejak kecil aku menganggapmu seperti adik sendiri."
"Justru karena itu, aku tidak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Lora.
"Adik..."
Jadi selama ini...
Di mata Rafael, dirinya hanya sebatas adik.
Tak lebih.
Lora menggeleng pelan.
"Nggak..."
"Lora nggak mau jadi adik."
"Lora maunya jadi istri Kak Rafael."
Rafael mengusap wajahnya kasar.
Rasa geram mulai memenuhi dadanya.
"Lora."
"Dengarkan aku baik-baik."
"Aku tidak pernah memberikan harapan kepadamu."
"Dan aku tidak akan pernah mengubah perasaanku hanya karena kamu memaksa."
"Lalu bagaimana dengan Zilia?"
"Apa bedanya dia denganku?"
Rafael menatap lurus ke mata Lora.
"Bedanya..."
"...aku menghormatinya."
"Aku percaya kepadanya."
"Dan dia juga menghormatiku."
"Hubungan dibangun dengan saling percaya."
"Bukan dengan tipu daya."
Ucapan itu membuat dada Lora semakin sesak.
Ia mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi..."
"...Kak Rafael mulai menyukainya?"
Rafael terdiam beberapa saat.
Ia tidak menjawab pertanyaan itu.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Lora tersenyum pahit.
"Aku mengerti sekarang."
"Mulai hari ini..."
"...sainganku bukan cuma pertunangan."
"Tapi juga hati Kak Rafael."
Tanpa menunggu jawaban, Lora berbalik dan berjalan pergi.
Air matanya terus mengalir.
Di balik tangis itu, perlahan tumbuh tekad yang semakin berbahaya.
Jika permintaan maaf tidak mampu mengembalikan perhatian Rafael...
Maka ia akan mencari cara lain untuk merebut pria itu, apa pun risikonya.
Menulis
Rafael baru saja melangkah keluar menuju balkon samping mansion ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Tunggu."
Rafael menoleh.
Vio berdiri beberapa meter di belakangnya.
Tatapan keduanya langsung bertemu.
Suasana yang semula tenang berubah menjadi tegang.
Rafael memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Masih ada yang ingin dibicarakan?"
Vio melangkah mendekat.
"Aku ingin bicara soal Zilia."
Rafael tersenyum tipis.
"Sampai sekarang masih soal dia?"
"Jawab saja."
"Oke."
"Apa?"
Vio menarik napas panjang sebelum berkata dengan nada tegas,
"Aku minta sama kamu..."
"...batalkan pertunanganmu dengan Zilia."
Rafael mengangkat sebelah alisnya.
"Alasannya?"
"Karena Zilia hanya milikku."
Kalimat itu justru membuat Rafael tertawa pelan.
Tawanya tidak keras, tetapi cukup membuat Vio semakin kesal.
"Lucu."
"Apa yang lucu?"
"Kamu mengatakan 'milikku'..."
"...padahal kamu sendiri sudah menjadi suami perempuan lain."
Rahang Vio mengeras.
"Itu pernikahan karena paksaan."
"Entah karena paksaan atau bukan."
"Faktanya..."
"...statusmu tetap suami Aleena."
Rafael menatap Vio tanpa gentar.
"Lalu apa urusanku membatalkan pertunanganku dengan Zilia?"
"Karena dia mencintaiku."
"Benarkah?"
Rafael tersenyum sinis.
"Kalau memang dia masih memilihmu..."
"...kenapa tadi dia sendiri yang memutuskan hubungan kalian?"
Vio terdiam.
Ucapan itu tepat mengenai titik lemahnya.
Rafael melanjutkan dengan nada datar.
"Setiap orang sudah mempunyai porsinya masing-masing."
"Kamu menikah dengan Aleena."
"Aku bertunangan dengan Zilia."
"Sesederhana itu."
Vio mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu memanfaatkan keadaan."
"Aku?"
Rafael menggeleng pelan.
"Justru aku menghormati keputusan Zilia."
"Sedangkan kamu..."
"...terus memaksanya kembali."
Vio menghela napas kasar.
"Kalau begitu..."
"Bukankah kamu dekat dengan adiknya Zilia?"
"Kenapa kamu tidak menikahi Lora saja?"
Pertanyaan itu membuat senyum Rafael menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
"Terus..."
"...kamu yang untung begitu?"
Vio terdiam.
"Maaf."
"Aku tidak tertarik dengan usulanmu."
"Lora memang mengenalku sejak lama."
"Tapi aku tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya."
"Lalu Zilia?"
Rafael mengulas senyum tipis.
"Justru itu..."
"...aku penasaran."
"Sesepesial apa Zilia sampai membuatmu terus mengejarnya meski kamu sudah beristri."
"Atau..."
Rafael menatap tajam ke arah Vio.
"...jangan-jangan baru sekarang kamu sadar apa yang telah kamu kehilangan?"
Ucapan itu membuat napas Vio memburu.
"Jangan seolah-olah kamu menang."
"Aku belum selesai."
"Aku akan memperjuangkan Zilia."
Rafael melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa puluh sentimeter.
"Kamu bebas memperjuangkannya."
"Tapi ingat satu hal."
"Apa?"
"Perjuanganmu akan sia-sia..."
"...selama yang kamu lawan bukan aku."
Vio mengernyit.
"Maksudmu?"
Rafael menatap lurus ke matanya.
"Yang sudah menutup pintu untukmu bukan aku."
"Tapi Zilia."
"Kalau suatu hari nanti dia berubah pikiran..."
"...aku akan menghormati keputusannya."
"Tapi selama dia memilih menjauh darimu..."
"...aku tidak akan membiarkan siapa pun memaksanya."
Suasana kembali hening.
Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Vio sadar ucapan Rafael ada benarnya.
Masalah terbesar bukanlah pertunangan itu.
Melainkan hati Zilia yang sudah terluka terlalu dalam.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia masih belum siap melepaskan perempuan yang begitu dicintainya.
"Aku tidak akan menyerah."
Rafael mengangguk tipis.
"Itu hakmu."
"Tapi jangan salahkan aku..."
"...kalau pada akhirnya kamulah yang harus menerima kenyataan."
Keduanya saling menatap tajam.
Tak ada lagi kata-kata.
Mereka sama-sama tahu, pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai. Bukan dengan tinju, melainkan dengan membuktikan siapa yang benar-benar mampu mendapatkan kembali kepercayaan dan hati Zilia.
Menulis
Tatapan Vio dan Rafael saling mengunci.
Tak satu pun berniat mengalah.
Udara malam yang semula sejuk mendadak terasa menyesakkan.
Vio melangkah satu langkah lagi hingga jarak mereka nyaris tak bersisa.
"Kamu jangan terlalu percaya diri."
Rafael tersenyum tipis.
"Bukankah itu kalimat yang seharusnya aku katakan kepadamu?"
"Apa maksudmu?"
"Kamu datang meminta seorang tunangan membatalkan pertunangannya demi perempuan yang masih berstatus mantanmu."
"Kamu pikir itu masuk akal?"
Vio mengepalkan kedua tangannya.
"Aku dan Zilia saling mencintai."
"Dulu."
Rafael menekankan satu kata itu.
"Sekarang, semuanya sudah berubah."
"Kamu yang membuatnya berubah!"
Suara Vio meninggi.
"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan itu."
"Aku dipaksa!"
Rafael mengangguk pelan.
"Aku percaya."
"Kalau percaya, kenapa kamu tetap ikut campur?"
"Karena aku melihat sendiri bagaimana Zilia menangis."
Kalimat itu membuat Vio membeku.
Rafael menatapnya tajam.
"Kamu tidak melihatnya, kan?"
"Tapi aku melihat."
"Aku melihat bagaimana dia hampir tenggelam di danau."
"Aku melihat bagaimana dia kehilangan semangat hidup."
"Aku melihat bagaimana dia menangis sendirian karena laki-laki yang katanya akan kembali melamarnya."
Setiap kalimat Rafael terasa seperti pukulan.
Vio menggertakkan giginya.
"Aku tidak tahu..."
"Tentu saja kamu tidak tahu."
"Karena saat itu kamu sedang sibuk menjalani pernikahanmu."
Bug!
Emosi Vio kembali memuncak.
Tanpa pikir panjang, ia mencengkeram kerah baju Rafael.
"Aku bilang jangan ungkit itu!"
Rafael menunduk sebentar melihat tangan yang mencengkeram bajunya.
Kemudian ia mengangkat pandangannya.
Tatapannya dingin.
"Lepaskan."
"Kalau tidak?"
"Aku masih menghargai hubungan bisnis kedua keluarga."
"Tapi jangan paksa aku kehilangan kesabaran."
Vio justru menarik kerah Rafael lebih keras.
"Aku tidak peduli!"
Brak!
Rafael menepis tangan Vio hingga terlepas.
"Kendalikan emosimu."
"Jangan mengajariku!"
"Kamu sendiri yang tidak bisa mengendalikan hidupmu."
Ucapan itu menjadi pemicu terakhir.
Vio kembali mengayunkan tinjunya.
Namun kali ini...
Plak!
Rafael berhasil menangkap kepalan tangan Vio sebelum mengenai wajahnya.
Dengan tenang ia menahan lengan Vio.
"Cukup."
"Aku belum selesai!"
"Kalau kita berkelahi di sini..."
"...yang malu bukan cuma kita."
"Nama keluarga kita juga ikut tercoreng."
Vio berusaha melepaskan tangannya.
"Kalau bukan karena Zilia..."
"...aku sudah menghajarmu dari tadi."
Rafael tersenyum tipis.
"Kalau bukan karena menghormati Om Adrian..."
"...aku juga tidak akan diam."
Suasana semakin memanas.
Suara mereka mulai menarik perhatian beberapa tamu yang berada di balkon.
"Ada apa itu?"
"Sepertinya Tuan Muda Vio dan Tuan Muda Rafael."
"Jangan-jangan mereka berkelahi."
Beberapa orang mulai mendekat.
Di kejauhan, Aleena yang melihat keributan itu langsung berlari.
"Vio!"
Sementara itu, Davin yang baru keluar dari aula juga menyadari keadaan.
"Astaga..."
"Jangan sampai Om Adrian tahu dulu."
Davin bergegas menghampiri.
"Hei! Sudah!"
Ia berdiri di tengah-tengah mereka.
"Kalian ini sedang ada di acara keluarga."
"Mau bikin malu semua orang?"
Vio masih menatap Rafael dengan penuh amarah.
Rafael pun membalas tatapan itu tanpa gentar.
Davin mengembuskan napas panjang.
"Kalau kalian memang mau menyelesaikan masalah..."
"...bukan di sini tempatnya."
Tepat saat suasana sedikit mereda, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Sedang apa kalian?"
Semua orang menoleh bersamaan.
Tuan Adrian berdiri dengan wajah datar, tetapi sorot matanya tajam.
Di sampingnya, Ayah Rafael dan Ayah Aleena juga ikut menghampiri.
Keheningan seketika menyelimuti balkon.
Tak seorang pun berani membuka suara.
Mereka sadar...
Apa yang terjadi malam itu bukan lagi sekadar persoalan cinta.
Kini, pertikaian itu telah melibatkan kehormatan empat keluarga besar yang selama puluhan tahun terikat dalam kerja sama bisnis. Jika salah mengambil langkah, bukan hanya hubungan pribadi yang hancur, tetapi juga kepercayaan antarkeluarga yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄