Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *16
"Suara lo serak, berat, dan kayak orang abis nangis atau lagi nahan nangis. Gue udah kenal lo dari lama, Mer, jangan harap lo bisa bohongin gue," ucap Naya tegas.
Sunyi menyelimuti sejenak. Dan anehnya, kalimat sederhana itu, perhatian kecil dari sahabatnya, hampir saja membuat Merlin benar-benar menangis saat itu juga. Rasanya lega sekaligus menyakitkan karena ada orang yang peka, padahal orang yang seharusnya paling peka malah sibuk di tempat lain.
"Rey belum pulang lagi kan?" tanya Naya pelan, nadanya melembut menyadari suasana hati sahabatnya.
Merlin memejamkan mata rapat-rapat, mengangguk pelan meski tak terlihat. "Iya."
"Masih gara-gara cewek itu? Masih gara-gara Yara?"
"Ya."
"Mer, dengerin gue ya," suara Naya berubah tegas dan berapi-api. "Dia tuh suami lo. Suami lo, Merlin! Bukan suaminya Yara. Bukan pelindung pribadi Yara. Bukan perawat pribadi Yara! Dia punya istri, dia punya tanggung jawab sama rumah tangganya sendiri, sama lo! Kok dia malah sibuk ngurusin hidup orang lain sampai ngelupain lo ada di rumah nungguin dia?"
Merlin terdiam. Ia ingin membela Reyno, ingin berkata bahwa suaminya hanya berbuat baik, hanya merasa bertanggung jawab. Namun jauh di dalam hatinya, ia juga mulai takut akan hal itu. Ia juga mulai merasa takut kalau-kalau posisinya sudah tergantikan.
"Rey cuma ngerasa berhutang nyawa sama Lucas, Nay. Dia cuma ngerasa punya tanggung jawab jagain Yara biar nggak kenapa-napa. Dia nggak ada maksud lain," ucap Merlin pelan, suara nya bergetar.
"Dan tanggung jawab itu mulai makan rumah tangga kalian, Merlin. Itu yang lo nggak liat?" sergah Naya cepat. "Lo sadar gak sih sekarang hidup Rey muter terus di sekitar Yara? Telepon Yara, rumah sakit Yara, makan Yara, nangis Yara, masalah Yara. Terus lo di mana? Lo ada di posisi apa sekarang di mata dia?"
Merlin menggigit bibir bawahnya pelan, menahan isak tangis yang mulai naik ke tenggorokan. Matanya mulai terasa panas dan perih.
"Aku ngerti kondisi dia. Aku ngerti kondisi Yara juga."
"Terus siapa yang ngerti kondisi lo, Mer? Siapa yang ngerti kalau lo di sini sakit hati, sepi, nungguin, dan terluka sendirian?"
Pertanyaan itu. Pertanyaan sederhana namun tajam itu membuat keheningan kembali melanda. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Merlin tidak punya jawaban. Ia tidak bisa menjawab. Karena ia sadar, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang mengerti kondisinya. Tidak ada yang memikirkan perasaannya.
Naya menghela napas panjang di seberang sana, mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak terlalu marah, lalu suaranya melembut kembali.
"Merlin, gue gak bilang Rey selingkuh. Gue gak bilang dia punya hati sama Yara. Gue gak sempit pemikiran, mikirnya gak sampai ke situ."
Merlin menunduk dalam, air mata mulai menetes membasahi bantal.
"Tapi terkadang, Mer. Hubungan itu rusak bukan karena ada cinta sama orang lain, bukan karena ada orang ketiga yang sengaja," ucap Naya perlahan dan berat. "Kadang hubungan itu rusak karena seseorang terlalu sibuk menyelamatkan orang lain, terlalu sibuk jagain orang lain, sampai lupa caranya pulang ke rumah sendiri. Sampai lupa ada orang yang selalu nungguin dia di rumah."
Kalimat itu jatuh begitu jelas, begitu nyata, dan begitu menyakitkan. Air mata Merlin akhirnya jatuh deras, diam-diam membasahi bantal yang ia peluk erat. Karena semua yang dikatakan sahabatnya itu terdengar terlalu benar. Terasa seperti gambaran nyata hidupnya sekarang.
*
Sekitar pukul satu dini hari, Reyno akhirnya memutar kunci pintu apartemen mereka. Ia masuk perlahan, berusaha sehalus mungkin agar bunyi pintu tidak membangunkan istrinya yang sudah pasti tidur. Ia melangkah masuk ke kamar tidur, menyingkirkan sepatu dan jaketnya dengan pelan.
Namun begitu ia berjalan mendekati sisi ranjang, ia langsung sadar bahwa wanita itu belum tidur. Postur tubuhnya yang kaku, napasnya yang tidak teratur, dan cahaya redup dari layar ponsel yang masih ada di tangan Merlin memberi tahu segalanya.
"Mer?" panggilnya pelan.
Merlin buru-buru menghapus cepat sisa air matanya dengan punggung tangan, membalikkan badan menghadap suaminya dengan senyum yang dipaksakan.
"Iya? Udah pulang?"
Reyno sedikit terdiam. Di bawah cahaya remang lampu tidur, ia melihat jelas mata istrinya yang merah dan bengkak. Bekas tangis yang tak bisa disembunyikan.
"Kamu nangis?" tanyanya langsung.
Merlin langsung menggeleng cepat. "Enggak. Cuma kelilipan debu aja tadi."
Pria itu mendekat dengan langkah cepat, lalu duduk di pinggir kasur tepat di samping tubuh istrinya. "Boong. Mata kamu merah banget, Mer. Jangan bohong sama aku."
Tangannya terulur, menyentuh pipi Merlin pelan. Sentuhan yang hangat, akrab, dan sangat familiar.
Dulu, sentuhan kecil seperti itu selalu cukup untuk membuat hati Merlin meleleh, merasa dicintai, merasa aman, dan merasa menjadi wanita paling beruntung.
Namun sekarang, justru sentuhan itu membuat hatinya terasa makin sakit. Rasanya seperti dihibur oleh orang yang sama yang menjadi penyebab lukanya.
"Kenapa?" tanya Reyno lagi pelan, jemarinya masih diam di pipi istrinya.
Merlin menatap wajah suaminya cukup lama. Lama sekali. Ia menatap mata itu, hidung itu, bibir itu, wajah yang begitu ia cintai namun mulai terasa asing.
Sampai akhirnya, dengan suara yang lirih dan bergetar, ia berucap. "Rey ...."
"Hm? Ada apa? Bilang aja apa yang kamu mau."
"Kamu masih inget gak, kalau aku ini istri kamu?"
Dug. Jantung Reyno seperti berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang ada di pipi Merlin langsung membeku. Wajahnya mengernyit bingung sekaligus terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa ngomong gitu? Pertanyaan aneh banget," jawabnya kaku.
Merlin tersenyum kecil. Namun kali ini, senyumnya benar-benar terlihat sedih, terlihat pasrah, dan terlihat lelah.
"Karena akhir-akhir ini ...." Suaranya pecah, air matanya kembali jatuh menembus celah jari suaminya. "Aku ngerasa kayak orang asing di hidup kamu sendiri. Kayak aku cuma penghuni rumah ini, bukan pemilik hatimu lagi."
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Merlin malam itu seolah menghantam dada Reyno jauh lebih keras dan lebih sakit dari apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kamu masih inget kalau aku istri kamu?"
Kalimat itu terus berputar dan berngiang di kepalanya. Bergema terus-menerus, bahkan setelah apartemen kembali sunyi senyap. Bahkan setelah Merlin memalingkan wajah memunggunginya dan berpura-pura sudah tertidur lelap.
Reyno masih duduk diam cukup lama di sisi tempat tidur. Ia menatap punggung istrinya yang terlihat kecil dan rapuh di balik selimut tebal itu. Di bawah cahaya remang lampu tidur, ia bisa melihat jelas bahu wanita itu yang sesekali bergetar pelan, menahan sisa tangis yang belum tuntas. Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, sejak kepergian Lucas dan kehadiran Yara yang begitu mendominasi hidupnya, Reyno benar-benar merasa takut. Takut kehilangan. Takut wanita yang ada di hadapannya ini perlahan menjauh, hilang, dan tidak lagi menjadi miliknya.
🥹🥹