Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hanya permintaan maaf
Kembali ke rumah, Wang Chan langsung duduk di kursi panjang.
Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah ke sandaran bambu, menutup mata sejenak, membiarkan otot-ototnya yang tegang mulai mengendur.
"Hah..."
Napas panjang keluar dari mulutnya.
Dalam pertarungan sebelumnya, ia tidak mengalami luka berat. Malah sangat sedikit luka dalam.
Meskipun lawannya berada di Ranah Transformasi Roh, Wang Chan masih bisa selamat karena orang itu lengah.
Terlalu emosional. Terlalu terburu-buru. Tidak memikirkan serangan balik dari lawan yang dianggapnya hanya bocah biasa.
Tapi itu tidak berarti pertarungan itu mudah.
"Sungguh berbahaya," gumamnya pelan. Matanya terbuka, menatap langit-langit ruang tamu yang gelap. "Aku bahkan tidak yakin bisa membunuhnya. Bisa saja dia memiliki kemampuan lain yang masih disembunyikan."
Ia merenung sejenak. Pria itu mengaku membutuhkan pil untuk istrinya. Mungkin benar, mungkin juga hanya alasan.
Di dunia kultivasi, tidak ada yang namanya keadilan. Hanya yang kuat berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Wang Chan mengeluarkan Pil Penyempurnaan Jiwa dari cincin penyimpanannya.
Botol kecil kayu itu terasa hangat di telapak tangannya. Ia membuka tutupnya, menuangkan isinya ke telapak tangan.
Pil itu bulat sempurna, berwarna hijau pucat seperti daun yang baru tumbuh. Aromanya samar, seperti rumput basah setelah hujan.
Wang Chan memperhatikannya sesaat, matanya menyipit, mencoba merasakan energi spiritual yang terkandung di dalamnya.
"Aku memang membelinya," gumumnya pelan. "Tapi apa ini benar-benar akan berguna untukku?"
Ia ragu. Bukan karena pil itu palsu, tapi karena ia tidak yakin tubuhnya akan merespons dengan baik.
Akhir-akhir ini kultivasinya seperti berjalan di tempat. Mungkin masalahnya bukan pada pil, tapi pada dirinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Wang Chan menoleh.
Liu Chiyang baru saja selesai mandi. Rambut hitam panjangnya masih basah, air masih menetes dari ujung-ujung rambutnya membasahi lantai di belakangnya.
Wajahnya segar, kulitnya bersih berkilau, dan matanya yang jernih terlihat lebih cerah dari biasanya.
Ia hanya mengenakan handuk. Sehelai kain putih tipis yang melilit tubuhnya dari dada hingga ke paha.
Tapi handuk itu terlalu kecil. Atau mungkin tubuh Liu Chiyang terlalu berisi. Kain itu tidak bisa menutupi semuanya dengan sempurna.
Wang Chan segera memalingkan muka.
"Apa yang kau lakukan, Xiao Chanchan?"
Liu Chiyang berjalan mendekat. Langkahnya pelan, ringan, seperti kucing yang menyelinap.
Wang Chan bisa mendengar percikan air dari rambutnya yang masih basah, jatuh ke lantai satu per satu.
Wang Chan sekali lagi memutar bola matanya malas.
Ia berbalik sedikit, menyandarkan tubuhnya ke sisi kursi yang lain, berharap tidak perlu melihat pemandangan indah itu terus-menerus.
"Hanya sedang melihat-lihat pil," jawabnya datar.
Liu Chiyang bukannya menjauh, malah mendekat.
Ia duduk di samping Wang Chan, begitu dekat hingga Wang Chan bisa mencium wangi sabun yang masih melekat di kulitnya.
Wang Chan bisa merasakan hangatnya tubuh wanita itu dari samping, hangat yang masih tersisa setelah mandi air hangat.
Wang Chan sedikit bergeser ke kanan.
Mata Liu Chiyang menyipit. Ia menangkap gerakan kecil itu.
Tidak butuh mata elang untuk melihat bahwa Wang Chan sengaja menjaga jarak.
"Xiao Chanchan," suaranya pelan, sedikit terluka. "Apa menurutmu aku semenjijikkan itu?"
"Hah?" Wang Chan memiringkan kepalanya, pura-pura tidak mengerti.
"Kau selalu saja menghindariku."
"Tidak ada. Aku tidak menghindarimu."
Liu Chiyang kembali mendekat. Kini jarak mereka hanya selebar telapak tangan.
Wang Chan bisa melihat tetesan air di ujung bulu mata Liu Chiyang, bisa melihat pori-pori halus di pipinya yang mulus.
"Kau yakin?"
Wajah Wang Chan sedikit menjauh, tapi tidak ada ruang untuk mundur lagi. Punggungnya sudah menempel pada ujung kursi.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian, dengan gerakan cepat, ia menyerahkan pil yang ada di tangannya kepada Liu Chiyang.
"Ini untukmu saja, Kak Liu."
Wang Chan tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa lolos dari situasi ini kalau terus begini.
Lebih baik mengorbankan pil daripada mengorbankan kewarasannya.
Liu Chiyang menerima pil itu dengan kedua tangannya. Matanya berbinar, seperti anak kecil yang diberi permen.
"Pil apa ini?"
Ia teralihkan. Wang Chan bisa bernapas lega.
"Pil Penyempurnaan Jiwa."
"Apa!" Liu Chiyang mendekatkan pil itu ke matanya, memeriksanya dari berbagai sudut. "Pil ini benar-benar kau berikan padaku?"
Wang Chan menggaruk kepalanya. Jujur saja, ia tidak mau. Tapi tidak punya pilihan lain.
"Yah, anggap saja sebagai permintaan maafku."
Liu Chiyang tersenyum.
Bukan senyum misteriusnya yang biasa, tapi senyum yang tulus, senyum yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.
"Permintaan maaf untuk apa?"
"Untuk... kau tahu. Malam itu."
Liu Chiyang terdiam sesaat. Wajahnya yang tadinya cerah kembali merona tipis.
Tapi ia tidak membantah, tidak marah, hanya mengangguk kecil.
"Baiklah. Permintaan maafmu kuterima."
Tanpa berlama-lama, Liu Chiyang menelan pil itu.
Ia menutup matanya sejenak, merasakan pil itu meluncur di tenggorokannya, lalu mulai duduk bersila di kursi.
Handuk yang melilit tubuhnya mulai longgar karena gerakannya. Kedua pahanya yang mulus dan putih terlihat karena handuknya yang tersingkap ke atas.
Puncak kembarnya yang menonjol juga tidak bisa diabaikan, terutama karena belahan handuk di bagian dada terbuka cukup lebar, memperlihatkan lekuk-lekuk yang seharusnya tidak perlu dilihat oleh Wang Chan.
Wang Chan hanya menghela napas.
Ia menatap lurus ke depan, matanya sengaja dikosongkan, berusaha tidak melihat apa pun yang ada di sampingnya.
'Entah aku bisa tahan atau tidak,' gumamnya dalam hati.
Liu Chiyang mulai berkultivasi di sampingnya. Napasnya teratur, dadanya naik turun perlahan, dan dari sekujur tubuhnya mulai terpancar cahaya spiritual berwarna biru pucat.
Wang Chan bisa merasakan energi itu, hangat, menenangkan, seperti berada di dekat perapian di malam dingin.
Ia memutuskan untuk ikut menutup mata. Bukan untuk berkultivasi, tapi untuk menghindari godaan.
Di dalam gelap kelopak matanya, ia berdoa pada langit agar Liu Chiyang cepat selesai.
Atau setidaknya, agar handuk itu tidak jatuh.