NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 // MBKCM

​Tiga bulan kemudian.....

Hari berlalu begitu cepat. Udara sejuk dan aroma segar kelopak mawar kini menjadi teman akrab bagi Kiana setiap harinya. Toko bunga kecilnya, Twin's Florist, perlahan mulai dikenal oleh masyarakat sekitar berkat ketelatenan dan kepiawaian Kiana dalam merangkai bunga.

​Pagi itu, suasana toko cukup tenang. Kiana sedang duduk di balik meja kayu panjang, fokus merakit sebuah pesanan buket bunga matahari berukuran besar untuk acara wisuda salah satu universitas besok pagi. Tangannya yang terampil dengan hati-hati mengikat pita satin berwarna kuning keemasan.

​"SURPRISEEE...!!!"

​Sebuah suara melengking yang sangat akrab tiba-tiba menggema dari arah pintu masuk, menghancurkan keheningan ruko dan seketika mengejutkan Kiana hingga pita di tangannya hampir terlepas.

​"Astaga!" Kiana tersentak, menoleh ke arah sumber suara dengan jantung yang berdegup kencang.

​"Bumilku sayaaang! Aku sangat merindukanmu!" sorak Saskia dengan heboh. Tanpa babibu, gadis itu langsung berlari kecil dan menghambur maju untuk memeluk Kiana dengan sangat erat.

​Namun, pelukan hangat itu tidak bisa sepenuhnya rapat seperti dulu. Tubuh Saskia tertahan oleh sesuatu yang menonjol keras di antara mereka. Kehamilan Kiana kini telah resmi memasuki bulan ke-5. Perutnya yang mengandung dua bayi sekaligus sudah tumbuh jauh lebih besar dan membuncit sangat nyata, membuat siapa pun yang melihatnya pasti tahu bahwa Kiana sedang hamil.

​Kiana tertawa renyah, membalas pelukan sahabatnya dengan mata yang berbinar bahagia. "Saskia! Ya ampun, kamu kok tidak memberi kabar dulu kalau mau datang hari ini?"

​Saskia melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Kiana dengan gemas. "Kalau memberi kabar dulu, namanya bukan kejutan dong, Kia! Aku sengaja lho mengumpulkan semua jatah cuti bulananku dari butik selama tiga bulan ini tanpa mengambil libur sekalipun, hanya agar aku bisa punya waktu libur panjang dan berlama-lama di sini bersamamu!"

​Saskia menurunkan pandangannya, menatap takjub ke arah perut buncit Kiana yang tertutup daster longgar. Dia mengelus perut itu dengan hati-hati. "Wah, Kia... ternyata kalau dilihat langsung, perutmu jauh lebih besar daripada yang sering aku lihat di panggilan video selama ini! Tapi anehnya, kamu sama sekali tidak kelihatan bengkak. Kamu tetap terlihat sangat cantik dan menggemaskan dengan pipi yang sedikit lebih berisi begini."

​Kiana tersipu malu, mengibaskan tangannya. "Ah, kamu bisa saja, Sas. Ini bawaan bayi-bayi di dalam, makanya ibunya jadi doyan makan."

​Saskia kemudian mengangkat sebuah rantang susun aluminium yang sejak tadi dia jinjing. "Oh ya, ini aku bawain masakan ibuku khusus buat kamu. Aku sebenarnya sudah sampai di rumah orang tuaku sejak semalam, tapi karena capek, ibuku melarangku ke sini malam-malam. Makanya baru pagi ini aku meluncur setelah ibu selesai memasak semua makanan kesukaanmu."

​Saskia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruko, melihat ada beberapa ember besar berisi bunga segar yang belum dirangkai dan beberapa lembar kertas pesanan yang menumpuk di papan klip.

​"Eh, astaga, pesananmu sedang banyak ya hari ini? Sini, aku bantuin ya! Biar aku yang memotong batang-batang mawar ini dan merapikan kertas pembungkusnya," tawar Saskia, langsung menggulung lengan kemejanya bersiap untuk bekerja.

​Kiana tidak menolak. Dia mengembuskan napas lega dan membiarkan Saskia membantunya. Jujur saja, seiring kehamilannya yang semakin membesar, Kiana belakangan ini memang lebih sering merasa pegal di bagian pinggang dan punggung. Berdiri terlalu lama membuat kakinya cepat lelah dan kesemutan, sehingga bantuan Saskia saat ini terasa bagai angin segar baginya.

​"Terima kasih banyak ya, Sas. Kebetulan sekali besok pagi ada tiga pesanan buket besar yang harus siap," ujar Kiana sembari menggeser tubuhnya untuk duduk di kursi kayu yang lebih nyaman.

​Kiana membuka tutup rantang susun yang dibawa Saskia. Aroma harum masakan rumahan seketika menguar, memenuhi ruangan. Itu adalah sayur asem segar yang masih hangat, lengkap dengan pelengkap berupa ikan asin goreng dan sambal terasi ulek yang merah merona. Masakan Ibu Ratih, ibu Saskia memang selalu terkenal luar biasa enak sejak dulu. Air liur Kiana sempat menetes melihat penampakannya.

​Namun, baru saja Kiana menyendok sedikit kuah sayur asem itu dan mendekatkannya ke mulut, hormon kehamilan di dalam tubuhnya mendadak bergejolak hebat. Rasa asam yang tajam bercampur aroma menyengat dari sambal terasi tiba-tiba membuat ulu hatinya seperti diaduk-aduk. Rasa mual yang sangat pekat langsung naik ke tenggorokannya.

​"Huekk...!" Kiana membekap mulutnya sendiri dengan cepat, wajahnya seketika berubah pucat pasi. Dia buru-buru meletakkan sendoknya kembali ke dalam rantang.

​Saskia yang sedang memotong duri mawar langsung meletakkan guntingnya dengan panik. Dia bangkit berdiri dan berlari mendekati Kiana, lalu dengan lembut mengusap-usap tengkuk sahabatnya itu untuk meredakan rasa tidak nyaman.

​"Astaga, Kia! Kamu kenapa? Kamu masih sering mual-mual begini?" tanya Saskia dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Padahal usia kandunganmu kan sudah masuk lima bulan, biasanya kalau sudah trimester kedua begini masa-masa morning sickness itu sudah lewat, kan?"

​Kiana meneguk segelas air putih hangat yang ada di meja hingga tandas, mencoba menetralkan rasa mual di kerongkongannya. Setelah napasnya kembali teratur, dia tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Iya nih, Sas... entah kenapa dua bayi di dalam perutku ini seleranya agak pemilih. Tapi kata dokter kandungan saat aku periksa bulan lalu, kondisi ini tidak apa-apa kok. Selagi mualnya tidak sampai parah banget dan aku masih bisa memasukkan makanan lain, itu masih dalam batas normal."

​Saat mereka sedang asyik berbicara, Kiana mendadak merasakan sebuah gerakan kedutan yang cukup kuat dari dalam perut bagian bawahnya. Dia tersenyum lebar, menatap perutnya sendiri dengan binar mata yang hangat.

​"Sini deh, Sas... coba kamu mendekat," panggil Kiana, meraih tangan kanan Saskia. "Mereka sepertinya bereaksi karena mendengar suaramu yang melengking heboh sejak tadi."

​Kiana menempelkan telapak tangan Saskia tepat di atas permukaan perut buncitnya yang terasa tegang. Selama beberapa detik, suasana menjadi sunyi sampai tiba-tiba... Dug! Dug! Sebuah dorongan kecil namun sangat jelas terasa berdenyut dari dalam rahim Kiana, menendang telapak tangan Saskia.

​Saskia seketika membelalakkan matanya, mulutnya terbuka lebar karena terkejut sekaligus girang yang amat sangat. "Ya ampun! Kia! Mereka menendang tanganku! Ini beneran tendangan mereka, kan?!"

​Kiana mengangguk bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. "Iya, Sas. Itu gerakan aktif mereka."

​"Ya ampun, mereka sepertinya ingin menyambut kedatanganku di sini!" seru Saskia girang, langsung mendekatkan wajahnya ke arah perut Kiana seolah sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata. "Halo, calon keponakanku sayang... Ini Tante Saskia yang paling cantik sedunia datang! Kalian di dalam sehat-sehat, kan? Oh ya, ngomong-ngomong kalian ini sebenarnya laki-laki atau perempuan, sih?"

​Saskia mendongak, menatap Kiana dengan penasaran. "Bagaimana hasil USG bulan lalu, Kia? Dokter sudah bisa melihat jenis kelamin mereka belum?"

​Kiana mengulas senyum simpul yang sedikit misterius, lalu menggeleng. "Belum tahu, Sas. Waktu diperiksa bulan lalu, posisi mereka saling membelakangi dan menutupi area sensitifnya. Dokter bilang mereka sepertinya masih ingin merahasiakan diri dari ibunya sampai persalinan nanti."

​Saskia terkekeh geli. "Wah, kecil-kecil sudah pintar main rahasia-rahasiaan ya seperti ibunya."

​Namun, setelah tawa kecil itu mereda, keheningan mendadak merayap di antara mereka. Saskia menatap wajah Kiana yang tampak sedikit lebih kurus meskipun perutnya membesar. Hati Saskia perlahan dirayapi oleh rasa sedih dan keadilan yang tidak merata. Dia teringat bagaimana perjuangan Kiana selama tiga bulan terakhir ini, harus mengangkat ember bunga sendirian, memotong duri, mengurus pembukuan, hingga melayani pelanggan dalam kondisi tubuh yang cepat lelah.

​Saskia meraih kedua tangan Kiana, menggenggamnya dengan erat. "Kia... terkadang kalau melihatmu berjuang sendirian seperti ini, hatiku rasanya perih sekali. Anak-anak di dalam perutmu ini... mereka itu adalah darah daging dari keluarga terpandang. Mereka harusnya mendapatkan hak hidup yang mewah, mendapatkan fasilitas terbaik, dan kamu... kamu harusnya tidak perlu bersusah payah membanting tulang sampai seperti ini hanya untuk menghidupi diri sendiri dan mengumpulkan biaya persalinan."

​Napas Saskia berembus berat sebelum dia melanjutkan kalimatnya yang paling sensitif. "Kamu... kamu yakin tidak mau memberitahu Ardan Arkatama kalau anak-anak yang kamu kandung ini adalah anaknya? Setidaknya biarkan pria itu bertanggung jawab secara finansial untuk masa depan anak kembar kalian, Kia."

​Mendengar nama Ardan Arkatama kembali disebut setelah tiga bulan lamanya terkubur, tubuh Kiana seketika menegang. Senyuman di wajahnya langsung lenyap, digantikan oleh tatapan mata yang mendadak dingin dan hampa. Hati Kiana kembali berdenyut nyeri, mengingat luka penghinaan yang pernah ditorehkan oleh pria konglomerat itu.

​Saskia yang berada di depannya sebenarnya tidak tahu-menahu soal apa yang terjadi di malam terakhir, tepat tiga bulan lalu sebelum Kiana memutuskan untuk resign secara mendadak dari Butik Elegance. Saskia tidak tahu bahwa malam itu, di dalam mobil mewah miliknya, Ardan telah menegaskan dengan suara baritonnya yang kejam dan penuh keangkuhan bahwa dirinya adalah seorang pria mandul. Ardan bahkan menuduh Kiana telah tidur dengan pria lain dan memperingatkan dengan sangat keras agar Kiana tidak usah repot-repot datang kembali ke kehidupannya suatu hari nanti dengan membawa drama anak palsu demi mengincar hartanya.

​Penghinaan Ardan malam itu telah benar-benar membunuh seluruh sisa rasa hormat dan perasaan yang pernah ada di dalam diri Kiana untuk sang CEO.

​Kiana menarik tangannya perlahan dari genggaman Saskia. Dia membuang pandangannya ke luar jendela toko, menatap daun-daun yang berguguran di trotoar jalanan Bandung dengan rahang yang mengeras.

​"Anggap saja ayah dari anak-anak ini sudah mati, Sas," jawab Kiana dengan nada suara yang luar biasa datar, dingin, dan penuh penekanan yang mutlak tanpa bantahan. "Pria bernama Ardan Arkatama itu sudah tidak ada lagi di dalam kamus hidupku. Tolong... jangan pernah bahas atau sebut namanya lagi di hadapanku ataupun di depan anak-anakku kelak."

​Saskia tertegun melihat perubahan drastis pada aura sahabatnya. Dia tahu ada sebuah rahasia gelap dan luka yang sangat dalam yang sengaja dikunci rapat oleh Kiana sendirian. Sadar bahwa dirinya telah melintasi batas kenyamanan sahabatnya, Saskia akhirnya memilih untuk mengangguk pasrah.

​"Iya, Kia... maafkan aku ya. Aku berjanji tidak akan pernah membahas hal itu lagi," ucap Saskia lirih, mencoba mencairkan suasana dengan kembali mengambil gunting bunga untuk melanjutkan pekerjaannya, membiarkan Kiana kembali menenangkan detak jantungnya di dalam keheningan toko bunga mereka.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!