Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.
Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.
"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.
"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."
"Matamu, Mbak!"
Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.
Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan tempatku untuk pulang
"I-ibu ..." Langkah Rinjani berhenti melihat mertuanya di dapur. Ia baru saja keluar dari kamar mandi. Maklum rumah Ikhram masih menganut 1 kamar mandi untuk semua penghuni rumah.
"Loh menantu ibu kapan datangnya?" Wanita paruh baya itu tampak bahagia Rinjani ada di rumahnya.
"Semalam Bu, nggak enak bangunin ibu sama ayah jadinya Jani langsung tidur."
"Padahal ibu mah tidak apa-apa dibangunkan."
Rinjani senyum canggung. Dia meminta izin kembali ke kamar karena Ikhram sedang menunggunya untuk menunaikan kewajiban.
"Ketemu ibu?"
Rinjani mengangguk sambil memasang mukena pemberian Ikhram.
"Bentar lagi heboh itu ibu. Nyuruh saya belanja biar bisa masak enak buat menantunya." Ikhram mengulum senyum.
Rinjani pura-pura tidak dengar dan bersiap menjadi makmum Ikhram. Hanya bersama Ikhram dia bisa bangun subuh. Selebihnya dia akan melupakan kewajibannya. Apalagi jika sudah terlena oleh kesibukan dunia.
Dan apa yang Ikhram katakan terjadi. Ibunya sibuk sana-sini memerintah Ikhram demi kenyamanan Rinjani. Apalagi Rinjani tidak selalu menetap di desa.
"Bu nggak usah berlebihan, apa yang ada saja." Menarik tangan Ikhram agar tidak pergi memenuhi permintaan ibunya.
"Senang kamu dibelain istri?"
"Ya senanglah Bu," jawab Ikhram.
Perdebatan dua manusia itu malah membuat Rinjani sedih. Alih-alih tinggal, ia meminta izin ke rumah neneknya terlebih dahulu.
Nenek menyambutnya dengan raut wajah terkejut. Bahkan menangis dan mengelus pipi Rinjani.
"Nenek kira kamu nggak bakal kembali dan meninggalkan Ikhram nak."
"Kenapa nenek bilang begitu?" Rinjani menyentuh tangan keriput neneknya yang telah berpidah dari pipi.
"Semua warga membicarankanmu. Katanya kamu nggak akan kembali, kamu sengaja menggoda Ikhram dan menghancurkan masa depannya kemudian pergi. Mereka membicarakan nenek yang katanya iri pada pak Irwan sehingga menyuruh kamu menggodanya."
Air mata nenek Ira tidak henti-hentinya terjatuh dan itu membuat hati Rinjani sangat teriris. Kejam sekali warga disini menghakimi wanita tua tidak berdaya.
"Katakan siapa yang menyebar berita itu nenek? Biat Jani yang ...."
"Jangan menambah masalah lagi Jani."
Bungkam, yang Rinjani lalukan hanya memeluk neneknya yang sudah tua tapi masih saja keras kepala.
"Sudahlah nenek, nggak usah tinggal di desa ini lagi. Ayo ikut Jani ke kota, ada ayah dan ibu juga di sana. Rumah dan sawah bisa diurus oleh seseorang," gumam Rinjani. Berharap neneknya ingin ikut pulang bersamanya. Lagi pula dia datang bukan untuk menetap, melainkan menyelesaikan sesuatu secara baik-baik.
Berhasil menenangkan nenek, Rinjani beranjak menuju ruangan yang hendak ia jadikan kantor. Senyumnya terbit melihat ruangan itu telah Ikhram sulap sesuai imajinasinya.
"Ruangan senyaman ini akan terbengkalai dalam waktu cukup lama," ucapnya dengan helaan napas panjang.
Dia menghabiskan banyak uang membeli dekorasi dan kepentingan lainnya. Ruangan itu pula yang membawanya pada pernikahan dengan Ikhram.
"Kok ngomong gitu sih? Kan ini kantor kamu. Kamu bisa bekerja di sini jika sedang berkujung."
Sebuah pelungan hangat dari belakang Rinjani rasakan. Sejujurnya ia terkejut Ikhram tiba-tiba ada di ruangan itu.
Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakan keputusannya?
"Mungkin ini kali terakhir saya berkunjung." Rinjani melepas pelukan Ikhram dan berbalik menatap wajah tampan itu. Ia sedikit mendongak demi bisa bertemu pandang dengan suaminya.
"Kamu sangat sibuk ya?"
"Salah satunya iya, tapi bukan itu masalahnya."
"Ikhram ...." Rinjani melempar tatapannya pada rak buku di samping kiri. "Ayo berpisah baik-baik demi kebaikan kita."
"Masih membahas hal yang sama? Saya kira kamu sudah menerima pernikahan ini dan ...."
"Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam hubungan kita Ikhram. Saya sibuk, kamu pun begitu. Kita nggak bisa terus berada di tempat yang sama dalam waktu lama. Pekerjaan kita ...."
"Hubungan jarak jauh nggak buruk selama komunikasi ...."
"Kamu salah." Rinjani mengeleng. "Komunikasi yang bagus nggak menjamin kesetiaan seseorang. Saya nggak bisa menjalani hubungan jarak jauh lagi setelah pengkhianatan yang baru saja terjadi."
"Tapi saya bukan Ardian Rinjani."
"Saya nggak pernah bilang bahwa kamu Ardian. Saya hanya melindungi diri sendiri dari rasa sakit. Lagi pula saya nggak mungkin egois menyuruhmu meninggalkan segalanya demi tetap bersama saya. Begitu pun sebaliknya kan?"
Rinjani melepaskan tangan Ikhram pelan dan menatap hamparan sawah dengan mata berkaca-kaca.
.
.
.
Mana nih komentarnya?
jangan end di tengah jalan ya ka,,,
noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
lanjut sampe end ya thor🙏
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,