"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir Mempertemukan di Villa Jombang
Nevan melangkah keluar dari rumah orang tuanya dengan perasaan campur aduk. Ia masuk ke dalam mobil, di mana Dimas sudah menunggu di kursi pengemudi. Dimas, yang kini telah menjadi asisten kepercayaan sekaligus sahabat, bisa merasakan aura kegelisahan bosnya.
"Satu bulan, Dim... Ayah memberiku waktu satu bulan," gumam Nevan sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi.
"Mungkin ini saatnya kita memperluas pencarian lagi, Van," sahut Dimas pelan. "Sudah lima tahun. Mungkin dia tidak lagi di Surabaya. Mungkin dia pindah ke kota kecil lain."
Nevan memejamkan mata. Bayangan wajah lugu Naira dan tawa malunya kembali menghantui. "Di mana kamu, Naira? Anak kita... dia pasti sudah berumur empat tahun lebih sekarang. Apakah dia mirip denganku? Apakah dia sehat?"
Frustrasi menyelimuti benak Nevan. Ia tidak ingin menikah dengan wanita pilihan ayahnya, namun ia juga tidak tahu di mana harus mencari "rumahnya" yang hilang.
Tanpa mereka sadari, jauh di sebuah kota kecil yang tenang di Jawa Timur, seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata yang tajam dan cerdas—sangat mirip dengan Nevan—sedang berlari mengejar capung di halaman rumah Bu Retno, sementara seorang wanita cantik dengan rambut terikat rapi sedang sibuk menata kue jajanan pasar ke dalam wadah.
Di sebuah villa asri di kawasan sejuk Jombang, Adhitama Wiratama dan Clarissa Devina sedang menikmati masa pensiun sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta. Kelelahan menghadapi kekerasan kepala Nevan membuat mereka memilih menenangkan diri di kota kecil ini.
Pagi itu, pesanan aneka kue tradisional yang mereka pesan untuk acara santai tiba. Pintu gerbang villa terbuka, menampakkan seorang wanita muda dengan pakaian sederhana namun sangat rapi dan bersih. Ia menuntun seorang anak laki-laki berusia empat tahun yang ketampanannya sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya.
"Permisi, saya mengantar pesanan kue dari Bu Retno," ucap Naira Ayu Lestari dengan suara lembut yang masih sama seperti lima tahun lalu, namun kini terdengar lebih matang dan tegar.
"Oh, silakan masuk," sahut Clarissa yang sedang duduk di teras.
Saat itulah, seorang bocah kecil bernama Arkana Nevara berlari kecil mendekati meja kayu di teras. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara kelembutan Naira dan ketegasan garis wajah Nevan. Matanya yang tajam dan cerdas menatap Adhitama yang sedang membaca koran.
"Eyang, ini kue lapisnya enak lho! Masih hangat," celoteh Arkana dengan ceria dan penuh percaya diri.
Adhitama menurunkan korannya. Jantungnya berdegup aneh melihat keberanian bocah ini. Ada sesuatu dalam sorot mata Arkana yang terasa sangat familiar—sangat mirip dengan putranya, Nevan, saat masih kecil.
"Oh ya? Kamu tahu dari mana ini enak, Jagoan?" tanya Adhitama, senyum yang biasanya pelit kini mengembang tulus.
"Karena Arkana yang bantu Ibu bungkus tadi!" jawab Arkana bangga.
Adhitama tertawa lepas—sesuatu yang jarang ia lakukan di Jakarta. "Andai saja Nevan sudah menikah sejak dulu, mungkin aku sudah punya cucu sebesar ini," gumam Adhitama dalam hati dengan rasa haru. Kehadiran Arkana seketika membuat villa yang besar dan sepi itu terasa sangat hangat dan hidup.
Saat Naira hendak berpamitan karena tugasnya sudah selesai, Clarissa menahan lengannya. "Tunggu sebentar, Jeng. Siapa namamu tadi? Naira?"
Naira mengangguk sopan, sedikit gugup karena aura berwibawa wanita di depannya.
"Naira, bolehkah saya minta tolong? Sore ini anak-anak saya akan menyusul ke sini. Saya ingin menyajikan masakan rumah yang otentik tapi asisten saya sedang pulang kampung. Bisakah kamu bantu saya di dapur? Arkana biar bermain dulu dengan suami saya, sepertinya mereka sangat akrab," pinta Clarissa dengan nada memohon yang halus.
Naira melihat ke arah halaman, di mana Arkana sedang tertawa riang sambil diajari Adhitama cara memberi makan ikan di kolam. Hati Naira luluh. Ia tidak tahu bahwa pria yang sedang bermain dengan anaknya adalah kakek kandung Arkana sendiri.
"Baik, Bu. Saya akan bantu sebentar," jawab Naira tulus.
Sepanjang siang itu, Naira sibuk di dapur mewah villa tersebut, memasak makanan kesukaan "anak-anak" Clarissa tanpa tahu bahwa salah satu dari mereka adalah pria yang selama lima tahun ini mengisi mimpinya. Sementara itu, Adhitama benar-benar terpesona oleh kecerdasan Arkana yang bisa menghitung cepat dan bicara dengan logika yang luar biasa untuk anak seusianya.
Suasana di ruang tengah villa semakin hangat dengan kehadiran Keisha Aureliana dan suaminya, Fabian. Keisha, dengan gaya sosialita mudanya yang tajam, terus memperhatikan Arkana yang sedang asyik bermain. Sebagai orang yang sangat observatif, Keisha merasa ada sesuatu yang "familier" pada bocah itu, namun ia memilih menyimpannya dalam hati sambil terus menikmati kue tradisional buatan Naira.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sport mentereng masuk ke halaman villa dengan suara mesin yang menderu. Pintu terbuka, dan turunlah Ravindra Adhyaksa Wiratama. Anak bungsu keluarga Wiratama itu masih mengenakan jaket varsity sekolahnya, wajahnya yang tampan namun tampak dingin dan kompetitif mencerminkan didikan keras sang Ayah.
"Duh, jauh banget sih villanya! Capek di jalan," gerutu Ravindra sambil melangkah masuk dan langsung melemparkan tasnya ke sofa.
"Ravindra! Sopan sedikit, ada tamu," tegur Adhitama tegas.
Ravindra mendengus, namun matanya langsung tertuju pada sosok kecil yang duduk di dekat ayahnya. "Siapa nih, Yah? Anak tetangga? Kok main di sini?" tanya Ravindra dengan nada ambisius dan sedikit sinis. Ia selalu merasa harus menjadi yang utama di mata ayahnya, sehingga kehadiran orang asing—bahkan anak kecil—sering kali membuatnya merasa tersaingi.
"Ini Arkana. Dia pintar sekali, tidak seperti kamu yang kerjanya mengeluh saja," canda Adhitama, namun candaan itu justru membuat Ravindra memberikan tatapan dingin pada Arkana.
Sementara itu, Keisha yang penasaran dengan sosok wanita di balik kue dan masakan lezat itu, melangkah menuju dapur dengan alasan ingin mengambil jus jeruk.
"Permisi..." suara Keisha yang stylish memecah keheningan dapur.
Naira yang sedang mengaduk bumbu rendang dengan telaten, menoleh. Ia sedikit terkejut melihat wanita cantik yang tampak sangat berkelas berdiri di depannya.
"Eh, iya, Mbak... ada yang bisa saya bantu?" tanya Naira dengan suara lembut yang khas.
Keisha terpaku. Ia menatap wajah Naira lekat-lekat. Instingnya sebagai sosialita yang sering mengamati orang-orang di sekitar kakaknya, Nevan, tiba-tiba bergejolak. Ia teringat lima tahun lalu, Nevan pernah tampak sangat hancur karena kehilangan seorang staf kantor yang sangat ia cintai. Keisha pernah melihat foto Naira di berkas pencarian rahasia milik kakaknya.
"Kamu... Naira? Staf kebersihan yang dulu di kantor pusat Wiratama?" tanya Keisha dengan nada tajam namun penuh selidik.
Naira membeku. Sudip di tangannya hampir terjatuh. Ia menatap wajah Keisha dan perlahan teringat bahwa ini adalah adik perempuan Mas Nevan yang dulu sering muncul di majalah bisnis dan gaya hidup.
"M-mbak Keisha?" bisik Naira pucat. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan selama lima tahun di Jombang kini terancam terbongkar.
"Jadi benar itu kamu!" Keisha mendekat, matanya beralih ke arah ruang tengah di mana Arkana berada, lalu kembali ke wajah Naira. "Dan anak itu... Arkana Nevara... dia anak Mas Nevan, kan? Katakan jujur padaku, Naira!"
Naira gemetar, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di saat yang sama, suara deru mobil lain terdengar di depan villa. Mobil hitam legam yang sangat dikenal oleh Keisha dan Naira.
Nevan Adhiguna Wiratama telah sampai.
Mobil hitam legam itu akhirnya berhenti di pelataran villa. Nevan Adhiguna Wiratama turun dengan langkah tegap, diikuti Dimas yang membawa tas kerja. Wajah Nevan tampak sangat lelah, guratan frustrasi akibat tekanan sang ayah selama sebulan ini masih membekas jelas di keningnya.
"Laporannya sudah siap, Dim?" tanya Nevan dingin sambil melangkah masuk ke ruang tengah.
"Sudah, Van. Tinggal kita presentasikan ke Pak Adhitama," jawab Dimas patuh.